[MM] The Last King Part 11 [1/?]

the president

Catch Me

Part 1

Kyuhyun membungkuk pada professornya lalu bergegas menghampiri Siwon yang menunggunya di koridor. Kyuhyun tersenyum puas dan menghembuskan nafas panjang. Siwon tersenyum tipis melihat ekspresi Kyuhyun yang sangat puas.

“Tinggal menunggu jadwal sidang?” tanya Siwon.

Kyuhyun mengangguk antusias. “Kurasa aku akan memenangkannya. Dan professorku bilang, jika pada sidang nanti aku menang, analisaku akan dibawa ke pengadilan.”

“Itu sangat bagus, Pange…” tapi belum selesai Siwon bicara, Kyuhyun langsung membungkam mulut Siwon.

“Sst, jangan panggil aku dengan sebutan itu,” Kyuhyun lalu menarik tangannya dan memasang ekspresi cemberutnya. “Walaupun sudah seminggu, aku masih belum terbiasa. Lagipula kita di tempat umum, Presiden Lee bilang kalau ini harus dirahasiakan hingga minggu depan. Jadi tetap panggil aku dengan Kyuhyun-sshi. Atau lebih bagus jika kau memanggilku hanya dengan Kyuhyun.”

Siwon menarik nafas. “Tapi itu sangat tidak mungkin, Kyuhyun-sshi. Status kita berbeda dan…” Siwon tidak pernah menyelesaikan kalimatnya lagi karena Kyuhyun menekuk wajahnya –cemberut– dan itu benar-benar jelek menurut Siwon. Ia menarik nafas panjang lagi. “Baiklah, aku akan memanggilmu dengan Kyuhyun selama hanya ada kita berdua dan diluar paviliun? Otthe?”

“Dan aku akan memanggilmu dengan Siwon hyung. Ayo, temui Jonghyun, hyung,” tukas Kyuhyun yang kembali cerah ceria.

Kyuhyun berjalan terlebih dahulu dan Siwon mengikutinya dari belakang. Sepertinya Kyuhyun berubah menjadi anak kecil yang manja ketika mereka berada diluar paviliun dan berdua saja. Parahnya, Siwon tidak akan bisa menolak keinginan Kyuhyun –bukan hanya karena ia memang harus menuruti keinginan Kyuhyun. Bukan hal buruk, tapi Siwon tidak bisa mengatasinya. Itu saja.

*****

Jaeshin menatap Jonghyun yang sedang menyeruput ice mango blended-nya dengan bergidik. Suhu saat ini hampir mencapai minus lima, tapi Jonghyun sepertinya tidak terpengaruh sama sekali. “Jong-ah, kau tidak kedinginan?” tukas Jaeshin, akhirnya.

Jonghyun melirik Jaeshin lalu menggeleng. Minho dan Byunghee hanya tertawa kecil. Dan Haena yang mengawasi Jonghyun dari jarak lima meter tidak menunjukkan reaksi apapun. Sesekali perhatiannya teralih pada Byunghee. Pemuda itu tidak terlihat mencurigakan selama Haena mengawasinya secara diam-diam saat Jonghyun bercengkarama dengan teman-temannya –karena Haena tidak mungkin melarang Jonghyun untuk menjauhi Byunghee tanpa alasan jelas– tapi ia tidak bisa lengah begitu saja. Haena merasakan ada sesuatu yang mencurigakan dari Byunghee.

“Jadi, kapan kita berangkatnya? Dan kumohon, jangan mendekati jadwal ujian terakhir, okay,” ujar Minho.

Jonghyun mengernyit. “Berangkat kemana? Kalian mau pergi?”

“Kita, Jonghyun-ah. Bukan kalian. Kita sudah sepakat untuk pergi ke gunung Seorak, Jong. Kurasa akhir minggu ini saja. Dua hari satu malam. Tapi bagaimana transportasinya? Kau mau membawa mobil, Min?” sahut Jaeshin.

“Ah, aku saja. Pamanku bisa meminjamkan salah satu mobilnya,” tukas Byunghee.

Minho menatap Byunghee dengan antusias. “Oh.. salah satu mobil? Pamanmu punya berapa mobil, Hee-ya?! Baiklah, kita berkumpul di…”

“Hey! Tunggu sebentar!! Gunung Seorak? Aku tidak pernah setuju untuk pergi ke sana?! Kapan kalian memutuskannya?!” seru Jonghyun.

Jaeshin dan Minho mendesah jengkel dengan sikap Jonghyun. “Hey, kau sendiri yang bilang setuju. Ingat, pembicaraan tiga minggu lalu? Kau sepertinya tidak fokus karena sibuk dengan buku tebalmu. Kau hanya bilang “iya, setuju” berulang-ulang. Kami pikir…”

Kali ini Jonghyun menyela ucapan Jaeshin. “Tapi aku tidak bisa pergi akhir minggu ini?! Ma-maksudku, Appa tidak mungkin mengijinkan jika mendadak. Kita pergi lusa, bukan?”

“Lalu bagaimana? Kau tidak mau ikut?” tanya Byunghee dengan tenang.

“Hey, tidak bisa. Ini tahun terakhir kita. Setelah lulus, kita mungkin lebih sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan sulit bertemu. Ayolah, Jonghyun. Ini perjalanan terakhir kita sebelum lulus. Apa kau tidak bisa mengusahakannya?” ujar Minho.

“Mengusahakan apa?” tanya Kyuhyun yang baru saja datang dan duduk disebelah Jonghyun. Sontak perhatian Jaeshin dan Minho tertuju pada Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah, apa kau mau ikut? Kami akan pergi ke gunung Seorak akhir minggu ini. Jonghyun bilang dia tidak bisa ikut kalau mendadak, padahal kami sudah merencanakan sejak lama. Bisakah kau ikut bersama kami? Appa kalian pasti mengijinkan kalau kalian pergi bersama, bukan?” mohon Minho.

Ekspresi Kyuhyun berubah menjadi canggung. Sekilas ia menoleh pada Jonghyun, tapi saudaranya itu hanya menghela nafas panjang –pasrah. Kyuhyun kembali menatap Minho dan Jaeshin. “Eh? Aku tidak tahu. Kalian terlalu mendadak mengatakannya. Dan mungkin bukan hanya Appa yang tidak akan mengijinkannya,” tukas Kyuhyun. Kemudian ia melirik pada Siwon dan Haena yang tengah berdiskusi.

“Memangnya kalian butuh ijin dari siapa lagi selain Appa kalian? Kami bisa membantu meminta ijin,” usul Byunghee yang diikuti anggukan kepala oleh Jaeshin dan Minho.

Kyuhyun menarik nafas panjang dan menatap Jonghyun. Tapi saudaranya tidak bisa mengatakan apapun. Lagipula mendapatkan ijin dari Appa, mungkin hal mudah. Lain hal dengan mendapatkan ijin dari Tuan Kang. Well, terdengar sangat mustahil terlebih dengan situasi keamanan di paviliun saat ini.

“Begini saja, kami akan bicara terlebih dahulu pada Appa. Tapi jika tidak dibolehkan, maka kami benar-benar tidak bisa pergi. Jonghyun akan memberitahu kalian nanti,” ujar Kyuhyun.

*****

“Kujamin delapanpuluh persen, Tuan Kang tidak akan memberikan ijin,” tukas Haena setelah Kyuhyun menanyakan kemungkinan jika ia dan Jonghyun meminta ijin untuk pergi hiking.

Siwon tidak memberikan jawaban apapun karena ia menyibukkan dengan fokus menyetir. Jonghyun mendesah jengkel. “Yasudah, aku akan mengirim sms pada Minho kalau aku tidak bisa pergi. Lagipula ini terlalu mendadak, walaupun mereka sudah memberitahuku,” ujar Jonghyun.

Kyuhyun menatap Jonghyun dengan lekat. “Kau yakin tidak mau pergi? Lagipula kau sudah lama sekali tidak pergi dengan teman-temanmu. Jika kita meminta Appa untuk meminta ijin pada Tuan Kang, mungkin…”

“Kyuhyun-ah,” Jonghyun menatap Kyuhyun serius “kita mempunyai kewajiban yang lebih penting ketimbang pergi hiking. Lagipula aku tidak menyukai hiking disaat musim dingin.”

Kyuhyun menjadi terdiam. Well, Kyuhyun mempunyai alasan khusus kenapa ia berusaha untuk mencari jalan supaya Jonghyun bisa pergi. Dan alasan Jonghyun kalau ia tidak menyukai hiking saat musim dingin adalah konyol. Sejak mereka sekolah menengah, Jonghyun sering-kali pergi hiking di musim apapun jika memungkinkan.

Jonghyun menyentuh kepala Kyuhyun dengan lembut. “Sudahlah, jangan berusaha terlalu keras seperti itu.”

Siwon melirik ke kursi belakang melalui kaca spion. Perlahan ia menarik nafas dan mempersiapkan diri untuk mendengar protes Haena. “Sebenarnya kau bisa menggunakan usul Kyuhyun,” tukasnya.

Haena sontak menatap rekan kerjanya dengan jengkel. Sepertinya Haena sudah menduga rencana apa yang akan dikatakan oleh Siwon. “Jangan coba-coba mengatakannya, Sunbaenim.”

“Tunggu?! Memangnya usul Kyuhyun tadi bisa digunakan?” tanya Jonghyun penasaran.

Siwon melirik pada Haena yang cemberut. “Sorry, Hae-ah. Well, kalian bisa meminta ijin langsung ke Presiden. Sebenarnya beliau mempunyai kewenangan lebih tinggi terhadap kalian dibandingkan Tuan Kang. Jadi… aw, Kim Haena, itu sakit sekali!!” tiba-tiba Siwon merintih karena Haena memukul lengannya dengan cukup keras.

“Sudah kubilang jangan mengatakan ide konyol itu, Sunbae. Walaupun Presiden memberikan ijin, mereka tidak akan mudah pergi tanpa pengawalan ketat. Kau mau membuat keberadaan mereka dalam bahaya, eoh?!” Haena kini berbicara dengan bahasa informal dan Siwon tidak menyukainya sama sekali.

“Sebenarnya itu tadi ide yang bagus,” gumam Kyuhyun. Haena sontak menoleh pada Kyuhyun dan memberikan tatapan jangan-ikut-ikutan-mendukung-rencana-konyol-itu pada sang Pangeran.

Jonghyun menghela nafas. “Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku tidak akan pergi,” kemudian Jonghyun menatap Kyuhyun, “Kita tidak akan pergi, Kyuhyun hyung.”

*****

Donghae menutup buku tebal yang cover lambang kerajaan didepannya. Ia menatap Kyuhyun yang juga sedang membaca dengannya di perpustakaan, sedangkan Jonghyun sedang sibuk dengan Tuan Kang. Donghae menarik nafas panjang. “Kyu, kau tidak penasaran?” tanyanya.

“Mengenai apa, Hae hyung?” Kyuhyun membalik halaman berikut dari bukunya.

Donghae melirik Kyuhyun yang terlihat acuh padanya. “Tutup dulu bukumu,” serunya jengkel.

Kyuhyun mendesah pelan lalu menutup bukunya. Kemudian ia menatap Donghae dengan lekat. “Apa, hyung?”

“Kita saudara, bukan? Maksudku, hubunganku denganmu dan Jonghyun adalah sepupu. Tapi bagaimana hubungan denganmu dan Jonghyun? Apa hubungan kalian sebenarnya? Sepupu atau mungkin saudara kandung seperti satu ayah dan ibu?” tutur Donghae.

Kyuhyun memperhatikan Donghae dengan serius. Well, sepertinya hal itu belum pernah terpikirkan olehnya. Mereka memang baru mengetahui status Kyuhyun, tapi apa yang dikatakan Donghae benar. Presiden Lee tidak mengatakan apapun mengenai hubungannya dengan Jonghyun. Beliau hanya mengatakan bahwa dirinya juga seorang Pangeran dan bersaudara darah dengan Jonghyun. Mungkin saat itu mereka terlalu difokuskan dengan pembahasan mengenai organisasi Hyde.

Kyuhyun menarik nafas panjang. “Mungkin kami juga sepupu, hyung. Lagipula jika kami berasal dari satu ayah dan ibu, bukankah itu artinya kami adalah saudara kembar karena usia kami sama.”

Sekali lagi, Kyuhyun merasa tertampar. Kemudian Kyuhyun tersenyum dan melanjutkan, “lagipula hasil test DNA itu hanya berdasarkan dengan DNA Pangeran Gyungho yang merupakan kakek buyut kita dan bukan dari orangtua asli kita.”

“Itu mungkin saja. Tapi mungkin sebaiknya kalian lebih memastikan lagi. Mungkin kalian memang bersaudara kembar, seperti yang kau katakan tadi. Kemungkinan itu bisa saja, bukan? Karena kalian sangat mirip,” tukas Donghae lagi.

Kyuhyun kembali tersenyum dan mengangguk.

*****

Siwon menemukan Haena sedang mengawasi Jonghyun yang sedang sibuk dengan gitarnya –diruangan yang sama ketika ia menemukan Haena sedang bermain piano. Pria itu mendekati Haena dan menyapanya sekilas. Haena meliriknya dan bergumam pelan. Ia tidak ingin menganggu Jonghyun.

“Hey, mengenai ijin Jonghyun untuk pergi bersama temannya, kurasa kita perlu mengusahakannya. Kau tahu, mereka sudah disibukkan dengan beberapa kegiatan serta pertemuan dengan beberapa professor. Dan kini mereka juga dikhawatirkan dengan keberadaan Hyde, mereka butuh liburan,” ucap Siwon.

Haena menghela nafas panjang. “Kita tidak bisa membiarkannya pergi. Jung Byunghee juga akan ikut bersama mereka,” tuturnya.

Siwon mengernyit. “Jung Byunghee? Hae-ah, dia tidak terlihat mencurigakan walaupun pamannya mencurigakan. Lagipula mereka bukanlah anggota Hyde. Kau perlu mengendurkan kewaspadaanmu jika seseorang tidak terbukti,” sahut Siwon.

Haena menatap Siwon kali ini. Tatapannya terlihat marah. “Kenapa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” tanya Siwon bingung.

Haena kembali menarik nafas. “Pangeran Hyun, sudah hampir waktunya. Anda harus ke perpustakaan sekarang,” ucapnya membuyarkan konsentrasi Jonghyun.

Jonghyun mengerang jengkel. Ia meletakkan gitarnya dan berjalan menghampiri Haena. “Kau tidak bisa membiarkanku rileks untuk sebentar saja? Sudah, jangan dijawab. Jaga saja gitarku supaya tidak ada yang menyentuhnya. Setelah pertemuan dengan professor Jang, aku akan kesini lagi,” tuturnya.

Haena mengangguk dan membiarkan sang pangeran pergi. Kini hanya Siwon dan Haena di ruangan tersebut. Siwon memperhatikan Haena yang kembali berjalan menuju piano besar.

“Aku mempunyai satu catatan hitam yang paling tidak bisa dimaafkan. Itu terjadi sebelum kedatanganmu dan jadi kau tidak mengetahuinya,” ucap Haena sembari memainkan tuts piano tersebut.

“Kau membuat kesalahan? Kesalahan seperti apa hingga tidak bisa dimaafkan?” tanya Siwon penasaran. Well, Siwon memang tidak mengenal banyak Pengawal Negara. Selain itu, selama ini dia hanya terjebak dengan Haena dan Seungho. Dan mereka jarang membicarakan mengenai masa lalu.

Haena masih memainkan tuts-tuts piano tersebut dengan lincah. “Salah satu rekanku terbunuh. Dan itu terjadi saat aku menjadi lengah karena seseorang yang awalnya kucurigai tetapi kecurigaan itu tidak terbukti. Hingga suatu hari, kami masuk kedalam jebakannya. Sejak misi itu, aku tidak pernah diberikan misi lapangan lagi. Aku hanya bertugas di pengawalan umum atau di kantor pusat. Misi melindungi pangeran adalah misi ketigaku. Jadi, aku tidak ingin mengacau lagi. Byunghee mungkin tidak mencurigakan tapi aku tidak bisa lengah lagi.”

Alunan lagu sedih dari pemainan Haena sepertinya menjadi bukti bahwa pengalaman itu adalah yang paling buruk. Siwon tidak mengetahuinya, Seungho mungkin tahu tapi memilih untuk tidak membicarakannya lagi. Haena adalah seorang Pengawal Negara dengan level keahlian yang tinggi, tapi Siwon tidak pernah menyangka bahwa ia juga pernah merasakan kegagalan.

Siwon menghampiri Haena dan duduk disebelahnya. Tangannya juga mulai menekan tuts-tuts tersebut –merubah lagu yang dimainkan Haena sebelumnya. “Aku juga pernah mengalami hal yang sama, hanya saja rekanku di CIA menjadi koma selama dua bulan dan tidak bisa bertugas dilapangan seumur hidupnya. Saat itu aku merasa menjadi orang yang sangat jahat. Aku telah menghancurkan karirnya dan juga kehidupannya. Tapi dia mengatakan padaku sesuatu yang membuatku menjadi lebih lega dan terbebas dari rasa bersalah sebelum aku kembali kesini. Kau mau tahu?”

Haena memperhatikan Siwon dengan serius. “Apa?”

Siwon tersenyum. Alunan lagu yang dimainkannya menjadi sangat ceria. “Dia mengatakan, “Andrew, kau mungkin orang yang paling jahat tapi aku sangat berterima-kasih. Selama ini, aku jarang berada dirumah dan menghabiskan waktuku bersama keluarga. Sekarang aku mungkin hanya akan berkutat dibelakang meja, tapi disisi lain aku mempunyai waktu yang kubutuhkan bersama keluarga sebelum aku menyesal. Jadi, saat kau di Seoul, buatlah rekan kerjamu merasakan hal yang sama. Kebahagiaan karena mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sebelum terlambat. Kau juga harus mencari calon istri yang mengerti pekerjaanmu dan berikan aku akomodasi ke Seoul jika kau menikah disana.” Begitulah, dia memang orang yang cerewet.”

Haena masih memandangi Siwon. Tapi ia tersenyum kecil. “Lalu bagaimana jika rekanmu itu meninggal, apa yang akan kau lakukan? Kasus kita berbeda, tahu.”

“Maka kau harus menemui keluarganya. Menangis bersama mereka dan mengatakan hal-hal baik yang dilakukan oleh rekanmu dan penyesalan karena kau tidak mati bersamanya karena salah satu dari kalian harus menyelesaikan misi. Pekerjaan kita memang memberikan resiko seperti ini. Hari ini mungkin kau bisa selamat menjalankan misi, tapi besok? Tidak ada yang mengetahuinya, Haena. Semua adalah jalan takdir. Jika bukan rekanmu yang meninggal saat itu, maka itu mungkin adalah dirimu,” ucap Siwon panjang.

Haena menarik nafas panjang. “Baiklah, terima kasih untuk sarannya, Sunbaenim. Tapi aku tetap akan menolak permintaan ijin bagi Pangeran Hyun.”

*****

Haena melotot pada Siwon, tapi sunbaenimnya itu berpura tidak melihat Haena. Kedatangan Presiden Lee yang begitu mendadak membuat semua orang menjadi sibuk. Tapi setelah beliau mengatakan bahwa ia memberikan ijin untuk Kyuhyun, Jonghyun dan Donghae pergi untuk liburan, itu membuat semua orang menjadi lebih sibuk –terutama Tuan Kang yang tidak mungkin membantahnya. Saat ini, semua pengawal tengah bersiap untuk keberangkatan ketiga pangeran esok. Jadi, beberapa kegiatan hari ini dibatalkan.

Haena tidak tahu kapan Siwon berbicara dengan Presiden Lee atau mungkin Siwon meminta bantuan dari kakaknya untuk bisa berbicara pada Presiden. Well, kakak Siwon adalah sahabat ayah angkat Kyuhyun dan Jonghyun –Moon Jeonghyuk yang juga seorang staff di Cheongwadae. Jadi, itu adalah hal mudah untuk bertemu dengan Presiden Lee.

Tapi yang Haena khawatirkan adalah ketiga pangeran akan pergi bersama, lalu bagaimana dengan teman-teman Jonghyun? Bagaimana mereka menjelaskannya dengan keikutsertaan Donghae? Karena sangat tidak mungkin meninggalkan Donghae sendirian di paviliun, sedangkan mereka –Jonghyun dan Kyuhyun– pergi hiking. Selain itu, Presiden Lee dengan sangat jelas mengatakan bahwa tiga pangeran dan bukan dua.

“Well, walaupun cukup merepotkan setidaknya mereka bisa pergi bukan?” tukas Siwon.

Seungho menatapnya dengan pasrah. “Tapi setidaknya kau bicara dulu dengan kami? Pangeran Donghae harus ikut sedangkan ia tidak mengenal siapapun dari teman Pangeran Hyun dan Pangeran Kyuhyun. Lalu bagaimana dengan sistem pengawalannya? Mereka akan curiga jika ada banyak orang berpakaian hitam-hitam disekeliling mereka.”

“Kepala Pengawas Cha memerintahkan untuk menyamar. Hanya kita bertiga yang memiliki tugas resmi. Masalah Pangeran Donghae, aku yakin dia bisa berbaur dengan mudah dengan teman-teman kedua pangeran,” ujar Siwon lagi.

Seungho memperhatikan Haena yang tidak memberikan komentar apapun. Ia menarik nafas panjang karena sepertinya gadis itu sangat marah dengan perbuatan Siwon yang terkesan menyalahi peraturan. Tapi bagaimana lagi, Siwon memang tidak terbiasa dengan peraturan Kepengawalan Negara dan selain itu Siwon juga cukup dikenal “pemberontak” selama di CIA. Jadi, Seungho tidak akan terkejut lagi jika Siwon bersikap seenaknya.

“Haena, kau tidak mengatakan apapun sejak tadi. Apa kau setuju saja dengan apa yang dilakukan Siwon?” tanya Seungho.

Sontak Siwon menatap gadis itu. Haena menghela nafas dan memilih untuk pergi tanpa mengatakan apapun. Siwon menjadi cemberut. Haena benar-benar marah padanya. Yeah, Siwon bisa mengerti karena Haena sudah memberikan penolakan terhadap idenya. Tapi Siwon tidak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya.

Seungho kembali menatap Siwon. “Kau harus bersikap baik padanya selama perjalanan nanti. Akan sangat merepotkan jika dia mendiamkanmu terus.”

Siwon hanya mengangguk patuh.

*****

“Aku tidak akan pergi,” ucap Donghae yang membuat Jonghyun dan Kyuhyun yang tengah menyiapkan keperluan untuk besok menatapnya.

Jonghyun mengernyit. “Waeyo? Presiden Lee sudah memberikan ijin, selain itu…”

“Aku tidak mengenal teman-teman kalian. Lagipula bagaimana dengan teman-teman kalian, mereka mungkin tidak setuju,” sela Donghae memotong ucapan Jonghyun.

Kyuhyun menghela nafas pendek dan Jonghyun menghampiri Donghae sembari mengeluarkan ponselnya. “Aku sudah mengatakan bahwa kami akan mengajak sepupu kami, yaitu kau. Dan mereka setuju. Lihat,” Jonghyun memperlihatkan group chat-nya.

Donghae membacanya sekilas. “Tapi tetap saja, aku tidak mengenal mereka. Kalian akan mengabaikanku,” ucapnya dengan wajah cemberut.

Kyuhyun lalu menghampiri keduanya dan merangkul bahu Donghae. “Jika kami mengabaikan hyung, bisa dipastikan Seungho akan mengadu pada Presiden dan beliau pasti akan memarahi kami. Lagipula aku juga tidak mengenal mereka. Mereka teman-teman Jonghyun,” tukas Kyuhyun.

“Hey! Diantara mereka mungkin hanya Byunghee yang masih terkesan canggung. Tapi sudahlah, hyung pasti bisa akrab dengan mereka. Dan apa yang dikatakan Kyuhyun ada benarnya. Presiden Lee akan habis-habisan memberikan ceramah pada kami,” sahut Jonghyun.

Kyuhyun tersenyum tipis. “Otthe?”

Donghae memperhatikan kedua saudaranya dengan lekat. “Janji tidak akan mengabaikanku?”

Kyuhyun dan Jonghyun menghela nafas bersamaan dan mengatakan, “Iya, janji.”

*****

Jeonghyuk menatap Seunghoon dengan lekat. “Kau akan pergi bersama mereka?” tanya sembari meletakkan gelas berisi minuman dihadapan Seunghoon.

“Ne, Presiden Lee meminta bantuanku sebagai back-up. Aku hanya sebagai pengawas karena sepenuhnya tugas kepengawalan diserahkan pada Pengawan Negara yang bertugas. Hanya saja, Presiden Lee cukup khawatir karena ini pertama-kalinya mereka pergi bertiga tanpa pengawal yang ketat,” jelas Seunghoon.

Jeonghyuk mengangguk mengerti. Ia kemudian meneguk minumannya sendiri. Seunghoon memperhatikan sahabatnya dengan serius dan menarik nafas. “Kau bisa ikut bersamaku. Anggap saja kita juga pergi hiking,” ucap Seunghoon.

“Pergi hiking? Tapi bukankah…”

“Aku tahu. Tapi setidaknya dengan cara ini kita bisa mengawasi mereka dari dekat. Lagipula sudah lama sekali sejak kita pergi bersama, bukan? Ayolah…” bujuk Seunghoon.

Jeonghyuk menatap sahabatnya dengan lekat lalu mengangguk setuju. Seunghoon menepuk bahunya dengan senyuman puas. Jeonghyuk menghela nafas panjang. Yah, hanya perjalanan singkat. Tidak akan ada hal buruk akan terjadi, bukan?

*****

Henry memperhatikan Byunghee yang sedang packing di kamarnya. Well, dia tidak akan terkejut melihat sikap keponakannya menjadi sedikit berubah sejak datang ke Seoul. “Kau yakin akan pergi hiking? Ini pertama-kalinya bukan?”

Byunghee menggumam sembari mengecek barang bawaannya. “Selalu ada yang pertama dalam hidup manusia, Paman.”

Henry tersenyum. “ Yeah, kau benar. Jadi, kau pergi ke gunung Seorak?”

Byunghee mengangguk. “Dan aku akan membawa salah satu mobil Paman, jika boleh.”

“Oh, tentu saja. Kalian pergi berapa orang? Teman-temanmu di kampus?”

Byunghee tersenyum dan menarik nafas. Ia kemudian menghampiri Henry yang hanya berdiri diambang pintu kamarnya. “Hanya enam orang. Tapi kurasa jumlahnya akan lebih dari duapuluh orang,” tuturnya sembari menyeringai.

Henry tersenyum. “Paman mengerti. Hati-hati selama perjalanan. Jangan sampai ada yang terluka, eoh?”

Byunghee kembali mengangguk. Henry kemudian meninggalkan kamar Byunghee dan menuju ruang kerjanya yang bersebelahan dengan kamar tidurnya. Disana Tuan Kim sudah menunggu dengan laporan yang telah dipersiapkannya. Henry menarik nafas. Ia lalu menuangkan wisky kedalam gelas. “Byunghee sepertinya sangat bersemangat untuk perjalanan hiking ini,” tuturnya.

Kemudian Henry membawa gelas itu ke meja kerjanya. Ia menatap Tuan Kim dengan lekat. “Jadi, bagaimana?”

“Ketiga Pangeran dipastikan akan melakukan perjalanan tersebut. Dan sesuai dugaan, pihak Cheongwadae melakukan beberapa pengamanan ketat di sekitar gunung Seorak,” jelas Tuan Kim.

Henry mengangguk sembari menyesap wisky-nya. “Lalu belum ada kejelasan siapa diantara mereka adalah Pangeran Hyun?”

Tuan Kim lalu meletakkan sebuah dokumen dan membukanya. Disana terdapat dua buah foto dan beberapa lembar informasi yang telah dikumpulkannya. “Ini adalah Lee Jonghyun dan Cho Kyuhyun. Salah satu dari mereka adalah Pangeran Hyun. Informan kita mengatakan bahwa Lee Jonghyun memiliki kemungkinan lebih besar, namun dari beberapa informasi Cho Kyuhyun memiliki kemungkinan yang sama.”

Henry lalu duduk dan memperhatikan kedua lembar foto itu dengan seksama. “Ini aneh. Mereka terlihat mirip, kau yakin mereka tidak kembar? Maksudku, Pangeran Gyungho sendiri memiliki saudara –ah, saudari kembar, bukan? Jadi, bisa saja keturunannya juga ada yang kembar.”

Tuan Kim mengangguk. “Ye, kami juga memikirkan hal tersebut. Mereka memang menunjukkan ciri-ciri umum pada anak kembar, namun informan kita dengan yakin mengatakan mereka bukanlah anak kembar.”

“Tapi aku tetap tidak yakin. Lakukan test DNA pada keduanya. Tch, walaupun dia orang dalam Cheongwadae, tapi aku tidak pernah percaya seratus persen pada ucapannya. Ah, Byunghee akan pergi selama dua hari, tetap awasi dia dan jalankan rencana awal kita. Kurasa, Cheongwadae perlu diberikan peringatan,” perintah Henry.

Tuan Kim mengangguk patuh. “Ne, Mr. Hyde.”

*****

Perjalanan menuju kota Seokcho, Haena masih terus memperhatikan mobil yang berada di depan mobil yang ditumpangi olehnya, Siwon dan Seungho. Well, untuk perjalanan kali ini rasanya tidak mungkin mereka bertiga harus mendampingi ketiga pangeran. Jadi, untuk kali ini mereka akan mengawasi dari belakang. Setidaknya, Kyuhyun dan Jonghyun bisa diandalkan untuk menjaga Donghae.

Seungho yang duduk dikursi belakang menarik nafas panjang. Perjalanannya sudah hampir tiga jam, tapi Haena tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. “Haena-ya, rileks sedikit. Kita berada di jalan utama, tidak akan terjadi hal buruk,” tuturnya.

Siwon sedikit melirik kearah gadis itu dan kembali fokus menyetir. Well, sejak awal perjalanan, Haena tidak pernah mengendurkan pengawasannya pada mobil yang ditumpangi ketiga pangeran. Walaupun mereka sudah memasangkan alat pelacak dan alat sadap di tas ketiga pengeran, sepertinya itu tidak membuat Haena tenang.

“Kim Haena,” panggil Seungho lagi.

Haena menghela nafas pendek. “Jangan berisik, Sunbaenim.”

Seungho menjadi diam karena ucapan tegas Haena. Gadis itu cukup menyeramkan jika sudah marah. Seungho melirik Siwon yang menyetir. Mood Haena sama sekali tidak membaik sejak kemarin, bahkan malah bertambah buruk. Sepertinya Siwon tidak melakukan apapun untuk memperbaiki situasi.

“Siwon-ah, ingat ucapanku kemarin, bukan?” tukas Seungho.

Siwon melirik Seungho melalui spion. “Ne, Sunbaenim. Tentu saja, aku ingat,” tutur Siwon dengan canggung. Seungho bisa terlihat sama menyeramkannya dengan Haena.

Seungho kembali menghela nafas panjang. “Hah, perjalanan yang sangat panjang.”

*****

Jaeshin memperhatikan Donghae yang duduk sangat dekat dengan Kyuhyun. Kemudian ia menatap Jonghyun yang duduk disebelahnya. “Apa benar kalian adalah sepupu?” tanya Jaeshin untuk kesekian kali.

Jonghyun mendesis jengkel. “Jae-ah, kau sudah bertanya hal itu puluhan kali selama perjalanan. Hentikan! Semakin terdengar menyebalkan,” serunya kesal.

“Tapi kalian tidak begitu mirip?” tukas Jaeshin lagi.

Kali ini Jonghyun membalasnya dengan memukul kepala gadis itu. Donghae sedikit terkejut tapi Kyuhyun hanya tertawa kecil melihatnya. Jaeshin mendecak marah. “Kenapa memukulku?!”

“Kami ini anak angkat. Jika Donghae hyung tidak mempunyai kemiripan dengan kami, bukankah itu wajar? Kau itu menggunakan apa sih untuk berpikir?! Tch, bagaimana bisa kau bertahan empat tahun kuliah, eoh?” omel Jonghyun.

Jaeshin menjadi cemberut dan mengusap kepalanya. “Maaf, aku melupakan itu. Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Dan jangan mengejekku begitu,” sahutnya.

Jaeshin kemudian hanya memperhatikan jalanan. Jonghyun menoleh kebelakang dan tersenyum tipis pada Donghae. Minho yang duduk di kursi depan menemani Byunghee yang menyetir sedikit menoleh. “Kurasa kita perlu berhenti sebentar. Aku takut akan terjadi peperangan besar antara Jaeshin dan Jonghyun nanti,” godanya.

Jonghyun mendesis jengkel dengan ucapan Minho, tapi ia tidak berniat untuk membalasnya. Ia sudah terlalu lelah berdebat dengan Jaeshin. Minho kembali duduk dengan tegak. “Byunghee-ya, kita istirahat dulu, ne.”

Byunghee hanya mengangguk tanpa berbicara banyak. Di kursi belakang Donghae semakin erat memeluk lengan Kyuhyun. Kyuhyun menatap sepupunya itu dengan lekat. “Waeyo, hyung?” bisiknya.

“Apa Jonghyun selalu menakutkan jika sedang marah?”

Kyuhyun melirik Jonghyun yang sibuk dengan PSP-nya. Ia tersenyum tipis. “Sedikit, tapi aku sedikit lebih menyeramkan dibandingkan Jonghyun jika sedang marah,” ujarnya.

Sontak Donghae melepaskan lengan Kyuhyun. Kyuhyun mengernyit sembari menahan senyum. “Wae?”

Donghae menggeleng. “Tapi jika kalian marah padaku, tidak sampai memukulku, bukan? Seperti yang dilakukan Jonghyun pada temannya tadi.”

“Euhm? Tergantung apa kesalahanmu hingga membuat kami marah, hyung. Tapi kami tidak akan memukul orang lain tanpa alasan walaupun orang itu membuat kami marah. Jonghyun memukul Jaeshin sebagai ekspresi jengkel. Itu sudah biasa terjadi. Terkadang Jonghyun juga sering memukulku begitu, tapi aku menanggapinya tidak serius,” jelas Kyuhyun kemudian menyeringai pada Donghae.

Kemudian ia merangkul bahu Donghae. “Ani, hyung. Kami tidak akan melakukan hal seperti itu padamu. Aku hanya bercanda,” tukasnya.

Donghae hanya tersenyum menanggapi ucapan Kyuhyun. Dan sebenarnya Donghae merasa tidak begitu nyaman dengan teman Jonghyun yang menyetir. Sejak pertemuan mereka pagi ini, pemuda itu selalu saja menatapnya dengan sedikit menakutkan. Tapi Donghae tidak mengatakan apapun.

*****

Siwon menghampiri Haena dan menyodorkan segelas kopi pada gadis itu. Haena mengambilnya dengan helaan nafas panjang. Siwon tersenyum tipis dan memperhatikan ketiga pangeran yang sibuk membeli makanan ringan. Siwon menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Kau benar-benar marah padaku karena ide ini, ya?”

“Jika kau membicarakannya dulu pada kami, mungkin aku tidak akan marah,” tutur Haena.

“Maaf, tapi waktunya sangat mendesak. Teman mereka juga perlu kepastian apakah mereka akan ikut atau tidak, bukan? Jadi, aku terpaksa memberitahu kakakku mengenai hal ini. Dan dia memberitahu Presiden Lee. Kupikir dia akan membicarakan dulu dengan Jeonghyuk hyung. Aku juga terkejut melihat kedatangan Presiden kemarin,” jelas Siwon.

Haena menghela nafas lagi. Ia menatap Siwon dengan lekat. “Sunbaenim, bersikap tegas layaknya seorang Pengawal Negara. Kau bicara padaku seperti kau bicara pada ibumu. Apa aku terlihat seperti orang yang harus dihormati. Tch, apa aku semenakutkan itu?”

Siwon tersenyum lagi dan merangkul bahu Haena. “Kau memang menakutkan Hae-ah. Apalagi sedang marah. Tapi mungkin karena kau juga begitu menggemaskan jadi aku selalu bicara seperti itu padamu. Mian,” tukasnya.

Haena mendengus kesal dan melepaskan tangan Siwon. Kemudian ia meninggalkan Siwon untuk menghampiri ketiga pangeran. Seungho lalu datang dengan wajah puas. “Kau sudah menyelesaikannya?”

Siwon mengangguk. “Tapi, apa aku selalu bicara seperti itu jika pada Haena? Rasanya aku tidak pernah begitu.”

“Hey! Hey! Kau selalu bicara dengan nada merendah dan terdengar seperti anak kecil yang bicara pada kakaknya. Kau itu lebih tua darinya, bicara sesuai dengan usiamu Choi Siwon,” sahut Seungho.

“Benarkah? Tapi rasanya tidak,” gumam Siwon lalu menyesap kopinya.

Seungho hanya menggelengkan kepalanya. Siwon sepertinya sudah menjadi akrab dengan Haena hingga ia tidak mengetahui kalau cara bicaranya dengan gadis itu dan orang lain sangatlah berbeda. Siwon terdengar begitu berhati-hati setiap bicara pada Haena –seakan tidak ingin membuat kesalahan yang membuat gadis itu marah padanya. Seungho menjadi berpikir, kenapa Siwon bersikap seperti itu pada Haena tapi pada Pengawal Negara wanita yang lainnya tidak?

Seungho menatap Siwon dengan lekat. “Hey, apa kau menyukainya?”

Sontak Siwon tersedak karena pertanyaan Seungho. Ia menatap sunbaenimnya itu dengan mata hampir keluar. “Sunbaenim, bicara apa?! A-aku menyukainya? A-ani, aku hanya menganggapnya sebagai adik!!”

“Yak! Aku hanya bertanya, bodoh. Jangan berteriak dan menarik perhatian banyak orang lain. Lagipula sikapmu padanya begitu berbeda, jadi kupikir kau menyimpan perasaan padanya,” ujar Seungho.

Siwon mendecih pelan lalu menyesap kopinya lagi. “Yang benar saja. Aku tidak menyukainya, Sunbaenim!”

Seungho tertawa kecil dan memukul kepala Siwon. “Arreo! Dan berhenti memanggilku Sunbaenim. Sejak kapan kau mulai memanggilku dengan Sunbaenim, eoh? Hentikan!!”

*****

Minho menatap Jaeshin yang memperhatikan tiga orang yang selalu berada disekitar Jonghyun, Kyuhyun dan sepupunya yang bernama Donghae itu. Minho tahu kalau sifat penasaran Jaeshin kembali kambuh dan dia tidak akan berhenti sampai rasa keingintahuannya terpuaskan. “Waeyo? Kau tertarik pada salah satu orang yang selalu bersama Jonghyun dan Kyuhyun?”

Jaeshin mendesis jengkel dan memukul kepala Minho. “Jaga bicaramu, Choi Minho.”

Byunghee hanya tersenyum dan meneguk kembali kopinya. “Tapi aku bisa mengerti perasaan Jaeshin. Kau penasaran, bukan? Aku juga,” tukasnya.

Jaeshin menghela nafas. “Yah, memang hanya Byunghee yang bisa mengerti. Tapi Minho-ya, kau memang tidak penasaran dengan mereka bertiga itu? Rasanya aku pernah melihat salah satu dari mereka.”

“Dimana?”

Jaeshin memandang Minho dengan jengkel. Tapi ia berusaha untuk menahan diri. Ia tidak ingin perjalanan terakhir mereka di masa kuliah menjadi kenangan buruk. Jaeshin menghela nafas panjang. “Lebih baik kita melanjutkan perjalanan.”

Minho menatap Jaeshin yang berjalan keluar menuju area parkir. Kemudian ia menatap Byunghee dengan lekat. “Sepertinya Jaeshin sedang PMS. Moodnya buruk sekali hari ini.”

Byunghee tersenyum. “Mungkin saja. Cepat panggil mereka. Kau tidak mau mendengar omelan Jaeshin selama perjalanan, bukan?”

Minho terkekeh. “Ya, sepertinya memang ide yang buruk. Tiga jam perjalanan lagi. Apa kau mau bergantian menyetir?”

Byunghee menggeleng. “Tidak apa-apa. Cepat panggil Jonghyun dan dua saudaranya itu. Aku duluan,” sahutnya yang kemudian menyusul Jaeshin.

Minho lalu menghampiri Jonghyun untuk memberitahu mereka harus segera berangkat lagi. Tapi ketika menuju pintu keluar, Byunghee kembali berbalik dan memperhatikan tiga orang yang selalu saja mengikuti kemanapun Jonghyun dan Kyuhyun pergi. Byunghee tersenyum.

“Sepertinya perjalanan kali ini akan sangat menyenangkan.”

*****

Mereka sampai di sebuah resort dekat kaki gunung Seorak. Walaupun musim dingin, mereka cukup beruntung karena masih ada beberapa resort yang tetap membuka sewa sedangkan yang lainnya memilih untuk tutup. Wisata gunung Seorak memang selalu dibuka tiap tahun, kecuali jika terjadi cuaca buruk, akses pendakian akan ditutup seluruhnya.

Minho dan Byunghee sedang sibuk mengeluarkan tas ransel besar mereka dari mobil sedangkan Jaeshin mengurus penginapan mereka. Dan Jonghyun sedang berdebat  hebat dengan para pengawalnya. Kyuhyun dan Donghae tidak akan ikut campur jika Jonghyun sedang marah seperti itu.

“Tidak bisakah kalian memberitahu kami lebih cepat? Kita sudah sampai dan kalian…” Jonghyun terlalu kesal hingga ia tidak tahu harus bicara apa lagi.

Siwon melirik Seungho. Paling tidak, mungkin Seungho adalah orang yang paling tepat bicara pada Jonghyun disaat emosinya sedang tinggi seperti ini. Seungho menarik nafas panjang. “Maaf, Pangeran. Tapi ini juga diluar dugaan.”

Jonghyun mendesah dan berbalik untuk menatap Kyuhyun. “Kyuhyun…”

Kyuhyun lalu menghampiri Jonghyun dan dua pengawal mereka. Sedangkan Donghae tidak ingin ikut jadi dia membantu Minho dan Byunghee mengeluarkan tas. Haena sendiri mengawasi Donghae dari jauh. Salah satu dari mereka harus mengawasi setiap pergerakan Pangeran, bukan?

Kyuhyun menatap Siwon dan Seungho dengan lekat. “Tidak bisakah kita tinggal sampai besok? Rasanya tidak mungkin kita kembali ke Seoul sekarang. Kita semua sudah lelah.”

“Maaf, Pangeran Kyuhyun. Kita tidak bisa tetap tinggal. Para Pengawal Negara yang lain tidak bisa memasuki area dan kami tidak ingin mengambil resiko keamanan kalian. Kepala Pengawal Cha…” ucapan Seungho terhenti ketika ia merasa seseorang menyentuh bahunya.

Jonghyun dan Kyuhyun terlihat terkejut.

“Biarkan mereka tinggal sampai besok, Seungho,” tutur Jeonghyuk.

Siwon juga tidak percaya kalau kakak lelakinya juga datang. Seunghoon tersenyum pada Siwon.

“A-Appa…” gumam Kyuhyun.

Jeonghyuk menatap Jonghyun dan Kyuhyun bergantian. “Kalian bisa tetap tinggal sampai besok malam. Setelah itu kalian harus kembali ke Seoul. Pihak Cheongwadae mungkin akan bersikap keras setelahnya, tapi kalian berhak untuk merasakan liburan. Hanya saja, Pangeran bertiga harus tinggal dalam satu villa yang sama dengan kami.”

Kyuhyun menatap Jonghyun. “Otthe? Kau mungkin merasa tidak enak hati pada teman-temanmu, tapi sepertinya kita hanya mempunyai satu pilihan.”

Jonghyun menatap Jeonghyuk untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat bahunya. “Terserah. Tapi Jaeshin akan mengomel lagi.”

*****

NOTE: Sudah lama tak diupdate, ganti judul lagi. Hahahaha.. maaf ya. kadang memang suka plin-plan. Err.. ini bakal dibagi per-part lagi dan….

aku gak tahu mau ngomong apa. Jadi….

Advertisements

16 thoughts on “[MM] The Last King Part 11 [1/?]

  1. Eh, ini gnti judul lagi kan?? awalnya mau baca aq agak bingung, saat paragraf pertama terbaca, trnyata ff ini tho!!! kkkk

    apa saat mereka hiking, akan ada sesuatu yg terjadi karena ulah hyde?? jadi penasaran. d tggu bnget kelanjutannya. 😉

  2. Annyeong….aku reader baruuuu ^_^

    Aku udah baca the president dari ch1-smpai ch ini….
    Daebakkkkkkk kerennnnn….

    AIshhhh aku suka bangetttt sama cerita yg kyk gini,g terlalu romance…apa lagi ada cast Donghaeee ughh makinn suka bangetttt….

    Disini sifat donghae juga yg polos childnis gmn gitu…tambah demen….

    Lanjuttt lgi author….
    Aku akan sering-sering koment….
    Gomawooooo^_^

  3. bru nyadar judul nya di ganti -_-
    awal nya saya bingung lho ini FF yg mana? tpi pas liat foto nya trnyata..
    ckck
    Donghae klo udh sma JongKyu emg yaa dia berasa magnae :3
    geli bgt pas Hae takut klo liat Jonghyun marah .
    haha
    eoh?? bener yg dikatakan seungho itu? masa? siwon suka sama haena?! o.O
    penasaran nnti nya ada perang ngga ya di resort itu?? bakal rame dah nnti nya klo ada .
    hoho
    -Shin SiHyun-

  4. Suka…suka…suka….
    suka banget dengan adegan Jonghyun menyentuh kepala Kyu dengan lembut, terasa Kyu yang jadi adiknya hehe. Moga nggak terjadi apa-apa dengan mereka berdua (Jonghyun dan Donghae), kalo ma Kyu sih nggak pa2, sedikit terluka kayanya seru#plak#.
    Suka banget dengan sifat Kyu yg ceria, seperti anak kecil. biasanya kan dia serius.

    Ditunggu lanjutannya….

  5. benarkah siwon suka ama haena? jng dong, siwon kan sukanya ama kyuhyun., ha…ha..ha.., apakah akan aman2 sj kyuhyun dan lainnya pergi berlibur ke bukit itu, bukannya malah berbahaya. mungkinkah ada maksud tertentu di balik liburan kali ini? apa maksud byunghee sebenarnya? siwon, haena dan lainnya hrs sll waspada apalagi dng orang2 yg di dekat mereka. pengalaman bisa menjadi pelajaran agar sll berhati2. mudah2an sj ke tiga pangeran itu gak kenapa2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s