[SF] Only One Part 25

spring

[Part 25]

Kyuhyun menghela nafas panjang setelah membaca surat keputusan perusahaan. Walaupun Kyuhyun tahu hal ini pasti terjadi, tapi ia berharap kalau dia tidak akan kembali ke kota itu lagi. Nyatanya, setelah empat tahun, Kyuhyun akan kembali. Menjalani kehidupan di negara lain memang sebuah tantangan, terlebih dengan budaya yang benar-benar berbeda dan tanpa kerabat yang dikenalnya. Tidak cukup beruntung karena ia sempat mengalami culture shock.

Beberapa bulan setelah sampai di Paris, Kyuhyun baru benar-benar merasakan keindahan kota tersebut. Culture shock membuatnya ingin menangis dan pulang untuk berada dipelukan keluarganya. Tapi Kyuhyun bersikeras untuk bertahan. Salah satu rekan kerjanya, Steve sangat ramah dan membantunya beradaptasi di Paris. Namun, setelah satu setengah tahun di Paris, perusahaan tiba-tiba memindahkannya ke Kanada.

Well, Kyuhyun tahu benar dengan resiko pekerjaannya di perusahaan itu. Sistem kerja di perusahaan cukup berbeda dengan perusahaan lain. Setiap pegawai akan dipindahkan ke kantor cabang di kota mana pun, negara mana pun, sesuai kemampuan dan kebutuhan kantor cabang setelah setahun atau dua tahun.

Setelah satu setengah tahun bekerja di Paris, Kyuhyun mendapat pekerjaan keduanya di Kanada –lebih tepatnya di Toronto. Tidak akan ada yang berubah, hanya saja Kyuhyun harus kembali beradaptasi dengan lingkungan baru dan rekan kerja yang baru. Well, sebenarnya tidak juga, karena Steve juga dipindahkan ke Toronto –hanya saja ia berbeda divisi dengan Kyuhyun nanti. Tapi itu lebih baik ketimbang Kyuhyun tidak mengenal siapapun di Toronto. Dan kembali lagi, setelah dua setengah tahun –yang awalnya Kyuhyun mungkin tidak akan dipindahkan sampai tiga tahun ia bekerja di Toronto– ia mendapat surat pemindahan pekerjaan. Hanya saja, ia akan kembali ke kota kelahirannya –Seoul.

Kyuhyun menarik nafas lagi dan menyimpan surat itu dalam jurnalnya. Ia menatap sebuah pigura yang selalu ia letakkan di meja kerjanya –foto keluarganya– dan tersenyum tipis. Setelah empat tahun dan hanya sempat tiga kali kembali ke Seoul, akhirnya Kyuhyun akan pulang. Dan seharusnya ia senang.

“So, you’re going back to Seoul?” tukas Steve yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

Kyuhyun menyentuh dadanya dan menghela nafas. “Hilangkan kebiasaan muncul seperti hantu, Steve!”

Steve terkekeh dan mengambil kursi di sebelah meja kerja Kyuhyun –well, rekan kerja Kyuhyun sedang keluar meeting, dan di ruangan itu hanya ada Kyuhyun, beberapa orang dan satu bos yang sibuk diruangannya sendiri. “Sorry, tapi kau tidak menjawab pertanyaanku, Marc.”

“Stop call me Marc, Steve. Ini sudah empat tahun dan kau masih tidak berhenti,” Kyuhyun seperti mengalihkan pertanyaan awal Steve.

Steve menghela nafas panjang. “Okay, fine. Kyuhyun, jawab pertanyaanku.”

Kyuhyun mendengus jengkel dengan tingkah sahabatnya. Entah bagaimana ia bisa bertahan selama empat tahun dengan sikap Steve itu. “Yes. I’m going back to Seoul. Happy? Kau mendapat surat juga? Kemana?”

“Beijing. Ah, seandainya aku bisa menggantinya dan ikut bersamamu ke Seoul. Kau tahu khan, aku penasaran sekali dengan kota-mu itu,” sahut Steve.

Kyuhyun tersenyum dan mengambil sebuah dokumen yang harus diselesaikan hari ini. “Kau mau tukar denganku?”

“Heh? Tukar?”

Kyuhyun mengangguk. “Kau ke Seoul dan aku ke Beijing.”

“Kau serius? Tapi, rasanya akan sulit. Lagipula bagaimana bisa kau menyia-nyiakan kesempatan emas untuk pulang? Aku bahkan harus menunggu lama sekali untuk bisa pulang ke California. Well, tidak tahu kapan itu akan terjadi,” tukas Steve.

Kyuhyun terdiam sejenak. Yeah, kenapa ia harus menyia-nyiakan kesempatan untuk pulang dan malah bekerja di kota lain? Kyuhyun mungkin menyimpan sebuah jawaban, tapi ia tidak ingin menggunakannya sebagai alasan untuk menghindari Seoul. Ia mungkin terlihat sangat menyedihkan nanti.

Steve memperhatikan Kyuhyun. “Kau kembali melamun, Kyuhyun.”

Kyuhyun sontak menoleh pada Steve dan tersenyum tipis. “Aku hanya ingin mencari pengalaman baru. Setelah lama di Moscow, aku kembali ke Seoul. Tapi aku merasa bosan juga disana. Jadi, mendapat kesempatan bekerja di perusahaan ini adalah sebuah keberuntungan. Aku bisa pindah ke kota di negara mana pun. Mencari pengalaman baru, mendapat rekan kerja baru.”

“Tch, klise. Walaupun sebenarnya aku tahu kau sedang menutupi alasan sebenarnya, tapi aku tidak akan memaksamu untuk bicara. Tapi jika kau benar-benar serius dengan penukaran itu, kau harus yang mengajukannya pada atasanmu itu. Aku tidak mau berusaha sendiri dan akhirnya malah gagal,” ujar Steve.

Kyuhyun mengangguk. “Akan kubicarakan padanya. Tenang saja,” kemudian Kyuhyun kembali fokus pada pekerjaannya dan membiarkan Steve memperhatikan keseluruhan ruangan.

Well, Kyuhyun tidak perlu repot-repot mengusir Steve untuk kembali ke meja kerjanya sendiri. Steve adalah tipe orang yang selalu mengutamakan pekerjaan. Jika saat ini dia malah berada di ruangan divisi Kyuhyun dan bukan di meja kerjanya, tandanya Steve sudah selesai dengan pekerjaannya. Steve menarik nafas dan terfokus pada ruangan atasan Kyuhyun.

Steve mengernyit. “Hey, Atasanmu bukan Mr. Charlie lagi?”

“Bukan. Mr. Charlie dipindahkan ke New York enam bulan lalu. Penggantinya dari Guangzhou,” tutur Kyuhyun tanpa memperhatikan Steve.

Steve melirik Kyuhyun dan kembali fokus pada sosok atasan Kyuhyun yang sedang bekerja. “Seorang pemuda? Berapa usianya?”

Kyuhyun terdiam untuk berpikir. “Kurasa sekitar duapuluh tujuh. Atau duapuluh delapan? Ah, entahlah.”

“Muda sekali? Dia bukan anak dari salah satu pemilik perusahaan? Karena usianya sangat tidak masuk akal untuk bekerja dengan jabatannya saat ini,” tukas Steve.

“Kurasa dia tidak mempunyai koneksi apapun. Yang kudengar, dia rekrutan dari Universitas. Bahkan sebelum lulus, perusahaan sudah mengirimkan surat rekomendasi bekerja untuknya,” jelas Kyuhyun.

Steve mendesah. “Ah, mahasiswa jenius rupanya.”

Kyuhyun tidak memperhatikan lagi. Masih ada beberapa dokumen lain yang harus diselesaikannya dalam minggu ini. Dan Kyuhyun tidak mau mendapat teguran dari atasan yang lebih muda darinya –itu terlihat sangat memalukan.  Steve masih bertahan di ruangan itu. Sebentar lagi jam makan siang dan ia akan mengajak Kyuhyun pergi ke restauran yang terletak di kantor mereka. Well, tempat favorit mereka untuk menghabiskan waktu istirahat sejak pertama-kali di Toronto.

Tak lama, Jason –salah satu rekan Kyuhyun– datang dengan membawa seorang pemuda. Steve memperhatikan pemuda yang mengikuti Jason menuju ruangan kepala divisi mereka. “Orang Korea,” tukas Steve yang membuat Kyuhyun menatapnya.

“What you say?”

“Korean. Tamu atasanmu. Dan kuyakin bukan pegawai baru perusahaan,” tutur Steve.

Kyuhyun kemudian memandang kearah ruangan atasannya. Ia tidak melihat pemuda yang dibilang orang Korea oleh Steve, jadi mungkin dia akan bertanya pada Jason nanti. Kemudian Jason keluar dari ruangan dan hendak kembali menuju  mejanya.

“Jason, siapa tamu itu?” tanya Steve terlebih dahulu sebelum Kyuhyun membuka mulut.

Jason menatap Steve dan Kyuhyun yang penasaran. “I don’t know. Tapi menurut resepsionis dia kenalan Kevin. Baru datang dari Korea,” tutur Jason.

Steve hanya meng-oh-kan dan terus memperhatikan Kyuhyun yang malah terdiam. Jason sudah kembali ke meja kerjanya, sedangkan Kyuhyun tidak bereaksi apapun. Steve menarik nafas dan menyenggol lengan rekan kerjanya tersebut. Kyuhyun menatapnya.

“Orang dari negaramu, kau tidak mau menyapanya? Bertanya mengenai keadaan negaramu saat ini?” ujar Steve.

Kyuhyun sontak memukul kepala Steve dengan dokumen. “Jangan bicara macam-macam. Kau mau pergi makan siang sekarang?”

Steve hanya menyeringai. “Ppalli! Ppalli selesaikan pekerjaanmu,” sahutnya.

Kyuhyun mendengus dan ingin sekali lagi memukul kepala Steve tapi ia menahan diri. Kemudian ia mengambil beberapa dokumen yang sudah selesai untuk dilaporkan ke meja atasannya. “Tunggu sebentar, aku akan menyerahkan dokumen ini dulu.”

“Akan kutunggu, bahkan jika kau mau mengobrol dengan saudara sebangsa-mu itu dulu, juga akan kutunggu, Marcus,” goda Steve.

Kyuhyun hanya menatapnya dengan jengkel. Kemudian Kyuhyun menuju ruangan Kevin, atasannya. Hah, cukup beruntung pemuda itu tidak mau dipanggil dengan Mister atau semacamnya. Sepertinya pemuda itu cukup tahu diri karena bawahannya banyak yang berusia jauh diatas dari usianya sekarang. Kyuhyun menarik nafas lalu mengetuk pintu. Tanpa mendengar suruhan masuk, Kyuhyun sedikit membuka pintu dan merasa canggung.

Well, bagaimana tidak. Saat ini Kevin sedang memeluk tamunya dengan erat. Kyuhyun menggaruk lehernya canggung dan ia menunjukkan dokumen yang sudah diselesaikannya. Kevin menarik nafas panjang. “Tolong letakan di meja, Marcus,” tutur Kevin.

Kyuhyun sedikit cemberut. Karena ulah Steve yang selalu saja memanggilnya Marcus, semua orang di perusahaan –baik waktu ia di Paris ataupun di Toronto saat ini– juga memanggilnya Marcus. Kyuhyun lalu berjalan masuk dan menutup pintu rapat.

Ia sedikit memperhatikan pemuda yang dipelukan Kevin. “Kalian baik-baik saja? Maksudku tidak bertengkar atau semacamnya?” tanya Kyuhyun sembari ia menaruh dokumen yang dibawanya ke meja.

Kevin tersenyum tipis. “Dia hanya sedang sensitif. Aau!! Noah, itu sakit!” seru Kevin, karena pemuda yang memeluknya memukul punggungnya dengan keras.

Kyuhyun tersenyum canggung melihat momen tersebut. Sepertinya pemuda itu adalah kekasih Kevin –atau mungkin sahabat lamanya. Kyuhyun tidak ingin mempunyai asumi-asumi aneh. Kyuhyun selalu memastikan bahwa ia tidak pernah tertular “penyakit aneh” Steve walaupun mereka sudah empat tahun bersahabat.

“Baiklah, aku akan keluar untuk makan siang. Pastikan dokumen itu sudah kau periksa sebelum hari Jumat nanti,” tutur Kyuhyun.

Kevin mengangguk mengerti dan Kyuhyun keluar dari ruangan itu dengan wajah sedikit panas. Steve memperhatikan Kyuhyun yang dengan cepat memakain coatnya. “Kenapa? Kalian mengobrol atau kau melihat sesuatu yang tidak harusnya kau lihat?”

Kyuhyun menggeleng. “Nothing. Ayo pergi.”

Sebenarnya memergoki atasanmu sedang memeluk seseorang di ruangannya adalah sesuatu yang sedikit memalukan. Bisa saja orang lain mempunyai anggapan berbeda dari apa yang sebenarnya terjadi. Seperti Kyuhyun saat ini. Dia mempunyai banyak asumsi mengenai hubungan Kevin dan pemuda yang dipanggil Noah itu. Dan rasanya tidak nyaman.

*****

Kyuhyun hanya mendengarkan Steve yang sedang mengeluh mengenai rekan kerjanya yang baru ditransfer ke divisinya minggu lalu. Ia tidak berniat untuk memberikan komentar apapun karena Kyuhyun tidak mengenal orangnya. Selain itu, apa yang dilihatnya di ruangan Kevin cukup menganggunya saat ini. Well, baiklah Kyuhyun memang penasaran mengenai pemuda itu. Selain karena dia mungkin kenalan Kevin, tapi pemuda itu adalah orang Korea.

Kyuhyun menatap Steve yang terus saja bicara tanpa henti. Terkadang ia menjadi merindukan teman-temannya di Seoul. Oh, sejak Kyuhyun mulai bekerja, ia sudah jarang bertemu dengan teman-teman kuliahnya. Dan itu membuatnya sedikit merasa bersalah karena sering-kali menolak datang ke pertemuan hanya karena pekerjaan. Tapi walaupun begitu, Kyuhyun masih mempunyai teman-teman yang selalu membantunya.

Kyuhyun menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Bersamaan dengan Kevin yang keluar dengan tamunya. Kyuhyun mencoba untuk memperhatikan wajah pemuda itu. Tapi pemuda itu sering-kali terhalangi oleh tubuh tinggi Kevin yang sedang memanggil taksi. Tak lama sebuah taksi berhenti dan Kevin kembali bicara pada pemuda itu. Dan satu hal yang diperhatikan Kyuhyun adalah Kevin tersenyum.

Well, Kevin mungkin tersenyum tapi jarang sekali. Dia akan selalu memasang ekspresi serius jika berurusan dengan pekerjaan. Tapi Kyuhyun melihat aura Kevin jika bersama pemuda itu cukup berbeda. Terasa lebih hangat. Namun, kemudian Kyuhyun melihat Kevin mencium pemuda itu –di bibir. Hanya terlihat seperti kecupan, tapi jika di bibir maka…

“Marcus Cho!!!!!”

Teriakan Steve menyadarkan Kyuhyun dimana ia sekarang. Kyuhyun menatap Steve yang terlihat marah sekali. “Aku memanggilmu berulang-ulang tapi kau hanya menatap kearah lain. Apa yang kau lihat?!!”

Kyuhyun menarik nafas. “Stop yelling, Steve Henderson. And stop calling me Marcus!!”

“Tch, jika kau dipanggil Cho Kyuhyun saja tidak menoleh, lalu harus kupanggil apa? Kyuhyun sayang, begitu?!” sahut Steve.

Kyuhyun terdiam. Panggilan itu kembali mengingatkannya pada kenangannya saat di Seoul. Sebenarnya saat bersama dengan Steve, Kyuhyun sering-kali teringat pada Seoul. Bukan hal buruk, tapi terkadang Kyuhyun merasa tidak nyaman. Bukan salah Steve, karena Kyuhyun tidak menceritakan semua mengenai kehidupannya di Seoul sebelum ia pindah ke Paris. Tapi untuk apa menceritakannya? Kyuhyun pindah ke Paris untuk menata kehidupannya dan berusaha melupakan masa lalu. Kenapa ia harus bersusah-susah menceritakan masa lalu itu pada orang lain? Tapi apa yang terjadi selama empat tahun ini, Kyuhyun memang terkadang ingat pada Seoul –walaupun tidak sebegitu sering.

“Kau diam lagi. Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Kyu? Apa kau kembali teringat pada sesuatu di Seoul?” tanya Steve yang kemudian meneguk kopinya.

Kyuhyun menarik nafas panjang lagi. “Jangan bicara lagi, Steve. Kau sudah selesai makan? Bisakah kita kembali ke kantor, pekerjaanku masih banyak.”

“Fine, Prince Cho.”

******

Kyuhyun sedikit melempar tas kerjanya di lantai sedangkan ia menjatuhkan diri ke sofa. Pekerjaannya tidak cukup berat, tapi usianya kini tidak muda lagi. Tigapuluh satu tahun. Sebenarnya awal usia tigapuluh masih terbilang cukup muda dan usia dimana seharusnya kau memikirkan untuk menikah. Tapi Kyuhyun hanya tertawa saja.

Rekan kerjanya selalu menanyakan kapan ia akan menikah –itu karena kebanyakan  dari mereka sudah menikah dan mempunyai keluarga. Bahkan Steve saja sudah menikah, walaupun istrinya tidak ikut tinggal di Toronto melainkan di Washington. Tapi bagaimana mau menikah kalau hatinya masih belum tenang.

Empat tahun adalah waktu yang lama, tapi Kyuhyun masih belum berhasil menata kehidupannya. Itu menyebalkan sekali. Rasanya seperti ia terikat pada sebuah kutukan. Hell, yeah, Kutukan Keluarga Choi. Seharusnya keluarga Choi yang mendapatkan kutukan, bukan dirinya.

Sedikit terkesan sadis dan berlebihan tapi itulah yang terjadi. Apa yang dikatakan Dahyun –yang menjadi ketakutan Kyuhyun juga– menjadi kenyataan. Kyuhyun mungkin bisa hidup sedikit lebih nyaman, tapi bayang-bayang keluarga Choi –terlebih Choi Siwon– sangat sulit untuk dihapuskan. Seperti yang dikatakan Kyuhyun, dia tidak menyesal mengenai hubungannya dengan Siwon, hanya saja jika kenangan itu selalu saja membuatnya terpikir mengenai pria itu, rasanya Kyuhyun ingin memilih mati saja.

“Apa yang kau pikirkan lagi, Cho Kyuhyun? Mati? Tch, kau bahkan tidak mati saat mengenai apa yang terjadi di Moscow, lalu bagaimana kau memilih mati saat kau tidak bisa melupakan Choi Siwon? Pikirkan hidupmu, bukan pria itu, bodoh!”

Kyuhyun sering-kali memaki dirinya sendiri setiap kali terpikir mengenai Siwon atau hal-hal yang membuatnya berpikir pesimis. Itu seperti terapi untuk melanjutkan hidupnya. Kyuhyun bahkan sering-kali memaki Hyunsa karena gadis itu yang membuatnya kehilangan Siwon –walaupun pada akhirnya Kyuhyun selalu berakhir minta maaf.

Entah tapi apa yang dikatakan Dahyun mengenai dirinya yang terlalu naif dan selalu melihat orang hanya dari sisi baiknya saja, itu sedikit membuatnya berpikir. Sebenarnya sejak kapan ia mulai menjadi seperti itu? Bahkan jika diingat, saat Kyuhyun tinggal di Moscow, Kyuhyun bukan tipe orang yang hanya pasrah mengenai apa yang dilakukan orang lain padanya. Jika ia tidak melakukan kesalahan atau kepentingannya menjadi terancam, Kyuhyun selalu bisa melawan. Tapi bagaimana bisa ia menjadi sosok yang lemah dihadapan Siwon –atau bahkan Hyunsa?

Ah, bahkan jika diingat, Kyuhyun juga sempat bersikap agresif pada Dahyun untuk mempertahankan Siwon. Lalu kenapa ia tidak bisa melakukan hal yang sama?

Terkadang Kyuhyun menyalahkan perasaan cintanya pada Siwon mengenai apa yang tidak bisa dilakukannya. Hanya saja, Kyuhyun kembali merasa bahwa apa yang tidak dilakukannya adalah sebuah kebaikan. Hal itu membuat Kyuhyun menjadi bingung dengan dirinya sendiri. Ia bahkan harus merelakan untuk kembali berkonsultasi dengan seorang psikolog. Tapi setelah enam bulan konsultasi –saat ia masih di Paris– tidak menunjukkan perubahan apapun dan Kyuhyun memutuskan untuk hidup sebagaimana keinginannya sendiri.

Kyuhyun menarik nafas dan bangkit. Ia melepaskan coat dan menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku. Kemudian Kyuhyun menyiapkan snack malam untuk menemaninya mengerjakan beberapa dokumen yang dibawanya pulang.

*****

“High Park? Ta-tapi…”

Kevin menggenggam tangan Kyuhyun dengan erat. “Jebal, hyung.”

Kyuhyun menghela nafas pendek. Entah darimana Kevin belajar bahasa Korea seperti itu, karena ia tidak pernah mendengar Kevin berbicara bahasa Korea sebelumnya. Yang diminta Kevin tidak sulit, hanya menemui dan menemani pemuda yang dua hari lalu datang ke kantor di High Park selama Kevin meeting. Yah, sebenarnya cukup sulit karena Kyuhyun tidak mengenal teman Kevin itu dan kejadian dua hari lalu juga sedikit membuatnya canggung.

“But, Kevin…”

“Hanya dua jam, hyung. Ayolah, Noah juga orang Korea. Kalian bisa mengobrol sedikit mengenai Seoul atau apapun. Selesai meeting, aku akan menyusul ke High Park,” Kevin masih membujuk Kyuhyun.

Kyuhyun lalu menarik tangannya sedikit canggung dan kembali menarik nafas. Ia melihat jam dipergelangan tangannya. Sudah pukul sepuluh lewat duapuluh delapan dan meeting akan dimulai dua menit lagi namun Kevin masih berusaha membujuknya.

“Baiklah, aku akan ke High Park. Tapi hanya dua jam, Kevin,” akhirnya Kyuhyun pun menuruti keinginan Kevin.

Kevin tersenyum tipis. “Thanks, hyung. Noah akan menunggu di pintu utama taman dan ajak dia ke lapangan baseball.”

Kyuhyun mengenyit. “Baseball?” Ugh, kenapa harus baseball?

Kevin mengangguk. “Noah tidak bisa hidup tanpa baseball. Jika dia tidak bermain setiap dua hari sekali, mungkin dia akan berakhir di kantor polisi karena bermain sembarangan di pinggir jalan. Aku harus pergi sekarang. Once again, thanks hyung!”

Kevin lalu bergegas menuju ruangan meeting, meninggalkan Kyuhyun yang sedikit menyesali keputusannya untuk menuruti Kevin.

“Ugh, Baseball! I hate baseball!!”

*****

Kyuhyun memperhatikan Noah yang sedang mengeluarkan glove dan sebuah bola dari tas besar yang dibawanya. High Park adalah sebuah taman terbesar di Toronto yang mempunyai banyak fasilitas seperti fasilitas olahraga seperti lapangan tenis, lapangan baseball dan lapangan sepak bola, sebuah danau yang cantik, taman khusus anjing, playground untuk anak kecil, area piknik bahkan sebuah kebun binatang kecil dan fasilitas lainnya. Dan sebenarnya taman hari ini cukup ramai, mengingat hari ini adalah hari Jumat, tapi mereka –mungkin lebih tepatnya Noah– berhasil mendapatkan ijin salah satu lapangan baseball –dari tiga lapangan yang tersedia– selama satu setengah jam.

Kyuhyun melihat jam dipergelangan tangannya. Tujuh puluh dua menit lagi sebelum Kevin datang, jadi Kyuhyun harus bertahan sedikit lagi. Dan ketika sadar, Noah sudah berdiri dihadapannya dengan menyodorkan sebuah glove.

Kyuhyun menatap glove dan Noah bergantian. “Kau mau aku ikut bermain?”

“Sangat tidak mungkin aku bermain sendiri, bukan? Hanya bola tangkap, sampai mesin pelempar bolanya disiapkan,” ujar Noah.

Kyuhyun menghela nafas dan mengambil glove tersebut. Noah tersenyum tipis dan berlari sekitar hampir lima meter ke tengah lapangan. Kyuhyun memakai glove tersebut dan bersiap pada posisinya untuk menerima lemparan Noah. Kyuhyun menarik nafas lagi dan bersiap pada posisinya untuk menerima lemparan bola dari Noah.

Kyuhyun memperhatikan Noah yang sedang bersiap melakukan lemparan. Jujur, Kyuhyun kembali teringat pada saat Hyunsa memintanya untuk menemaninya berlatih saat gadis itu bersiap untuk melakukan seleksi menjadi pitcher di klub bisbolnya. Kemudian Kyuhyun tersadar setelah ia menangkap bola tersebut secara tidak sadar.

Noah tersenyum. “Sepertinya anda pernah bermain bisbol sebelumnya,” ucapnya.

Kyuhyun menggeleng dan melemparkan bola itu kembali pada Noah. “Tidak pernah menjadi pemain bisbol. Hanya pernah membantu adikku berlatih bisbol saat dia sekolah menengah.”

“Ah, kupikir anda adalah pemain bisbol dulunya,” tutur Noah sembari melakukan lemparan lagi.

Kyuhyun berhasil menangkapnya. Ia menatap bola bisbol itu sejenak dan kembali menatap Noah. Entah, tapi ia merasakan sesuatu yang aneh pada pemuda itu. Kyuhyun seperti menjadi terkenang masa lalu. Bukan hal buruk, hanya saja Kyuhyun merasa tidak nyaman.

“Boleh bertanya sesuatu?” tanya Kyuhyun sembari melempar.

“Bertanya mengenai apa?”

“Namamu Noah? Itu nama aslimu atau…”

“Itu memang namaku. Kenapa? Terlalu aneh bagi orang Korea?”

“Sejujurnya, iya. Aku bahkan merasa tidak nyaman jika dipanggil Marcus saat di kantor dan memilih untuk tetap dipanggil Kyuhyun.”

Noah tersenyum dan melakukan lemparan lagi. “Apa anda ingin mengetahui nama Korea-ku?”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak perlu jika kau tidak mau. Aku juga tidak mempunyai kepentingan untuk mengetahui nama Koreamu.”

Noah menerima bola dari Kyuhyun, tapi senyumannya menghilang. Kyuhyun menjadi bingung. Sepertinya Noah merasa kecewa dengan jawabannya. Tapi Kyuhyun tidak mau memikirkannya. Toh, ia tidak mengenal pemuda itu. Kemudian salah seorang petugas High Park datang dengan membawa mesin pelempar bola.

Noah lalu sedikit berlari untuk menyimpan glove dan bolanya. Ia mengambil bat dan bersiap pada posisi pemukul. Sedangkan Kyuhyun hanya memperhatikannya agak jauh dibelakang posisi Noah berdiri.

Selama hampir satu jam, Noah terus berlatih memukul tanpa henti. Bahkan staff High Park yang bertugas untuk mendampingi Noah sudah menyuruhnya untuk beristirahat sebentar, tapi ia menolaknya. Kyuhyun menatapnya bingung. Entah kenapa mood pemuda itu menjadi turun setelah mereka membicarakan masalah nama Korea Noah. Kyuhyun tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, jadi dia memilih diam.

Kyuhyun menarik nafas panjang. Melihat Noah yang bersikeras untuk terus memukul bola membuatnya teringat pada gadis menyebalkan itu. Choi Hyunsa, terkadang Kyuhyun menyadari bahwa ia juga merindukan gadis itu tapi kemudian sedikit membencinya. Kyuhyun bukan orang yang mudah menyimpan dendam, jadi dia tidak akan bisa sangat membenci gadis itu atau ayahnya.

Apa yang terjadi padanya adalah sebuah jalan Tuhan. Walaupun terkesan tidak adil, tapi Kyuhyun tetap bersyukur bahwa ia pernah mengenal mereka. Dan melihat Noah sekarang, sedikit mengingatkan dirinya pada Choi Hyunsa. Gadis itu mungkin sudah seusia Noah sekarang.

“Sudah berapa lama dia memukul seperti itu?” tukas Kevin yang sudah berdiri disebelahnya.

Kyuhyun mendengus. Nyatanya, Kevin mempunyai kebiasaan yang sama dengan Steve. “Jangan sering muncul tanpa suara, Kevin. Kau bisa membuat orang lain terkena serangan jantung.”

Kevin hanya menyeringai. “Sorry.”

Kyuhyun menarik nafas lagi. “Sudah satu jam dia tidak berhenti memukul. Kau bisa melihatnya dari jumlah bola-bola di lapangan.”

“Kurasa dia sedang frustasi. Tidak biasanya dia begitu, mengingat dia bukan pemain bisbol,” tutur Kevin.

Kyuhyun menatap Kevin dengan mengernyit. “Noah bukan pemain bisbol? Tapi kau bilang…”

“Dia hanya menyukai bisbol dan tidak bisa melepaskan diri dari permainan itu. Aku tidak mengatakan bahwa Noah adalah pemain bisbol, bukan?” sahut Kevin.

Kyuhyun mendecih dan kembali memperhatikan Noah yang masih saja memukul. “Tapi dia hebat untuk ukuran amatiran.”

Kevin tertawa kecil. “Sebuah keberuntungan jika kau mempunyai saudara yang seorang pemain bisbol. Noah belajar dari saudaranya. Kudengar, adik hyung juga seorang pemain bisbol, bukan?”

Kyuhyun mengangguk. “Ne, sekarang dia sedang di LA dan bermain untuk klub bisbol universitasnya.”

“Itu bagus. Sayangnya, saudara Noah tidak berkesempatan untuk menjadi pemain professional,” tutur Kevin.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun.

Kevin menarik nafas. “Yang kutahu kakeknya menentangnya. Dia harus kuliah di London walaupun ia menginginkan untuk kuliah di Seoul. Tapi akhirnya malah pergi ke Vancouver.”

“Jadi, Noah ke Kanada untuk menemui saudaranya?”

Kevin mengangguk. “Sudah seminggu Noah di Kanada. Sebelum pulang ke Seoul, dia ingin menemuiku,” kemudian Kevin berteriak, “Noah, sudah berhenti! Nanti saudaramu akan membunuhku jika kau mengalami cidera!”

Noah menoleh dengan memasang wajah masam. Kevin tertawa kecil seraya mengumam “lucu” yang ditujukan untuk Noah. Kyuhyun menatapnya dengan lekat. Kevin yang dihadapannya saat ini sangat jauh berbeda dengan Kevin yang sering dilihatnya di kantor. Kyuhyun rasa itu adalah karena Noah.

Noah lalu menghampiri mereka dengan tubuh penuh keringat. Kevin mengusap rambut pemuda itu. “Mandi sana. Nanti kita harus makan siang bersama ayah dan saudaramu, bukan?”

Noah mengangguk dan ia mengambil tas besarnya sebelum akhirnya mengikuti staff High Park untuk membersihkan diri.

*****

Kyuhyun berjalan menuju mobilnya yang di parkir setelah ia berpamitan pada Kevin –tanpa menunggu Noah selesai dari mandinya. Kyuhyun hanya bertugas menemani Noah sampai Kevin datang. Lagipula mereka akan pergi makan siang bersama. Kyuhyun menarik nafas panjang sembari mengeluarkan kunci mobilnya. Sepertinya ia harus menunda makan siangnya, karena ia sudah tidak mempunyai banyak waktu. Kyuhyun harus segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan dokumen.

Kyuhyun membuka pintu mobil dan memanjat masuk. Tapi kemudian pandangannya kembali tertuju kearah lapangan bisbol. Kyuhyun mengetahui ada rasa yang mengganjal dihatinya mengenai Noah, tapi ia sendiri tidak bisa menebak apakah itu. Lagipula Kyuhyun dan Noah adalah orang asing, sebelumnya mereka tidak pernah bertemu sama sekali di Seoul –atau tempat lainnya.

Lalu ia bersandar pada kursinya dan memejamkan mata sejenak. Sepertinya ada sebuah ikatan benang merah yang kasat mata antara Noah dengan dirinya. Well, mungkin terdengar sangat absurd tapi Kyuhyun tidak bisa mengabaikan suara hatinya sendiri. Kyuhyun menarik nafas lagi dan membuka mata perlahan. Selanjutnya ia memasang seatbelt dan menyalakan mesin mobil. Bagaimana pun juga Kyuhyun harus kembali bekerja walaupun ia masih penarasan dengan pemuda bernama Noah tersebut.

Ketika Kyuhyun hendak memundurkan mobilnya, tiba-tiba terdengar suara rintihan. Kyuhyun sontak mengerem dan menoleh ke belakang. “Shit!” umpatnya sembari melepaskan seatbelt.

Karena tidak fokus, Kyuhyun hampir saja –atau mungkin sudah– menabrak seseorang. Kyuhyun bergegas keluar dari mobil dan menghampiri korbannya. “Miss, are you alright? I’m so sorry. I’m not….” ucapan Kyuhyun terhenti ketika ia melihat siapa korbannya.

Korbannya –yang adalah seorang gadis– juga tidak berkata apapun ketika menatap Kyuhyun. Mungkin lebih tepatnya gadis itu tidak menunjukkan reaksi apapun, sedangkan Kyuhyun malah terlihat seperti sedang melihat hantu. Situasi tersebut sangat canggung, hingga suara Kevin memecah keheningan.

“Ann, kau tidak apa-apa?” Kyuhyun sontak menoleh pada Kevin yang menghampiri mereka. Ia juga melihat Noah yang berjalan di belakang Kevin dengan ekspresi datar. “Hyung, apa yang terjadi?” tanya Kevin.

Kyuhyun tidak menjawab apapun, tapi ia malah kembali menatap gadis dihadapannya dengan lekat. Rasanya lidah Kyuhyun sangat sulit digerakkan. Kevin masih memperhatikan keduanya dengan bingung. “Ann..”

“Nothing, Kev. Come on Noah, Daddy sudah menunggu,” tuturnya.

Rasanya Kyuhyun seperti dipukul oleh sebuah goddam besar. Ia bersusah payah untuk menelan saliva karena kerongkongannya yang tiba-tiba menjadi kering. Kyuhyun seperti kesulitan bernafas dan ia merasakan tubuhnya menjadi dingin seketika. Kyuhyun melirik Noah yang dengan ekspresi datarnya berjalan lebih dekat pada mereka.

“Kau pergi duluan dengan Kevin, Ann,” tuturnya.

Gadis itu menatap Noah. “Hentikan ini, Noah. Ini bukan lelucon lagi.”

Noah menatap Kevin dan memberi isyarat pada pemuda itu untuk membawa gadis itu pergi. Kevin menarik nafas panjang dan membawa Ann pergi walaupun sedikit dengan paksaan. Kyuhyun menatap Kevin yang membawa gadis itu pergi. Bertemu dengan gadis itu lagi setelah empat tahun, terlebih di Toronto, bukanlah sesuatu yang bisa diprediksi oleh Kyuhyun. Tapi melihat gadis itu lagi dalam keadaan sehat –walaupun bersikap seolah tidak pernah mengenalnya– membuat Kyuhyun cukup senang.

“Perkenalkan…” Suara Noah kembali menyadarkan Kyuhyun bahwa pemuda itu masih berdiri dihadapannya. “Namaku Choi Joonmyeon. Aku adalah putra angkat Choi Siwon, mantan kekasih anda, Cho Kyuhyun-sshi.”

*****

Kyuhyun memperhatikan Noah –atau mungkin ia harus memanggilnya dengan sebutan Joonmyeon yang kini duduk di kursi penumpang sebelahnya. Mereka masih berada di area parkir High Park karena Joonmyeon memaksa Kyuhyun untuk mendengarkan apa yang harus dikatakannya.

Tapi selama lima menit terakhir, Joonmyeon hanya sibuk dengan ponselnya dan menyuruh Ann –Hyunsa untuk diam dan tidak bicara apapun mengenai pertemuan mereka yang tiba-tiba di High Park. Kemudian Joonmyeon menarik nafas dan memasukkan ponselnya ke saku jaketnya.

“Anda ingin tetap disini atau kita pergi ke tempat lain untuk bicara? Hyunsa sudah ditutup mulut oleh Yifan hyung. Jadi, Daddy tidak harus mengetahui pertemuan ini sekarang,” tutur Joonmyeon.

Kyuhyun memasang seatbelt dan menyalakan mesin lagi. Joonmyeon juga memakai seatbeltnya. Kyuhyun sedikit melirik pemuda itu. “Kita bicara sambil jalan. Katakan dimana kalian akan makan siang. Aku akan mengantarmu.”

Joonmyeon tersenyum tipis. “Restauran di hotel Hilton.”

Kyuhyun mengangguk lalu melajukan mobilnya tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Oh, sepanjang perjalanan mereka tidak bicara. Joonmyeon hanya sibuk memperhatikan Kyuhyun dengan lekat dan itu membuat Kyuhyun sedikit tidak nyaman. Kyuhyun menarik nafas lagi dan memutar kemudinya. “Kenapa kau diam? Bukannya kau ingin bicara.”

“Karena aku menunggu anda bicara. Boleh kupanggil dengan sebutan hyung? Atau Ajhussi saja? Atau Appa mungkin,” tutur Joonmyeon.

Tubuh Kyuhyun sedikit tegang ketika mendengar panggilan “Appa” itu terdengar lagi. Rasanya sudah lama, tapi Kyuhyun masih bisa merasakan sensasi aneh setiap mendengar panggilan tersebut yang ditujukan padanya. “Berapa usiamu?”

“Sama dengan Hyunsa. Tahun ini kami berusia duapuluh tiga tahun.”

“Kurasa Ajhussi tidak cukup buruk.”

Joonmyeon kembali tersenyum. “Sebenarnya aku lebih menyukai memanggilmu dengan Kyuhyun hyung.”

*****

Sekali lagi, Kyuhyun melemparkan tas kerjanya ke lantai –seperti malam sebelumnya– dan ia melepaskan coatnya lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Ia menuangkan air kedalam gelas dengan sedikit gemetar, bahkan airnya sedikit tumpah ke lantai. Kyuhyun menarik nafas dan meneguk air tersebut hingga habis. Ia melemparkan gelasnya ke wastafel, tidak peduli akan pecah atau tidak.

Kyuhyun lalu bersandar pada dinding dan perlahan tubuhnya menjadi sangat lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai. Kyuhyun merasa kepalanya berdenyut sangat keras. Well, wajar saja karena ia memang belum makan dari siang. Bahkan sampai di kantor, Kyuhyun tidak menyentuh snack apapun yang disiapkan. Ia hanya menyibukkan diri dengan tumpukkan dokumen. Sekarang pun Kyuhyun tidak ingin makan apapun.

Kyuhyun menjambak rambutnya dengan keras, berharap rasa sakit kepalanya bisa berkurang. Tapi sia-sia. Rasa sakit itu malah semakin menjadi dan membuat Kyuhyun mengerang kesakitan. Terlebih dengan semua ucapan Joonmyeon siang ini yang seperti sebuah palu besar yang dipukulkan pada kepalanya hingga hancur. Kyuhyun kini benar-benar mengharapkan kalau ia mati saja.

Kyuhyun sedikit mendongakkan kepalanya dan menarik nafas panjang. Tapi seperti tidak bisa dicegahnya, air mata Kyuhyun turun dengan mudahnya. Kyuhyun mengumpat pada dirinya sendiri. Setelah empat tahun bertahan, kenapa dalam sehari ia menjadi semakin hancur. Apakah usahanya selama ini hanya sebuah pembelaan terhadap dirinya bahwa dirinya baik-baik saja?

Kyuhyun menyeka air mata itu dengan kasar. “Shit, tidak seharusnya aku menuruti kemauan Kevin.”

Kyuhyun lalu perlahan bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Ia membutuhkan istirahat. Kyuhyun bahkan tidak peduli untuk membersihkan diri atau mengganti pakaiannya. Ia hanya menginginkan tempat tidurnya yang nyaman dan berharap esok tidak pernah datang.

*****

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas dan matahari sudah tinggi. Ditambah dengan suara gedoran pintu yang sangat keras, bukanlah hal yang diinginkan Kyuhyun untuk membangunkannya. Kyuhyun membuka matanya perlahan dan sedikit mengernyit tak nyaman ketika sinar matahari menerangi kamarnya. Oh, ia lupa menutup gorden ternyata.

Kyuhyun menarik nafas panjang dan menulikan pendengarannya dari suara gedoran pintu dan juga suara teriakan Steve. Kyuhyun tidak mempunyai tenaga untuk bangkit dari tempat tidur atau membalas teriak pada Steve untuk tidak menganggunya di hari Sabtu ini.

Kyuhyun memejamkan matanya sejenak. Tapi ia memikirkan kenapa ponselnya tidak berbunyi sama sekali. Steve tidak akan bersusah payah berteriak seperti orang gila di depan pintu apartementnya jika ia menghubungi Kyuhyun. Ah, Kyuhyun ingat. Ponselnya mati saat perjalanan pulang. Ia bahkan tidak ingat untuk mengisi ulang baterai ponselnya. Sebuah keberuntungan, mungkin.

Kemudian tidak terdengar lagi suara gaduh dari depan pintu apartementnya. Sepertinya Steve memilih untuk pergi. Kyuhyun menarik nafas panjang lega. Ia bisa melanjutkan tidurnya sekarang. Dan ia hanya berharap setelah ia bangun lagi kemudian, semua yang terjadi kemarin hanya sebuah mimpi yang tidak diinginkannya.

*****

Saat terbangun untuk kedua kalinya –atau itulah hitungan Kyuhyun– ia merasakan rasa nyeri dari tangan kirinya dan mencium bau yang menyengat. Kyuhyun berusaha untuk bangkit, mungkin ia sudah mempunyai banyak energi setelah lama tidur, tapi rasanya sulit sekali. Kyuhyun memejamkan matanya lagi sembari menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Dan ketika ia membuka mata lagi, yang menarik perhatiannya adalah sebuah rangkaian bunga lili dekat tempat ia berbaring.

Kyuhyun mengerutkan dahi bingung. Sepertinya ia tidak pernah membeli bunga apapun dan menaruhnya di kamarnya. Namun, Kyuhyun tersadar bahwa ia tidak berada di kamarnya. Rasanya sangat berbeda dan tidak nyaman.

Kyuhyun perlahan merintih kesakitan lagi. Seluruh tubuhnya terasa nyeri bahkan tidak bisa digerakan. Kyuhyun berusaha untuk tetap sadar dan menunggu hingga seseorang datang. Tapi rasa sakit yang dirasakannya begitu menyiksa. Selain itu, matanya juga terasa berat.

Kyuhyun memaksa untuk terus terjaga, hingga perlahan matanya kembali terpejam. Namun secara samar, Kyuhyun mendengar suara pintu terbuka. Seseorang menghampirinya dan menyentuh keningnya dengan lembut. Kyuhyun bisa mengenali sentuhan itu dimanapun, tapi benarkah?

Kyuhyun bisa saja sedang berhalusinasi. Ia tahu kondisi tubuhnya sedang tidak baik saat ini. Jadi, ia bisa saja salah mengenali orang. Tapi sentuhan itu terasa begitu nyata dan familiar. Kyuhyun jelas-jelas merindukan sentuhan itu selama bertahun-tahun.

Tapi benarkah orang yang kini disampingnya adalah orang yang diinginkannya?

*****

“Kyu? Kyuhyun? Are you awake?”

Kyuhyun membuka matanya dan melihat Steve dengan raut khawatirnya. “Oh, thanks God. Kau membuat semua orang ketakutan, Marcus Cho.”

Kyuhyun menarik nafas perlahan. “Da-dan kau membuatku jengkel, Steve.”

Steve tertawa kecil dan mengusap kepala Kyuhyun. “Jangan terlalu protes disaat kau sakit, Marc. Kau tertidur selama dua hari, diberi makan melalui infus dan kau masih bisa protes hanya karena sebuah nama setelah sadar?”

“D-dua hari?”

Steve mengangguk. “Ini hari Minggu, Marc. Well, lebih tepatnya dua jam sebelum hari Senin. Aku akan keluar untuk memanggilkan dokter jaga-mu dulu, okay.”

Kyuhyun hanya mengangguk dan membiarkan Steve keluar. Kyuhyun bernafas perlahan. Selama dua hari, dia berada di rumah sakit dan sepertinya Steve yang selalu bersamanya. Jadi, hari itu Kyuhyun benar-benar berhalusinasi. Ia merasa lega sekaligus kecewa.

Tak lama, dokter datang dan langsung memeriksa keadaannya. Kyuhyun hanya bisa mendengarkan secara samar mengenai diagnosisnya –dehidrasi, kelelahan ditambah dengan stress. Kondisinya masih sangat lemah dan ia kembali ingin tidur –seperti ia sudah lama sekali terjaga dan sangat kelelahan. Kyuhyun bisa melihat raut kecemasan dari wajah Steve.

Itu adalah hal wajar. Saat mereka masih tinggal di Paris, ketika Kyuhyun sakit, Steve dan istirnya –yang saat itu juga bekerja di Paris– selalu menjaganya. Begitu juga sebaliknya. Dan ketika tinggal di Toronto, mereka juga saling menjaga. Tapi Kyuhyun sedikit merasa bersalah pada Steve. Pria itu pasti ketakutan sekali ketika menemukannya di apartment dalam keadaan tidak sadar.

Setelah memberikan suntikan pada botol infusnya, dokter itu kemudian keluar. Steve kembali duduk pada kursi disamping tempat tidur Kyuhyun. Wajah Steve sudah sedikit lega. Kyuhyun tersenyum lirih. “Maaf, membuatmu cemas.”

“Jangan dipikirkan. Tapi jika terjadi lagi, aku mungkin akan membuatmu terbaring lebih lama di ranjang rumah sakit. Aku terpaksa menghubungi orangtuamu. Tidak apa?” tutur Steve.

Kyuhyun menggeleng. Steve menghela nafas lega dan mengusap kepala Kyuhyun lagi. Dan Kyuhyun sadar bahwa sentuhan Steve dengan sentuhan yang Kyuhyun rasakan kemarin sangat berbeda. “Tidurlah lagi. Aku akan pulang dulu. Besok pagi, aku akan kembali dengan membawakan beberapa barang dari apartmentmu. Tidak keberatan aku membawa kuncimu?”

“Lakukan sesukamu selagi aku sakit. Tapi setelah aku sembuh, kembalikan kuncinya,” ujar Kyuhyun.

Steve tersenyum. “Sepertinya kau sudah mulai pulih. Baiklah, tidurlah. I’m going now.”

Kyuhyun mengikuti punggung Steve hingga suara pintu tertutup. Kyuhyun menarik nafas panjang dan menatap langit-langit kamar rawatnya. Rumah sakit bukanlah tempat favorit Kyuhyun selama ini. Tapi ia tidak akan bisa pulang besok, jika dokter dan Steve tidak mengijinkan. Itu menyebalkan.

Kemudian Kyuhyun kembali teringat akan sentuhan itu. Anggap saja dia berhalusinasi, tapi sentuhan itu benar-benar nyata dan Kyuhyun mengenalinya. Pria itu datang menemuinya. Tapi pertanyaannya, bagaimana dan kenapa? Tubuh Kyuhyun terlalu lemah untuk memikirkan puluhan jawaban untuk menjawab pertanyaan simple itu.

Yang kemudian disadarinya, Kyuhyun kembali terlelap.

*****

Keesokan paginya, Steve datang dengan sebuah tas besar milik Kyuhyun. Setelah menyimpannya pada salah satu lemari, Steve kembali duduk di kursi dan menatap Kyuhyun yang sedang sarapan dengan bantuan suster. Well, sudah dua hari Kyuhyun hanya mendapat nutrisi makanan dari infusnya. Jadi, pagi ini dokter memintanya untuk mencoba makan.

“Kau terlihat lebih baik,” tutur Steve.

Kyuhyun hanya menggumam lalu membuka mulutnya ketika suster kembali menyuapinya. Steve tertawa kecil. “Well, ini pertama kalinya aku melihat seorang Cho Kyuhyun yang sangat penurut.”

Kyuhyun mendengus. “Tunggu sampai aku sehat dan kau tidak akan selamat, Steve.”

“Oh, aku tidak akan protes. Lebih baik melihat kau sehat ketimbang terbaring lemah dengan wajah pucat seperti kemarin. Rite, nurse?”

Suster itu hanya tersenyum dan menyelesaikan suapan terakhir untuk Kyuhyun. Setelah menyuntikkan obat melalui selang infus, suster tersebut keluar dengan membawa nampan makanan. Steve menarik nafas panjang. “Kau beruntung, mereka menemukanmu tepat waktu. Dokter bilang terlambat sedikit saja, tidak ada yang bisa mereka lakukan. Kondisimu kemarin benar-benar parah, Kyu.”

Kyuhyun terdiam mendengar ucapan Steve. “Mereka?” Jadi, bukan Steve yang menemukannya di apartment. Lalu siapa?

“Atasanmu dan teman Koreanya itu. Aku memang datang ke apartementmu, tapi aku sama sekali tidak mempunyai firasat apapun mengenai kondisimu di kamar. Kevin menghubungiku dalam perjalanan mengantarmu ke rumah sakit,” jelas Steve.

Kyuhyun tidak memberikan sahutan apapun. Ia hanya menatap Steve dengan lekat. Steve kembali menghela nafas. “Mereka menghubungi pihak gedung dan meminta kunci cadangan untuk membuka pintu. Dan saat aku datang, teman korea Kevin terlihat sangat pucat. Aku tidak bertanya apapun bagaimana dan kenapa mereka datang ke apartmentmu. Kurasa kau bisa menanyakan hal itu sendiri nanti. Sekaligus berterima-kasih pada mereka.”

“La-lalu apa mereka pernah datang lagi ke rumah sakit?” tanya Kyuhyun pelan.

“Aku tidak tahu persis, karena aku tidak selalu menungguimu di rumah sakit saat kau tidak sadar. Tapi sekali aku pernah berpapasan dengan teman Koreanya –Noah kalau tidak salah. Dia datang dengan seorang gadis seusianya. Dia bilang hanya ingin memastikan kondisimu,” tutur Steve.

Dengan Hyunsa? Pikir Kyuhyun. Jadi, waktu itu bukan sentuhan dia yang Kyuhyun rasakan. Tapi Kyuhyun bisa memastikan bahwa sentuhan yang ia rasakan bukan juga sentuhan Hyunsa. Apakah itu sentuhan Joonmyeon?

Kemudian seseorang memasuki kamar dan Kyuhyun begitu terkejut. Steve bangun dan menyambut orang tersebut. “Kau datang lagi, Noah.”

Joonmyeon tersenyum tipis dan Kyuhyun menyadari bahwa senyuman itu sangat mirip dengan pria yang dikiranya datang menemuinya. Kemudian mereka saling menatap. Joonmyeon tersenyum dan sepertinya ia sangat lega melihat kondisi Kyuhyun sekarang.

“Aku menghubungi pihak rumah sakit untuk menanyakan kondisi Kyuhyun hyung dan mereka mengatakan bahwa Kyuhyun hyung sudah sadar. Jadi, aku datang untuk melihatnya,” ucap Joonmyeon.

Steve tersenyum dan menatap Kyuhyun yang tidak melepaskan pandangannya dari Joonmyeon. “Kondisinya sudah mulai membaik. Ah, aku baru saja memberitahunya kalau kau dan Kevin yang menyelamatkannya. Kyuhyun, ada yang ingin kau katakan pada Noah?”

Kyuhyun tidak menjawab. Steve tertawa canggung karena tidak biasanya Kyuhyun bersikap seperti itu. “Ah, aku harus ke kantor sekarang. Aku akan kembali saat makan siang, Kyu. Noah, tidak apa kutinggal?”

Noah hanya mengangguk dan Steve langsung keluar dari kamar rawat tanpa mengatakan apapun lagi. Entah, tapi suasananya menjadi sangat canggung. Joonmyeon lalu menghampiri tempat tidur Kyuhyun. “Anda baik-baik saja, Kyuhyun hyung?”

Kyuhyun masih menatap Joonmyeon dengan lekat. Ada banyak hal yang ingin ditanyakannya pada pemuda tersebut. Tapi lidahnya berubah menjadi kelu. Joonmyeon memperhatikan Kyuhyun dengan serius. “Hyung, kau tidak apa-apa? Ingin kupanggilkan dokter?”

Kyuhyun tersadar dan menggeleng. “A-aku baik-baik saja,” ucapnya dengan sedikit gemetar. Hell, Kyuhyun tidak tahu kenapa ia bersikap seperti itu. Joonmyeon bukanlah pria itu, kenapa Kyuhyun tidak bisa bersikap normal?

Joonmyeon kembali tersenyum. “Syukurlah, hyung baik-baik saja. Kemarin aku benar-benar ketakutan. Kupikir….”

“Ka-kau kemarin datang? Saat aku tidak sadar. Bersama Hyunsa?” tanya Kyuhyun secara terpotong-potong. Ia seperti tidak bisa bicara dengan baik. Tapi Joonmyeon bisa mengerti ucapan Kyuhyun.

Joonmyeon mengangguk. “Sebenarnya aku ingin mengajak Yifan hyung, tapi dia tidak bisa. Jadi, kupaksa Hyunsa untuk mengantarkanku kesini. Dia bahkan tidak mau masuk untuk melihat bagaimana kondisimu dan memilih menunggu diluar kamar.”

“Ka-kau menyentuhku waktu itu? Kepalaku, maksudku.”

“Ti-tidak. Aku hanya datang membawakan buah dan bunga. Setelah duduk beberapa menit, aku keluar dan pergi. Aku sama sekali tidak menyentuh hyung,” jelas Joonmyeon bingung.

Kyuhyun menghela nafas. Jadi, dia benar-benar datang?

“A-apa kau sudah memberitahu…” Kyuhyun terdiam. Ia menjadi ragu untuk bertanya. Tapi Joonmyeon menunggu Kyuhyun untuk menyelesaikan pertanyaannya. “Kau memberitahu ayahmu mengenai aku?”

Joonmyeon diam. Ia kemudian duduk dan menarik nafas panjang. Kyuhyun kini menunggu jawaban dari pemuda itu. “Hyunsa yang memberitahu Daddy. Awalnya aku ingin mempertemukan kalian secara langsung, tapi sejak awal Hyunsa menentang semua rencana ini dan menganggap aku hanya melakukan sebuah lelucon. Dia benar-benar jahat sekali. Tapi kami tidak mengatakan kalau hyung masuk rumah sakit.”

Kyuhyun tahu hal itu. Hyunsa tidak mungkin akan setuju pada rencana Joonmyeon tentang mempertemukan dirinya dengan Siwon. Oh, akhirnya Kyuhyun menyebut nama pria itu juga. Joonmyeon menjelaskan secara singkat mengenai rencananya untuk dirinya dan Siwon. Bukan untuk memperbaiki hubungan, pemuda itu hanya ingin mempertemukan mereka saja. Selanjutnya, itu adalah pilihan Kyuhyun dan Siwon sendiri. Tapi sebelum rencana itu benar-benar terjadi, Hyunsa malah bertemu dengan Kyuhyun.

“Daddy ingin bertemu denganmu Kyuhyun hyung,” ucap Joonmyeon.

Kyuhyun kembali fokus memperhatikan pemuda itu. “Tapi Hyunsa, gadis itu benar-benar menyebalkan. Setelah empat tahun dan semua perjalanan terapinya, kupikir dia bisa sedikit berubah dan menerimamu. Terlebih dengan kondisiku juga, tapi jawabannya tetap sama seperti empat tahun lalu.”

Kyuhyun menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Bagaimana kau bertemu dengan Kevin?”

Joonmyeon terkejut dengan pertanyaan itu. Wajahnya sedikit memerah. “Di-dia adalah tetanggaku saat aku masih di Keluarga Kim.”

“Kau mengetahui keberadaanku melalui dia?”

Sontak Joonmyeon menggeleng. “Tidak, Yifan hyung awalnya tidak mengetahui apapun. Aku yang berusaha sendiri mencari keberadaan dirimu. Well, sebenarnya dengan bantuan Paman Jungsoo juga. Dan saat aku tahu kau berada di Toronto, kebetulan Yifan hyung juga akan dipindahkan ke kantor yang sama. Jadi, aku sedikit memanfaatkannya.”

Dia mirip dengan Hyunsa. Pantas saja, pikir Kyuhyun. “Apa dia tidak bertanya apapun?”

“Aku baru menjelaskannya saat kami menemukanmu tidak sadarkan diri di apartment. Yifan hyung sedikit marah, tapi dia bisa mengerti,” jelas Joonmyeon dengan bibir sedikit mengerucut.

Kyuhyun menarik nafas panjang lagi. Ia bisa memahami perbuatan Joonmyeon –dengan semua rencana konyolnya. Pada dasarnya, Joonmyeon sedikit mempunyai “kegilaan” keluarga Choi. Kyuhyun tidak tahu bagaimana selama empat tahun “kegilaan Choi” itu bisa tertanam baik dalam pemikiran Joonmyeon –mengingat dia belum lama di adopsi.

Kyuhyun menghela nafas. Ia mungkin akan menyesali apa yang akan diucapkannya, tapi ini bukan saatnya ia menghindar lagi. “Joonmyeon, terima kasih karena menyelamatkanku kemarin. Dan apakah rencanamu itu masih berjalan? Kau masih ingin mempertemukan aku dengan ayahmu?”

*****

Kyuhyun seharusnya tidak gugup. Dia hanya akan bertemu kembali dengan Siwon setelah empat tahun. Itu bukan sesuatu hal yang besar, bukan? Oh… Sebenarnya siapa yang Kyuhyun bohongi saat ini. Kyuhyun menarik nafas panjang dan menatap Kevin yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ini hari Selasa dan jika sesuai jadwal seharusnya Kevin menghadiri meeting dengan beberapa divisi. Tapi pemuda itu malah di rumah sakit bersamanya, menunggu kedatangan Joonmyeon dan Siwon.

Kyuhyun menghela nafas pendek. Kevin menghampiri tempat tidurnya setelah ia selesai bicara dengan Kate yang akan menggantikannya rapat. “Hyung…”

Kyuhyun menatap Kevin dengan lekat. Kevin menarik nafas lalu duduk ditepi tempat tidur. “Aku hanya mengetahui sedikit dari Joon dan tidak akan bertanya jika kau tidak menceritakannya. Hanya saja, bagaimana bisa kau bertahan selama empat tahun? Aku sedikit penasaran.”

Kyuhyun terdiam sejenak. Pertanyaan yang diajukan Kevin sangatlah wajar setelah ia mengetahui apa yang dilalui olehnya sebelum empat tahun terakhir. Kyuhyun menarik nafas dan tersenyum. “Tidak ada yang tahu bagaimana aku bisa bertahan, bahkan diriku sendiri. Aku hanya menjalani kehidupanku. Jika kau tidak mempunyai keyakinan yang kuat bahwa kau bisa terus hidup tanpa seseorang yang kau cintai, maka kau harus berjuang lebih keras untuk menjaganya tetap berada disisimu, Kevin,” tutur Kyuhyun.

“Well, itu sangat sulit. Tapi kau berhasil melakukannya. Maksudku, bertahan selama ini. Aku mungkin tidak akan bisa melakukannya,” tukas Kevin.

Kyuhyun masih tersenyum. “Kau begitu menyukainya?”

Kevin mengangguk. “Noah –ah, maksudku Joonmyeon, kami sudah saling mengenal sejak ia datang dari panti asuhan. Dia terlihat begitu rapuh, membuat semua orang ingin melindunginya. Hanya saja, aku tidak selalu berada disisinya. Saat orangtua Kim meninggal, rasanya aku ingin kembali ke Seoul dan mengajaknya tinggal di China bersamaku. Tapi kemudian dia mengatakan bahwa ada sebuah keluarga yang baik akan mengasuhnya. Joonmyeon mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Itulah yang kusyukuri hingga hari ini.”

“Kau cukup mengenal keluarga Choi?”

Kevin tersenyum tipis. “Mereka keluarga yang gila. Maksudku, Hyunsa, pertama-kali bertemu dengannya dia benar-benar protektif pada Joonmyeon –dalam konteks yang baik. Gadis itu cukup baik walaupun yang kudengar dia mengalami sedikit gangguan psikis. Tapi terapinya berjalan lancar dan kondisinya membaik, setidaknya itulah yang diceritakan Joon. Siwon ajhusi, dia adalah ayah yang baik dan terlalu memanjakan anak-anaknya. Joonmyeon pernah bercerita kalau pada ulangtahunnya, Siwon ajhusi memberikan hadiah sebuah mobil mewah. Aku tidak tahu bagaimana nasib mobil itu selanjutnya. Dan sisa anggota keluarga Choi yang lain, kurasa kau mengenal mereka cukup baik, hyung.”

“Ya, kegilaan keluarga Choi. Tapi kau bisa bertahan,” sahut Kyuhyun. Kau bahkan sepertinya bisa bertahan dari Choi Songjoo.

“Itu bukan hal mudah, hyung. Terlebih dengan Kakek Choi dan Hyunsa. Bahkan hingga hari ini, aku selalu mendapatkan punggung dingin dari Kakek Choi.”

Kyuhyun hanya tersenyum lirih. Sepertinya Choi Songjoo memang tidak akan pernah berubah.

Kemudian percakapan mereka diinterupsi oleh suara pintu terbuka. Joonmyeon datang dengan senyuman diwajahnya. Hanya saja dia masuk sendirian. Kyuhyun menatapnya lekat. “Daddy ada diluar,” ucap Joonmyeon singkat.

Kevin beranjak bangun dan berdiri disamping Joonmyeon. “Hyung, kelak jangan memanggilku Kevin. Panggil Yifan saja dan aku akan memanggilmu dengan Kyuhyun hyung.”

Kyuhyun tersenyum tipis. Lalu Kevin –ah, Yifan dan Joonmyeon keluar kamar rawatnya. Kyuhyun menarik nafas panjang dan mempersiapkan diri. Ia tidak begitu yakin dengan keputusannya, tapi tidak ada jalan untuk berhenti. Kyuhyun memang harus menghadapinya.

Kyuhyun menahan nafas ketika mendengar suara derap langkah. Oh lihat, Kyuhyun bahkan bisa mengenali setiap detail kecil mengenai pria itu dimanapun. Tidak peduli sudah berapa lama mereka berpisah. Kyuhyun memutuskan untuk bernafas normal ketika pria itu muncul dengan sedikit perubahan –sedikit keriput karena usia, tapi jelas pria itu masih tetap tampan. Kyuhyun tidak tahu bagaimana harus menyapa pria itu –Siwon. Tapi kemudian ia hanya tersenyum tipis, yang kemudian dibalas oleh senyuman Siwon.

“Lama tidak bertemu, Kyuhyun.”

Kyuhyun tidak menjawab apapun. Fokus pandangannya hanya pada pria yang kini menghampiri tempat tidurnya. Siwon tersenyum –masih sama seperti yang Kyuhyun ingat. “Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”

Kyuhyun mengangguk. Siwon menghela nafas. “Syukurlah. Jangan bekerja terlalu keras. Kesehatan adalah yang utama, Kyuhyun.”

Well, saat mendengar Siwon menyebut namanya lagi, Kyuhyun merasa beban hidupnya telah berkurang banyak. Entahlah tapi ia merasa jauh lebih baik –jauh lebih sehat. Kyuhyun merasa ia seperti berada di rumah bersama orang-orang yang disayanginya dan menyayanginya. Terdengar konyol, tapi Kyuhyun seperti melupakan tujuan awal ia pergi meninggalkan Seoul.

Kini secara resmi semua usahanya untuk melupakan Siwon menjadi sia-sia. Kyuhyun pergi bukan untuk menata kehidupannya, tapi ia hanya menghindari Siwon dan keluarganya. Kyuhyun pergi karena ia tidak ingin terluka lagi. Walaupun pada kenyataannya kepergiaannya hanya membuat dirinya semakin tidak bisa melupakan pria itu.

“Jangan menangis,” ucap Siwon dengan menyentuh pipinya.

Kyuhyun tidak tahu mengapa ia menangis. Tapi ketika ia kembali merasakan sentuhan itu, Kyuhyun seperti melayang bebas. Dan ia malah menangis semakin keras. Siwon terdiam. Kemudian ia duduk di tepi tempat tidur dan menarik tubuh Kyuhyun kedalam pelukannya. Siwon memeganginya dengan erat. Dan ia berjanji untuk tidak akan pernah melepaskan pria itu lagi. “Aku disini, Kyu. Aku disini.”

Kyuhyun masih menangis dengan Siwon yang terus memeluknya. Kyuhyun menenggelamkan wajahnya dibahu Siwon dan membuat kemeja pria itu menjadi basah. Selama tigapuluh satu tahun hidupnya, Kyuhyun hanya beberapa-kali menangis. Tapi hari ini adalah hari dimana ia menangis seperti bayi yang baru dilahirkan. Menangis tanpa bisa berhenti sebelum ibunya datang dan memberikan susu.

Namun dalam hal ini yang Kyuhyun butuhkan adalah Siwon. Hanya Choi Siwon.

*****

“Jangan melepaskanku lagi, Choi Siwon.”

Itulah yang diucapkan Kyuhyun pertama kali setelah sepuluh menit ia menangis dan duapuluh menit tambahan kesunyian yang panjang. Kyuhyun masih berada dipelukan Siwon dan terus memeganginya agar pria itu tidak pergi. Siwon hanya tersenyum dan mengecup kepala Kyuhyun dengan lembut.

“Aku tidak pernah melepaskanmu, Kyuhyun. Kau yang pergi dariku,” tutur Siwon.

“Tapi kau yang mengakhiri hubungan kita,” ucap Kyuhyun.

Siwon menarik nafas dan mengeratkan pelukannya. “Itu demi dirimu. Jika aku tetap memaksa, Hyunsa mungkin akan bertindak lebih buruk dari apa yang telah dilakukannya. Aku ingin menyembuhkan Hyunsa terlebih dahulu, tapi aku tidak bisa tetap membuatmu bertahan disisiku. Jadi, pilihanku adalah mengakhiri hubungan kita. Aku tidak pernah mengatakan aku melepaskanmu.”

Kyuhyun menatap Siwon dengan marah. “Tapi kau mengatakan agar aku hidup bahagia di masa depan. Kau juga meminta maaf karena…”

Siwon membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman. Dan itu berhasil –oh setiap ciuman Siwon selalu berhasil pada Kyuhyun. Kyuhyun mendengus jengkel karenanya tapi Siwon hanya tertawa kecil. “Aku minta maaf karena tidak mengatakannya dengan jelas. Percayalah waktu itu aku pun sedang kacau. Aku ingin kau hidup bahagia di masa depan bersamaku setelah aku mengurus masalah psikologis Hyunsa. Aku meminta maaf karena aku mungkin tidak bisa melakukannya dengan cepat. Tapi aku ingin kau tetap menungguku. Hanya saja, tiba-tiba kau datang dengan membawa surat pengunduran diri. Seberapa besarnya keinginanku untuk mencegahmu pergi, tapi aku tidak mempunyai hak atas dirimu, Kyuhyun.”

“Jadi, kau melepaskanku?”

Siwon mengangguk. “Aku tahu kalau apa yang kulakukan sangatlah tidak adil bagimu. Tapi Hyunsa adalah putriku, Kyuhyun. Aku tidak bisa berpaling darinya dan membiarkanya menderita sendirian.”

Kyuhyun menarik nafas panjang. “Tapi aku juga menderita, Siwon.”

“Aku tahu. Dan bahkan setelah empat tahun, tidak ada satu pun dari kita yang merasa bahagia atas perpisahan ini bukan? Hyunsa sudah jauh lebih baik, tapi dia masih bersikap menyebalkan mengenai hidupku. Jika kita kembali bersama, mungkin…”

“Boleh aku memarahi anakmu itu?” seru Kyuhyun. Siwon mengernyit. “Kau sudah berusia empatpuluh tahun lebih, tapi hidupmu diatur oleh anak berusia duapuluh tiga tahun? Itu sangat tidak masuk akal. Terlebih dia adalah putri kandungmu sendiri. Kau harus lebih tegas pada putrimu itu, Choi Siwon.”

Siwon kembali tertawa. Kyuhyun sedikit berubah. Itu lebih baik, menurutnya. “Aku tahu, itu memang konyol. Tapi percayalah, aku yang memegang kemudi utama kehidupanku sendiri, Kyuhyun.”

“Jadi, kau tidak akan melepaskanku lagi? Kau akan berjuang demi kita? Lagi?”

Siwon mengecup bibir Kyuhyun. “Jangan pernah bermimpi untuk pergi lagi dari hidupku, Cho Kyuhyun. Karena aku tidak akan pernah melepaskanmu.”

*****

“So, Andrew Choi?” Steve dan kebiasaan munculnya. Kyuhyun menarik nafas panjang dan tetap fokus pada dokumennya. Setelah beberapa hari di rumah sakit, Kyuhyun akhirnya bisa kembali ke kantor pada hari Jumat dan menyelesaikan tumpukan dokumen.

“Long story, Steve,” ujar Kyuhyun singkat.

“Well, kita mempunyai satu jam makan siang untuk bicara. Mungkin sepertiga dari kisah panjangmu itu,” sahutnya dengan menyeringai.

Kyuhyun mendengus. “I’ll tell you later, kay.”

Steve hanya mengangguk dan kemudian Kyuhyun diselamatkan oleh panggilan dari ruangan Kevin –maksudnya Yifan. Oh, Kyuhyun masih belum terbiasa memanggil nama China Kevin. Kyuhyun berdiri dihadapan meja kerja Yifan dengan ekspresi datar. Well, setidaknya Kyuhyun tahu bahwa dia tidak berbuat kesalahan hingga Yifan memanggilnya. Jadi, Kyuhyun menunggu.

“Kau akan kembali ke Seoul akhir bulan ini, hyung,” ujar Yifan sembari menyodorkan sebuah dokumen pada Kyuhyun.

Kyuhyun terdiam. “Ma-maksudnya? I mean… Bukankah kepindahanku baru dua bulan lagi. Masih ada beberapa project yang kukerjakan.”

“Well, salahkan kekasihmu hyung. Dan aku tidak bisa membantah perkataan calon ayah mertuaku. Kau akan bertanggung-jawab untuk project baru dengan Hyunwon Group mulai bulan depan. Jadi, kau harus kembali ke Seoul secepatnya,” tukasnya sembari terkekeh.

“Hyu-Hyunwon Group? Ta-tapi…”

Yifan menggeleng. “Tidak bisa membantah, hyung. Lagipula aku juga mendapat surat keputusan dari kantor pusat.”

Kyuhyun mengambil dokumen dari tangan Yifan dengan helaan nafas panjang. Well, dia tidak mempunyai pilihan bukan? Dan sialnya, akhir bulan itu tinggal duabelas hari lagi. Kyuhyun tidak yakin dia bisa mengepak semua barang-barangnya dan terlebih dia belum memesan tiket.

“Tiket pesawat sudah diurus oleh perusahaan. Selain itu, Joonmyeon memintaku secara pribadi untuk membantumu mengepak,” tukas Yifan.

Kyuhyun mengangguk. “Baiklah, terserah padamu, Kev –sorry, aku belum terbiasa memanggilmu Yifan. Ah, kenapa kau bilang Joonmyeon menyuruhmu untuk membantuku mengepak?”

“Hari ini Joonmyeon dan Siwon ajhusi akan kembali ke Seoul. Ia tidak bisa tinggal lebih lama untuk membantumu, hyung. Penerbangannya sekitar pukul tujuh malam. Hyunsa sudah kembali ke Vancouver kemarin. Memangnya hyung tidak diberitahu?”

*****

Kyuhyun menghampiri Siwon yang menunggunya di dekat danau High Park. Pria itu sedang melihat beberapa angsa yang sedang berenang. Saat makan siang, Siwon menghubunginya dan memintanya bertemu di danau tersebut. Beruntungnya, Yifan memberi ijin Kyuhyun untuk pulang lebih awal.

Kyuhyun menarik nafas dan berdiri disebelah Siwon. “Kau baru akan memberitahu sekarang?”

Siwon tersenyum. “Halo juga untukmu, Kyuhyun.”

“Empat tahun dan kau masih sangat menyebalkan,” tukas Kyuhyun.

“Empat tahun dan kau masih bertingkah seperti remaja berusia tujuh belas tahun. Oh, aku harus mengubahnya menjadi duapuluh satu tahun?”

Kyuhyun meninju Siwon sedikit keras. Tapi pria itu hanya tertawa kecil. Kemudian Siwon berusaha untuk memeluk Kyuhyun. Namun, Kyuhyun menolak. Ia memilih mundur beberapa langkah. Setidaknya, Cho Kyuhyun sekarang bukan seperti Cho Kyuhyun empat tahun lalu.

Siwon menarik nafas panjang. “Aku tidak memberitahu karena aku mempunyai alasannya, Kyuhyun. Selain itu, kau juga akan dipindah-tugaskan di Seoul, bukan?”

“Tch, yang kutahu, kepulanganmu hari ini tidak ada kaitannya dengan kepindahanku ke Seoul. Lagipula bukankah kita sudah setuju untuk tidak menyembunyikan apapun, Siwon.”

Siwon menekan pelipis kanannya. “Aku merindukanmu memanggilku hyung, Kyuhyun. Jarak usia kita tigabelas tahun.”

“Ani! Aku tidak mau memanggilmu hyung. Bahkan jika kau lebih tua duapuluh tahun atau tigapuluh tahun dariku, aku tidak mau memanggilmu hyung lagi,” sahut Kyuhyun.

Siwon tertawa.” Jika usia kita berbeda tigapuluh tahun, itu artinya aku ini seusia dengan ayahmu. Kau mau menikah dengan seorang pria tua, eoh?”

Kyuhyun terdiam. Siwon tersenyum dan mencoba untuk memeluk Kyuhyun lagi. Well, kali ini Kyuhyun tidak menghindar. Siwon selalu mempunyai cara untuk membuat Kyuhyun tidak bisa menolaknya –bahkan setelah empat tahun, cara itu masih sangat ampuh. Hah, Siwon kembali memperlakukan dirinya sebagai pria muda. Pria dengan usia duapuluh-an.

“Usiaku sekarang tigapuluh satu tahun. Hyung.”

Siwon tersenyum ketika Kyuhyun kembali memanggilnya hyung. “Dan usiaku sudah empatpuluh empat tahun. Hampir empatpuluh lima. Dan lima tahun kemudian, aku mencapai usia setengah abad.”

“Oh ya Tuhan, aku sangat sangat merindukanmu, Cho Kyuhyun. Kau tidak akan percaya bagaimana aku bertahan selama empat tahun tanpa harus melupakanmu dan tanpa harus berusaha untuk mencarimu. Meyakinkan pada diriku sendiri bahwa kau baik-baik saja dan akan pulang suatu hari nanti. Pulang padaku,” ucap Siwon.

Kyuhyun menarik nafas. “Kau tidak akan percaya bahwa aku harus menemui psikolog untuk membantuku melupakanmu. Pada akhirnya gagal, dan memutuskan untuk hidup dibawah kutukan keluarga Choi. Itu menyedihkan, hyung.”

“Kutukan keluarga Choi?”

“Kutukan bahwa aku tidak akan pernah lepas dari nama Choi seumur hidupku. Apapun yang kulakukan selalu mengingatkanku pada dirimu, Hyunsa dan anggota Choi yang lainnya. Termasuk ayahmu. Aku tidak bisa mengatakannya pada orang lain karena aku hanya menginginkan kenangan Choi –terutama dirimu– untuk diriku sendiri.”

“Termasuk kenangan yang paling menyakitkan?”

Kyuhyun mengangguk. “Termasuk saat aku harus melangkah keluar dari gedung Hyunwon Group dan menahan diri untuk tidak menoleh kebelakang. Aku bahkan berulang-kali berpikir untuk mati saja, hyung.”

Siwon melepaskan pelukannya dan menatap Kyuhyun dengan lekat. “Jika kau mati, apa yang harus kulakukan pada hidupku? Aku masih bisa bertahan karena kau hanya pergi ke negara lain. Tapi jika kau pergi untuk selamanya, bagaimana dengan diriku? Kau ingin bertanggung-jawab atas hidup anak-anakku jika aku ikut mati bersamamu, eoh?”

Kyuhyun memukul dada Siwon. “Jangan bicara yang aneh-aneh. Lagipula kenapa aku harus bertanggung-jawab pada anak-anakmu? Kita bahkan tidak mempunyai ikatan darah. Aku tidak mau bertanggung-jawab.”

“Tapi kau harus bertanggung-jawab atas hidupku, Kyuhyun. Karena kau membuatku tidak bisa berpaling pada orang lain. Hanya kau satu-satunya bagiku, Kyuhyun. You’re the only one.”

Kyuhyun mendecih, tapi ia tidak memungkiri bahwa wajahnya terasa hangat. “Tsk, cheesy ball! Hentikan itu, hyung.”

Siwon masih tersenyum, memperlihatkan kedua dimplenya. “Tapi aku serius, sayang.” Siwon lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku mantelnya, dan memperlihatkan isinya pada Kyuhyun. Well, yang benar saja! Kyuhyun bahkan tidak pernah siap jika Siwon akan melamarnya.

“Aku membuat ini setelah dua tahun kau pergi. Jadi, designnya terlihat kuno tapi inilah bukti keyakinanku padamu, Kyuhyun. Aku yakin bahwa hanya dirimu yang kuinginkan dan kau akan pulang padaku.”

“Ta-tapi bagaimana dengan Hyunsa? Kita tidak bisa menikah jika…”

Ucapan Kyuhyun terhenti ketika Siwon mengeluarkan sebuah amplop putih. “Hyunsa memberikannya padaku sebelum ia kembali ke Vancouver. Dia bilang hanya kau yang boleh membacanya. Selain itu, dia juga merindukanmu Kyuhyun. Jika dia masih bersikap dingin padamu, itu karena dia tidak tahu bagaimana bersikap dihadapanmu. Dia akan menerimamu. Mungkin tidak sebagai orangtua barunya, tetapi bagian dari keluarganya.”

Kyuhyun tidak memberikan reaksi apapun. Ia hanya memandang surat itu dan cincin yang disodorkan Siwon. Kyuhyun merasa bahwa ini terlalu cepat. Mereka bahkan baru bertemu kurang dari seminggu setelah empat tahun perpisahan yang menyedihkan. Namun, Kyuhyun tidak yakin bahwa ia bisa bertahan untuk membiarkan Siwon pergi lagi. Jadi, kemudian Kyuhyun hanya mengangguk.

Siwon tersenyum dan memasangkan cincin itu pada jari manis kekasihnya. Kyuhyun tersenyum memandang cincin tersebut. Lalu ia sadar bahwa hanya ada satu cincin. Kyuhyun menatap Siwon yang kemudian memperlihatkan sebuah kalung yang dipakainya. “Jangan berpikir bahwa aku hanya membuat satu untukmu. Aku selalu memakai ini setelah aku mendapatkannya. Dan pasangannya selalu kubawa kemana pun aku pergi. Untuk mengingatkanku bahwa aku mencintaimu. Selamanya.”

Wajah Kyuhyun semakin memerah. Ia mungkin akan menangis lagi, tapi Kyuhyun berusaha untuk terlihat sebagai seorang pria yang tegas. “Aku membencimu, Choi Siwon. Aku membencimu karena kau membuatku terlalu mencintaimu.”

Siwon tersenyum dan mengusap lembut wajah kekasihnya. “Terima kasih untuk terus mencintaiku, Kyuhyun. Maaf, karena aku harus pulang hari ini. Dan bertahanlah hingga akhir bulan ini, okay? Aku mungkin akan membombardir emailmu dan juga membuatmu telingamu panas sampai kau pulang padaku.”

Kyuhyun tersenyum dan mengecup bibir Siwon. “Saat kau di Seoul, kau juga harus bertahan untukku, hyung.”

“Well, setelah sampai di Seoul, yang pertama-kali kulakukan adalah menghubungi wedding organizer. Setelah kau menyelesaikan project dengan Hyuwon Group, kita akan langsung menikah,” tukas Siwon.

Kyuhyun membulatkan matanya. “Choi Siwon!! Project itu hanya dua bulan? Bagaimana bisa kau….”

Siwon membungkam protes Kyuhyun dengan ciumannya. Kyuhyun berusaha untuk menolak, tapi Siwon memeganginya dengan erat. Kyuhyun memejamkan matanya ketika Siwon berhasil menembus pertahanannya. Siwon membuatnya kembali menelan semua desahan protes dan membuat suhu tubuh mereka meningkat. Harus Kyuhyun akui bahwa dia merindukan ciuman Siwon dan setiap sentuhan pria tersebut.

Menit berikutnya, Kyuhyun merasakan bahwa Siwon tidak menciumnya dengan agresif, melainkan sebuah ciuman yang lembut. Kyuhyun benar-benar dimanjakan oleh setiap sentuhan Siwon. Bahkan kini Kyuhyun menuntut lebih dari sekedar sebuah ciuman –mengingat dia benar-benar merindukan pria tersebut. Dan Siwon terpaksa menghentikan ciuman mereka, walaupun Kyuhyun kembali protes.

Siwon menyeringai. “Aku harus ke airport tepat waktu dengan penampilan yang ‘tidak berantakan’. Selain itu, Joonmyeon tidak suka menunggu, sayang.”

“Aku juga tidak suka menunggu, Choi Siwon,” balas Kyuhyun.

Siwon lalu melihat jam dipergelangan tangannya. Ia harus sampai di airport pukul enam. Masih sekitar empat jam lagi. Selain itu, Siwon cukup beruntung karena Joonmyeon akan diantar oleh Yifan –mereka juga yang akan mengurus koper-koper. Siwon menarik nafas panjang dan memandang Kyuhyun. “Tapi kau harus mengantarku ke airport pukul lima, okay?”

Kyuhyun tersenyum dan mengangguk setuju. “Baiklah, aku perlu makan siangku sekarang, Sajangnim,” ucapnya dengan seduktif.

“Empat tahun dan kau berubah menjadi sangat nakal, Sekretaris Cho.”

*****

Tigabelas hari kemudian…

Kyuhyun mendorong troli kopernya keluar melalui pintu kedatangan luar negeri. Matanya memperhatikan sepanjang pandangannya dan akhirnya melihat orang yang menunggunya. Well, sekaligus dengan beberapa puluh pasang mata yang memperhatikannya. Kyuhyun tahu bahwa kekasihnya tampan dan sepertinya usianya tidak membuat orang lain berpaling darinya. Tapi lebih daripada itu, Kyuhyun merasa ada sebuah alasan lain hingga membuat hampir semua mata di airport tertuju pada mereka.

Kyuhyun tersenyum tipis dan mendorong trolinya mendekati kekasihnya. Kyuhyun menghela nafas panjang. “Aku tidak mengharapkan perhatian orang sebanyak ini ketika aku keluar.”

“Well, jangan menyalahkan ketampananku,” sahutnya.

Kyuhyun mendengus. “Terlalu percaya diri. Tigabelas hari dan sifat besar kepalamu semakin parah.”

“Itu kenyataannya, Kyuhyun. Dan selamat datang kembali,” tutur Siwon dengan senyuman diwajahnya.

“Senang bisa kembali.”

Namun, kemudian mereka masih berdiri disana saling memperhatikan –melupakan bahwa ada banyak orang yang memperhatikan keduanya. Tapi Kyuhyun lalu merasa sedikit canggung. Kyuhyun berdeham pelan dan kembali bicara, “Ada yang kita tunggu? Kupikir kau datang untuk menjemputku.”

 “Kenapa kau berpikir aku datang kesini untuk menjemputmu?” tanya Siwon dengan sedikit menyeringai.

Kyuhyun mengernyit. “Lalu?”

“Well, senang bisa pulang, Daddy!”

Mendengar suara itu, Kyuhyun sontak berbalik. Dia sangat terkejut melihat Hyunsa sudah berdiri dibelakangnya dengan sebuah koper besar. Oh, juga dengan ekspresi jengkelnya. Siwon tersenyum dan menghampiri Hyunsa. Ia memeluk putrinya dengan erat. Tanpa sadar Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. Entahlah, Siwon tidak memeluknya saat ia pulang. Shit, Kyuhyun tanpa sadar mengumpat.

“Selamat datang, sayang,” ucap Siwon lalu melepaskan pelukannya.

Hyunsa menghela nafas pendek. “So, jadi ini rencana Daddy.”

Siwon menyeringai dan mengusap kepala Hyunsa dengan lembut. “Hey, Daddy sudah memberitahumu dan kau setuju.”

“Hah, jangan diungkit lagi. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa setuju,” sahut Hyunsa jengkel.

Kyuhyun memperhatikan ayah dan anak itu dengan tatapan bingung. Rencana? Kenapa keluarga Choi selalu penuh dengan rencana, pikirnya. Namun, seberapa penasarannya Kyuhyun, ia tidak ingin merusak moment ayah dan anak itu. Well, mereka masih di tempat umum dan Kyuhyun harus menahan diri.

“Daddy sangat berterima-kasih pada Sam karena dia berhasil membujukmu. Kapan dia pulang ke Seoul?” tanya Siwon yng membuat Kyuhyun menjadi lebih penasaran. Okay, sepertinya banyak hal yang telah dilewatkannya.

“Jangan menyebut namanya, Dad,” tukas Hyunsa yang kemudian menatap Kyuhyun lekat. Ia menarik nafas panjang. “Senang bisa bertemu denganmu lagi, Paman.”

Kyuhyun sedikit terkejut ketika Hyunsa menyapanya. Saat mereka bertemu di Toronto, Hyunsa bahkan tidak berniat menatap wajahnya. Tapi ketika melihat Siwon tersenyum lebar, Kyuhyun tahu bahwa kekasihnya pasti sudah bicara dengan Hyunsa. Jadi, Kyuhyun tersenyum pada Hyunsa. “Senang bisa bertemu lagi, Hyunsa.”

“Hey, jangan memanggilnya Paman ketika dia akan menjadi anggota keluarga Choi. Kau sudah mengetahui panggilan yang tepat, sayang,” sahut Siwon dengan sebuah senyuman besar.

Heh, Kyuhyun bahkan tidak tahu kenapa Siwon bisa dengan mudah menyebutkan hal itu ditempat umum. Sekarang ia hanya berharap tidak ada seorang pun yang mendengarkan percakapan mereka.

Hyunsa mendelik. “Geez, Dad! Kau kembali bersikap menjijikkan seperti dulu.”

“Yak, siapa yang kau sebut menjijikkan, eoh? Tinggal lama di luar negeri, kau menjadi tidak menghormati ayahmu sendiri. Tch, seharusnya Daddy setuju saja saat Kakek akan mengirimmu ke London,” omel Siwon.

“Terlambat, Daddy. Akhir tahun aku akan segera lulus dan percayalah aku tidak akan mau pergi ke luar negeri lagi hanya untuk belajar bisnis,” balas Hyunsa.

Satu yang disadari Kyuhyun, sikap keras kepala Hyunsa tidak berubah. Atau bahkan lebih parah. Tapi setidaknya, Kyuhyun masih bisa mengenali gadis itu. Hyunsa benar-benar tidak berubah dari gadis berusia tujuhbelas tahun yang pernah dikenalnya. Namun, Siwon juga mengalami perubahan. Dia tidak terlalu memanjakan Hyunsa lagi.

Siwon menghela nafas pendek. “Ya, itu benar. Selain itu, kau tidak akan masuk perusahaan. Hey, kau harus banyak berterima-kasih pada Joonmyeon. Dia belajar keras untuk memenuhi ekspetasi Kakekmu.”

“Apa mengijinkan Kevin menikahinya bukan salah satu rasa terima-kasihku untuknya? Itu pengorbanan besar juga untukku,” tutur Hyunsa.

Kenapa mereka bisa membicarakan hal itu dengan mudah, pikir Kyuhyun. Kini ia semakin curiga bahwa terjadi sesuatu yang tidak diketahuinya.

Siwon tersenyum. “Well, itu memang benar. Terima kasih, sayang.”

“Terserah. Dan jika Daddy ingat dulu, aku tidak mau ada dua pernikahan dalam waktu dekat ini. Ayolah pulang! Aku mau bertemu dengan Joonmyeon,” Hyunsa kemudian menarik kopernya pergi.

Siwon hanya tertawa kecil dan berdiri didekat Kyuhyun. Ia mengambil alih troli yang dibawa Kyuhyun. “Hah, moodnya sedang kacau sekali. Sepertinya dia bertengkar lagi dengan Sam.”

“Sam? Kekasihnya?”

Hah, sepertinya Kyuhyun tidak sadar mengenai ucapan Hyunsa sebelumnya. Siwon mengangguk. “Mereka sudah bersama selama dua tahun? Atau tiga? Dan sebagian besar waktu mereka diisi oleh pertengkaran. Hyunsa dengan sikap keras kepalanya dan Sam dengan sikap dominannya. Tidak ada yang mau mengalah. Tapi itu adalah hal baik, karena Sam banyak membantunya untuk lebih terkontrol.”

Kyuhyun hanya tersenyum mendengarnya. Ya, itu memang kabar baik. Jika Hyunsa mempunyai seseorang yang selalu disisinya dan membantunya menjadi lebih baik, maka itu adalah sebuah kabar baik.

Siwon tersenyum. “Dan kebetulan Hyunsa mengatakan mengenai pernikahan, aku harus menemui pihak WO untuk mengurus gedung. Jadi, kau ingin ikut atau kau ingin di rumah orangtua-mu saja dan tinggal menyiapkan diri untuk berdiri di altar bersamaku?”

Oh yeah, Kyuhyun melupakan mengenai pernikahan itu. Ia terlalu sibuk menyelesaikan beberapa dokumen sebelum ia kembali ke Seoul dan menyiapkan dokumen untuk project barunya. Selain itu, Kyuhyun juga tidak menyangka dengan perubahan Hyunsa. Suratnya memang tidak secara jelas bahwa gadis itu menyetujui pernikahan, tapi dia juga tidak menolak. Masih terkesan absurd, tapi melihat Siwon tersenyum sepertinya semuanya berjalan lancar.

“Well, ini pernikahanku juga bukan?”

Senyuman Siwon masih lebar dan mereka akhirnya berjalan keluar menyusul Hyunsa. Kyuhyun berjalan disamping Siwon yang membawa trolinya dengan canggung. Entahlah, walaupun ia tidak begitu peduli tapi semakin banyak orang yang memperhatikan mereka. Dan sepertinya Siwon juga tidak merasa terganggu. Kemudian Kyuhyun menahan nafas ketika ia melihat ada banyak wartawan yang berjarak sekitar sepuluh meter dari posisi mereka yang mengambil foto mereka dan melontarkan pertanyaan –hah, Kyuhyun bahkan tidak bisa mendengar jelas apa yang ditanyakan. Beruntung ada beberapa orang dengan pakaian formal hitam berjaga agar para wartawan itu tidak berusaha untuk mendekati mereka. Well, Kyuhyun mungkin akan panik.

Kyuhyun melirik Siwon. “Err, kenapa ada wartawan disini? Apa aku harus…”

Siwon kemudian menggenggam tangan Kyuhyun dengan erat, membuat pria itu membulatkan matanya. Hell, mereka masih di tempat umum dan Siwon tanpa ragu menyentuhnya. Siwon tersenyum. “Tetap disisiku, Kyuhyun.”

“Ta-tapi hyung…”

Kemudian Siwon dengan berani mengecup bibir Kyuhyun. “Kau tahu, semua orang sudah mengetahui rencana pernikahan kita,” ucap Siwon setelah melepaskan bibir Kyuhyun.

“N-ne?”

“Aku tidak akan mengambil resiko untuk membiarkanmu pergi. Jadi, kuberitahu semua orang kalau kau hanya milikku. Satu-satunya milik Choi Siwon. Tersenyumlah sayang, aku ingin kau terlihat tampan pada setiap foto,” tutur Siwon.

Kyuhyun sedikit menunduk dan ia menyadari bahwa Siwon juga memakai cincin yang sama dengannya. Di jari manis tangannya. Oh, Kyuhyun bahkan tidak menyadari hal itu sebelumnya. Kyuhyun tidak mempunyai reaksi lain untuk menganggapi tindakan gila Siwon. Jadi, dia hanya mengikuti ucapan Siwon untuk tersenyum dan membiarkan para wartawan itu untuk mengambil foto mereka berdua yang kemudian menjadi hot topik pembicaraan seluruh Korea Selatan. Sedangkan Hyunsa yang sudah berada di dalam mobil melihat dengan jelas kegilaan yang dilakukan ayahnya.

Hyunsa mendesah pelan. “Jangan bilang ini juga rencanamu, Joon,” tukasnya pada Joonmyeon.

“Well, aku mengusulkan untuk membuat konferensi pers, tapi Daddy mempunyai rencana lebih gila di airport. Jadi, kubiarkan saja. Cepat pulang, eoh. Kau harus membantuku. Kakek akan mengamuk setelah melihat berita nanti.”

Hyunsa memutus sambungan telepon. Ia menyeringai melihat moment dimana Siwon benar-benar bebas memberitahu semua orang bahwa Kyuhyun adalah miliknya. “Tsk, show off. Sejak kapan Daddy menjadi suka pamer begitu.”

 

THE END

Final Note:

Akhirnya, selesai. Walaupun sebenarnya aku tahu ada begitu banyak yang tidak jelaskan di part ini. Tapi percayalah jika dijelaskan akan lebih dari 10k+ words. Part 25 sendiri sekitar 10k++ words dan aku mencoba fokus pada Kyuhyun karena dua part sebelumnya part Kyuhyun sangat sedikit. Aku mungkin akan menambah satu part epilog tapi belum bisa dipastikan karena saat ini aku sibuk untuk persiapan kuliah dan skripsi. Tapi jika memang sempat menulis, akan aku jelaskan apa yang belum sempat diceritakan.

Ada pertanyaan??? Silahkan ditanyakan~

Advertisements

57 thoughts on “[SF] Only One Part 25

  1. argh!!! debak ini menegangkan bukan (?) siapa penulisnya
    sukses buat aku seharian terpaku di depan ponsel
    oh… wonkyu akhirnya setelah semua yang kau lalui semua berakhir bahagia
    wow…keren… semoga langgeng sampai kakek nenek
    semoga bahagia
    dalam kehidupan nyata atau ff doang…

    like buat autornya…
    salam kenal

  2. Speachless…….snang pda akhrnya mrka bersama,,,cman agak krng puas krna terkesannya kyu mdah bgt buat ayah dn anak itu,,,mski pda knyataannya kyu mank ga bs mlupakan siwon,,,trlebih hyunsa,,,dy sperti ga mrsa mnyesal dn entahlah,,,smua trsa mdah bgi hyunsa pi sulit bgt buat kyu!! (maaf klo trkesan mnyinggung ya)
    over all aku ska sma crtanya!!

  3. Di awal-awal chapter kebanyakan terfokus pada Hyunsa, tapi diakhir-akhir Kyuhyun mulai dominan. Meskipun udah pernah baca (dulu banget) tapi ff ini tetep seru. Di awal cerita dan diakhir cerita aku nangis karena di tengah-tengah cerita Kyuhyun begitu tangguh, jadi penderitaannya tersamarkan (?). Sempet membenci Hyunsa, tapi untung diakhir Hyunsanya kembali seperti dulu. Pokoknya endingnya suka banget.
    Maaf ya, ga komen lagi di tiap chapter. Langsung komen di akhir.
    Ditunggu lanjutan ff Scarface dan The Last Kingnya!

  4. Akkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk suka bgt waktu baca happy end^^ ahhhhhh untung kyuhyun g mati…coba klo kyuhyun meninggal karna bunuh diri q bisa nangis😢😢😢😢

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s