[SF] Only One Part 24

tumblr_m11ytp9ZUm1r7rlh4o1_500

[Part 24]

Siwon tidak pernah menyangka bahwa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia menikah, mempunyai seorang putri, mengantar putrinya ke sekolah, lalu kehilangan istrinya, bertemu dengan Kyuhyun. Lalu akhirnya, hari ini adalah hari dimana dia akan kehilang seseorang yang penting dalam hidupnya. Cho Kyuhyun.

Seorang pria yang awalnya sangat pendiam dan selalu bekerja tanpa banyak bicara –kecuali untuk hal-hal tertentu yang ditanyakannya. Siwon selalu memperhatikan pria itu sejak hari dimana Hyunsa membawanya ke kantor. Kyuhyun adalah pria yang cukup sederhana dengan kepintarannya. Ia selalu tersenyum dan menyapa semua orang –yang bahkan tidak dikenal siapa namanya. Kyuhyun pada saat itu, terlalu naif hingga Siwon harus menjaganya baik-baik. Well, Hyunsa selalu mengancamnya untuk memperlakukan Kyuhyun dengan baik saat bekerja.

Siwon tidak tahu sejak kapan ia mulai menjadi lebih tertarik pada pria tersebut. Pembawaan yang begitu tenang dan terkadang suka sekali menyindir –sejak mereka menjadi lebih akrab setelah beberapa bulan. Tapi Siwon tidak pernah tahu kenapa ia bisa menjadi sangat tertarik pada pria naif yang sederhana itu. Terlebih, Kyuhyun adalah seorang pria.

Terkadang Siwon menjadi meragukan seksualitasnya. Bahkan ia sempat memperhatikan Jungsoo yang memang adalah seorang gay yang menjalin hubungan dengan seorang arsitek –Woon. Siwon tidak pernah menghakimi orang lain dengan pilihan seksualitasnya. Jatuh cinta dan pilihan menjalin sebuah hubungan antara manusia adalah hak mutlak semua orang. Jadi, saat Jungsoo memperkenalkan Woon padanya, Siwon tahu bahwa ia harus mendukung sepupunya –karena ayahnya dan mungkin ibu Jungsoo tidak akan mendukung.

Mengamati bukanlah keahlian Siwon. Ia malah hanya memandang dengan tatapan bingung pada Jungsoo dan Woon setiap mereka berinteraksi. Siwon seperti anak kecil yang tidak tahu apa makna dari sebuah sentuhan intim. Tapi ketika pertama-kali merasakan sentuhan Kyuhyun, pada saat itu Siwon mengetahui bahwa ia menginginkan Kyuhyun untuk seumur hidupnya.

Terkesan sangat agresif. Bahkan sebenarnya saat itu Siwon menampik bahwa dirinya adalah seorang gay. Siwon hanya menyukai Kyuhyun, tapi ia menolak dikatakan sebagai gay. Sebutan gay adalah untuk penyuka sesama jenis. Homoseksual untuk pria dan lesbian untuk wanita. Tapi apakah Siwon menjadi homoseksual? Tidak, karena dia tidak menyukai pria lain selain Kyuhyun. Jika Siwon tidak menyukai Kyuhyun, dia mungin akan menyukai wanita lain yang menandakan bahwa dirinya adalah normal, bukan?

Itulah yang membuat Siwon menjadi bingung. Walaupun demikian, setelah sentuhan pertama Kyuhyun, Siwon kembali merasakan sentuhan kedua dan mengatakan bahwa mereka menjalin sebuah hubungan layaknya pasangan pria dan wanita. Dan mereka melakukannya dengan tenang. Bagai sepasang kekasih normal lainnya, tapi tanpa harus diperlihatkan pada semua orang.

Ryeowook dan Donghae adalah orang kedua setelah Jungsoo dan Woon yang mengetahui hubungan mereka. Sesuai dugaan Siwon, sahabatnya memberikan reaksi negatif. Menjadi berbeda adalah pilihan yang sulit. Tidak semua orang bisa menerima perbedaan, walaupun sebenarnya Tuhan menciptakan setiap manusia di muka bumi dengan semua perbedaannya. Termasuk sahabatmu sendiri yang sudah mengenalmu sejak lama.

Rasanya sulit karena mereka tidak akan melihatmu dengan cara yang sama walaupun tidak ada yang berubah dari dirimu. Mencintai seseorang yang mempunyai gender yang sama seperti dirimu bukanlah seperti setelah melakukan sebuah operasi plastik yang akan terlihat jelas perbedaan sebelum dan sesudah. Tidak ada yang berubah dari bentuk wajahmu, bentuk tubuh, bahkan sifatmu. Hanya saja kau mencintai seorang pria melebihi seorang wanita. Itu rasanya lebih sulit ketimbang kau mendapat tatapan menjijikan layaknya kau adalah seorang tunawisma yang kumuh.

Siwon tidak pernah memaksakan sahabatnya untuk menerima perubahan yang terjadi padanya. Ia hanya meminta sebuah pengertian, sebuah toleransi terhadap apa yang menjadi keputusannya. Jadi, dia menunggu. Dan setelah dua bulan, mereka mulai menerimanya kembali. Disusul oleh dukungan dari sahabat lainnya, Heechul.

Siwon merasa sangat senang. Setidaknya beberapa pihak telah memahaminya. Namun, ia merasakan ketakutan lagi. Pada putrinya, Choi Hyunsa. Siwon tahu bahwa putrinya menyukai kekasihnya, itu bahkan sudah terlihat sebelum ia dan Kyuhyun menjalin hubungan. Dan memberitahu Hyunsa mengenai hubungannya dengan Kyuhyun adalah pilihan yang berat.

Reaksi Hyunsa adalah yang ditakuti Siwon. Bukan karena ia telah menjadi seorang homo –pada akhirnya, Siwon harus mengakui hal tersebut– melainkan bahwa Siwon telah merebut cinta pertama putrinya. Dan itulah yang terjadi, bahkan lebih buruk dari perkiraannya. Apa yang terjadi saat ini mungkin adalah akibat dari kesalahan masa lalunya. Tapi Siwon tidak mempunyai waktu untuk menyesalinya. Siwon tidak menyesali bahwa ia menikahi Nahyun, karena ia mendapatkan Hyunsa. Siwon juga tidak menyesali pernah memiliki Kyuhyun, walaupun kini ia kehilangan kekasihnya.

Siwon menarik nafas panjang dan memperhatikan Kyuhyun yang sedang berpamitan dengan pegawai lainnya. Setelah waktu makan siang, Kyuhyun sudah harus pergi. Selain itu, semua pekerjaan sudah diselesaikan pada hari sebelumnya. Jadi, hari ini tidak begitu sibuk. Empat hari adalah waktu yang singkat. Bahkan dua tahun lebih pun juga terasa sangat singkat. Tapi Siwon sangat menghargai detik demi detiknya.

Siwon kemudian memilih kembali ke ruangannya. Hanya diam menerawang panjang pada semua memori yang pernah dibuatnya bersama Kyuhyun. Rasanya Siwon ingin menampar dirinya sendiri karena tidak melakukan sesuatu yang benar untuk mempertahankan hubungannya dengan Kyuhyun atau paling tidak membuat situasinya menjadi lebih baik. Tapi jika pun itu bisa dilakukannya, Siwon tetap akan merasa bersalah.

Siwon menghela nafas panjang saat ketukan pintu terdengar. “Masuk,” ucapnya.

Kyuhyun membuka pintu dan berjalan menuju meja kerja Siwon setelah menutupnya. Siwon menatapnya dengan lekat dan berusaha menahan dirinya untuk tidak memeluk mantan kekasihnya tersebut. Kyuhyun memandang Siwon untuk beberapa detik, tapi kemudian ia malah menunduk.

“Kau sudah selesai berpamitan dengan pegawai lain?” tanya Siwon.

Kyuhyun  mengangguk. “Saya ingin mengucapkan terima kasih dan meminta maaf pada anda, Sajangnim. Selama lebih dua tahun ini, saya sudah banyak menyusahkan anda. Terlebih dengan kemampuan minim saya sebagai seorang sekretaris.”

“Jangan bicara seperti itu, Kyuhyun. Kau cukup banyak membantu perusahaan hingga hari ini. Aku juga berterima-kasih dan meminta maaf padamu,” tutur Siwon datar.

Kyuhyun kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap Siwon. Lalu ia mengeluarkan sebuah pena yang diberikan Siwon beberapa hari lalu. Siwon menatap pena itu dan menghela nafas panjang. “Untuk apa pena itu? Itu adalah hadiah untukmu, Kyuhyun.”

“Saya tahu, tetapi pena ini…”

“Simpan saja pena itu. Kau boleh menganggapnya sebagai hadiah atas kerja-kerasmu selama ini. Walaupun sebenarnya tidak setimpal. Tapi…” ucapan Siwon terhenti. Ia menarik nafas lagi, “Tolong simpan pena itu, ya?”

Kyuhyun akhirnya hanya mengangguk menurut. Ia kembali menyimpan pena tersebut. Lalu ia membungkuk pada Siwon, sebagai penghormatan terakhir pada atasannya. Kyuhyun menegakkan tubuhnya dan memandang Siwon.

“Tadi adalah terakhir kali aku bicara dengan atasanku. Sekarang apa boleh aku bicara dengan Choi Siwon?” tanya Kyuhyun.

Siwon memperhatikan Kyuhyun dengan lekat. Tatapannya berubah. Bukan lagi seperti seorang pegawai yang bicara pada atasannya, melainkan sebagai sesama manusia –sebagai mantan kekasih. Siwon kemudian bangkit dan berjalan mendekati Kyuhyun. “Bicaralah, Kyuhyun.”

“Selama dua tahun ini, terima kasih. Aku tidak pernah merasa dicintai begitu besar, bahkan oleh seorang wanita. Tapi kau memberiku cinta yang tidak pernah kuduga akan terbalas. Walaupun sulit, namun kau tetap bersamaku. Aku benar-benar berterima-kasih. Aku tahu, hari ini akan datang suatu saat nanti, jadi aku mempersiapkan diriku untuk tidak terluka begitu parah. Hanya saja, kau dan putrimu melukaiku tanpa aku menyadarinya. Mungkin aku telah dibutakan oleh cintamu. Aku tidak menyalahkanmu ataupun putrimu, tapi aku hanya ingin kau mengetahuinya bahwa aku juga terluka walaupun aku tidak berteriak kesakitan.

Aku tahu kita telah berpisah, tapi aku juga tahu kalau kau masih mencintaiku. Aku juga tidak munafik bahwa aku masih mencintaimu. Perasaan ini bukanlah seperti noda yang bisa dihapus dengan mudah dalam sehari. Aku mungkin akan terus menyimpan perasaan ini untukmu seumur hidupku, walaupun kita tidak pernah bisa kembali bersama. Tapi rasanya tidak adil untukku, bukan? Putrimu –kau tentu akan lebih memilih dia ketimbang orang lain. Tapi adilkah bagi orang lain? Adilkah bagi dirimu sendiri?”

Kyuhyun kemudian menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Aku berdoa yang terbaik untuk putrimu. Dia sebenarnya gadis yang baik, tapi kau harus lebih bisa menjaganya. Walaupun dia tidak bicara, setidaknya kau yang harus bertanya padanya lebih dahulu. Mungkin itu akan membuat situasi diantara kalian menjadi lebih baik. Hanya itu yang ingin kukatakan padamu. Siwon hyung.”

 Siwon masih menatap Kyuhyun dengan lekat. Ia menarik nafas sedikit dan tersenyum. “Terima kasih atas saranmu. Dan maafkan aku dan putriku jika telah melukaimu. Aku tahu bahwa apa yang terjadi saat ini terasa tidak adil untukmu, ataupun semua orang yang terlibat. Tapi aku bukanlah…”

Belum selesai Siwon bicara, Kyuhyun tiba-tiba menyentuh bahunya dan membawa tubuhnya mendekat untuk bisa mencium bibirnya. Sontak pikiran Siwon menjadi kacau. Ia tidak bisa mengerti apa yang dilakukan Kyuhyun saat ini. Namun, sensasi bibir Kyuhyun adalah yang terbaik yang pernah dirasakannya. Siwon menatap jelas wajah Kyuhyun dihadapannya. Mata yang teduh itu tertutup oleh kelopak mata, sedangkan bibir manis itu menyentuhnya dengan begitu lembut.

Siwon tidak tahu apakah ini adalah sebuah kesalahan atau benar, karena Kyuhyun membuatnya menjadi berhenti berpikir rasional. Penilaiannya menjadi kacau hanya karena hembusan nafas hangat serta aroma tubuh Kyuhyun yang begitu memabukkan. Siwon menjadi begitu terlena hingga ia menikmati setiap sentuhan Kyuhyun dan mulai memberikan reaksi.

Siwon membalas ciuman Kyuhyun, tetap ia memberikan dominasi sepenuhnya pada Kyuhyun. Hanya saja tidak berlangsung lama karena kemudian sentuhan Kyuhyun menghilang dan Siwon membuka matanya. Kyuhyun berada dihadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Perlahan Kyuhyun menyentuh wajah Siwon dan tersenyum. “Selamat tinggal, Choi Siwon. Hiduplah dengan baik.” Setelah kecupan terakhir, Kyuhyun berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Berjalan keluar sepenuhnya dari kehidupan Choi Siwon.

Dan suara pintu yang tertutup menyadarkan Siwon bahwa Kyuhyun sudah pergi. Bahkan jika Siwon menangis pun tidak akan membuat situasi berubah atau menjadi lebih baik. Hari ini adalah akhir.

*****

Kyuhyun berjalan menuju lapangan bisbol. Setelah dari perusahaan, entah Kyuhyun malah pergi ke sekolah Jinho. Mungkin ia bisa menunggu Jinho selesai dari persiapan akhir sebelum pertandingan hari Jumat. Dan mungkin ia bisa bicara sebentar dengan Hyunsa. Well, sebenarnya Kyuhyun hanya melajukan mobilnya ke sembarang arah dan sampailah ia di sekolah ini. Ia tidak pernah merencanakan untuk datang sebelumnya.

Kyuhyun tersenyum ketika Jinho menyadari kedatangannya dan berlari menghampirinya. “Hyung sudah selesai dengan urusan di kantor?”

Kyuhyun mengangguk. “Jam berapa kau selesai? Aku akan menunggu dan kita bisa pulang bersama.”

“Kurasa setengah jam lagi. Hyung tunggu saja di bangku penonton. Setelah selesai, aku harus mandi dulu. Tidak apa-apa khan?” ucap Jinho dengan sedikit cemas.

Kyuhyun mengacak rambut adiknya. “Iya, tidak apa-apa. Aku akan menunggu,” tukasnya. Kemudian perhatian Kyuhyun teralihkan pada team putri yang sedang berlatih. Ia melihat Hyunsa sedang melempar bola.

Jinho juga memperhatikan gadis itu. Ia mengetahui apa yang terjadi apa yang terjadi hari Senin lalu dan keputusan Kyuhyun untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Selain itu, hubungannya dengan Hyunsa masih dingin. Gadis itu bahkan tidak bicara pada siapapun lagi, termasuk Narin dan Hyesa. Jinho menghela nafas panjang. “Hyung mau menemuinya?”

“Kondisinya semakin buruk, ya?”

“Tidak begitu buruk. Dia hanya fokus pada latihan dan pelajaran. Tapi selain itu, dia menjadi orang asing. Bahkan walaupun teman-temannya sudah berusaha mengajaknya bicara, dia tidak merespon apapun.”

Kyuhyun kembali menatap adiknya. “Kau tidak?”

Jinho menggeleng. “Aku berusaha, tapi Hyunsa seperti tidak mengenalku. Terkesan kasar memang, tapi aku bisa mengerti. Aku juga tidak ingin menganggunya dulu. Pertandingan sudah dekat, kami harus fokus.”

Kyuhyun mengangguk paham. “Tapi jika bisa, tolong beritahu dia.”

“Baiklah.”

*****

Kyuhyun duduk di salah satu deret bangku penonton dan memperhatikan latihan team putri karena team putra hanya melakukan evaluasi strategi. Pandangan Kyuhyun tidak lepas dari Hyunsa yang fokus pada lemparannya. Beberapa kali pelatihnya bicara dan memberikan nasihat padanya.

Kyuhyun paham jika Hyunsa cukup berbakat dalam bisbol. Gadis itu bahkan bermimpi untuk masuk kedalam team nasional. Pernah datang satu kesempatan, tapi Hyunsa menolaknya. Dan sekarang kesempatan yang datang adalah beasiswa dari universitas. Jinho mendapat kabar bahwa dia dipastikan akan mendapatkan beasiswa tersebut, sedikit berbeda dengan Hyunsa. Kyuhyun sedikit tersenyum saat melihat Hyunsa berhasil melakukan strike tujuh kali pada empat pemain yang berbeda. Sepertinya bahunya sudah menjadi lebih baik. Ketika waktu latihan berakhir, Kyuhyun melihat Jinho mendekati Hyunsa dengan canggung dan bicara. Dua menit berikutnya, ia mendapati kontak mata dengan gadis tersebut. Hyunsa tidak mengatakan apapun tapi sepertinya gadis itu akan menemuinya.

Setelah dua puluh menit, Hyunsa sudah duduk dengan jarak tiga kursi kosong diantara mereka. Kyuhyun memperhatikan gadis itu dengan lekat. Terdapat perbedaan yang mencolok. Rambut panjang Hyunsa sudah dipangkas menjadi lebih pendek. Wajahnya juga terlihat sedikit pucat dengan kantung mata yang menghitam. Rasanya mereka tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun dengan perubahan signifikan tersebut.

“Kau terlihat tidak baik, Hyunsa,” ucap Kyuhyun membuka percakapan. Tapi Hyunsa tidak merespon. Dia hanya memandang lurus kearah lapangan. Kyuhyun menarik nafas panjang. “Apa kau tidak ingin bicara denganku? Lalu kenapa kau datang menemuiku?”

“Jinho bilang kau yang ingin bicara denganku. Aku datang hanya untuk mendengarkan,” ucapnya datar.

Kyuhyun tersenyum dan mengalihkan pandangannya kearah lapangan juga. “Ya, aku memang ingin bicara. Tapi mungkin lebih tepatnya kita harus bicara. Aku akan mempersingkat waktu, sebelum kau menjadi kesal. Aku ingin mendengar penjelasanmu terkait dengan semua hal yang terjadi. Aku hanya menginginkan alasan kenapa kau melakukannya, Hyunsa.”

Terdapat jeda hingga sepuluh menit. Kyuhyun tidak ingin memaksa gadis itu bicara, jadi dia akan menunggu. Langit perlahan mulai berubah. Sudah sore dan udara juga semakin dingin. Tapi mereka masih tetap disana. Kyuhyun bahkan harus mengirim pesan untuk Jinho bahwa mereka masih bicara. Kemudian malah Jinho yang harus menunggu kakaknya selesai bicara dengan Hyunsa.

Kyuhyun sesekali melirik gadis disebelahnya. Tidak ada perubahan ekspresi apapun. Ekspresi wajahnya tetap datar. Tanpa emosi. Kyuhyun menarik nafas panjang lagi. Walaupun ia bisa saja menunggu lebih lama, tapi Jinho tidak akan suka menunggu lama. “Jika kau tidak mau…”

“Alasanku,” ketika Hyunsa bicara, Kyuhyun menjadi terdiam. Ia memperhatikan gadis itu lebih lekat. “Aku selalu berpikir bahwa Daddy akan selalu memilihku. Bahkan antara aku dan Eomma, Daddy akan selalu memilihku. Aku adalah satu-satunya anak Daddy, putri kesayangannya. Daddy akan selalu menuruti keinginanku, walaupun tidak semuanya. Bahkan menerimamu sebagai sekretarisnya waktu itu adalah hanya karena aku yang memintanya. Aku selalu mempunyai pemikiran seperti itu, hingga hari ini.

Daddy akan selalu mementingkan diriku diatas segalanya. Walaupun jika harus menyakiti dirinya sendiri. Kemudian aku menjadi egois. Saat mendengar pengakuan kalian, aku berpikir Daddy hanya sedang bergurau. Daddy tahu kalau aku menyukaimu, jadi kupikir itu adalah akal-akalannya untuk menggodaku. Tapi ketika aku melihat Daddy menggenggam tanganmu, aku tahu bahwa posisiku telah bergeser. Daddy memilih dirimu. Sebenarnya tidak sepenuhnya tergeser, hanya saja kita menempati posisinya yang sama. Daddy membagi kasih sayangnya padaku dan juga dirimu. Tapi aku menolaknya, aku menginginkan semuanya dan bukan separuh. Bahkan aku juga tidak ingin kau dimiliki oleh Daddy.”

Hyunsa menarik nafas untuk memberi jeda. “Kemudian aku mulai bertindak melebihi kemampuanku sebagai seorang anak usia delapanbelas tahun. Semua orang mengatakan bahwa aku menjadi dewasa sebelum waktunya. Dan apa yang aku lakukan hanya sebuah perbuatan menyakiti orang-orang disekitarku. Walaupun aku tidak berniat, tapi itulah yang kulakukan. Melukai dan membuatnya berdarah parah. Aku mungkin terlihat seperti seorang psyco, tapi aku bahkan tidak mengerti bagaimana aku melakukannya.”

Hyunsa lalu menatap Kyuhyun. “Aku minta maaf jika kau terluka lebih parah karena apa yang kulakukan. Tapi aku tidak mempunyai pilihan lain untuk tidak menyakiti dirimu atau bahkan Daddy-ku sendiri.”

Kyuhyun menjadi agak merinding selama mendengar penjelasan Hyunsa. Gadis itu bicara tanpa emosi, tanpa ekspresi. Itu membuatnya sedikit takut dan takjub. Ini adalah pertama-kalinya, Hyunsa benar-benar bicara mengenai apa yang dirasakannya selama ini. Sepertinya terapi yang dijalaninya membuahkan perkembangan yang cukup baik.

“Aku tidak tahu bagaimana harus merespon penjelasanmu. Jujur saja, itu membuatku sedikit takut. Kau mungkin terlihat seperti gadis pada umumnya, tapi pemikiranmu benar-benar berbeda dari remaja seusiamu. Kau harus lebih sering bicara mengeluarkan emosimu, Hyunsa. Jangan terus memendamnya seorang diri. Itu sangat tidak baik. Aku tidak menyalahkanmu apa yang telah kau lakukan hingga berakibat menjadi seperti sekarang. Tapi setidaknya kau bisa melakukan perubahan untuk ayahmu. Kau tahu, ayahmu tidak mungkin menggeser posisimu dengan siapapun. Kau adalah putrinya. Kau adalah harta yang paling berharga. Jadi, lakukan apa yang harus kau lakukan sebagai seorang anak,” tutur Kyuhyun.

“Kurasa ini sudah berakhir, bukan? Beberapa hari terakhir aku berpikir dan kembali teringat saat kau menarikku pergi dari HomeBase. Kau bilang kau membuat rencana untuk kami. Kurasa waktu itu belum selesai, benar? Dan sekarang aku dan ayahmu telah berpisah, jadi rencanamu berhasil. Woah, itu luar biasa Hyunsa. Aku bahkan sempat melupakan hal itu,” lanjutnya lagi.

Kyuhyun lalu berdiri dan tersenyum tipis pada Hyunsa. “Semoga beruntung untuk pertandinganmu. Dan selamat tinggal. Jaga dirimu baik-baik, Hyunsa.” Kemudian Kyuhyun berjalan meninggalkan Hyunsa yang masih terdiam di kursi penonton.

Kyuhyun berjalan menjauh dengan langkah kaki ringan. Penjelasan  yang diberikan oleh Hyunsa bukanlah hal yang sebenarnya ingin diketahui Kyuhyun, tapi paling tidak gadis itu mengatakan apa yang dirasakannya. Jadi, Kyuhyun sudah cukup puas.

Kini, ia bisa menjalani kehidupannya sendiri.

*****

“Aku akan pergi ke Paris,” ucap Kyuhyun disaat makan malam. Appa, Eomma dan Jinho sontak menatapnya dengan lekat. Kyuhyun tersenyum tipis. “Tidak dalam waktu dekat ini. Kurasa dua atau tiga bulan lagi. Aku belum mendapat kabar apapun mengenai aplikasi yang kukirim.”

“Hyung, pergi ke Paris untuk apa? Melanjutkan sekolah atau bekerja?” tanya Jinho.

“Pekerjaan. Aku mendapat rekomendasi dari teman kuliahku,” jawabanya singkat.

Jinho hanya mengangguk paham. Tapi Eomma melanjutkan pertanyaan. “Lalu kalau aplikasimu tidak diterima, apa kau akan tetap pergi?”

Kyuhyun mengangguk. “Aku akan mencari pekerjaan lain. Atau pergi ke negara lain. Aku hanya ingin menjauh dari Seoul untuk sementara. Maaf, karena Appa dan Eomma baru kembali dari Moscow tapi aku memutuskan untuk pergi.”

“Kyuhyun-ah, tidak bisakah kau pikirkan lagi? Kenapa harus pergi ke Eropa? Kau bisa pergi ke Jepang atau China. Lagipula…”

“Sayang, biarkan Kyuhyun yang menentukan pilihannya sendiri,” sela Appa. Kyuhyun hanya menunduk sembari melanjutkan makannya. Sang Appa menatap putra tertuanya dengan serius. “Dia sudah besar. Jika dia ingin pergi, maka itu adalah demi kebaikannya. Anakmu itu sudah mengalami banyak sekali masalah disini. Biarkan dia mencari ketenangannya.”

Eomma tidak bicara lagi. Appa sudah memutuskan, maka tidak ada yang bisa menolaknya. Jinho sendiri hanya memperhatikan kakak lelakinya. Ia tahu bahwa Kyuhyun pun merasa berat untuk pergi jauh dari orangtua mereka lagi. Tapi apa yang dikatakan oleh Appa ada benarnya. Kyuhyun perlu waktu untuk menenangkan diri dan menata kehidupannya lagi.

Jinho menghela nafas dan meneruskan makan.

*****

Siwon memasuki rumah ayahnya setelah memarkirkan mobil. Ya, kemarin akhirnya ia memutuskan untuk kembali tinggal bersama ayahnya dan menjual rumah lamanya. Hyunsa sendiri tidak mengatakan apapun yang menunjukkan ia setuju atau tidak. Tidak banyak barang yang mereka bawa dari rumah lama. Hanya pakaian, beberapa buku, dokumen dan barang-barang pribadi serta foto-foto mereka. Rumah berserta furnitur lainnya akan dijual.

Siwon menghela nafas ketika melihat Sunghee –Ibu Jungsoo juga akan kembali tinggal bersama mereka di Seoul– sedang membawa kotak menuju lantai dua. Sepertinya Hyunsa masih belum selesai mengepak barang dari kotak.

“Kau sudah pulang?” suara Songjoo terdengar ditelinganya. Siwon melihat sang ayah sedang duduk membaca buku di ruang tengah. Sepertinya beliau tidak ingin repot membantu.

“Aku pulang,” tutur Siwon.

Songjoo kemudian hanya bergumam. Siwon hanya memutar bola matanya dan berjalan menaiki tangga. Choi Songjoo akan selalu menjadi Choi Songjoo. Siwon berniat menemui putrinya terlebih dahulu. Ia tersenyum ketika Hyunsa sedang merapikan barang-barang pribadinya dibantu oleh Sunghee. Menjadi satu-satunya cucu di keluarga Choi memang sebuah keberuntungan bagi Hyunsa.

“Kau sepertinya sudah nyaman di kamar barumu,” ucap Siwon.

Hyunsa sontak menoleh dan bergegas untuk memeluk Siwon. “Daddy sudah pulang,” sambutnya. Siwon tersenyum dan melepaskan pelukan putrinya.

“Sudah selesai mengeluarkan barang-barangmu?”

Hyunsa mengangguk. “Nenek Sunghee yang lebih banyak bekerja. Aku baru pulang dari sekolah sekitar jam lima sore. Jadi, tidak banyak yang kubantu.”

“Kalau begitu berterima-kasihlah pada Nenek Sunghee,” tukas Siwon sembari mengusap kepala putrinya.

Hyunsa hanya tersenyum dan kembali merapikan barang-barangnya. Sunghee kemudian menghampiri Siwon yang masih berdiri di ambang pintu kamar. Sunghee tersenyum. “Hyunsa bilang kau akan pergi menonton pertandingannya?”

“Ne, pertandingan pertamanya hari Sabtu. Aku juga sudah mendapatkan tiketnya,” jawab Siwon.

“Lalu bagaimana dengan jadwal terapi berikutnya?” tanya Sunghee lagi.

Siwon memperhatikan Hyunsa dan menarik Sunghee untuk bicara agak jauh dari kamar Hyunsa. “Sebenarnya dokter Song ingin kami bicara secara empat mata sebelum terapi berikutnya. Tetapi melihat kejadian hari Senin kemarin, dokter Song memutuskan untuk tetap melakukan terapi setiap minggunya. Dan karena hari Sabtu nanti Hyunsa ada pertandingan, jadwal berikutnya diubah menjadi hari Minggu.”

Sunghee mengangguk mengerti. “Ayahmu juga ingin bertemu dengan dokter Song. Dia juga mengkhawatirkan mengenai kondisi Hyunsa. Jadi, sebaiknya kau bicara dulu pada ayahmu.”

“Aku mengerti.”

“Lalu bagaimana dengan dirimu? Apa kau baik-baik saja?”

Siwon tersenyum tipis dan mengangguk. “Aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir padaku, Bibi. Sebaiknya Bibi mempersiapkan untuk pernikahan Jungsoo. Anakmu itu sudah lama sekali menginginkan pernikahan ini.”

“Aish, kau ini! Aku tahu, tapi dia harus menemui ayahnya dulu. Kurasa aku juga harus pergi bersamanya,” sahut Sunghee.

Siwon mengerutkan dahi. “Soo akan mengenalkan Woon pada ayahnya juga?”

Sunghee memukul lengan Siwon. “Tentu saja itu harus dilakukannya. Walaupun kami sudah bercerai, tapi dia tetap ayahnya Jungsoo. Kau sebaiknya bersih-bersih dulu. Apa sudah makan malam? Mau kusiapkan?”

Siwon mengangguk lagi. “Ne, aku lapar sekali. Baiklah, aku akan mandi dulu.”

Siwon lalu bergegas menuju kamar barunya. Sunghee hanya menghela nafas panjang. Terkadang Siwon masih bersikap seperti saat ia berusia duapuluh tahun, walaupun yang mengejutkan bahwa ia sudah mencapai usia kepala empat. Sunghee lalu berjalan menuruni tangga dan menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam bagi Siwon.

Sepertinya kehidupan sudah kembali menjadi normal.

*****

Siwon membuka matanya ketika ia merasakan tempat tidurnya bergerak. Ia tersenyum ketika sebuah tangan menyelip masuk dan memeluk pinggangnya. Siwon kemudian berbalik untuk memeluk gadis yang menyelinap masuk kedalam kamarnya. “Tidak bisa tidur?”

Hyunsa mengangguk dan semakin mendekatkan pada Siwon. Ia menyukai aroma tubuh ayahnya. “Sedikit merasa aneh dengan tempat tidur baru.”

Siwon tertawa kecil dan perlahan mengusap lembut ramput putrinya yang sudah pendek. “Dan Daddy masih belum terbiasa dengan rambut baru-mu ini,” tukasnya.

Hyunsa tidak mengatakan apapun dan hanya memejamkan matanya. Menikmati setiap belaian Siwon. “Daddy,” bisiknya.

Siwon bergumam pelan. “Andai aku bukan putri satu-satunya Daddy, Daddy ingin mempunyai anak laki-laki atau perempuan lagi?”

“Kenapa bertanya hal itu? Tapi apa perlu Daddy menjawabnya?” Hyunsa hanya mengangguk. Siwon menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Baiklah, kurasa anak laki-laki. Kakak laki-laki untuk dirimu,” tuturnya.

“Kenapa?”

“Karena dia akan melindungimu jika Daddy tidak berada disisimu. Dan mungkin adik laki-laki untukmu juga tidak buruk. Dia akan tumbuh menjadi pria yang kuat untuk menjaga Noonanya.”

Hyunsa lalu tidak bicara lagi. Ia bernafas perlahan dalam pelukan ayahnya. Siwon sendiri masih mengusap lembut kepala putrinya. Tapi tidak mendengar sahutan dari Hyunsa, membuat Siwon mengerutkan dahi. “Kenapa kau menjadi diam sekarang?”

Hyunsa lalu sedikit menjauh untuk melihat Siwon dengan lekat. “Kalau begitu, aku ingin kakak laki-laki.”

“Ye?!”

“Daddy bisa mengadopsi seorang anak laki-laki dari panti asuhan. Tidak masalah jika dia seusia denganku, asalkan dia lahir terlebih dahulu dariku.”

“Tu-tunggu sebentar, sayang! Kenapa kau tiba-tiba menginginkan Daddy mengadopsi seorang anak untuk menjadi kakakmu? Da-dan keputusan mengadopsi itu bukan hal mudah. Kakekmu mungkin tidak akan setuju dengan hal ini.”

Hyunsa menghela nafas lalu kembali memeluk ayahnya. “Berikan aku seorang kakak, ne? Alasannya baru saja Daddy katakan padaku.”

“Heh? Yang mana?”

Tapi Hyunsa memilih untuk memejamkan matanya.

*****

“Ye?!!” suara teriakan Jungsoo tenggelam diantara suara sorak-sorai penonton pertandingan bisbol hari ini.

Walaupun Siwon ingin pergi menonton pertandingan putrinya, tapi ia tidak yakin pergi sendirian. Jadi, ia mengajak Jungsoo dan Woon. Hanya saja Woon mendadak mendapat panggilan untuk meeting dengan salah satu kliennya.

Siwon menarik nafas panjang dengan fokus pandangan kearah lapangan. Ia tidak cukup mengerti dengan permainan bisbol, jadi Siwon hanya mengikuti lemparan bola dan angka pada papan skor.

“Apa maksudmu dengan mengadopsi anak?”

“Hyunsa tiba-tiba bicara mengenai soal aku menginginkan anak laki-laki atau perempuan selain mempunyai dia. Kubilang aku menginginkan seorang anak laki-laki sebagai kakak atau adik yang bisa menjaganya. Lalu tiba-tiba saja dia bicara soal adopsi itu,” jelas Siwon.

Jungsoo menghela nafas. “Lalu? Apa keputusanmu?”

Siwon mengangkat bahunya. “Belum tahu. Aku tidak mungkin tiba-tiba datang ke panti asuhan dan mengadopsi seorang anak. Lagipula keinginan Hyunsa itu bukan seperti dia menginginkan hadiah. Dan Abeoji juga tidak mungkin setuju jika aku mengadopsi anak.”

“Yah, keputusan untuk mengadopsi itu adalah sulit. Woon saja selalu menghindar saat Eomma bicara mengenai soal anak,” tukas Jungsoo.

Sontak Siwon menatap Jungsoo dengan terkejut. “Kalian sudah sampai ke pembicaraan itu?”

“Menikah di usia seperti ini memang sulit. Terlebih pasangan seperti kami. Walaupun Eomma setuju, kami tentu harus memikirkan soal anak, bukan? Dan Appa-ku…”

“Kenapa? Kemarin kalian pergi bertemu dengan Appa-mu khan? Apa yang terjadi?” tanya Siwon.

Jungsoo mendesah. “Jangan terlalu antusias. Aku yang ingin menikah, bukan dirimu!”

Siwon kemudian terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke lapangan lagi. “Maaf, tidak sengaja.”

“Appa cukup terkejut. Yah, bagaimana tidak. Selama lebih dari duapuluh tahun tidak bertemu, namun saat bertemu mendapat kabar kalau putranya akan menikah dengan seorang laki-laki dan bukannya wanita. Cukup beruntung, aku tidak ditampar di depan umum. Appa tidak mengatakan penolakan, dia hanya bicara mengenai hak warisku dari keluarga Park,” jelas Jungsoo.

“Kau menerimanya? Hak waris itu?”

Jungsoo mengangguk. “Walaupun tidak ingin, Appa bilang aku mempunyai hak sebagian dari warisan keluarga Park. Eomma juga tidak melarang. Dan saat berpisah, Appa mengatakan bahwa beberapa tahun kemudian, jika aku hendak menemuinya lagi, aku harus membawa penerus dari keluarga Park. Itu artinya anak, bukan?”

Siwon mendecak. “Yah, kehidupan Park Jungsoo kini menjadi lebih mudah. Entah aku harus ikut bahagia atau iri melihatnya. Hiduplah dengan nyaman bersama keluarga baru-mu nanti, eoh.”

Jungsoo menatap Siwon lekat. “Kau tidak bahagia?”

Siwon hanya tersenyum. “Entah aku bahagia atau tidak, saat ini bukanlah menjadi prioritasku. Lagipula haruskah aku merasa bahagia saat aku baru saja putus dengan kekasihku? Kyuhyun mengatakan sesuatu padaku sebelum ia pergi.”

“Mengatakan apa?”

“Pilihanku adalah Hyunsa. Tapi walaupun kami berpisah, perasaan diantara kami tidak mungkin bisa hilang dalam sehari. Hanya saja apakah keputusan itu terasa adil bagi dia, atau untuk kami dan orang lain. Kemudian aku berpikir, apakah aku akan merasa bahagia seiring waktu. Hyunsa mungkin juga merasa tidak bahagia saat ini, walaupun dia tersenyum. Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa diukur secara kasat mata. Dan menjadi bahagia bukan prioritasku sekarang.”

“Lalu prioritasmu apa?”

Siwon tersenyum. Hyunsa berjalan ke tengah lapangan dan berdiri diatas gundukan tanah. Gadis itu mengatur posisi untuk melakukan lemparan. Pandangannya terfokus pada catcher yang sedang memberikan kode. Ini adalah pertama-kalinya Siwon melihat putrinya bermain dalam sebuah pertandingan. Siwon memperhatikan Hyunsa yang bersiap untuk melakukan lemparan. Dan ketika strike…

“Tentu saja Hyunsa. Kesembuhan Hyunsa yang menjadi prioritasku saat ini.”

Jungsoo sudah menduga jawaban itu sebelumnya. Tapi ia kembali menarik nafas panjang dan berfokus pada permainan. Siwon jelas mengetahui bahwa Jungsoo sepertinya agak kecewa dengan jawabannya. “Waeyo?”

“Ani. Kurasa Kyuhyun ada benarnya. Ini tidak adil. Tidak untukmu, bagi Kyuhyun, bahkan Hyunsa sendiri,” sahutnya.

Siwon mengernyit. “Jelaskan. Aku tidak mengerti.”

“Kurasa adalah hal wajar jika kau memilih putrimu. Tapi tidakkah kau bersikap berlebihan? Mungkin sikap Hyunsa sekarang ini karena tindakanmu juga.”

“Aku yang salah?”

Jungsoo mengangguk. “Kau terlalu memanjakannya. Sebenarnya tidak salah, tapi Hyunsa malah berpikir bahwa kau akan rela melakukan apa saja demi dirinya. Termasuk meninggalkan Kyuhyun. Aku rasa jika kau terus meletakkan Hyunsa diatas kepentinganmu, maka itu akan berdampak lebih buruk pada putrimu. Dan Hyunsa menyadarinya.”

“Menyadarinya?”

“Choi Siwon, kau benar-benar sangat lambat. Hyunsa tahu kalau kau akan selalu mementingkannya ketimbang orang lain atau dirimu sendiri. Hasilnya, ya sekarang ini. Kau dan Kyuhyun berpisah. Mungkin putrimu sedikit berubah. Dia memintamu untuk mengadopsi anak agar ia bisa belajar membagi perhatianmu untuk orang lain. Hyunsa mungkin berpikir akan jauh lebih baik jika ia membagi perhatiannya pada seseorang yang dianggapnya sebagai saudara –bukan calon orangtua barunya. Sudah mengerti?”

Siwon terdiam hanya masih terus memperhatikan Hyunsa yang kembali melakukan lemparan. “Benarkah?” gumamnya.

“Dan kurasa ini menjadi terapi yang baik bagi Hyunsa. Seorang saudara jelas akan membawa perubahan dalam hidupnya, karena selama ini dia hanya seorang diri, bukan? Menjadi satu-satunya penerus keluarga Choi, itu terdengar sangat menyeramkan untuk seorang gadis.”

*****

Kemudian hari-hari berjalan dengan normal. Siwon yang masih sibuk dengan pekerjaannya, namun tetap meluangkan waktu untuk menghadiri sesi terapi Hyunsa dan sekedar untuk mengobrol santai sebagai bagian dari terapi. Walaupun sebenarnya Siwon merasa ada yang berbeda dengan suasana di kantor.

Setiap kali ia melewati meja sekretaris dan melihat Jihye –dan bukannya Kyuhyun– yang duduk disana membuat Siwon merasa bahwa ia tidak berada di ruangannya sendiri. Tapi kemudian Siwon seperti ditampar oleh sebuah amplop putih –surat pengunduran Kyuhyun– yang disimpannya dalam laci meja kerjanya. Menegaskan bahwa ia tidak sedang bermimpi.

Siwon –sekeras apapun ia berusaha untuk meneruskan hidupnya– tidak bisa melupakan Kyuhyun dengan mudah. Tidak ada yang mengatakan bahwa melupakan seseorang yang kau cintai adalah hal mudah. Siwon pernah merasakannya sekali –setelah Nahyun meninggal. Walaupun mendiang istrinya telah mengkhianatinya, Siwon masih menyimpan rasa cinta yang begitu besar. Tapi ia tidak bisa melupakan sang mendiang istri hingga satu setengah tahun. Namun, Siwon sadar bahwa ia harus menjalani kehidupannya seperti biasanya.

Hanya saja, kali ini sangatlah berbeda. Istri yang telah mengkhianatinya telah meninggal, lalu bagaimana Siwon bisa melupakan Kyuhyun yang masih begitu nyata? Entah, tapi suatu hari nanti mungkin mereka akan bertemu –tanpa kesengajaan– lalu bagaimanakah Siwon harus bersikap? Ia tidak tahu jawabannya.

Sebuah ketukan pintu membawa Siwon kembali pada kesadarannya. Ia menarik nafas dan memberi ijin untuk Jihye masuk kedalam ruangannya.

“Sajangnim, sudah waktunya,” tutur Jihye.

Siwon mengangguk dan berdiri dari kursinya. Ia merapikan jas hitamnya seraya berjalan keluar ruangan. Jihye mendampinginya. “Karangan bunganya sudah dikirim?”

“Sudah Sajangnim. Tapi apakah harus anda sendiri yang pergi ke rumah duka? Bukankah tiga jam lagi Anda harus menghadiri pertemuan dengan perwakilan dari McJonshon,” ujar Jihye sedikit khawatir. Pasalnya kerjasama dengan perusahaan asal Belgia tersebut sangat penting.

Siwon tersenyum tipis. “Tidak apa. Lagipula tempat pertemuannya cukup dekat dari rumah duka. Kita bisa sekali jalan. Lagipula Manager Kim adalah salah satu pegawai kebanggaan perusahaan. Jika kau memberitahu Abeojiku mengenai kematiannya, mungkin beliau juga akan datang ke rumah duka.”

Jihye tidak mengatakan apapun lagi selain mengikuti keinginan atasannya tersebut. Gadis muda itu cukup mudah beradaptasi dengan pekerjaan barunya sebagai sekretaris Siwon. Walaupun terkadang pada dua minggu pertama, Siwon sering-kali menyebut nama Kyuhyun. Jihye bisa mengerti, karena selama dua tahun terakhir Kyuhyun-lah yang mendampingi Siwon.

Hanya saja, Jihye selalu merasa ada sebuah hubungan khusus antara atasannya tersebut dengan sang mantan sekretaris tersebut.

*****

Siwon meletakkan bunga crysant putih diatas meja altar penghormatan. Kemudian ia mundur dua langkah dan membungkuk untuk penghormatan terakhir kali dihadapan dua buah foto yang dipajang pada meja altar tersebut. Siwon menegakkan tubuhnya dan memberi penghormatan juga pada keluarga yang ditinggalkan.

Hari ini, Siwon menghadiri penghormatan bagi Manager Kim –salah satu pengawai di Hyunwon Group– yang meninggal karena kecelakaan kemarin. Malang, karena bukan hanya Manager Kim yang terlibat dalam kecelakaan tersebut. Sang istri yang ikut dalam mobil naas tersebut juga meninggal.

Selesai dengan penghormatan terakhirnya, Siwon bergegas untuk menuju tempat pertemuan dengan perwakilan McJonshon. Namun, perhatiannya teralihkan pada seorang pemuda yang berdiri tertunduk tidak jauh dari ruangan altar penghormatan. Dan jika melihat dari lengan kirinya, Siwon tahu bahwa pemuda itu adalah bagian dari keluarga Manager Kim. Siwon melirik Jihye. “Dia keluarga dari Manager Kim?”

Jihye mengangguk. “Ne, dia putra dari Manager Kim. Tapi yang kudengar dia adalah putra angkat.”

“Putra angkat?”

“Ne, Sajangnim. Manager Kim mengadopsi seorang anak sekitar duabelas tahun lalu. Dan seingatku, beliau pernah membawa putranya tersebut ke acara malam Natal perusahaan sekitar enam tahun lalu. Anda tidak ingat?” tutur Jihye.

Siwon menggeleng. “Kurasa ingatanku mulai memburuk. Aku akan bicara sebentar dengannya untuk menyampaikan ucapan belasungkawa. Kau tunggu saja di mobil.”

Jihye mengangguk dan meninggalkan Siwon yang beranjak mendekati pemuda yang kira-kira seusia dengan Hyunsa. Siwon menatap pemuda itu dengan lekat dan berdeham pelan untuk menarik perhatiannya. Dan berhasil. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan menatap Siwon.

“Kau putra dari Manager Kim?” tanya Siwon. Pemuda itu hanya mengangguk. “Namaku Choi Siwon. Dan aku adalah salah satu rekan ayahmu di perusahaan. Aku turut berbela-sungkawa atas kematian ayah dan ibumu.”

Pemuda tersebut kemudian malah menunduk. Siwon mengernyit melihat ekspresinya. “Siapa namamu, nak?”

Si pemuda tidak menjawab sama sekali. Siwon menghela nafas pendek. Well, ia cukup paham mengenai situasi ini, karena Hyunsa juga pernah bersikap seperti pemuda dihadapannya ketika Nahyun meninggal. Siwon kemudian menyentuh kepala pemuda itu dan mengusapnya lembut. Hal tersebut kembali menarik perhatian pemuda tersebut.

“Aku akan bertanya sekali lagi, siapa namamu?” tanya Siwon.

Pemuda itu terlihat ragu-ragu. Tapi kemudian ia menjawab, “Ki-Kim Joonmyeon, Tuan.”

Siwon tersenyum tipis. “Jangan memanggilku Tuan, Joonmyeon. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang kau sayangi. Aku bahkan kehilangan dua kali. Dan luka akibat kehilangan tersebut akan sulit untuk disembuhkan, tapi percayalah suatu hari nanti kau akan menemukan seseorang yang akan membuatmu bahagia.”

Terdengar menyedihkan. Siwon memberikan nasihat pada seorang anak berusia delapanbelas tahun bagaimana menerima kehilangan, tapi ia sendiri belum bisa menerima kalau ia telah kehilangan Kyuhyun. Mungkin tidak pada tempatnya, Siwon bicara seperti itu.

Joonmyeon menatap Siwon untuk beberapa detik kemudian menunduk lagi. “Mungkin aku akan merasa lebih baik saat aku kembali ke panti asuhan,” ucapnya berbisik.

Siwon terdiam. Namun sebelum ia kembali bicara, seseorang dari keluarga Manager Kim memanggil Joonmyeon. Pemuda itu berlalu setelah membungkuk pada Siwon. Siwon masih memperhatikan Joonmyeon sebelum ia keluar dari rumah duka tersebut dengan pikiran kalut. Entah kenapa perkataan Joonmyeon menjadi sangat menggangu dirinya.

Jihye sedikit mengerutkan dahi melihat ekspresi Siwon saat ia memasuki mobil. “Terjadi sesuatu, Sajangnim?”

Siwon menatap Jihye dengan lekat. “Cari tahu mengenai Kim Joonmyeon, putra angkat Manager Kim. Dan juga mengenai tindakan keluarga Manager Kim pada Joonmyeon setelah kematian orangtua angkatnya.”

*****

Kyuhyun membuka buku bacaannya setelah melakukan check-in. Jadwal penerbangannya ke Paris masih sekitar satu jam lagi, jadi ia akan menunggu sembari meneruskan membaca buku. Sekitar satu minggu lalu, Kyuhyun mendapatkan respon dari perusahaan rekomendasi temannya. Setelah itu Kyuhyun tidak menunggu waktu untuk mengurus keberangkatannya ke Paris.

Sebenarnya respon tersebut datang lebih cepat dari perkiraan Kyuhyun. Tapi bahkan itu lebih baik, menurut Kyuhyun. Ia tidak perlu menghabiskan waktunya berkeliling Seoul tanpa tujuan. Setelah keluar dari Hyunwon Group, Kyuhyun banyak menghabiskan waktu untuk berkeliling kota –mengunjungi beberapa tempat yang tidak pernah dia datangi sebelumnya. Selain itu, Kyuhyun juga bisa menyibukkan diri untuk tidak memikirkan Siwon.

Kyuhyun sudah menduga bahwa ia akan mengalami fase dimana ia akan selalu teringat pada Siwon dan semua kenangan yang pernah mereka buat bersama. Baik itu kenangan yang manis maupun yang sangat menyakitkan sekalipun. Kyuhyun sangat menyesalkan bahwa Siwon tidak melakukan apapun untuk hubungan mereka, tapi kenyataannya Kyuhyun juga tidak berbuat sesuatu saat hubungan mereka berada diambang kehancuran. Tapi yang bisa dipastikan, Kyuhyun tidak pernah menyesali bahwa ia pernah mencintai seorang Choi Siwon.

Hanya saja, kini muncul sebuah pertanyaan, apakah ia bisa menemukan orang lain untuk menggantikan posisi Siwon di hatinya?

“Cho Kyuhyun?”

Sontak Kyuhyun mendongak saat namanya dipanggil. Ia juga sedikit terkejut ketika ternyata orang yang memanggilnya adalah Lee Dahyun. Terlebih gadis itu juga berada di bandara yang sama dengannya –dan membawa koper besar. Kyuhyun berpikir bahwa gadis itu mungkin akan pergi liburan. Tapi yang kemudian disadarinya, Dahyun sudah duduk disebelahnya dengan jarak satu kursi kosong diantara mereka.

“Jangan berpikir bahwa aku akan pergi liburan,” tutur gadis itu.

Kyuhyun mengernyit dan menutup bukunya. “Kau membaca pikiranku?”

Gadis itu berdecih. “Tidak, tapi ekspresimu sangat mudah dibaca. Aku akan kembali ke Amerika. Tidak ada yang bisa kulakukan di Seoul. Kau sendiri mau pergi kemana, Sekretaris –ah, kudengar kau sudah keluar dari Hyunwon Group. Jadi, kupanggil Kyuhyun-sshi saja.”

“Apa kau sedang mengejekku sekarang ini?”

Dahyun tertawa kecil. Dan Kyuhyun baru menyadari bahwa sebenarnya Dahyun memang seorang gadis yang cantik dan anggun, kecuali untuk semua sikap agresif dan menyebalkannya. “Tidak, tapi aku bersimpati padamu. Nyatanya, kita sama-sama menjadi korban dari Hyunsa. Benar?”

Kyuhyun mendengus. “Korban? Memang Hyunsa seorang penjahat? Jangan bicara seperti itu mengenai putri mantan kekasihku.”

“Tch… Kau masih saja membela gadis itu setelah apa yang ia lakukan padamu. Entah kau yang terlalu baik atau terlalu naif.”

“Hey!!”

“Baiklah, aku tidak akan bicara buruk lagi mengenai gadis itu. Tapi katakan kau mau pergi ke suatu tempat?”

Kyuhyun mengangguk. “Paris untuk pekerjaan.”

“Kau? Bekerja di Paris?! Tch, yang benar saja. Seharusnya kau pergi ke New York atau London. Jika kau pergi ke New York, mungkin aku bisa membantumu,” tutur Dahyun.

Kyuhyun mengernyit. “Hey, kau benar Lee Dahyun, bukan? Gadis yang sangat menyeramkan itu? Kenapa tiba-tiba kau menjadi sangat baik padaku?”

Sekali lagi Dahyun mendengus karena ejekan Kyuhyun. “Ya, terserah. Tapi sudah kubilang aku hanya bersimpati padamu. Jika hanya aku yang disingkirkan, mungkin saat kita bertemu lagi aku akan mendendam padamu. Tapi gadis itu juga menyingkirkanmu. Setelah semua yang terjadi, aku benar-benar dikejutkan olehnya. Jadi, kupikir karena kita merasakan nasib yang sama, tak apa berbuat baik sedikit padamu.”

Kyuhyun tidak menyahut lagi. Ucapan Dahyun memang benar, tapi walaupun Kyuhyun ingin menyangkalnya, ia tidak mempunyai pernyataan lain yang setidaknya membuat posisinya tidak begitu menyedihkan. Kyuhyun menghela nafas panjang dan mendengarkan Dahyun bicara lagi.

“Aku pernah bicara terakhir kali dengannya. Saat itu, kalian keluar bersama dari sebuah restaurant tapi kalian pergi dengan arah yang berlawanan. Ketika itu aku hanya ingin memastikan hubunganmu dengan Siwon, tapi Hyunsa menegaskan bahwa ia menolak hubungan kalian. Dan saat mendengar dari kakak lelakiku, aku dibuat tidak bisa berkata apapun lagi. Gadis itu bahkan lebih menakutkan dari apa yang terlihat,” tutur Dahyun.

“Hyunsa tidak menakutkan. Apa yang dilakukannya hanya sebatas ekspresi mengenai emosi yang tidak bisa diluapkannya. Apa kakakmu tidak mengatakan mengenai penyakit bipolar Hyunsa?” Dahyun hanya menggeleng sebagai responnya.

“Hyunsa diberi diagnosa mengidap Borderline Personality Disorder. Dokternya mengasumsikan semua tindakannya adalah sebuah ekspresi dari emosinya. Yang kudengar dia sedang menjalani terapi untuk membuat kondisi emosinya menjadi lebih stabil. Walaupun terlihat berlebihan, tapi kita tidak bisa menyalahkannya. Hyunsa hanyalah seorang gadis yang membutuhkan orang lain yang bisa mengerti perasaannya,” jelas Kyuhyun.

Dahyun menghela nafas panjang. “Walaupun itu benar, tapi kau terlalu membela posisinya saat ini. Apakah kau tidak pernah merasa untuk membenci gadis itu karena apa yang telah dilakukannya padamu?”

Kyuhyun tersenyum tipis. “Aku ingin membencinya, tapi rasanya sangat sulit. Dimataku Hyunsa seperti gadis kecil yang membutuhkan perhatian. Selain itu, dibalik semua perbuatan ekstremnya, Hyunsa terkadang bersikap sangat menggemaskan.”

Dahyun mendengus lagi. Bagaimana bisa Kyuhyun selalu membela gadis itu? Entah Kyuhyun yang terlalu baik atau jerat dari keluarga Choi yang membuat Kyuhyun menjadi dibutakan seperti itu. “Hah, baiklah. Aku tidak bisa membalas ucapanmu lagi, Kyuhyun-sshi. Kau terlalu bersikap baik dan melihat semua orang dari sisi baiknya. Asal kau tahu saja, semua orang memiliki sisi jahat dalam hidupnya. Dan apa yang dilakukan Hyunsa adalah bagian terjahat dari dirinya. Tapi yang membuatku penasaran adalah bagaimana kau menjalani kehidupan setelah ini. Yang kulihat, sepertinya kau sudah tidak bisa terlepas dari Keluarga Choi.”

Kyuhyun kembali terdiam. Dahyun kemudian berdiri dan berpamitan karena ia harus segera check-in karena waktu penerbangannya sudah dekat. Kyuhyun kemudian kembali sendiri. Ucapan Dahyun membuatnya memikirkan bagaimana masa depannya nanti.

Jika Kyuhyun benar-benar tidak bisa terlepas dari keluarga Choi, apakah suatu hari nanti dia akan kembali masuk ke dalam keluarga itu lagi? Atau selama sisa hidupnya, Kyuhyun akan terus dibayangi kenangannya dengan keluarga Choi?

*****

NOTE: CHO KYUHYUN!!!! KAMU KENAPA BAIK BANGET SIH!!!

Bete, nggak bisa bikin karakter Kyu jadi jahat dikit ke Siwon atau Hyunsa =___=

Ini udah 6k+ words ya dan sekitar 25 pages. kalau masih dibilang pendek, yaah itu sih salahin otak aku yang kerja. kekekekek…

yehet.. tinggal satu part terakhir. dan jujur, dibanding sama Two Faces, Only One ternyata lebih panjang. Dan hampir setahun berjalan. Untuk berikutnya masih ada Scarface sama Over The Truth yang ke pending lamaaaaa sekali. Dua cerita itu, saya ubah alur ceritanya. Tapi gak bisa mastiin kapan bisa dipublish. Aku fokusin ke The King of Seoul (The President) dulu ya..

Advertisements

51 thoughts on “[SF] Only One Part 24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s