[SF] Only One Part 23

TF2

[Part 23]

Siwon menatap amplop putih yang diberikan Kyuhyun pagi ini dengan tatapan kosong. Ia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, tapi tidak dalam waktu dekat seperti ini. Siwon bukan hanya telah kehilangan kekasihnya, tetapi juga sekretarisnya. Tapi ia tidak bisa mencegah hal itu terjadi –ani, bukan tidak bisa. Siwon mempunyai pilihan untuk mencegah hal itu terjadi, tetapi ia mengambil pilihan lain.

“Menurut prosedur, surat pengunduran diri akan selesai di proses dalam empat hari. Jadi, sebelum sampai prosesnya selesai, aku akan tetap melakukan pekerjaanku sebagai sekretaris anda, Sajangnim. Maaf, telah menyusahkan anda selama ini,” ucap Kyuhyun lalu membungkuk.

Siwon tidak mengatakan apapun. Kyuhyun kemudian menegakkan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut. Hingga duapuluh menit berikutnya, Siwon masih belum memberikan reaksi apapun. Lalu ia menarik nafas panjang dan menekan tombol intercom.

“Ne, Sajangnim.”

Siwon menghela nafas lagi. “Kirimkan kopian surat pengunduran dirimu pada bagian HRD. Katakan bahwa aku juga sudah menerimanya dan akan mengirimkan email pada Manager Gil.”

“Baik, Sajangnim.”

Siwon lalu menyimpan surat pengunduran diri Kyuhyun kedalam laci meja kerjanya. Tapi kemudian ia hanya memandangi beberapa dokumen dihadapannya. Siwon menghela nafas sembari bersandar di kursi. Ia memijat keningnya dengan keras. Walaupun Siwon bisa saja menolak pengunduran diri Kyuhyun, tetapi rasanya percuma, Kyuhyun pasti akan merasa canggung. Dan Siwon tidak ingin membuat posisi Kyuhyun menjadi lebih tidak nyaman. Jadi, dia akan melepaskan Kyuhyun.

Siwon menarik nafas panjang dan kemudian berfokus pada pekerjaannya.

*****

Hyukjae menerima laporan pemeriksaan terakhir dari bahu Hyunsa. Ia menyimpannya tanpa membacanya terlebih dahulu dan menatap gadis dihadapannya dengan lekat. “Kau bilang pihak rumah sakit yang akan mengirimkan hasil pemeriksaannya.”

“Terlalu rumit. Lagipula aku ingin segera bermain. Anda dan Pelatih Kang mungkin akan tetap menahanku di bangku cadangan untuk pertandingan awal. Tapi pertandingan berikutnya, aku ingin ikut bermain. Anda tentu tahu mengenai tawaran beasiswa itu, bukan?” ucap Hyunsa dengan tenang.

Hyukjae mengangguk. “Ya, Jinho dan beberapa temanmu juga mendapatkan tawaran yang sama. Baiklah, mungkin di pertandingan awal kau akan diturunkan sebagai pemukul terakhir dan picther kedua untuk melihat kondisimu sebenarnya. Jika permainanmu bagus, kami akan mempertimbangkan posisimu di pertandingan berikutnya.”

Hyunsa mengangguk mengerti dengan penjelasan Hyukjae. Kemudian ia menunduk dan beranjak meninggalkan ruangan pelatih tersebut. Tapi Hyukjae kembali memanggilnya. “Bagaimana keadaanmu saat ini? Maksudku mengenai terapi yang pernah kau katakan.”

“Cukup baik. Emosiku mungkin belum stabil. Kenapa anda bertanya?”

Hyukjae menghela nafas. “Kalau begitu bicaralah pada Jinho. Aku hanya mendengar sedikit dan tidak bermaksud ikut campur. Tapi kalian harus bicara, ini mengenai Ayahmu dan dirimu.”

Hyunsa mengernyit. “Mengenai Ayahku dan diriku? Apa hubungannya dengan aku harus bicara pada Jinho? Tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Dan lagipula, masalah keluargaku tidak ada hubungannya dengan Jinho.”

“Tapi kakaknya adalah kekasih ayahmu, bukan? Paling tidak, Jinho…”

“Mereka sudah putus, Pelatih Lee. Ayahku sudah mengakhiri hubungannya. Jadi, kami tidak mempunyai hubungan apapun lagi dengan Jinho ataupun anggota keluarganya yang lain,” tukas Hyunsa menyela ucapan Hyukjae.

Hyukjae diam. Ia masih menatap gadis dihadapannya dengan serius. Jinho memang mengatakan bahwa hubungan ayah Hyunsa dengan kakak laki-lakinya akan segera berakhir, dan itu tempo hari. Tapi hari ini Hyunsa menegaskan bahwa ayahnya sudah putus hubungan.

“Apa hanya itu yang ingin Anda katakan? Kalau begitu…”

“Kau menyakiti dirimu dan Ayahmu, Hyunsa,” kali ini Hyukjae yang menyela ucapan Hyunsa. Ia menarik nafas panjang. “Jika kau memang tidak setuju dengan hubungan mereka sejak awal, kenapa kau bersikap seolah-olah kau memberikan restu? Kau bahkan berusaha keras menyingkirkan adikku. Kau sangat egois dengan mengorbankan perasaan ayahmu.”

Hyunsa tidak mengeluarkan sepatah kata dan memperhatikan Hyukjae bicara. Kemudian Hyukjae menghampiri Hyunsa. “Kalau kau memang tidak menyukai Dahyun sebagai calon tunangan ayahmu, seharusnya kau bilang pada Kakekmu. Jika kau tidak menyukai kakak Jinho sebagai kekasih ayahmu, seharusnya kau jujur. Hasilnya, mungkin tidak seperti apa yang kau inginkan namun kau tidak perlu bersikap sampai sejauh ini. Walaupun kau mendapatkan apa yang kau inginkan sekarang, tapi ada banyak hati yang terluka. Ayahmu, kekasih ayahmu, Jinho dan orang-orang disekitarmu. Mereka sangat menyayangimu, tapi kenapa kau malah menyakiti mereka? Berhenti bersikap seperti ini, Hyunsa.”

Hyukjae kini menarik nafas panjang dan menunggu bagaimana reaksi Hyunsa atas perkataannya. Tetapi gadis itu hanya diam tanpa ekspresi. Hyukjae kini menjadi khawatir kalau ucapannya terlalu keras. Bahkan, Hyunsa tiba-tiba meninggalkannya tanpa memberikan respon. Hyukjae menatap pintu ruangan yang telah tertutup. Ia tahu kalau dirinya tidak mempunyai hak untuk bicara seperti itu, namun Hyukjae hanya ingin Hyunsa menyadari kesalahannya.

“Maaf, Hyunsa.”

*****

Yunho baru saja menghadiri sebuah meeting dengan salah satu perusahaan kontraktor ketika ia melihat seorang gadis yang dikenalnya tengah berjalan sendiri. Yunho mengernyit sembari memeriksa jam dipergelangan tangannya. Ini masih jam sekolah tapi siswa itu malah berada diluar sekolah. “Apa dia membolos?”

Sepertinya sangat mustahil bagi Yunho untuk mengabaikannya. Ia menarik nafas panjang sebelum bergegas menghampiri gadis itu sebelum menjauh. “Hyunsa-ya..” panggilnya.

Langkah gadis itu terhenti dan menoleh. Yunho sedikit berlari untuk menghampirinya. Yunho menghela nafas dan memperhatikan gadis itu dengan lekat. “Kau tidak sekolah? Ini baru jam sebelas. Apa kau ijin pulang lebih awal?” tanyanya.

Hyunsa menatap Yunho dengan sangat serius hingga pria itu menjadi sedikit tidak nyaman. Yunho menggaruk lehernya dengan canggung. “Hey, kenapa menatapku begitu? Kenapa kau tidak ke sekolah? Apa kau membolos? Kalau Siwon tahu kalau…”

Belum selesai Yunho bicara, mata Hyunsa sudah berair dan kini menangis dengan sedihnya. Yunho menjadi panik karena putri sahabatnya itu menangis dengan keras. Ia sedikit memperhatikan sekitarnya, berharap tidak ada tatapan menghakimi kalau dia sedang menyakiti siswa sekolah.

“Hey, kenapa kau menangis? Hyunsa-ya, jangan menangis disini. Aku akan dikira sedang menyakitimu,” ucap Yunho panik. Tapi tangisan Hyunsa malah makin keras. Yunho mengerang frustasi.

Kemudian ia menarik Hyunsa dalam pelukannya dan menepuk punggungnnya lembut. “Sudah, jangan menangis lagi. Aku tidak akan mengadukanmu pada Siwon kalau kau membolos. Berhentilah menangis, okay?”

Tetapi tangisan Hyunsa tidak berhenti, jadi Yunho harus menghubungi Jungsoo atau Woon.

*****

Jungsoo memasuki coffee shop, empatpuluh menit setelah setelah Yunho menghubunginya. Jungsoo memperhatikan sekitar coffee shop yang tidak terlalu ramai tersebut dan menemukan Yunho di salah satu meja bagian pojok. Jungsoo menghela nafas dan bergegas menghampirinya. Dan ia cukup terkejut melihat Hyunsa yang tertidur dipangkuan Yunho. Beruntung Yunho memilih meja dengan kursi sofa panjang.

Jungsoo kembali menarik nafas dan duduk dihadapan Yunho. “Bagaimana keadaannya?”

“Setelah menangis kurang lebih sepuluh menit dan minum caramel machiato, dia tertidur cukup pulas. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi jika dilihat dari tangisannya sepertinya dia sedang sangat tertekan,” ujar Yunho.

Jungsoo menyandarkan punggungnya. “Ya, terlalu banyak yang terjadi dalam minggu ini. Siwon dan Kyuhyun akan berpisah –atau malah sudah berpisah. Hyunsa menekan perasaannya untuk menolak hubungan mereka, akhirnya. Walaupun dia ingin Siwon bahagia, tapi dia tidak bisa melihat Kyuhyun yang berada disisi ayahnya. Semuanya begitu membingungkan,” jelas Jungsoo.

Yunho sedikit menunduk untuk menatap gadis dipangkuannya. Tangannya bergerak untuk mengusap kepala Hyunsa dengan hati-hati. “Kita tidak bisa memahami bagaimana perasaan anak ini. Hyunsa seperti kotak pandora. Mungkin jika suatu hari dia terbuka akan ada banyak hal yang terjadi. Lalu bagaimana?”

“Hyunsa sedang menjalani terapi. Sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang begitu baik, tapi jika dia sudah bisa meluapkan emosinya maka itu adalah hal bagus. Melihatnya menangis adalah hal yang jarang, jadi kami juga cukup terkejut saat dia menangis begitu keras dan sangat sedih. Siwon akan terlibat dalam terapinya,” tutur Jungsoo.

Kemudian Jungsoo bangkit dan dengan lembut menarik Hyunsa dari pangkuan Yunho. “Hyunsa-ya, bangun. Kita pulang, ne.” Perlahan Hyunsa membuka matanya setelah mendapat tepukan lembut dipipinya. Ia melihat Jungsoo tersenyum padanya. “Ayo pulang,” tuturnya lagi.

Hyunsa mengangguk kecil dan bangkit. Jungsoo sedikit merangkul keponakannya dengan protektif. Ia menatap Yunho dan tersenyum. “Terima kasih telah menjaganya, Yunho.”

Yunho hanya mengangguk. Sebelum mereka pergi, Hyunsa sekilas menundukkan kepalanya. Yunho tersenyum dan memperhatikan Jungsoo yang membawa gadis itu keluar dari coffee shop menuju  mobilnya.

*****

Jungsoo membukakan pintu dan mengernyit ketika melihat sosok Donghae. Padahal ia menghubungi Siwon dan memintanya untuk segera datang. Namun, Jungsoo sepertinya bisa tahu kenapa Donghae yang datang dan bukannya Siwon. Jungsoo mempersilahkan Donghae untuk masuk.

“Siwon sedang rapat. Sebenarnya dia meminta aku dan Ryeowook untuk datang terlebih dahulu, tapi Ryeowook mendadak ada panggilan penting. Siwon akan segera kemari setelah rapatnya selesai,” tutur Donghae sembari memasuki apartemen setelah melepaskan sepatunya.

Jungsoo hanya menggumam. Donghae meletakkan kantung kertas diatas meja dan melepaskan jasnya. “Dimana Hyunsa?”

“Di kamar. Aku sudah membujuknya untuk bicara dan memberitahu apa yang terjadi. Tapi dia tidak mau bicara,” ucap Jungsoo.

Donghae mengangguk. “Biar aku bicara padanya. Kau mau kembali ke kantor?”

“Ne, paling lama dua jam. Tapi akan kuusahakan lebih cepat. Kalau dia tidak mau bicara jangan dipaksa. Tapi dia harus makan juga,” sahut Jungsoo.

Donghae mengerti dan menghela nafas. “Aku mengerti. Pergilah, aku akan menjaganya,” tukasnya setelah melepaskan dasi hitamnya.

Jungsoo menepuk bahu Donghae dan bergegas pergi. Setelahnya, Donghae menarik nafas dan berjalan menuju sebuah kamar dimana Hyunsa biasa tidur kalau sedang menginap di apartment Jungsoo. Donghae melepaskan dua kancing atas kemejanya dan membuka pintu tanpa mengetuknya.

Donghae melihat Hyunsa sedang berbaring dengan membelakanginya. Perlahan Donghae mendekati tempat tidur dan duduk  ditepi ranjang. Tangannya bergerak menyentuh kepala Hyunsa mengusapnya lembut. “Hey, Nona Muda. Lama tidak bertemu,” sapa Donghae.

Tapi tidak ada sahutan dari Hyunsa. Donghae tersenyum miris. Sepertinya kondisi Hyunsa lebih parah dari apa yang dibayangkannya. “Hyunsa-ya, apa kau lapar? Paman membawakan bubur abalone kesukaanmu. Kita makan dulu, ne?”

Masih tidak ada respon. Donghae menghela nafas panjang. Well, Jungsoo mengatakan bahwa dia tidak boleh memaksa Hyunsa untuk bicara, tapi tidak mengatakan bahwa ia tidak bisa memaksa Hyunsa untuk makan. Jadi, Donghae akan sedikit memaksa gadis itu untuk bangun.

“Ayo, Hyunsa. Kita makan dulu, eoh?” Dengan hati-hati Donghae menarik tubuh Hyunsa untuk berdiri. Tidak ada penolakan dari Hyunsa. Gadis itu hanya mengikuti Donghae yang membawanya keluar kamar.

Setelah memaksa Hyunsa untuk duduk dimeja makan, Donghae segera mempersiapkan bubur yang dibawanya. Hyunsa tidak merespon apapun. Dia hanya memandangi Donghae yang sibuk dengan bubur abalone. Setelah menuangkannya kedalam mangkuk besar, Donghae menyajikannya tepat dihadapan Hyunsa. “Makanlah,” tuturnya sembari menyodorkan sendok.

Hyunsa menghela nafas dan mengambil sendok tersebut. Pelan, ia mulai melahap bubur tersenyum. Donghae tersenyum dan duduk dihadapannya. “Habiskan, ya.”

Selama makan, Hyunsa tidak berbicara ataupun memperhatikan Donghae lagi. Ia hanya sibuk dengan bubur dihadapannya. Setelah sepuluh menit, Hyunsa meletakkan sendoknya. Donghae mengerutkan dahi. “Eoh? Kan kubilang habiskan? Kau bahkan tidak memakannya sampai setengah?” tanyanya.

Hyunsa tidak menjawab apapun. Donghae menghela nafas lagi. “Hyun-ah, Paman Donghae bertanya padamu kenapa tidak dihabiskan? Ayolah, jawab pertanyaan Paman,” tuturnya. Well, Donghae sedang mengusahakan agar setidaknya Hyunsa mengeluarkan suaranya.

Hyunsa kini menatap Donghae lagi –kali ini dengan sedikit jengkel. Donghae menjadi cemberut. “Waeyo? Kau sudah tidak menyukai bubur abalone lagi? Lalu apa yang kau suka? Kau mau apa?”

“Aku mau Paman tidak bertanya lagi dan memaksaku untuk bicara,” ucap Hyunsa dengan kesal.

Donghae kemudian menyeringai. “Assa! Akhirnya kau bicara. Tapi baiklah, Paman tidak akan bertanya lagi. Kecuali satu pertanyaan terakhir. Kenapa kau mau tidak bicara, tidak sekolah, tidak mau makan, memasang wajah cemberut seperti itu, kau sedang mempunyai masalah, apa masalahmu, tidak bisakah kau menceritakannya pada Paman?”

Hyunsa menjadi lebih kesal lagi. “Itu lebih dari satu pertanyaan, Paman Donghae.”

“Ani! Itu satu pertanyaan. Satu kalimat pertanyaan, Hyunsa,” balas Donghae.

Hyunsa mendesis jengkel lalu beranjak untuk kembali ke kamar. Tetapi Donghae bergerak lebih cepat untuk menghalanginya. Beberapa-kali mencoba untuk menghindar, tapi Donghae tetap keras kepala. Hyunsa menatapnya dengan marah. Kemudian matanya mulai berair.

Donghae menjadi gugup. “Ya?! Kau mau menangis? Jangan menangis! I-itu ti-tidak akan mempan padaku!”

Well, Hyunsa tentu saja langsung menangis dan itu membuat Donghae panik. Pasalnya, Donghae tidak pernah melihat Hyunsa menangis dengan begitu keras. Jadi, dia tidak tahu bagaimana mengatasi tingkah putri sahabatnya itu.

“Hah! Kenapa kau menangis? Hyunsa-ya, jangan menangis. Aku bahkan tidak membentak atau memukulmu,” ujar Donghae panik. Tapi tangisan Hyunsa tidak berhenti begitu saja.

Donghae menggaruk kepalanya dengan bingung. Ia memandang wajah Hyunsa yang sudah memerah dan basah karena air mata. Donghae mendesah jengkel, jika Siwon mengetahui putrinya menangis, Donghae pasti akan dihabisi. Siwon tidak pernah menyukai putrinya menangis, oleh siapapun dan karena alasan apapun.

“Hyunsa-ya, jebal. Berhenti menangis, eoh? Baiklah, Paman tidak akan bertanya apapun. Kau tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Tapi kau harus berhenti menangis, euh,” bujuk Donghae.

Tapi Hyunsa masih menangis dengan keras. Donghae benar-benar dibuat kebingungan. Kemudian Woon masuk dengan ekspresi bingung. Ia menghampiri Donghae dan Hyunsa yang masih menangis. “Ya, apa yang kau lakukan hingga dia menangis begini?” tanya Woon.

Donghae menggeleng. “A-ani! Aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya bertanya dan dia tiba-tiba saja menangis. Jungsoo bilang dia tidak mau bicara, makanya…” jawaban Donghae terputus begitu saja.

Woon menghela nafas panjang. Ia menaruh tas diatas meja dan melepaskan jasnya. Kemudian Woon memeluk Hyunsa dengan erat. “Sudah, Hyunsa. Jangan menangis lagi, ne. Paman Donghae tidak akan bertanya lagi. Jangan menangis lagi, nanti wajahmu bengkak.”

Well, ucapan Woon mungkin sedikit menenangkan Hyunsa, tapi gadis itu masih menangis sesegukkan. Woon menghela nafas dan memberi isyarat pada Donghae untuk segera menghubungi Siwon. Donghae mengangguk mengerti dan sedikit menjauh dari posisi Woon dan Hyunsa saat ini.

Woon masih memeluk Hyunsa dan menepuk punggung gadis itu dengan lembut. Sesekali Woon membujuk Hyunsa untuk berhenti menangis. Ia mengatakan bahwa Siwon akan segera datang. Tapi Woon sepertinya merasa tuli karena ia malah mendengar Hyunsa menyebut “Appa” disela isakan dan bukannya “Daddy”.

“Mungkin Hyunsa terkadang memanggil Siwon dengan sebutan Appa, selain Daddy,” pikir Woon.

*****

Siwon terus melirik ponsel yang terus bergetar disebelah dokumen yang tengah dipresentasikan. Nama pemanggilnya adalah Donghae, jadi Siwon bisa menduga bahwa ini mengenai Hyunsa. Siwon tidak bisa menerima telepon tersebut karena rapat tersebut cukup penting demi kelangsungan perusahaan. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan putrinya.

Kyuhyun yang duduk disebelahnya memperhatikan sikap Siwon yang tidak tenang. Ia tahu bahwa Hyunsa sepertinya sedang mengalami masalah,tapi Siwon tidak bisa membatalkan rapat tersebut. Kyuhyun lalu menulis pada sebuah kertas dan menyodorkannya pada Siwon.

Anda mau Saya yang menjawab telepon itu, Sajangnim?

Siwon menoleh pada Kyuhyun sebentar lalu membalas pesan Kyuhyun. Ia juga menyodorkan ponselnya.

Ini mengenai Hyunsa. Tolong tanyakan apa yang terjadi dan katakan aku akan segera ke Apartment Jungsoo setelah rapat berakhir.

Kyuhyun mengangguk setelah membacanya. Kemudian ia membawa ponsel Siwon keluar dari ruang rapat tanpa menimbulkan suara yang menganggu. Well, tidak akan ada yang peduli jika Kyuhyun keluar ruangan dengan tiba-tiba.

Setelah menutup pintu ruangan, Kyuhyun menghela nafas panjang dan menggeser tombol hijau. “Yoboseyo, Donghae-sshi.”

“Eoh? Siwon dimana, Kyu? Kenapa kau yang mengangkat teleponnya?”

“Sajangnim masih di ruang rapat. Sajangnim memintaku menjawab teleponnya diluar ruangan. Ada apa?” tanya Kyuhyun.

Donghae mendesah. “Sepertinya kondisi Hyunsa hari ini lebih buruk dari yang diperkirakan. Dia menangis keras sekali. Katakan pada Siwon untuk segera datang. Tapi jangan katakan bahwa Hyunsa menangis, itu malah akan membuatnya panik. Katakan saja Hyunsa mencarinya dan hanya mau bicara padanya, jadi aku meneleponnya hanya untuk memberitahunya.”

Kyuhyun menggumam pelan. “Ne, Sajangnim juga mengatakan bahwa akan segera datang setelah rapat. Baiklah, akan saya sampaikan.”

Setelah percakapan singkat, Kyuhyun kembali ke ruang rapat dan duduk di kursinya. Ia mengembalikan ponsel Siwon dan menuliskan pesan Donghae di kertas yang sama. Siwon sedikit memperhatikannya.

Hyunsa tidak mau bicara apapun. Anda diminta segera kesana setelah rapat selesai.

Siwon terlihat lega bahwa tidak terjadi hal buruk pada putrinya. Kemudian ia membalas pesan Kyuhyun.

Aku mengerti. Terima kasih.

*****

Setelah rapat, Siwon bergegas ke apartment Jungsoo sedangkan Kyuhyun berusaha menyelesaikan beberapa pekerjaannya sebelum ia keluar kantor hari Kamis nanti. Saat ini Kyuhyun masih menyandang status sebagai sekretaris Siwon, jadi sebisa mungkin dia akan mengabaikan permasalahan pribadi dan bekerja professional. Well, sebenarnya berjalan cukup baik, sampai Ryeowook tiba-tiba datang dengan wajah sedikit kesal.

“Kau mengundurkan diri,” terdengar bukan seperti pertanyaan, jadi Kyuhyun hanya mengangguk menegaskan. Ryeowook mendesah pelan. “Kenapa? Apa alasannya? Pihak HRD baru saja menghubungiku untuk pergantian Jihye menjadi Sekretaris Siwon pada hari Jumat.”

Kyuhyun menatap Ryeowook dengan lekat dan menghela nafas panjang. “Kami sudah berpisah dan aku pikir tetap bekerja disini tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik. Bahkan hubungan kami sudah menjadi canggung sejak Hyunsa menegaskan pilihannya. Sa–” Kyuhyun bahkan tidak tahu harus memanggil Siwon dalam pembicaraan ini sebagai siapa.

“Situasi tidak akan menjadi lebih baik jika kau mengundurkan diri. Semuanya akan sama saja. Memang awalnya akan canggung, tapi seiring waktu semuanya pasti akan kembali seperti semula,” tutur Ryeowook.

Kyuhyun menggeleng tidak setuju dengan Ryeowook. “Semuanya tidak akan pernah menjadi sama seperti dulu. Sikap Hyunsa bahkan sudah berbeda. Aku tidak sedang memberi alasan dengan terapi yang dijalaninya. Sejak awal Hyunsa mengetahui hubungan kami, dia memang menjadi berbeda. Seandainya,”

“Aku bahkan tidak ingin mengatakan seandainya. Tapi kurasa ini yang terbaik. Kami berpisah. Benar-benar berpisah,” lanjutnya.

Ryeowook memijat pelipis kanannya sedikit keras. Ia menarik nafas perlahan. “Berpisah? Well, kalian mungkin tidak akan bertemu di kantor dan Seoul mungkin kota yang besar, tapi selalu ada kemungkinan kalian akan bertemu lagi, bukan? Lagipula bagaimana bisa kalian menjadi orang asing dalam beberapa hari?”

“Kami tidak menjadi orang asing. Kami hanya menjadi mantan kekasih dan mantan rekan kerja. Dia adalah mantan atasanku dan ayah dari teman adikku,” sahut Kyuhyun keras kepala.

Ryeowook tahu kalau Kyuhyun adalah orang yang keras kepala dibalik sifat pendiamnya. Tapi ia tidak tahu kalau Kyuhyun bisa sama keras kepalanya seperti batu. Ryeowook tidak sedang berusaha menahan Kyuhyun untuk menjaga hubungan baik dengan Siwon –setelah mereka putus, karena Ryeowook tahu itu sangat sulit– tapi Jihye adalah pegawainya yang bisa diandalkannya, tapi ia harus merelakan Jihye menjadi sekretaris Siwon. Egois memang, tapi Kyuhyun adalah sekretaris yang baik. Selama dua tahun lebih, dia bisa mengimbangi pekerjaan yang terus berdatangan tanpa henti dan bisa menyelesaikan masalah dengan tanggap. Perusahaan akan sangat kehilangan pegawai baik seperti Kyuhyun.

“Bagaimana kalau kau meminta mutasi jabatan? Jika kau merasa canggung berada di meja sekretaris Siwon, kau bisa meminta dipindahkan ke departement lain. Atau mungkin perusahaan cabang. Tapi tidak mengundurkan diri seperti ini. Mencari pekerjaan sangat sulit sekarang ini. Apa kau sudah menemukan pekerjaan baru? Kau tidak mungkin akan menganggur bukan?” tutur Ryeowook lagi.

Kyuhyun kembali menghela nafas. “Ryeowook-sshi, aku tahu kau hanya memberikan perhatian padaku tetapi aku tetap akan mengundurkan diri. Aku memang belum menemukan pekerjaan baru, tapi aku mungkin mendapatkan pekerjaan yang lebih cocok selain menjadi sekretaris. Terima kasih, tapi itu tidak perlu.”

“Kau benar-benar keras kepala. Baiklah, terserah keputusanmu saja, Kyuhyun. Semoga kau lebih sukses diluar sana,” pada akhirnya Ryeowook menyerah. Rasanya sekeras apapun ia mencoba untuk membujuk Kyuhyun, hasilnya akan sia-sia.

*****

Jungsoo bergegas keluar dari firma hukumnya setelah mendengar kabar dari Woon. Beberapa dokumen kasus terpaksa harus ia bawa pulang karena dia tidak bisa lepas dari tanggung-jawab pekerjaan. Namun saat menuju area parkir, Jungsoo melihat Sunghee menghampirinya. “Kupikir Eomma sudah pulang ke Taiwan,” tukas Jungsoo.

Sunghee menjadi cemberut dan memukul lengan putranya. “Hey, Eomma baru saja kembali ke Seoul mana mungkin langsung pulang begitu saja. Lagipula Pamanmu itu memutuskan untuk kembali tinggal di Seoul, jadi Eomma sibuk mengurus beberapa surat. Apa kau mau pergi?”

Jungsoo mengangguk. “Aku harus pulang, terjadi sesuatu di rumah. Tapi kenapa Eomma menemuiku di kantor? Kenapa tidak menelepon dulu?”

“Eomma ingin meminta bantuanmu untuk mengurus beberapa dokumen. Buat apa mempunyai putra seorang pengacara jika tidak bisa membantu, eoh? Tapi apa yang terjadi di rumah? Ada hubungannya dengan Woon?” tanya Sunghee lagi.

“Ani. Ini masalah Hyunsa. Dia sedang di apartment kami. Berikan saja dokumennya, nanti akan kuurus,” ucap Jungsoo.

Sekali lagi Sunghee memukul lengan Jungsoo dan membuat putranya kembali merintih kesakitan. “Pekerjaan bisa menunggu. Eomma akan ikut bersamamu. Lagipula Eomma juga sudah lama tidak bertemu dengan Hyunsa,” sahutnya yang kemudian segera menaiki mobil Jungsoo.

Jungsoo menghela nafas panjang dan terpaksa membawa Eommanya ikut pulang. Walaupun sebenarnya ia tidak ingin Eommanya mengetahui kondisi Hyunsa saat ini. Eommanya bisa saja memberitahu hal ini pada Paman Songjoo dan Siwon mungkin akan diceramahi lagi karena tidak menjaga putrinya dengan baik. Tapi Woon mungkin bisa membantunya untuk menutup mulut Eommanya –mengingat sang Eomma sudah dekat sekali dengan kekasihnya tersebut.

*****

Siwon mengusap wajahnya yang terlihat lelah dan kembali memperhatikan dokter Song yang sedang bicara dengan Hyunsa. Ya, pada akhirnya mereka –lebih tepatnya Woon memutuskan untuk memanggil dokter Hyunsa. Karena bahkan setelah Siwon datang, tangisan Hyunsa tidak berhenti.

Siwon mengawasi dari ambang pintu, jadi ia masih bisa mendengar perbincangan antara Hyunsa dan dokter Song. Tapi melihatnya yang khawatir, malah membuat Woon menjadi lebih pusing. Donghae sendiri sudah kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.

“Siwon, kumohon duduklah. Kau sudah berdiri disana selama setengah jam. Lagipula dari sini pun kau bisa mendengar percakapan mereka,” ucap Woon dengan tenang.

Siwon menoleh dan menghela nafas panjang. Ia kembali menatap kedalam kamar sebelum akhirnya menghampiri Woon dan duduk disebelahnya. Woon memandangnya lekat. “Putrimu sedang ditangani oleh pihak yang ahli. Jadi, tenanglah.”

“Tapi aku tidak bisa tenang, Woon. Ini pertama-kalinya Hyunsa menangis dengan histeris. Walaupun sebelumnya aku pernah melihatnya menangis, setelah lima tahun kematian Nahyun. Tapi hari ini lebih parah,” ujar Siwon.

Woon menarik nafas. “Peristiwa pelemparan jam weker itu?” ucapnya.

Siwon mengangguk. “Ne, tapi sejak hari itu aku tidak pernah melihatnya menangis seperti ini. Hyunsa selalu terlihat kuat dihadapanku ataupun orang lain. Dia bahkan tidak bisa menceritakan kenapa dia menangis saat ini,” tutur Siwon.

Woon terdiam sejenak. Well, sejak peristiwa pelemparan jam weker itu, Hyunsa memang tidak terlihat menunjukkan emosi apapun. Kecuali saat dia berhadapan dengan Dahyun –walaupun tidak ekstrem seperti sekarang. Tapi bagaimanapun pasti ada alasan dibalik tangisan Hyunsa hari ini.

“Bagaimana emosinya setelah mengetahui kalian putus?” tanya Woon dengan berhati-hati. Rasanya masalah ini masih sangat sensitif untuk dibicarakan.

Siwon kembali menarik nafas dan menghembuskan perlahan. “Kondisinya baik-baik saja. Setidaknya itu yang kulihat kemarin. Bahkan sampai tadi pagi, Hyunsa masih tersenyum. Mungkin terjadi sesuatu di sekolah.”

“Seperti apa?”

Belum sempat Siwon menjawab, Jungsoo dan Sunghee datang. Jungsoo langsung menghampiri Woon dan Siwon dengan ekspresi khawatir. “Bagaimana keadaannya?”

“Dokter Song sedang menanganinya. Jangan terlalu khawatir, Soo,” tutur Woon.

Sunghee yang tidak mengetahui apapun, sedikit bingung dengan ucapan Woon. “Dokter Song? Apa Hyunsa terluka?” tanyanya.

Jungsoo menatap Woon dengan memohon. “Beritahu Eomma dengan baik-baik, ne?” ucapnya.

Woon mengangguk. Kemudian ia menghampiri calon ibu mertuanya. “Eomonim, aku akan menjelaskannya. Kita bicara di ruang makan saja,” ucapnya sembari membawa Sunghee ke ruang makan.

Jungsoo melemparkan tas kerjanya ke sofa. Ia menatap Siwon yang hanya duduk dengan lemas. “Siwon-ah, hari ini Hyunsa bersikap aneh sekali.”

“Aku melihatnya dengan jelas, Soo.”

Jungsoo lalu duduk agak jauh dari posisi Siwon. Ia memperhatikan sepupunya dengan serius. “Yunho bertemu dengannya. Sepertinya Hyunsa membolos. Dan saat diajak bicara oleh Yunho, tiba-tiba saja dia menangis. Yunho menghubungiku untuk membawanya pulang. Hyunsa tidak bicara walaupun kutanya.”

“Terjadi sesuatu di sekolah, aku yakin. Hyunsa tidak akan membolos dari sekolah, terlebih disaat mereka sedang sibuk persiapan pertandingan.”

“Coba tanyakan pada Jinho. Atau temannya yang lain.”

Tak lama, Dokter Song keluar kamar dan menutup pintunya dengan rapat. “Aku memberinya obat penenang, karena emosinya sedang tidak baik. Dia sedikit bicara mengenai apa yang terjadi sekolahnya.”

Siwon menatap sang dokter dengan lekat. “Sekolah? Kenapa? Apa dia bertengkar dengan temannya? Atau…”

Dokter Song menghela nafas dan duduk pada sofa tunggal. “Dia bicara dengan salah satu pelatih bisbolnya. Namanya Pelatih Lee. Hyunsa tidak mengatakan banyak tapi menurut ceritanya, Pelatih Lee itu memberi nasihat karena dia telah melukai banyak orang dengan perbuatannya. Mungkin anda bisa menebak sendiri apa maksud dari ucapan itu, Choi-sshi.”

Ya, Siwon bisa mengerti. Pelatih Lee yang dimaksud adalah Lee Hyukjae. Mungkin Lee Hyukjae mengajak Hyunsa bicara mengenai beberapa perbuatannya. Siwon tidak bisa menyalahkan Hyukjae, tapi dia menyayangkan dengan sikap pelatih bisbol tersebut. Walaupun Hyukjae mengetahui permasalahan mereka, tapi dia tidak mempunyai hak untuk bicara pada Hyunsa. Terlebih jika ia tidak mengetahui kondisi emosional Hyunsa sekarang ini.

“Dari terapi kemarin, Hyunsa sudah menunjukkan respon untuk membicarakan permasalahan serta bagaimana perasaannya. Tapi jangan terlalu memaksanya untuk bicara. Dia mungkin akan lebih merasa tertekan dan ketakutan. Menangis hanyalah salah satu cara untuk meluapkan emosinya. Lebih parah, mungkin dia akan melakukan tindakan agresif seperti melukai dirinya sendiri atau orang lain. Berikan dia waktu untuk menenangkan pikirannya. Jika waktunya tiba, dia akan bicara dengan sendirinya,” jelas dokter Song lagi.

Siwon mengangguk dengan ucapan dokter tersebut. Untuk saat ini memang tidak ada cara lain selain menunggu. Walaupun sebenarnya itu sangat menyakitkan bagi Siwon. Situasinya benar-benar sulit. Kondisi emosional Hyunsa yang tidak stabil, ditambah Kyuhyun yang pergi dari sisinya. Siwon seperti kehilangan pegangannya. Bahkan situasi saat ini lebih parah dibandingkan situasi saat Nahyun meninggal dunia.

*****

Kyuhyun berusaha mengabaikan cerita Donghae mengenai kondisi Hyunsa sebenarnya. Ia tidak bermaksud jahat, tetapi Kyuhyun tidak mempunyai posisi apapun saat ini. Ia hanya bisa memberikan rasa simpati apa yang sedang dialami oleh Hyunsa. Kyuhyun menghela nafas dan kembali menyesap kopinya.

“Kurasa ini adalah titik baliknya. Setelah lima tahun dan berbagai kejadian yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, akhirnya Hyunsa hancur juga. Siwon sebenarnya tahu bagaimana kondisi putrinya, tapi dia malah menutup mata dan menganggap semuanya baik-baik saja,” tukas Ryeowook.

Donghae mengangguk setuju. “Tapi aku juga tidak tega melihatnya. Hyunsa menangis dengan keras, bahkan ia menjadi lemas. Ia ingin berhenti tapi tidak bisa. Tidak ada jalan berputar atau mengakhiri semuanya sampai disini. Dia harus berjalan sampai akhir, walaupun sangat kesakitan.”

Ryeowook sedikit melirik Kyuhyun yang tidak memberikan respon apapun. Kemudian ia menatap Donghae. “Lalu apa yang dilakukan Siwon? Jika kondisi emosional Hyunsa sangat buruk, bukankah ia tidak bisa menjaga putrinya seorang diri?”

Donghae mengangkat bahunya. “Tidak tahu. Kurasa dia harus kembali tinggal dengan ayahnya. Walaupun ada Jungsoo dan Woon, namun aku pikir tidak akan banyak membantu. Paman Songjoo mungkin bisa membantu lebih banyak dari apa yang bisa kita berikan. Tapi itu pun tergantung keputusan Siwon sendiri.”

Ryeowook kembali memperhatikan Kyuhyun. Ia menjadi sedikit kesal karena Kyuhyun sepertinya tidak ingin terlibat dalam pembicaraan ini. Ryeowook tidak bisa menyalahkannya juga. Tapi situasinya benar-benar sangat canggung, hingga ia tidak tahu bagaimana harus bersikap.

“Kyuhyun-ah,” panggilnya.

Kyuhyun sontak memandang pada Ryeowook. “Aku tahu kau tidak ingin terlibat dalam perbincangan ini, tapi setidaknya kau bisa menunjukkan rasa simpatimu. Jangan diam saja. Siwon masih atasanmu dan Hyunsa adalah teman adikmu.”

“Ryeowook-ah, jangan memaksanya. Kyuhyun juga dalam posisi sulit. Jangan melibatkannya lebih jauh, ketika ia sedang berusaha berjalan keluar,” tukas Donghae menyela.

Kyuhyun masih tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya kembali menyesap kopinya dan menyibukkan diri dengan pikirannya yang kalut.

*****

Kyuhyun melihat Jinho yang hanya diam di balkon kamarnya. Ia lalu mendekati adiknya dan menghela nafas panjang. Jinho menoleh dan tersenyum tipis. “Wae? Tumben Hyung datang ke kamarku.”

“Ada yang ingin kutanyakan mengenai Hyunsa. Bagaimana kondisinya di sekolah?”

Jinho menarik nafas dna menghembuskannya perlahan. “Hyung tahu kalau Hyunsa menderita bipolar?”

Kyuhyun mengangguk. “Borderline Personality Disorder. Atau itulah yang kudengar. Dia juga sedang menjalani terapi saat ini.”

Jinho membulatkan mulutnya. “Oh. Jadi, itu kenapa Hyung bertanya kondisi Hyunsa di sekolah. Dia sedikit berubah. Sejak seminggu lalu dia menjadi pendiam dan bersikap dingin. Tidak hanya padaku, tapi beberapa teman lainnya. Aku baru mengetahuinya dari Pelatih Lee.”

“Pelatih Lee?”

“Lee Hyukjae, kakak lelaki Lee Dahyun. Dia sedikit mengetahui mengenai kondisi Hyunsa dan memintaku untuk terus berusaha bicara dengan Hyunsa.”

“Dia mengetahui kondisi Hyunsa? Ba-bagaimana?”

“Dia bilang Hyunsa yang bercerita padanya. Aku tidak tahu kenapa Hyunsa menceritakan hal itu pada Pelatih Lee. Tapi mungkin karena alasan Lee Dahyun. Sepertinya Hyunsa memberi peringatan untuk Pelatih Lee agar menjaga adiknya.”

“Apa mereka sering bicara?”

“Kurasa tidak. Mungkin hanya beberapa-kali. Ah, kurasa hari ini mereka bicara. Kudengar Hyunsa pergi menemui Pelatih Lee untuk menyerahkan hasil pemeriksaan bahunya. Bisa saja mereka kembali bicara. Tapi setelah itu, Hyunsa malah meminta ijin pulang lebih awal.”

Kyuhyun terdiam. Mungkin itu adalah alasan dibalik sikap emosional Hyunsa hari ini –menurut yang diceritakan Donghae. Jinho memperhatikan Kyuhyun dengan lekat. “Kenapa Hyung? Apa terjadi sesuatu?”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak apa-apa.”

*****

“Sebenarnya bagaimana kau menjaga putrimu, eoh?!! Kenapa dia harus menjalani terapi?!” seru Songjoo dengan keras.

Siwon menghela nafas pendek. Ia tahu kalau Sunghee pasti akan menceritakan kondisi Hyunsa saat ini pada ayahnya. Tapi Siwon juga tidak mungkin selamanya menutupi kondisi putrinya dari keluarganya. “Hyunsa sudah tidur, Abeoji. Jadi, kumohon untuk tidak berteriak keras.”

Songjoo mendengus kesal. “Jelaskan bagaimana kondisinya? Seberapa parah?”

“Tidak begitu parah. Hyunsa sudah bisa menceritakan hal-hal yang selalu dipendamnya sendiri. Walaupun tidak banyak, tapi itu adalah kemajuan. Dia akan terus menjalani terapi hingga kondisinya menjadi lebih stabil,” tutur Siwon.

Songjoo mendecak. “Tapi tetap saja dia tidak akan bisa sembuh sepenuhnya, bukan? Penyakit psikologis berbeda dengan penyakit fisik. Tch, seandainya kau menikah lebih cepat, Hyunsa tidak akan seperti ini.”

Siwon tidak berniat untuk membalas ucapan ayahnya. Ia sudah terlalu lelah hari ini. Yang Siwon inginkan hanyalah tidur.

“Bahkan kau tidak seharusnya menikah dengan Nahyun. Kau alami sendiri akibatnya karena telah membangkang, bukan? Kau bahkan kembali membangkang dengan menjalin hubungan abnormal itu. Kini putrimu menjadi korbannya. Apa ini yang kau inginkan, Choi Siwon?”

Siwon memejamkan matanya. “Kami sudah putus, Abeoji.”

Songjoo mengernyit. “Mworago?”

“Aku dan Kyuhyun sudah putus,” ucap Siwon dengan tegas dengan memandang ayahnya. Namun, kemudian ia kembali menunduk.

“Benarkah? Itu bagus. Kau kembali pada akal sehatmu, Siwon. Lebih baik kau fokus pada putrimu dan pekerjaan. Jika Hyunsa tidak menginginkan kau menikah lagi, maka fokuslah dengan kehidupanmu sekarang.”

Songjoo menatap putranya dengan serius lalu menghela nafas. “Aku akan kembali tinggal di Seoul. Sebaiknya kalian tinggal bersamaku, lagipula aku harus mendidik Hyunsa sebagai penerus dirimu. Jadi, jual saja rumah ini. Tidak peduli hasil jerih payahmu, tapi di rumah ini putrimu mendapat banyak kesakitan.”

Siwon masih tidak bicara. Ya, mungkin kini ia harus lebih menurut pada ayahnya. Bahkan seharusnya sejak dulu, Siwon harus menjadi lebih patuh dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Mungkin saat ini, Hyunsa mempunyai hidup yang lebih baik.

*****

NOTE: Ada permintaan kalo Siwon nya dibikin menderita banget lebih parah dari Kyuhyun. tapi saya malah bingung… Ini udah part 23, sedangkan saya membatasi FF ini cuma sampe 25. Jadi, tinggal dua part lagi yaaa…

/entah bagaimana endingnya nanti.

Advertisements

53 thoughts on “[SF] Only One Part 23

  1. godddd ini jam stngah 2 aku harus tidur… tp masih penasaran….. sakit bgt ihhh……. yah pada akhirnya semua terluka… termasuk hyunsa jadi mari di akhiri…. *apa ini*
    lanjut ah nanggung…

  2. Tetap terasa menyesakkn….!!
    Kyaaaa!!!!!!aq hnya berhrp smga smua keadaan lekas membaik.
    Miris lht keadaan Hyusa.Apa sebenarnya yg dirasakan gadis itu.?!!
    Gumawo Eonni. FIGHTING!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s