[SF] Only One Part 22

only one

[Part 22]

Siwon menemukan Hyunsa sedang makan malam sendirian. Tadi sore, Siwon memang memberitahu putrinya kalau akan pulang terlambat dan menyuruh Hyunsa untuk makan malam duluan tanpa harus menunggunya. Tapi sepertinya putrinya cukup keras kepala. Siwon menghela nafas dan langsung duduk dikursinya.

“Daddy sudah bilang untuk makan duluan, bukan? Kenapa jam segini baru makan, euhm?” tanya Siwon.

Hyunsa tidak menatap Siwon dan hanya melahap makanannya. “Aku baru selesai mengerjakan tugas. Dan tidak sadar waktu. Jadi, aku baru makan malam.”

Siwon hanya mengangguk. Ia mengusap kepala Hyunsa dengan lembut dan memperhatikan putrinya makan. Namun, kembali ia teringat hubungannya dengan Kyuhyun. Siwon tidak ingin mengungkitnya tapi bagaimanapun juga ia harus memastikan masalah ini dengan putrinya.

“Heechul bilang terapi-mu berikutnya hari Jumat nanti. Mau pergi bersama? Daddy juga harus menghadiri terapimu kali ini,” ucap Siwon.

“Hari Jumat nanti aku masih ada latihan. Jadi, jemput aku di sekolah, ya?” tukas Hyunsa.

Siwon kembali mengangguk. Hyunsa sendiri melanjutkan makan malamnya. Walaupun Siwon ingin bicara, tapi ia menginginkan waktu yang tepat. Siwon tidak ingin kembali melukai putrinya dengan mengungkit pembicaraan itu. Begitu sibuknya Siwon dengan pikirannya sendiri, ia sampai tidak sadar kalau Hyunsa sudah selesai makan dan bersiap untuk membereskan meja makan.

Siwon menatap putrinya yang membawa piring-piring kotor itu ke wastafel cuci dan mencucinya. Siwon mengusap wajahnya dan menarik nafas panjang. Kemudian ia beranjak dan menghampiri Hyunsa. Siwon memilih duduk di meja counter sembari memperhatikan putrinya.

“Hyunsa..”

Hyunsa hanya menggumam pelan sembari terus melakukan pekerjaannya. Namun, itu membuat Siwon merasa canggung. Rasanya ia tidak tega membicarakan hubungannya dengan Kyuhyun padahal putrinya sudah jelas-jelas menolak.

“Apa kau sudah mengisi aplikasi untuk ujian masuk universitas? Seharusnya kau sudah memutuskannya, bukan? Apa perlu Daddy membantu?” tanya Siwon –agak menjauh dari inti pembicaraan sebenarnya.

Hyunsa terdiam untuk beberapa detik, tapi kembali meneruskan pekerjaannya. “Aku sudah mengisi aplikasinya. Aku sudah berkonsultasi dengan guruku dan tidak ada masalah.”

Siwon sedikit terkejut mendengar pengakuan Hyunsa. “Kenapa kau tidak memberitahu Daddy? Kau memilih universitas mana? Jurusan apa?”

Hyunsa menghela nafas dan sedikit berbalik untuk menatap Siwon. “Kupikir Kakek sudah memberitahu Daddy. Sejak awal tahun kedua, Kakek sudah menghubungiku mengenai aplikasi universitas. Daddy tahu kalau Kakek menginginkanku masuk Seoul atau mungkin kuliah di Amerika dan mengambil jurusan bisnis. Jadi, kupikir Daddy sudah tahu.”

“Tidak! Daddy tidak tahu apa-apa. Bahkan Daddy tidak tahu kalau kau mau kuliah di jurusan bisnis. Daddy hanya tahu putri Daddy sangat menyukai bisbol dan berpikir kalau ia akan memilih karier sebagai atlit ketimbang meneruskan perusahaan,” seru Siwon.

Hyunsa berbalik untuk menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai, Hyunsa kembali menatap Siwon dengan lekat. “Kupikir Daddy tahu bahwa kita tidak bisa melawan Kakek jika sudah berhubungan dengan perusahaan. Daddy juga sudah tahu kalau pada akhirnya, aku pun harus masuk ke perusahaan dan menggantikan posisi Daddy.”

“Tapi Hyunsa…”

“Sebenarnya aku mendapatkan tawaran beasiswa karena prestasi bisbol. Jika aku menerimanya, aku akan bergabung dengan team universitas. Guruku memintaku untuk memikirkannya kembali, jadi beliau masih menahan aplikasinya,” sela Hyunsa.

“Kalau begitu terima saja. Di universitas mana? Apakah masih di Korea atau mungkin beasiswa keluar negeri?” tanya Siwon lagi.

Hyunsa menghela nafas panjang. “Daddy yakin menyuruhku mengambil beasiswa itu? Aku sudah lelah harus berdebat dengan Kakek. Lagipula jika aku pergi, Daddy akan tinggal sendirian.”

“Well, Kakekmu mungkin tidak setuju. Tapi kau ini anak Daddy, sayang. Jika kau menginginkannya, ambil saja kesempatan itu. Dia tidak akan datang dua kali dan Daddy tidak mau kau menyesalinya di kemudian hari. Dan satu lagi, Daddy sudah cukup dewasa untuk mengurusi Daddy sendiri. Jadi, tenang saja,” tukas Siwon.

Hyunsa hanya mengangkat bahu –ia sangat tidak ingin membahas masalah apapun dengan Siwon saat ini. Beruntungnya, Siwon tidak akan memperpanjang pembicaraan mereka malam ini. “Aku akan kembali ke kamar. Selamat malam, Daddy.”

“Selamat malam, sayang,” tutur Siwon dan membiarkan Hyunsa ke kamarnya. Siwon menarik nafas panjang. Sepertinya ia harus menunda pembicaraan yang sebenarnya ia ingin bahas dengan Hyunsa.

*****

Kyuhyun menatap sebuah amplop putih ditangannya. Walaupun ia sudah menulisnya, tapi Kyuhyun masih ragu dengan keputusannya. Jika ia menyerahkannya setelah mereka berpisah, mungkin akan berdampak lebih buruk. Tapi Kyuhyun tidak mempunyai alasan untuk tetap bertahan –setidaknya setelah ia dan Siwon putus.

Kyuhyun menarik nafas dan menyimpan amplop putih itu didalam laci mejanya. Kemudian ia berjalan ke balkon kamarnya. Udara malam ini cukup dingin tapi Kyuhyun tidak memperdulikannya. Kemudian sekilas Kyuhyun menatap cincin yang masih melingar pada jemarinya.

Entah kenapa rasanya semakin berat untuk tetap memakai cincin itu. Kyuhyun mendesah pelan. “Aku bahkan tidak tahu sampai kapan waktu kami akan berakhir,” gumamnya.

Kyuhyun lalu melepaskan cincin itu dan tersenyum. “Terima kasih, walaupun hanya singkat tapi aku sangat senang bisa memakaimu. Kurasa kau akan kembali  pada pemilik lamamu dan menunggu hingga pemilik barumu datang.”

Kyuhyun agak mendongak untuk memperhatikan langit gelap. “Walau aku tidak yakin apakah dia masih akan menerimamu setelah dipakai olehku. Semoga kau tidak dibuang begitu saja. Tidak seperti…”

Kyuhyun merasa tertampar oleh pikirannya sendiri. Tidak, aku tidak dibuang. Aku hanya berjalan keluar dari kehidupan mereka dan berusaha untuk tidak mencampuri lagi.

Kyuhyun menarik nafas lalu kembali berjalan masuk dan menutup rapat pintu balkon kamarnya.

*****

Jinho berusaha menghampiri Hyunsa, walaupun gadis itu selalu menjauhinya. Bahkan dengan sengaja Hyunsa tidak masuk kelas dan memilih untuk di lapangan bisbol selama jam pelajaran. Dia beralasan untuk berlatih mengganti waktu latihan yang tidak dijalaninya selama cidera. Walaupun ada beberapa guru yang merasa keberatan, tapi Hyunsa memberi alasan ia berlatih untuk pertandingan yang akan datang. Jadi, para guru itu membiarkannya untuk kali.

Hyunsa memang salah satu pemain andalan sekolah mereka, jadi cukup mudah untuk mendapatkan keistimewaan seperti itu. Tapi tidak mudah bagi Jinho karena ia kesulitan untuk mencari waktu yang tepat berbicara dengan Hyunsa. Ia tidak tahu kesalahan apa yang dilakukannya hingga Hyunsa selalu menjauhinya. Bahkan sahabat mereka yang lain juga sudah mulai bertanya-tanya.

Setelah dua hari diabaikan, Jinho tidak akan menyerah dengan mudah. Ia membolos pelajaran untuk menemui Hyunsa yang berlatih di lapangan dengan Pelatih Lee. Well, bagaimanapun juga Hyunsa masih cidera. Ia membutuhkan pengawasan agar tidak membuat cideranya semakin parah.

Jinho menghela nafas saat melihat Hyunsa berlatih dengan keras. “Hyunsa,” panggilnya.

Tapi Hyunsa tidak bergeming. Hyukjae melirik keduanya bergantian. Sebenarnya ia tidak ingin terlibat masalah baru, tapi ia juga tidak bisa membiarkan Jinho diabaikan oleh sahabatnya sendiri.

Hyukjae mematikan mesin pelempar bola. “Istirahat selama duapuluh menit, Hyunsa,” tuturnya. Ia menatap Jinho dengan lekat. “Dan bicaralah pada temanmu. Jangan mengabaikannya.”

Kemudian Hyukjae meninggalkan mereka berdua. Jinho sedikit membungkuk berterima-kasih pada pelatihnya tersebut. Lalu ia kembali menatap Hyunsa yang memandangnya dengan datar. Jinho menarik nafas lalu berjalan mendekati Hyunsa.

“Kenapa?” tanya Hyunsa singkat.

Sontak Jinho merasa gugup. Ini pertama-kalinya Jinho merasa gugup serta canggung untuk berbicara dengan Hyunsa. “Apa aku membuat kesalahan? Kenapa kau menghindariku?”

“Tidak,” jawab Hyunsa.

“Lalu kenapa? Kau mengabaikanku, menghindariku bahkan kau bersikap dingin padaku,” tutur Jinho.

Hyunsa menarik nafas dan melemparkan tongkat bat bisbolnya ke tanah. “Itu hanya anggapanmu saja, Jinho.”

“Ani, itu bukan anggapanku semata. Aku yakin terjadi sesuatu. Apa ini mengenai ayahmu dan kakakku?” tanya Jinho menuntut penjelasan dari Hyunsa. Jujur saja, Kyuhyun tidak akan mau bicara apapun bahkan jika Jinho memaksanya.

“Kenapa kau tidak bertanya pada kakakmu? Aku bahkan sudah tidak mengurusi masalah mereka lagi,” sahut Hyunsa yang beranjak pergi.

Tapi Jinho menahan lengannya dan menatap gadis itu dengan serius. Hyunsa memandang Jinho, kemudian menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Jinho.

“Kau tidak mengurusi masalah mereka lagi? Bukankah selama ini kau yang terlihat begitu sibuk mengurusi hubungan ayahmu dan kakakku? Lalu kenapa kau menjadi tidak tertarik lagi? Apa rencanamu sudah berhasil? Kau sudah berhasil memisahkan mereka? Choi Hyunsa, apa kau lupa kalau mereka saling membutuhkan?!” seru Jinho agak keras.

Hyunsa menatap Jinho dengan marah. “Memang kenapa kalau mereka berpisah? Apa hanya kakakmu satu-satunya di dunia ini hingga Daddyku tidak bisa melepaskannya? Apa hanya kakakmu yang paling berharga untuk Daddyku? Apa hanya kakakmu yang harus ada di kehidupan Daddyku? Choi Siwon adalah ayahku, kenapa hanya Cho Kyuhyun menjadi orang terpenting dalam kehidupannya ketimbang diriku yang adalah putrinya?!”

Jinho terdiam. Ucapan Hyunsa memang benar, tapi dilihat dari hubungan Siwon dan Kyuhyun selama ini, keduanya benar-benar saling membutuhkan. Walaupun begitu Hyunsa adalah putri Choi Siwon. Jinho menarik nafas perlahan. “Ma-maaf, bukan itu maksudku. Kau memang putrinya, kau berhak atas ayahmu. Tapi mereka…”

“Cho Jinho, jangan bicara lagi. Kau hanya akan membela kakakmu tanpa memikirkan posisiku. Lagipula ini masalah keluargaku. Kakakmu mungkin kekasih ayahku, tapi kau tidak mempunyai hak apapun untuk ikut campur saat ini,” ucap Hyunsa dengan tegas lalu ia meninggalkan Jinho di lapangan.

Jinho sendiri hanya memandangi punggung Hyunsa yang menjauh.

*****

Siwon bergegas keluar ruangannya setelah ia menyadari bahwa ia terlambat untuk menjemput Hyunsa. Hari ini ia akan menemani putrinya terapi, tapi perhatiannya teralihkan karena cukup banyak dokumen yang menumpuk.

Siwon memakai jasnya sembari menghampiri meja kerja Kyuhyun. “Kyuhyun, atur ulang meeting sore ini menjadi hari Senin. Dokumen yang diminta Donghae masih ada di meja-ku. Kau bisa mengambilnya dan menyerahkan padanya, bukan? Aku harus pergi sekarang, ne.”

Kyuhyun mengangguk mengerti. Siwon lalu bergegas pergi, sedangkan Kyuhyun beranjak memasuki ruangan Siwon untuk mengambil dokumen yang diminta Donghae. Tapi kemudian Siwon kembali dan mencium pipi Kyuhyun sekilas. Kyuhyun agak terkejut dengan perbuatan Siwon. Beruntung tidak ada pegawai lain yang melihat kejadian tersebut.

Kyuhyun berjalan menuju meja kerja Siwon dan mencari beberapa dokumen yang diminta Donghae. Setelah menemukan dokumennya, Kyuhyun beranjak untuk keluar dari ruangan itu tapi ia mendengar suara dering ponsel. Kyuhyun mengernyit dan berusaha mencari ponsel itu sebelum suara deringnya berhenti.

Kyuhyun menemukan ponsel Siwon diantara tumpukan dokumen. Kyuhyun menghela nafas pendek. Kemudian ia menerima panggilan telepon tersebut. “Maaf Nona, ponsel Sajangnim tertinggal di meja kerjanya,” ucap Kyuhyun.

“Apa Daddy sudah pergi?”

“Baru saja. Beliau terlihat tergesa-gesa,” tutur Kyuhyun.

Hyunsa menghela nafas pendek. “Baguslah. Apakah kau sibuk, Sekretaris Cho? Kalau tidak, tolong antarkan ponsel Daddy. Kami akan ke rumah sakit.”

Kyuhyun terdiam untuk beberapa saat. Ia menarik nafas lalu tersenyum tipis. “Baiklah. Aku akan mengantarkan ponsel Sajangnim.” Kemudian Kyuhyun memutuskan sambungan telepon tersebut.

“Cho Kyuhyun, apa yang baru saja kau katakan?! Bagaimana bisa kau pergi menemui mereka setelah….” Kyuhyun menghela nafas lalu memasukkan ponsel Siwon kedalam saku celananya.

Kemudian Kyuhyun membawa dokumen untuk Donghae keluar dari ruangan kerja Siwon.

*****

Ryeowook yang baru saja datang ke ruangan Donghae, agak mengernyit tak mengerti ketika Donghae terlihat cemas sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum tipis. “Kalian kenapa?” tanyanya sembari menaruh dokumen ke atas meja.

Donghae menoleh pada Ryeowook. “Kyuhyun akan ke rumah sakit,” ucapnya.

“Rumah sakit? Ah, terapi Hyunsa?” tukas Ryeowook dan dijawab anggukan kepala oleh Donghae. “Tapi kenapa kau harus datang, Kyuhyun?” tanya Ryeowook lagi.

“Mengantarkan ponsel Siwon,” jawab Donghae.

“Ponsel milik Sajangnim tertinggal di meja kerjanya dan kebetulan Hyunsa menelepon. Jadi, dia memintaku mengantarkan ponsel itu ke rumah sakit,” tukas Kyuhyun menjelaskan lebih lanjut ucapan Donghae.

Ryeowook meng-oh-kan. “Lalu kenapa kau terlihat cemas? Hanya mengantarkan ponsel,” sahut Ryeowook pada Donghae.

Donghae menghela nafas pendek. Tapi ia tidak menjawab apapun. Kyuhyun tersenyum dan menepuk bahu Donghae. “Aku pergi dulu, ne.” Kemudian Kyuhyun meninggalkan ruangan kerja Donghae dan bergegas ke rumah sakit.

Sedangkan Ryeowook masih menatap Donghae untuk penjelasan mengenai sikapnya yang agak berlebihan. Donghae duduk pada kursi kerjanya dan menyandarkan punggung. “Jika Kyuhyun dan Siwon akan putus dan itu karena Hyunsa, bukankah seharusnya Kyuhyun lebih menjaga jarak dengan Hyunsa.”

“Kenapa harus menjaga jarak? Kau bersikap berlebihan, Donghae,” ujar Ryeowook.

Donghae tertawa kecil. “Entahlah. Tapi Hyunsa sudah menentukan jawabannya dan Kyuhyun mungkin tidak harus datang sendiri kesana. Terlebih ini bersamaan dengan terapinya.”

Ryeowook menghela nafas. “Jangan berlebihan, Hae. Kerjakan saja pekerjaanmu, ne.” Kemudian Ryeowook meninggalkan Donghae sendirian dengan tumpukan pekerjaan yang diabaikannya.

*****

Hyukjae memperhatikan Jinho yang sedang berlatih. Agaknya ia penasaran dengan pembicaraan pemuda itu dengan Hyunsa tadi. Mungkin mereka sempat bertengkar karena Hyunsa meminta ijin padanya untuk ke rumah sakit dengan wajah marah. Tapi Hyukjae tidak mempunyai kepentingan mengetahui permasalahan kedua sahabat itu.

Kini Hyukjae terfokus pada team wanita yang sedang melakukan evaluasi terakhir sebelum pertandingan awal yang dilaksanakan minggu depan. Selain itu Hyukjae masih harus mempertimbangkan posisi Hyunsa. Cidera gadis itu perlahan mulai membaik dan Hyunsa juga sudah berlatih seperti biasanya. Tapi pihak team pelatih belum mendapatkan surat rekomendasi dari dokter mengenai kesehatan Hyunsa. Jadi, Hyukjae akan menahan posisi Hyunsa di bangku cadangan.

Ketika semua orang sedang fokus latihan, tiba-tiba terdengar suara teriakan disusul dengan suara kesakitan. Sontak Hyukjae menoleh dan melihat Jinho sedang merintih kesakitan sembari memegang kepalanya. Sepertinya ia terkena pukulan bola. Hyukjae menyuruh team wanita untuk meneruskan latihan sementara ia menghampiri Jinho.

Pelatih Kang sedang memeriksa kondisi Jinho saat Hyukjae datang. “Tidak parah. Tapi sebaiknya kau ke ruang kesehatan dan beristirahat sebentar. Jika kepalamu masih terasa sakit, mungkin kau harus ke rumah sakit untuk memastikan.”

“Biar kuantar dia ke ruang kesehatan. Anda lanjutkan latihannya, Pelatih Kang,” ucap Hyukjae bahkan sebelum Pelatih Kang menyuruh seseorang untuk mengantarkan Jinho ke ruang kesehatan.

Hyukjae lalu membantu Jinho berdiri dan membawanya ke ruang kesehatan sementara Pelatih Kang kembali memimpin latihan evaluasi.

*****

Hyukjae meletakkan kompres es di kepala Jinho dengan hati-hati. Jinho agak meringis dan merasa dingin, tapi kemudian ia menjadi terbiasa. Hyukjae lalu menarik sebuah kursi dan duduk. Ia memperhatikan Jinho dengan lekat. “Kau baik-baik saja? Tidak merasa pusing atau lainnya?”

Jinho menggeleng. Hyukjae menghela nafas. “Itu bagus. Tapi jika kau cemas, sebaiknya pergi ke rumah sakit. Sebentar lagi kita sudah memasuki pertandingan dan kau salah satu pemain andalan. Jadi, kau harus berhati-hati,” ucap Hyukjae.

“Ne, pelatih Lee.”

Hyukjae lalu memperhatikan ruang kesehatan tersebut. Suasanya menjadi canggung karena Hyukjae tidak terbiasa melatih team laki-laki. Selain itu, Jinho juga sahabat Hyunsa. Hyukjae kembali memperhatikan Jinho dengan serius.

“Kalian bertengkar, ya?”

Jinho menatap Hyukjae tapi kembali menunduk. Hyukjae menjadi tahu jawabannya. “Well, aku tidak mau ikut campur tapi apa masalahnya? Bukankah kalian bersahabat? Jika kalian sampai bertengkar seperti itu, artinya ada masalah besar, bukan?”

“Aku hanya ingin kalian fokus dengan pertandingan karena ini adalah tahun terakhir kalian bermain. Selain itu, beasiswa yang ditawarkan pada kalian bergantung pada hasil turnamen ini. Jika kalian menginginkannya, maka fokuslah. Selesaikan masalah kalian di luar lapangan,” lanjut Hyukjae.

“Ne, pelatih Lee,” ucap Jinho.

Hyukjae masih memperhatikan Jinho, tapi pemuda itu tidak akan bicara. Jadi, Hyukjae berdiri dan beranjak meninggalkan ruang kesehatan tersebut. Jinho menarik nafas panjang.

“Pelatih Lee –ani Lee Hyukjae-sshi, bagaimana keadaan adik anda?” tanya Jinho.

Hyukjae sontak berbalik dan ia menemukan Jinho sudah memandang padanya. Hyukjae mendesah dan kembali duduk di kursi tadi. “Kenapa kau bertanya?”

“Hanya penasaran. Hyunsa tidak mengatakan apapun lagi mengenai adik anda,” tutur Jinho pelan.

Hyukjae menjadi berpikir kenapa Hyunsa harus memberitahu Jinho mengenai adiknya. Bahkan jika yang dimaksud Jinho adalah permasalahan Dahyun yang terus mengganggu kehidupan Choi Siwon, kenapa Jinho harus mengetahui kelanjutannya? Hyukjae menarik nafas lagi.

“Hyunsa menceritakannya padamu ternyata. Kupikir dia cukup tertutup mengenai permasalahan yang terjadi di keluarganya,” tukas Hyukjae.

Jinho menatap Hyukjae dengan lekat. “Anda tidak menjawab pertanyaanku, Lee-sshi. Selain itu, permasalahan itu ada kaitannya dengan keluargaku juga,” tutur Jinho. Well, pada titik ini Jinho tidak akan peduli lagi jika harus memberitahu semua orang lain kalau Cho Kyuhyun –kakak lelakinya– adalah kekasih dari Choi Siwon.

“Berkaitan dengan keluargamu? Apa kau dan Hyunsa memiliki hubungan persaudaraan?” tanya Hyukjae.

Jinho agak menunduk dan mendecih. Lalu ia mengangkat kepalanya lagi dan tersenyum. “Bagaimana bisa keluarga Cho mempunyai hubungan dengan keluarga Choi? Apa anda tidak melihat silsilah keluarga Choi, Lee-sshi?”

“Kau membuatku bingung, Jinho. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku?”

Jinho mendesah pelan. “Hubungan keluargaku dengan keluarga Choi adalah kakakku, Cho Kyuhyun adalah kekasih dari Choi Siwon, ayah Hyunsa.”

Akhirnya, Jinho mengatakannya. Hyukjae terlihat tidak bereskspresi, mungkin ia terlalu terkejut. Jinho belum memutus kontak matanya dengan Hyukjae dan seakan terus memberi keyakinan bahwa yang dikatakannya adalah kebenaran. Hyukjae lalu mengalihkan pandangannya dan menarik nafas.

“Aku tahu kalau Choi Siwon sudah mempunyai kekasih dan seorang homoseksual, tapi mendengar kakakmu adalah kekasihnya membuatku…” Hyukjae tidak bisa meneruskan ucapannya.

“Lalu kukatakan yang lebih menarik lagi. Cho Kyuhyun adalah sekretaris Choi Siwon selama lebih dari dua tahun. Dan hubungan mereka yang sudah berjalan dua tahun akan segera berakhir karena Hyunsa tidak menyetujuinya –pada akhirnya,” tukas Jinho lagi.

Hyukjae kembali menatap Jinho. Kali ini dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan reaksinya. “Berakhir? Kupikir Hyunsa mengatakan ayahnya adalah homoseksual dan sudah mempunyai kekasih untuk membuat adikku menyerah mendekati Siwon. Dan Hyunsa sendiri mengatakan bahwa mereka akan menikah,” seru Hyukjae.

“Well, sepertinya itu memang rencananya. Ia mengatakan pada adik anda untuk berhenti menganggu ayahnya karena kakakku. Tapi pada akhirnya, jawaban Hyunsa pada hubungan mereka adalah tidak. Jadi, mereka tidak akan menikah dan adik anda tidak akan menganggu lagi. Hyunsa menang sendirian,” tutur Jinho.

Hyukjae tahu kalau Hyunsa mempunyai masalah karena gadis itu yang mengatakan sendiri bahwa dirinya memiliki masalah psikis. Tapi jika mendengar pengakuan Jinho mengenai rencana Hyunsa, Hyukjae tidak bisa mempercayai bahwa gadis berusia delapanbelas tahun bisa melakukannya sendiri. Oh, dia tidak sendiri. Mungkin ada orang-orang yang membantunya, salah satunya Jinho.

“Jadi, kalian bertengkar karena kakakmu dan ayah Hyunsa akan berpisah?” ucap Hyukjae pelan.

“Mungkin. Aku sendiri tidak tahu karena sejak hari Senin, Hyunsa sudah mulai berubah. Sikapnya menjadi tertutup dan tidak memberikan reaksi apapun. Tapi saat aku bertanya mengenai hubungan kakakku dan ayahnya, ia menjadi marah. Aku hanya meminta penjelasan. Tapi yah, kami memang bertengkar karena hal itu. Padahal minggu sebelumnya, dia terlihat baik-baik saja,” jelas Jinho.

“Perubahan sikapnya mungkin ada kaitannya dengan bipolar yang dia derita. Mungkin terjadi sesuatu yang merubah sikapnya dengan drastis seperti itu,” tukas Hyukjae.

Jinho menjadi mengerutkan dahi. “Bipolar?”

“Hyunsa pernah mengatakan bahwa dia adalah penderita bipolar. Awalnya dia mengatakan perkiraan, tapi saat di kantin kemarin sepertinya ia sedang menjalani terapi, jadi apa yang dikatakannya mungkin benar. Dan kupikir kau tahu mengenai hal ini,” ujar Hyukjae.

Jinho hanya menggeleng. “Dia tidak mengatakan apapun. Bahkan saat di kantin, kupikir itu hanya luapan emosinya saja.”

Hyukjae kemudian berdiri dan menepuk bahu Jinho. “Bicara lagi dengannya secara baik-baik. Kalian sudah berteman lama, jadi jangan menyerah karena sikapnya. Hyunsa sebenarnya sama seperti gadis lainnya, hanya saja dia lebih rapuh dari apa yang terlihat.”

*****

Kyuhyun sedikit ragu memasuki ruangan yang ditunjukkan salah satu suster ketika ia menanyakan dimana ruang terapi Hyunsa. Padahal selama perjalanan Kyuhyun selalu berbicara sendiri kalau dia hanya akan menemui Siwon atau Hyunsa, memberikan ponselnya dan langsung pergi. Tidak ada obrolan lebih atau hal lainnya. Namun, itu tidak semudah dengan pemikirannya.

Kyuhyun menarik nafas dan membuka pintu ruangan tersebut. Ia agak terkejut ketika hanya ada Jungsoo, Siwon dan Heechul di ruangan itu. Jungsoo tersenyum dan menyuruhnya untuk masuk. Barulah ia menyadari kalau Hyunsa berada di ruangan sebelah sedangkan ruangan itu hanya sebagai ruang observasi.

“Kau datang?” ucap Jungsoo.

Kyuhyun mengangguk dan sedikit melirik pada Siwon yang hanya terfokus pada Hyunsa –oh, Siwon bahkan tidak menyadari kedatangan Kyuhyun. “Aku hanya ingin mengantarkan ini,” ucapnya sembari mengeluarkan ponsel Siwon.

“Siwon-ah, Kyuhyun datang mengantarkan ponselmu,” tukas Heechul.

Sontak Siwon menoleh dan membulatkan matanya. Detik berikutnya ia meraba kantung celana atau jas-nya. “Ah, sepertinya aku memang melupakan ponselnya,” Siwon mengambilnya dari Kyuhyun dan langsung memasukkan kedalam saku dalam jas hitamnya. “Terima kasih, Kyuhyun.”

Kyuhyun tersenyum tipis. “Kalau begitu, aku akan…”

“Oh, mereka masuk pertanyaan yang menarik,” seru Heechul yang sedang duduk di sofa sembari memperhatikan jendela besar. Sepertinya jendela tersebut hanya satu arah.

Siwon kembali terfokus pada putrinya. Jungsoo lalu memberi isyarat agar Kyuhyun duduk dan melihat sesi terapi Hyunsa. Well, dengan sedikit berat hati Kyuhyun duduk pada sofa tunggal.

“Oke, aku mulai mengerti sekarang. Tapi ceritakan mengenai kekasih ayahmu. Kau bilang tidak menyukainya. Kenapa?”

Tubuh Kyuhyun sedikit menegang mendengar pertanyaan tersebut. Ia ingin sekali keluar dari ruangan itu, seperti rencananya sebelumnya. Tapi rasanya sulit karena Heechul mungkin akan terus memaksanya –secara tidak terang-terangan– untuk tetap di ruangan tersebut.

“Kekasih Daddy? Oh, anda mendengarnya dari Paman Heechul bukan? Mengenai Daddy yang seorang homoseksual.”

Siwon sedikit melirik pada Heechul, tapi sahabatnya itu hanya menyeringai tanpa rasa bersalah. Kyuhyun memilih untuk menunduk dan berusaha untuk tidak mendengarkan percakapan terapi Hyunsa dan dokternya.

“Ya, kami hanya berbincang. Aku hanya tahu beberapa hal, tapi tidak banyak. Sebenarnya bagaimana menurutmu, kekasih ayahmu itu.”

“Dia cukup tampan, cukup pintar, cukup baik, cukup menyebalkan juga.”

“Hanya ‘cukup’?”

“Well, ‘sangat’ untuk beberapa aspek. Tapi itu tidak penting. Maksudku bagaimana penilaianku tidak cukup penting. Anda harus mengenalnya sendiri, karena penilaian setiap orang sangatlah subjektif.”

“Ya, aku sependapat denganmu. Tapi jika dia memenuhi kriteria ‘cukup’ menurutmu, kenapa kau tidak menyukainya?”

“Aku menyukainya. Hanya sebatas kakak temanku, sekretaris ayahku dan seorang pria. Bukannya sebagai kekasih ayahku. Itu saja.”

“Apa kau tidak menyukai ayahmu menjadi homoseksual? Maksudku, apakah kau lebih memilih ayahmu berhubungan dengan wanita dan bukan pria.”

“Jujur saja, aku tidak menyukai Daddy dekat dengan siapapun. Baik pria ataupun wanita. Daddy sudah banyak menderita karena Eomma. Selama lima tahun setelah Eomma meninggal, hanya ada kami berdua di rumah. Daddy mengurus keperluan rumah, mengurus keperluanku untuk sekolah. Daddy juga harus mengurus perusahaan. Selama bulan-bulan awal kematian Eomma, rumah kami bagaikan kapal karam. Berantakan, tidak teratur. Well, sebut saja hancur.”

“Waktu itu aku berusia tigabelas tahun. Jadi, aku tidak bisa membantu apapun. Sampai setahun kemudian, aku yang memulai duluan untuk memperbaiki keadaan di rumah. Daddy terlalu sibuk dengan perusahaan. Aku meminta Paman Jungsoo untuk membuang foto Eomma dan barang-barang lainnya. Bahkan membeli beberapa perabot baru. Aku bahkan menarik Daddy ke studio foto untuk membuat foto keluarga baru. Hanya aku dan Daddy.”

Hyunsa menarik nafas. “Setelah itu kehidupan kami mulai seperti biasanya. Daddy sudah kembali tersenyum walaupun masih sibuk dengan pekerjaan. Aku juga. Walaupun sebenarnya, aku selalu merasa iri dengan semua teman-temanku yang membanggakan ibu mereka. Dulu, aku juga melakukannya tapi setelah itu aku malah membanggakan Daddy dihadapan mereka. Hasilnya cukup baik, mereka selalu mengatakan bahwa Daddyku adalah ayah terbaik. Itu sedikit mengobatiku.”

“Tapi tidak menyembuhkan lukamu?”

Hyunsa tersenyum lirih. “Aku melihat Eomma berpelukan dengan pria lain selain Daddy. Bahkan Eomma meninggal bersama pria itu. Eomma yang selalu kubanggakan dihadapan teman-temanku, tapi malah melukaiku. Luka itu tidak akan bisa sembuh, dokter Song. Kurasa.”

“Jadi, kau memutuskan lebih baik ayahmu tidak memiliki hubungan baru? Dengan siapapun?”

“Salah satu alasannya. Mungkin aku menjadi egois, tapi aku hanya ingin Daddy tidak tersakiti lagi. Hanya saja…” ucapan Hyunsa terhenti. Ia menjadi tertunduk. Bahu Hyunsa terlihat bergetar, menandakan bahwa gadis itu tengah menangis.

Dokter Song bangkit untuk mengambil kotak tisu dan menyodorkannya pada Hyunsa. Gadis itu mengambil satu helai dan mengelap airmata yang keluar. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan menunjukkan bahwa Hyunsa memang sedang menangis. Pemandangan itu sangat menyakitkan bagi Siwon. Bahkan Jungsoo pun memilih untuk mengalihkan perhatiannya.

Hyunsa sedikit terisak, tapi ia kembali melanjutkan penuturannya. “Hanya saja, aku yang sekarang menyakiti Daddy.”

“Karena kau tidak menyetujui hubungan ayahmu dan kekasihnya?”

“A-aku tidak menyukainya sebagai kekasih Daddy, tapi aku menyukainya sebagai seorang pria. Hanya saja, aku tahu itu tidak mungkin. Mereka sudah berhubungan selama dua tahun dan rasanya sangat konyol jika aku harus bersaing dengan Daddy hanya karena pria itu. Aku ingin Daddy bahagia tetapi aku juga ingin bahagia,” ucap Hyunsa masih terisak. Airmatanya masih terus mengalir membasahi pipinya, bahkan wajahnya mulai memerah.

Hyunsa kembali tertunduk dan menangis lebih keras. Ini adalah titik hancur dari Choi Hyunsa. Gadis itu mengeluarkan semua luapan emosi yang ditahannya selama lima tahun seorang diri. Dokter Song memperhatikan Hyunsa dengan lekat. Ia sudah sering mendapatkan kasus yang hampir serupa tapi kasus Hyunsa jelas kasus yang berbeda.

Dokter Song lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan untuk Heechul. Di seberang ruangan, Heechul menerima pesan dokter Song. Ia menghela nafas panjang. “Siwon-ah, temui putrimu,” ucapnya.

Sontak Siwon langsung keluar dari ruangan itu dan menemui Hyunsa. Jungsoo, Heechul dan Kyuhyun memperhatikan bagaimana Siwon langsung memeluk putrinya dengan erat. Dokter Song memilih keluar dan membiarkan ayah-anak itu mengeluarkan emosi mereka masing-masing.

Kyuhyun melihat dengan jelas bagaimana Hyunsa yang hancur berada dalam pelukan Siwon dan berulang-kali mengucapkan kata “maaf”. Saat itulah ia menyadari bahwa hubungan keduanya sudah berakhir. Keberadaan Kyuhyun hanya menambah luka bagi Hyunsa, walaupun ia sendiri tidak ingin melakukannya.

Dokter Song memasuki ruangan itu. Ia melihat Kyuhyun yang tidak melepaskan pandangannya dari Siwon dan Hyunsa. Dokter Song menatap Heechul dan rekan kerjanya itu hanya mengangguk –seakan membenarkan bahwa sosok itu adalah Kyuhyun, kekasih Siwon.

Dokter Song menghela nafas panjang. “Aku akan menjadwalkan terapi berikutnya dua atau tiga minggu kemudian. Kurasa mereka sendiri yang harus bicara mengenai masalah ini.”

*****

Kyuhyun membuka matanya perlahan dan menghela nafas. Seharusnya ia tidak menuruti Jungsoo untuk tetap berada di ruangan tadi. Seharusnya ia menitipkan ponsel itu di meja resepsionis suster lobby utama rumah sakit. Seharusnya ia tidak mengangkat telepon dari Hyunsa. Kyuhyun mengusap wajahnya dan bersiap untuk meninggalkan area parkir rumah sakit, ketika Siwon datang dan mengetuk jendela mobilnya. Kyuhyun menarik nafas dan memanjat keluar.

Kyuhyun menatap Siwon dengan lekat. Sangat terlihat kalau Siwon juga menangis pada sesi terapi. Kyuhyun menghela nafas pendek dan berusaha untuk sedikit tersenyum. “Kapan kita akan berpisah, hyung?”

“Jangan membicarakan hal itu disini, Kyuhyun. Malam ini temui aku di Chaesan pukul tujuh,” tutur Siwon.

Kyuhyun hanya mengangguk. Siwon tidak tersenyum padanya. Ia hanya memberikan sebuah kecupan diujung bibir Kyuhyun sebelum akhirnya pergi. Kyuhyun memperhatikan hingga mobil yang dikendarai Siwon melaju pergi.

Inilah akhirnya bukan, hyung?

*****

Kyuhyun memasuki restauran Chaesan yang entah kenapa sangat sepi. Restauran Chaesan termasuk salah satu restauran yang cukup terkenal dan ramai di datangi pengunjung. Jadi melihat kondisi restauran yang sepi, Kyuhyun bisa memprediksi bahwa Siwon ingin pembicaraan mereka menjadi privat.

Seorang waiter mengantarkannya ke meja yang sudah disediakan. Kyuhyun menjadi gugup, tangannya juga berkeringat dingin jadi ia memasukkannya ke saku jaketnya. Kyuhyun menarik nafas dan menghembuskannya perlahan secara berulang. Tapi rasanya sia-sia ketika ia melihat Siwon duduk agak tertunduk pada salah satu meja dekat jendela.

Ketika menyadari kedatangan Kyuhyun, Siwon mengangkat kepalanya dan tersenyum. Mau tak mau Kyuhyun ikut tersenyum. Kemudian ia duduk dihadapan Siwon dengan canggung. Siwon langsung memberi isyarat pada pelayan itu untuk menyiapkan apa yang telah diperintahkan sebelumnya.

Kyuhyun tertawa kecil untuk menghilangkan kecanggungannya. “Ada apa? Apa hyung menyewa seluruh restauran? Kupikir kita hanya akan makan malam biasa dan mengobrol.”

Siwon tersenyum. “Aku hanya ingin bebas bersamamu.”

Tak lama pelayan tadi datang dengan pesanan Siwon. Dengan cepat meja sudah terisi oleh makanan dan juga wine. Kyuhyun tersenyum melihatnya. Siwon mungkin jarang mengajaknya makan malam romantis, tapi bahkan hanya makan bersama Siwon saja sudah membuatnya senang.

“Wine? Apa kau membawa supir, Sajangnim?” goda Kyuhyun.

“Aku mempunyai banyak supir yang siap untuk menjemputku, Kyuhyun. Dan jangan menggodaku dengan Sajangnim untuk malam ini, oke?” tukas Siwon. Kyuhyun hanya mengangguk patuh karena Siwon tidak tertawa.

Lalu mereka makan malam dengan sunyi. Cukup beruntung restauran itu menghadirkan musik jazz yang bisa mengurangi kecanggungan diantara mereka. Sesekali mereka bertukar pandang dan tersenyum. Tidak ada yang obrolan serius. Hanya percakapan kecil mengenai makanannya, wine dan musik. Tidak lebih.

Kyuhyun bahkan merasa waktu berjalan sangat lambat diantara kesunyian itu. Setelah makan malam selesai, pelayan memberikan dessert untuk mereka. Kyuhyun menatap puding dengan ice-cream yang tersaji dihadapannya. Perutnya sudah penuh hingga ia tidak berminat untuk menghabiskannya.

Siwon menyesap wine sembari memperhatikannya. Ia tahu hanya mengulur waktu, tapi pada akhirnya Siwon harus mengatakan apa yang harus dikatakan. “Kau tidak menyukai dessert-nya?”

“Ani. Aku hanya sudah kenyang. Tidak cukup muat untuk dessert-nya,” tukas Kyuhyun.

“Jika kau sudah selesai, ayo pergi,” tutur Siwon sembari bangkit dan mengulurkan tangannya pada Kyuhyun.

Kyuhyun terkejut karena ia tidak menyangka kalau Siwon hanya mengajaknya makan malam tanpa bicara. Tapi ia menyambut uluran tangan Siwon. Kemudian yang Kyuhyun tahu mereka sudah menuju mobil Siwon. Well, Siwon memintanya untuk datang dengan taksi. Jadi, Kyuhyun cukup beruntung untuk tidak keras kepala dengan datang membawa mobilnya.

Kyuhyun sesekali memandang Siwon yang menyetir dan tidak terlalu memperhatikan kemana tujuan mereka selanjutnya. Kemudian tangan Siwon tiba-tiba menggenggam tangannya dengan erat. Siwon menoleh dan tersenyum. Kyuhyun membalasnya dengan senyuman kecil.

Tanpa disadari, mereka sudah sampai. Kyuhyun memperhatikan sekitarnya dan menyadari kalau Siwon mengantarnya pulang. Kyuhyun sangat terkejut karena ia belum memberitahu Siwon mengenai alamat rumah barunya.  Tapi Siwon bisa mengetahuinya –mungkin dengan cara tertentu.

Kyuhyun menatap Siwon. “Hyung bertanya pada siapa? Jinho?”

“Begitulah. Walaupun awalnya dia bingung kenapa aku meminta alamat rumah baru kalian,” tutur Siwon.

Kyuhyun menghela nafas. “Maaf, belum sempat memberitahumu, hyung.”

“Tidak apa-apa, Kyuhyun.”

Dan suasananya kembali sunyi dan canggung. Oh, Kyuhyun tidak tahan dengan situasi seperti itu. Jadi, ia melepaskan seatbelt dan bersiap untuk memanjat keluar. “Terima kasih makan malamnya dan juga mengantarkanku pulang. Sela…”

“Kyuhyun-ah,” sela Siwon. Kyuhyun menjadi bungkam dan menatap Siwon dengan serius. Sepertinya inilah waktu yang dinantikan olehnya. Siwon memandang Kyuhyun dan tersenyum. Ia kemudian menyentuh pipi Kyuhyun dan mengusapnya lembut. “Semoga hidupmu menjadi lebih baik di masa depan. Maaf atas apa yang tidak bisa kulakukan untukmu. Maaf atas apa yang telah kulakukan untukmu. Dan maaf karena tidak bersamamu hingga akhir,” tutur Siwon pelan.

Kyuhyun tidak bereaksi. Ia hanya menatap Siwon dengan lekat, tanpa berkedip.

“Kyuhyun-ah,” panggil Siwon.

Saat itu Kyuhyun tersadar. Siwon telah mengucapkan kalimat perpisahan padanya. Kalimat yang cukup singkat setelah perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Kyuhyun lalu menjauhkan tangan Siwon dari wajahnya. Ia kemudian tersenyum. “Jangan mengucapkan maaf, hyung. Kau tidak sedang membuat kesalahan atau mengakui kesalahan, bukan? Tapi aku mengucapkan terima kasih selama dua tahun ini. Dan semoga kau berbahagia.”

Kyuhyun lalu melepaskan cincin pemberian Hyunsa. “Hyunsa memang tidak pernah memintanya kembali, tapi aku harus mengembalikannya. Ini adalah milik ibu Hyunsa, jadi aku tidak pantas untuk menyimpannya. Tolong kembalikan pada putrimu, hyung.” Kyuhyun mengembalikan cincin itu pada Siwon.

Setelah itu, Kyuhyun memanjat keluar mobil Siwon dan berjalan menuju rumahnya. Melihat mantan kekasihnya tidak berbalik, tubuh Siwon bereaksi berlawanan dengan apa yang dikatakan oleh otaknya. Siwon keluar mobil dan mengejar Kyuhyun. Siwon menahan lengan Kyuhyun dan membalikkan tubuh mantan kekasihnya. Ya, mulai malam ini mereka sudah resmi menjadi mantan kekasih. Tapi belum sempat Siwon mengatakan apapun, Kyuhyun mendorong tubuh Siwon menjauhinya. Sebenarnya Kyuhyun melakukannya sebagai gerak reflek, tapi ia tidak bisa menahannya. Siwon menatapnya dengan lekat. Ia bisa memahami situasi Kyuhyun saat ini.

Siwon memandang Kyuhyun dengan lekat. “Maafkan aku. Aku mencintaimu, Kyuhyun,” bisiknya.

Kyuhyun memejamkan matanya kemudian ia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Lalu Kyuhyun membuka matanya dan menggeleng. “Kumohon, jangan mengatakannya lagi, hyung.”

Ya, Siwon tahu bahwa ia kini menjadi tidak berhak untuk mengatakan kalimat itu lagi walaupun pada ujung lidahnya kata-kata itu masih terasa begitu manis. Tapi kata-kata itu juga terasa pahit bagi putrinya dan Kyuhyun. Siwon tidak bisa menjadi egois, walaupun ia mempunyai hak untuk melakukannya.

Siwon menarik nafas panjang. “Maaf, hanya itu yang bisa kukatakan berulang-ulang padamu. Bahkan sepertinya kata maaf dariku pun hanya akan melukaimu,” ucapnya.

“Jika kau sudah mengetahuinya, seharusnya kau tidak mengatakannya lagi, hyung. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan malam ini. Jika malam ini adalah hari perpisahan kita, kalau begitu selamat. Kita sudah resmi putus. Kau menyewa satu restaurant, memesan makanan dan wine mahal. Kupikir kita akan membicarakan mengenai hubungan kita disana, tapi kau membawaku pulang dan mengucapkan kata perpisahan dan maaf. Well, jika kita memang harus berpisah bukan ini yang aku harapkan, Choi Siwon. Sekarang pulanglah, aku tidak mau berdebat dengan atasanku,” tutur Kyuhyun panjang.

Kyuhyun langsung berbalik dan beranjak meninggalkan Siwon, tetapi mantan kekasihnya itu memeluknya dari belakang. Kyuhyun berusaha untuk melepaskan diri, tapi Siwon tetap bersikukuh. “Kyuhyun-ah, aku juga tidak ingin melakukannya seperti ini. Tetapi aku tidak bisa memikirkan cara bagaimana kita harus berpisah. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuatku merasa sakit. Di dunia ini tidak ada perpisahan yang menyenangkan, Kyuhyun. Bahkan jika aku meninggalkan kenangan yang indah untukmu, tetap saja kenangan itu hanya akan menjadi menyakitkan untuk diingat. Jadi, aku…”

“Jangan bicara lagi, Choi Siwon!” Kyuhyun lalu melepaskan diri dari pelukan Siwon. Ia kembali menatap Siwon dengan tatapan marah. “Pulanglah, putrimu sudah menunggumu. Apa aku perlu berlutut memohon padamu, eoh? Itu yang kau mau, Choi Siwon?”

Siwon memang bisa memahami sikap Kyuhyun, tapi ia tetap saja merasa terkejut dengan perubahan sikap Kyuhyun saat ini. Siwon memandang Kyuhyun dengan lekat untuk terakhir kalinya, sebelum ia kembali ke mobilnya dan melaju pergi dari areal rumah Kyuhyun tanpa mengatakan apapun. Kyuhyun sendiri masih berdiri dan memandangi mobil Siwon yang sudah menghilang dari pandangannya. Kyuhyun mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sudah sangat lelah dan ingin sekali berhenti. Kyuhyun menarik nafas panjang sekali lagi.

“Pada akhirnya aku harus pergi jauh darimu, Choi Siwon.”

*****

Siwon membuka pintu kamar putrinya dengan perlahan. Ia melihat Hyunsa sedang duduk di meja belajarnya. Dihadapannya ada beberapa buku tetapi Hyunsa tidak mengerjakan apapun. Ia hanya diam memperhatikan buku-buku  itu. Siwon menghela nafas dan menghampirinya.

Hyunsa mendongak ketika ia menyadari keberadaan Siwon. “Sudah pulang?”

Siwon hanya menggumam dan tersenyum tipis. Lalu ia merogoh saku celananya dan menaruh cincin yang diberikan Kyuhyun diatas meja. Hyunsa menatap cincin itu dengan lekat dan kembali menatap Siwon. Perlahan tangan Siwon terangkat dan mengusap kepala putrinya dengan lembut.

“Tidurlah. Kau bilang besok ada latihan, bukan? Ohya, Daddy akan tetap pergi ke pertandingan pertamamu. Daddy sudah janji, bukan?” ucap Siwon.

Hyunsa mengangguk kecil. “Terima kasih.”

“Untuk apa berterima-kasih? Aku mungkin bukan ayah yang baik karena hampir tidak pernah menepati janji yang sering kuucapkan. Tapi mulai sekarang, aku akan berusaha menepatinya,” tutur Siwon.

Hyunsa masih memperhatikan Siwon. Ya, Siwon memang cukup sering mengucap kata “janji” walaupun hampir sebagian besar “janji” itu tidak pernah terealisasi. Hyunsa menarik nafas pelan. “Kalau begitu berjanji satu hal lagi padaku. Daddy harus bahagia. Aku mau melihat Daddy bahagia. Bukan hanya tersenyum padaku dan terlihat baik-baik saja. Walaupun aku tahu membutuhkan waktu yang lama, tapi aku akan bersama Daddy hingga Daddy bahagia.”

Siwon tersenyum dan mengecup kepala Hyunsa lembut. “Daddy berjanji, sayang.”

*****

NOTE: Emosinya kurang banget kayaknya. Maaf ya, ini dibikin barengan sama ujian jadi yaaa begini adanya. Dan sekarang libur kuliah malah bingung mau nulis apa…

Advertisements

55 thoughts on “[SF] Only One Part 22

  1. Hyansa-shi gimana daddy mu bisa bahagia kalo salah satu kebahagiaannya adalah Kyu, hum??
    Baru sadar kalo kamu curang, bener kata Jinho kamu menang sendirian egois.
    Kalo alasannya karena ga mau daddy mu tersakiti lagi, heyy Kyu bukan Lee Nahyun dan Lee Nahyun bukan Kyu. Mereka ga sama dan jadi berenti pake alasan itu.! Kyu akan bikin daddy mu bahagia. Coba pkirkan baik baik.!

  2. Part ini bener2 menguras air mata
    Pada akhirnya wonkyu memang harus berpisah
    Halangan yg mereka hadapi tidaklah mudah
    Siwon udah pasti akan memilih anaknya daripada kekasihnya..
    Klo menurut hyunsa dengan ini daddy bisa bahagia dia salah, dia malah menghancurkan daddy nya secara perlahan

  3. Entahlah,,,spa dsini yg egois,,hyunsa???siwon???atau bahkan kyu sendri jg egois krna dy tau hyunsa mnyukainya pi ttp mnjalin hbngn dgn siwon!! Dn klo sakit q pkikr smuanya jg sakit hanya saja kyu psti lbh sakit…krna dy harus brjuang sndirian smentara ayah dn ank bs sling membantu…..
    Part ne sungguh mnguras emosi!!

  4. Cukup sakit berakhirnya hubungan wonkyu..membaca part ini seolah2 berada di dlm situasinya..menyesakkan dada..mmg benar keegoaan itu akan menyakitkan hati lain..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s