[SF] Only One Part 20

Only One by Sucii Cho

[Part 20]

Siwon melirik kearah Kyuhyun yang berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat. Lalu Siwon kembali terfokus pada Abeoji yang berdiri dihadapannya. Siwon pikir, ayahnya akan sudah kembali ke Taipei, tapi ternyata hari Senin ini, beliau kembali datang ke kantor. Dan Siwon tidak mempunyai alasan untuk tidak menemui ayahnya.

Choi Songjoo ingin berbicara serius dengan Siwon. Hanya saja, ayahnya juga meminta Kyuhyun untuk ikut masuk kedalam ruangan. Terang saja, Siwon merasa panik. Untuk apa ayahnya meminta Kyuhyun mendengar percakapan mereka? Kecuali…

Siwon bahkan tidak ingin memikirkan hal itu.

“Apa lagi yang Abeoji ingin bicarakan denganku? Lalu kenapa Sekretaris Cho juga harus mendengarnya?” tanya Siwon dengan tenang.

Choi Songjoo menarik nafas perlahan. “Aku sudah membatalkan perjodohan itu. Dan Dahyun juga tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi, Siwon.”

“Lalu?”

“Abeoji tidak memaksamu untuk memberitahu siapa kekasihmu saat ini. Walaupun sebenarnya Dahyun memberikan sebuah asumsi mengenai siapa kekasihmu, tetapi Abeoji akan menunggu pengakuan darimu, Siwon,” ucapan dari sang ayah malah membuat Siwon terdiam.

Ia kembali melirik Kyuhyun yang kini hanya menunduk. Apakah Dahyun sudah mengetahui mengenai hubungannya dengan Kyuhyun? Tapi bagaimana bisa gadis itu mengetahuinya? Tidak ada satu pun dari mereka yang mengaku, bahkan Hyunsa juga tidak bodoh dengan mengatakan kekasih ayahnya sendiri. Tapi sekali lagi, itu masih sebatas asumsi bukan? Bahkan Aboeji juga mengatakan itu sebuah asumsi. Jadi, Siwon akan berusaha berpikir positif.

“Asumsi mengenai kekasihku? Aku bahkan tidak mengatakan apapun padanya. Tapi aku penasaran, apa dia mengatakan namanya pada Abeoji?” tanya Siwon.

Choi Songjoo kembali menarik nafas. Beliau berjalan kearah sofa dan duduk disana. Terpaksa Siwon juga mengikutinya dan duduk dihadapan ayahnya. Tetapi Kyuhyun masih tetap berdiri didekat pintu.

“Sekretaris Cho, apakah kau akan terus berdiri disana? Kemari dan duduklah,” ucap Choi Songjoo yang membuat Kyuhyun terkejut.

Kyuhyun menatap Siwon beberapa lama lalu berjalan ke sofa dan memilih untuk berdiri saja. Choi Songjoo menatap Kyuhyun dengan lekat. “Apa aku harus mengulang ucapanku, Sekretaris Cho? Kubilang untuk duduk dan bukan berdiri.”

“Saya akan berdiri saja, Huajangnim,” tutur Kyuhyun.

“Kuperintahkan untuk duduk, Cho Kyuhyun-sshi. Duduklah disamping Siwon,” ucap Choi Songjoo dengan nada tegas. Kyuhyun dan Siwon kembali terkejut, tapi Kyuhyun tidak bisa menolak.

Kyuhyun menghela nafas dan beranjak duduk disamping Siwon. Walaupun terkesan sangat canggung, tapi mereka berdua tidak mempunyai pilihan apapun. Choi Songjoo memperhatikan keduanya dengan lekat. Sekali lagi, Choi Songjoo melihat benda yang sama melingkar pada jemari tangan Kyuhyun. Sebuah cincin yang pernah dibeli oleh Hyunsa untuk Eommanya.

“Aku belum pernah melihat cincin itu, Sekretaris Cho. Apakah itu dari kekasihmu? Sebuah cincin pasangankah?” tanya Choi Songjoo.

Siwon sontak melihat kearah jemari Kyuhyun dan menemukan cincin yang pernah diberikan Hyunsa. Kyuhyun menjadi salah tingkah. Ia ingin menutupi tangannya, tapi itu pun sudah terlambat. Kyuhyun melirik kearah Siwon sebelum menjawab pertanyaan Choi Songjoo.

“Ini adalah sebuah pemberian, Huajangnim. Bukan dari kekasih saya, tapi dari sahabat saya,” jawab Kyuhyun dengan sedikit ragu.

Walaupun Kyuhyun terkesan tidak yakin dengan jawabannya, tapi sepertinya Choi Songjoo tidak begitu memperhatikannya. Beliau hanya mengangguk saja mendengar jawaban Kyuhyun. Siwon juga semakin tidak mengerti dengan sikap ayahnya sendiri.

“Sahabatmu? Apakah seorang wanita?”

“Abeoji! Untuk apa Abeoji bertanya hal itu pada Sekretaris Cho? Ini adalah masalah pribadinya. Dan bukankah Aboeji datang untuk berbicara denganku?” sela Siwon dengan cepat sebelum Kyuhyun menjawab.

Choi Songjoo menatap putranya dengan serius. “Kenapa aku tidak boleh bertanya mengenai hal itu? Aku tidak bertanya mengenai seksualitas, Siwon.”

“Abeoji!!”

Kyuhyun mulai merasakan bahwa suasana semakin memanas. Siwon dan Choi Songjoo sama-sama keras kepala dan tidak ada satu dari mereka yang ingin mengalah. Tetapi Kyuhyun malah merasa canggung terlibat dalam pertengkaran keduanya.

“Kenapa kau terlihat begitu melindunginya, Siwon? Jangan mengatakan alasan profesionalitas bahwa kau ingin melindungi pegawaimu, Siwon. Karena apa yang aku lihat adalah sebaliknya.”

*****

“Jung Wonhyun?”

Hyunsa mengangguk. “Aku melihat fotonya, walaupun tidak terlalu mirip tapi aku akui dia terlihat seperti Daddy.”

Jinho menghela nafas. “Jadi, itu salah satu alasan kenapa gadis itu menganggu ayahmu?” Hyunsa mengangguk dan menghabiskan kimbab-nya. “Dan dia sekarang tidak akan menganggu ayahmu lagi?”

“Untuk itu aku tidak tahu. Tapi Lee Hyukjae-sshi menjamin bahwa adiknya tidak akan menganggu Daddy. Selain itu, Kakek masih di Seoul. Jadi, belum ada kepastian apapun,” tukas Hyunsa.

Jinho menatap Hyunsa yang sibuk memakan kimbabnya. “Kau sepertinya sangat tenang sekali menghadapi masalah ini.”

Hyunsa membalas menatap Jinho. “Kenapa aku harus tidak tenang? Kuakui gadis itu benar-benar menyebalkan, tapi kakaknya sendiri sudah bertindak sekarang dan kakekku… Kurasa tidak akan jadi masalah. Jadi, aku bisa fokus pada pemulihanku dan pertandingan.”

“Tapi sebelumnya kau terlihat kacau, Hyun. Bukan karena masalah gadis itu ataupun kakekmu, tapi juga karena hyung,” ucapan Jinho membuat Hyunsa menghentikan makannya.

Jinho menarik nafas panjang. “Aku tidak bermaksud buruk, tapi kau belum sepenuhnya setuju dengan hubungan mereka. Walaupun sekarang ini kau terlihat baik-baik saja, tapi aku tetap khawatir.”

“Kakakmu? Kau takut aku akan…”

“Ini bukan mengenai Kyuhyun hyung, Hyunsa. Tapi aku mengkhawatirkanmu. Kau mungkin mengatakan bahwa aku tidak mengetahui apapun, tapi sebagai sahabat, aku juga peduli padamu. Aku tidak memaksakan padamu untuk merestui hubungan mereka, tetapi aku hanya ingin kau mengatakan perasaanmu mengenai hubungan mereka yang sebenarnya. Jangan menutupinya dan bersikap bahwa kau baik-baik saja.”

*****

Jungsoo bergegas menuju ruangan Siwon setelah mendapat kabar dari Donghae. Walaupun tidak sempat bertanya apapun, Jungsoo mengetahui pasti terjadi sesuatu yang buruk mengenai pertemuan Siwon dan ayahnya. Jungsoo memasuki ruangan Siwon dan menemukan sepupunya berada dalam pelukan Kyuhyun. Ryeowook dan Donghae juga ada di ruangan yang sama.

Jungsoo menarik nafas dan mengunci pintu ruangan. Ia tidak akan mengambil resiko besar jika pegawai lain masuk ke ruangan kerja Siwon. Jungsoo menghampiri mereka. “Apa yang terjadi?” tanya Jungsoo cemas.

“Siwon sudah mengatakan semuanya pada paman Songjoo,” ucap Ryeowook.

Jungsoo memperhatikan Siwon dan Kyuhyun. Ia menghela nafas berat. “Lalu bagaimana reaksi paman Songjoo?”

Donghae melirik Kyuhyun sekilas. “Beliau tidak mengatakan apapun. Itu yang kami ketahui dari Kyuhyun. Selain itu, Siwon juga tidak melepaskan Kyuhyun sedikitpun.”

“Ini akan menjadi lebih berat dari sebelumnya. Kalian kembali pada pekerjaan kalian saja. Rasanya tidak baik membuat pegawai lain merasa curiga,” tutur Jungsoo.

Donghae dan Ryeowook saling menatap untuk beberapa lama sebelum akhirnya keluar dari ruangan tersebut. Jungsoo menghela nafas dan mengambil duduk pada sebuah sofa tunggal. Ia memperhatikan Kyuhyun yang menepuk-nepuk punggung Siwon dengan lembut. Rasanya ini adalah kedua kalinya ia melihat sosok Siwon yang begitu lemah –pertama kali adalah saat meninggalnya Nahyun.

“Siwon-ah, bisa kita bicara?” ucap Jungsoo pelan.

Siwon tidak bergerak sama sekali. Jungsoo memberikan tatapan pada Kyuhyun seakan memohon padanya untuk meninggalkan mereka sebentar. Kyuhyun menarik nafas dan berusaha melepaskan pelukan Siwon. Walaupun Siwon menolak, tapi Kyuhyun tidak mempunyai alasan untuk tetap berada diruangan yang sama.

“Aku akan membelikan makan siang untuk hyung, oke? Bicaralah dengan Jungsoo-sshi. Aku akan segera kembali,” Kyuhyun mencium Siwon dan berjalan keluar.

Kini hanya Jungsoo dan Siwon diruangan tersebut. Tidak ada dari mereka yang bicara hingga limabelas menit kemudian, sampai akhirnya Siwon menoleh pada Jungsoo. “Apa yang ingin kau bicarakan, Soo?”

“Aku dan Woon memutuskan untuk menunda pernikahan kami,” ucap Jungsoo dengan tenang. Tapi Siwon malah bereaksi sangat terkejut dengan keputusan Jungsoo.

“Kenapa? Kalian sudah menunggu waktu ini sejak lama sekali, kenapa menundanya?” tanya Siwon.

Jungsoo menyandarkan punggungnya. “Jika harus ada sebuah pernikahan maka itu adalah pernikahanmu dengan Kyuhyun. Itu pun kalau kalian memang serius akan menikah. Terlebih dengan situasi Paman Songjoo sudah mengetahui identitas Kyuhyun sebagai kekasihmu.”

“Ta-tapi.. Bagaimana dengan Woon? Dia tidak mungkin setuju begitu saja?”

“Hey, tadi aku mengatakan aku dan Woon. Kami sudah memutuskannya, Siwon. Ini adalah waktu bagimu. Walaupun kita semua tahu kalau Hyunsa masih menyimpan keraguan pada hubungan kalian, tapi jika kau dan Kyuhyun benar-benar serius maka menikahlah. Atau mungkin kalian bisa memikirkan dulu dan mempunyai pilihan lain.”

Siwon mengernyit. “Pilihan lain? Maksudmu?”

“Aku mengatakan ini hanya sebagai pilihan, Siwon. Jadi, jangan salah paham. Pilihan lain adalah kalian berpisah. Mungkin untuk sementara hingga Paman Songjoo dan Hyunsa –oh, Paman Songjoo mungkin tidak akan pernah setuju. Tapi Hyunsa adalah putrimu. Walaupun ayahmu tidak setuju, kau masih bisa menikah dengan Kyuhyun. Namun, jika putrimu tidak sepenuhnya setuju dan kalian tetap menikah, aku sangat yakin kehidupan kalian di masa depan akan muncul banyak masalah. Kau tidak mungkin harus memilih diantara putrimu atau kekasihmu, bukan?”

Siwon terdiam dengan ucapan Jungsoo. Ya, Hyunsa memang belum sepenuhnya setuju walaupun hingga hari ini tidak ada tanda penolakan seperti sebelumnya. Tapi Siwon belum benar-benar bisa memastikan keputusan putrinya. Dan Jungsoo selalu benar. Siwon tidak akan bisa memilih diantara Hyunsa atau Kyuhyun. Ia sangat mencintai keduanya dengan sangat besar.

Siwon menarik nafas dan mengusap wajahnya yang terlihat sangat lelah. Jungsoo menghela nafas lagi dan berdiri. “Pikirkan hal ini baik-baik, Siwon. Bicarakanlah dengan Kyuhyun terlebih dahulu. Kemudian kau bisa bicara dengan putrimu. Dan aku harap, apapun keputusanmu maka itulah yang terbaik untuk kalian semua.”

Jungsoo kemudian meninggalkan Siwon sendirian di ruangan kerjanya yang sangat besar tersebut.

*****

Hyunsa menarik nafas ketika melihat mobil milik kakeknya berada di depan gerbang sekolah. Walaupun Hyunsa tidak ingin berbicara dengan kakeknya saat ini, tapi ia tidak bisa menghindar. Hyunsa berjalan menghampiri mobil hitam tersebut. Dan ketika melihat cucunya berjalan mendekat, Choi Songjoo memanjat keluar dari mobil.

“Ada apa?” tanya Hyunsa.

“Kita perlu bicara, Hyunsa. Dan yang Kakek maksud dengan kita adalah aku, kau, ayahmu dan Kyuhyun.”

Hyunsa terdiam saat kakeknya menyebut nama Kyuhyun. Kenapa tiba-tiba kakeknya membawa Kyuhyun kedalam masalah keluarga mereka. Sangat tidak mungkin jika kakeknya sudah mengetahui kekasih Daddynya. Kecuali, Daddynya sendiri sudah mengakui hubungannya dengan Kyuhyun dihadapan Choi Songjoo.

Hyunsa berusaha terlihat tetap tenang. Ia tidak menunjukkan ekspresi terkejut. “Sekretaris Cho? Untuk apa dia harus ikut kedalam pembicaraan keluarga?”

Choi Songjoo menarik nafas berat. “Karena dia adalah kekasih Siwon. Dan kau pasti sudah mengetahuinya.”

“Ohya? Sekretaris Cho adalah kekasih Daddy? Entahlah, dia tidak terlihat seperti tipe “pria” Daddy.”

“Jangan mengelak terus, Hyunsa. Kau memberikan cincin yang pernah kau beli untuk Eommamu dulu pada Kyuhyun. Kakek masih ingat dengan design-nya dan cincin yang dipakai Kyuhyun adalah cincin yang sama.”

Ucapan telak dari Choi Songjoo membuat Hyunsa tidak bisa berkata apapun lain. Hyunsa menatap kakeknya dengan lekat. Ia menghela nafas perlahan. “Jika Kakek ingin bicara jangan hari ini. Hari Sabtu atau Minggu saja. Kakek yang tentukan waktu dan lokasinya. Aku pulang,” Hyunsa sedikit membungkuk dan berjalan menjauhi mobil Choi Songjoo tersebut.

Choi Songjoo memperhatikan punggung cucu perempuannya yang terlihat menjauh. Beliau kembali menarik nafas. “Hubungan mereka tergantung pada keputusan akhirmu, Hyunsa.”

*****

Dokter Song tengah memeriksa beberapa hasil test dari pasiennya ketika pintu ruangannya diketuk. Dokter Song mengernyit dan membiarkan suster yang mengetuk pintunya membuka pintu. Tapi yang lebih membingungkan adalah keberadaan Hyunsa, pasien barunya.

“Dokter Song, Nona Choi ingin menemui anda. Tapi janji terapi berikutnya adalah hari Sabtu,” ucap suster tersebut.

“Tidak apa-apa, suster. Nona Choi silahkan masuk,” Dokter Song mengijinkan Hyunsa untuk masuk ruangannya. Sedangkan suster tersebut meninggalkan keduanya.

Hyunsa mengambil duduk pada salah satu kursi dan menatap dokternya dengan lekat. Dokter Song menyimpan laporan hasil test tersebut dan fokus pada gadis yang secara tiba-tiba datang mengunjunginya. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?”

“Aku tahu terapi berikutnya adalah Sabtu ini, tapi aku tidak bisa menunggu hingga akhir minggu. Anda tidak sibuk bukan, dok?”

Dokter Song tersenyum tipis dan menggeleng. “Hanya memeriksa laporan test. Saya tidak sesibuk dokter lainnya di rumah sakit ini. Jadi, apa ada yang ingin kau bicarakan?”

“Anda dulu seorang pemain bisbol, bukan? Bagaimana kalau kita bermain bisbol?” ajak Hyunsa dengan ekspresi datarnya.

Dokter Song memperhatikan wajah Hyunsa. Beliau menghela nafas perlahan. “Terakhir saya bermain bisbol adalah hampir duapuluh tahun lalu. Dan saya tidak yakin dengan kemampuan saya saat ini, Nona. Tapi boleh saya tahu kenapa kau tiba-tiba mengajak saya bermain bisbol?”

“Aku tidak diperbolehkan bermain hingga beberapa minggu. Dan itu membuatku frustasi. Kurasa jika aku mengajak seorang dokter yang pernah bermain bisbol, yaitu anda, maka sepertinya tidak akan ada masalah apapun,” tutur Hyunsa.

“Apakah terjadi sesuatu, nona?” tanya Dokter Song.

“Daddy kemungkinan akan menikah dengan kekasihnya. Tapi aku tidak menyukai keputusan itu saat ini. Jadi, apakah anda ingin bermain atau tidak?”

Dokter Song memperhatikan Hyunsa dengan lekat dan menarik nafas. “Baiklah, kita akan bermain. Tetapi tidak sekarang. Saya mempunyai beberapa pasien hingga pukul lima sore ini. Bagaimana kalau kita bermain besok?”

Hyunsa mengangguk dan berdiri. “Baiklah. Sampai jumpa besok, dokter.”

“Oh, tunggu. Kita akan bertemu di lapangan ataukah…”

“Pergi saja ke sekolahku pukul empat sore. Disana ada lapangan bisbol dan kita bisa bermain. Anda mungkin harus membawa peralatan milik anda sendiri. Saya permisi,” Hyunsa kemudian meninggalkan ruangan serba putih tersebut.

Dokter Song masih terdiam hingga beberapa menit setelahnya. Ia menarik nafas dan memijat keningnya dengan agak keras. Pasien barunya memang cukup berbeda dengan pasien lain yang sudah pernah ditanganinya. Walaupun bukan kasus yang terburuk, tapi Dokter itu tidak bisa menganggap mudah kasus Hyunsa. Dokter itu kemudian meraih ponselnya dan menekan sebuah nomor kontak.

“Dokter Kim, bisa kita bicara? Ini mengenai Choi Hyunsa. Dia baru saja menemuiku dan mengajakku bermain bisbol. Selain itu, sepertinya ada masalah lain yang ingin ia bicarakan. Mengenai ayah dan kekasihnya.”

*****

Kyuhyun memperhatikan Siwon yang hanya terdiam tanpa menyentuh makan siangnya. Sejak setengah jam lalu, Siwon tidak berbicara ataupun menatapnya. Kyuhyun berpikir kalau Siwon masih memikirkan kejadian sebelumnya dengan Choi Songjoo, tetapi ia tidak ingin berasumsi apapun.

“Hyung..” panggilnya lembut sembari menyentuh tangan kekasihnya. Siwon menoleh pada Kyuhyun. “Jangan diam saja. Makanlah,” tutur Kyuhyun.

Siwon menarik nafas dan menggenggam tangan Kyuhyun dengan erat. “Kyuhyun-ah..”

“Ne?”

“Jika kau harus memilih, antara aku atau hidupmu, mana yang akan kaupilih?”

Kyuhyun terdiam dengan pertanyaan tersebut. Rasanya apa yang sedang dipikirkan Siwon adalah mengenai hubungan mereka. Walaupun mereka pernah mengucapkan bahwa mereka akan terus bersama hingga akhir, tapi sepertinya akhir itu sudah ada di depan mata.

Kyuhyun menghela nafas dan tersenyum. “Aku akan memilih hidupku. Karena hyung sudah menjadi bagian dari hidupku yang mungkin akan sangat sulit dipisahkan. Jika aku memilih hidupku, itu artinya aku juga memilih hyung,” ujarnya.

Siwon tersenyum lirih mendengar jawaban kekasihnya. Kemudian tangan Siwon bergerak untuk mengusap lembut wajah Kyuhyun. “Jawaban yang bijak. Lalu menurutmu, aku harus memilih dirimu atau Hyunsa?”

“Kenapa kau bertanya padaku, hyung? Seharusnya kau…” Belum sempat Kyuhyun menyelesaikan ucapannya, Siwon sudah menciumnya. Kyuhyun bungkam dan hanya menatap Siwon dengan lekat. Kemudian, Siwon menciumnya lagi. Dan lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

Dalam setiap ciuman Siwon, entah Kyuhyun merasakan sebuah ketakutan yang besar. Walaupun Kyuhyun selalu berusaha menepisnya, tetapi perasaan itu terasa begitu kuat hingga menyesakkan nafasnya. Kyuhyun menarik nafas perlahan dan panjang seiring dengan sentuhan Siwon yang begitu lembut.

Kyuhyun memejamkan matanya untuk beberapa saat dan kembali menatap Siwon. “Jika aku adalah hyung, maka aku akan memilih Hyunsa. Dia adalah putrimu, satu-satunya hartamu yang paling berharga yang pernah diberikan Tuhan. Jika kau memilih orang lain dibandingkan putrimu sendiri, maka kau adalah orang jahat, hyung,” kemudian ia tersenyum.

“Lalu bagaimana dengan dirimu?”

“Apa maksud pertanyaanmu, hyung? Aku adalah kekasihmu. Aku akan mendukung apapun keputusanmu. Lagipula…” Kyuhyun terhenti sesaat. Ia mengambil nafas dan menghembuskan secara perlahan. Kyuhyun kembali tersenyum. “Aku memang mencintaimu, tapi bukan berarti hyung adalah milikku sepenuhnya. Hanya Hyunsa yang mempunyai hak penuh atas diri hyung.”

Siwon kemudian menarik Kyuhyun dalam dekapannya. Ia mengusap lembut punggung Kyuhyun. “Maaf, seharusnya aku memperjuangkan hubungan kita. Tapi aku terlalu lemah. Aku bahkan tidak bisa memaksa Hyunsa..”

“Jangan memaksanya untuk merestui hubungan kita, hyung. Dua tahun lalu, aku hanyalah orang asing yang memasuki kehidupan kalian. Jika bukan karena Hyunsa berteman dengan Jinho, mungkin kita tidak akan pernah bertemu dan hyung mungkin.. Well, kurasa Hyunsa tidak akan membiarkan hyung menikah lagi walaupun aku tidak mengenalnya. Sangat pantas jika hyung lebih memikirkan Hyunsa ketimbang orang lain seperti diriku,” Kyuhyun lalu melepaskan pelukannya dan menatap Siwon lekat.

Kyuhyun tersenyum lirih. “Aku tidak ingin berakhir saat ini, maka dari itu bisakah kita mengakhirinya secara pelan-pelan? Karena rasanya sangat aneh jika besok aku tidak bisa memanggilmu dengan sebutan hyung atau tidak bisa merasakan pelukan dari hyung lagi. Bisakah, hyung?”

Mata Siwon membulat. “Apa yang kau katakan, Kyuhyun? Aku tidak sedang mengakhiri hubungan kita. Aku tahu, aku adalah pria brengsek karena tidak bisa memperjuangkanmu. Tapi aku belum menyerah, Kyuhyun. Aku belum menyerah atas dirimu. Jadi, tetap disisiku dan jangan mengatakan bahwa kau ingin berpisah denganku. Mengerti?”

Walaupun saat ini kau belum menyerah, tetapi kita tidak bisa bersama, hyung. Itu adalah kenyataan…

*****

“Itu adalah pilihanmu, dokter Song. Hyunsa adalah pasienmu, walaupun aku adalah sahabat ayahnya tetapi aku tidak mempunyai hak untuk ikut campur. Namun, bisakah aku ikut datang? Setidaknya jika ini ada kaitannya dengan Siwon, maka…” ucapan Heechul terhenti setelah dokter Song selesai menjelaskan kedatangan Hyunsa yang tiba-tiba.

Dokter Song menghela nafas. “Aku tidak melarang keterlibatan orang lain, kalian bisa melihat dari jauh. Aku akan menyiapkan peralatan agar kalian juga bisa mendengar perbincangan kami.”

Heechul tersenyum tipis dan mengangguk. Dokter Song menarik nafas perlahan dan berniat untuk memberitahu suster untuk mengosongkan jadwalnya besok sore, tetapi ia teringat dengan ucapan Hyunsa mengenai ayahnya. Dokter Song ingin sekali bertanya, tetapi ia takut menyalahi kode etiknya sebagai seorang dokter.

Walaupun begitu, Heechul sepertinya bisa membaca ekspresi dokter Song saat ini. Ia menarik nafas berat. “Apakah anda penasaran mengenai ayah dan kekasih ayahnya itu, dok?”

Dokter Song terdiam untuk sesaat, kemudian ia mengangguk. “Iya, sedikit. Saat mendengar ceritanya mengenai ayahnya yang tengah berkencan dan berniat menikahi kekasihnya tersebut, aku merasa penasaran apa alasan dibalik ketidak-sukaan Hyunsa pada kekasih ayahnya. Tetapi itu melanggar kode etikku sebagai seorang dokter, jadi aku…”

“Aku akan memberitahumu. Kau bertanya padaku dokter Song, jadi tidak ada aturan yang kau langgar. Sebenarnya, Hyunsa menyukai kekasih Siwon. Tapi yang membuatnya terkejut adalah mereka sudah berkencan selama dua tahun lebih. Walaupun Hyunsa berusaha untuk menerimanya, tetapi masih sangat sulit,” jelas Heechul.

Ekspresi dokter Song kini benar-benar seperti orang bodoh, terlebih ketika Heechul mengatakan Hyunsa menyukai kekasih ayahnya sendiri. Heechul tersenyum lagi. “Dari ekspresimu, sepertinya Hyunsa tidak mengatakan apapun. Siwon adalah seorang gay, dokter Song. Jadi, ayah dan anak itu menyukai satu pria yang sama.”

*****

Keesokan sorenya, Hyunsa dengan berpakaian seragam bisbol sudah berada di lapangan bisbol sekolahnya. Beruntung hari ini tidak ada latihan, jadi Hyunsa bisa meminjam lapangan dengan leluasa. Terlebih tidak ada banyak orang di sekolah, kecuali siswa kelas tiga yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk universitas. Hyunsa mengambil sebuah bola dari keranjang bola lalu melemparkannya keatas dan bersiap untuk memukul. Hanya latihan ringan, lagipula bahu kirinya sudah mulai membaik.

Hyunsa melihat seberapa jauh pukulannya dan menghela nafas. “Tidak buruk bagi pemain dengan cidera bahu,” gumamnya pelan.

Hyunsa lalu berniat mengambil satu bola lainnya ketika ia melihat sosok dokter Song. Hyunsa tersenyum dan sedikit membungkuk. “Sepertinya anda tidak tersesat,” ucapnya datar.

“Well, aku meminta bantuan salah satu guru. Sekolahmu cukup luas dan aku tidak tahu kalau ada lapangan bisbol disini,” tutur dokter Song.

“Team bisbol sekolah kami menjadi team terbaik selama lebih duapuluh tahun. Ini adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh yayasan sekolah. Ohya, apa anda tidak sibuk?” tanya Hyunsa.

Dokter Song meletakan tas ransel bisbolnya di tanah. “Jika aku berada disini, apakah aku sedang sibuk? Aku mengosongkan jadwalku sore ini demi dirimu, Nona Choi. Lagipula sudah lama sekali aku tidak bermain bisbol. Jadi, aku berterima-kasih padamu.”

Hyunsa tersenyum lebar. “Jadi, kita bisa langsung bermain atau pemanasan terlebih dahulu?”

*****

Yunho menghela nafas berat dan memilih untuk membalikkan tubuhnya memandang kearah lain. Sedangkan Heechul, Jungsoo dan Woon masih menonton Hyunsa dan dokter Song yang sedang bermain saat ini. Walaupun satu lawan satu, rasanya mereka bermain dengan satu team penuh. Bahkan dari jarak hampir limaratus meter dari lapangan –lebih tepatnya mereka sedang mengawasi keduanya dari atas gedung sekolah. Mereka juga bisa melihat kalau keduanya sudah kelelahan setelah satu jam bermain.

“Jungsoo-sshi, kau tidak bisa menyuruh dokter itu berhenti. Mereka sudah kelelahan begitu, tapi… oh, ya Tuhan, aku memang tidak menyukai olahraga bisbol,” tukas Yunho.

Jungsoo menatap Yunho dengan lekat. “Seperti inilah jika Hyunsa sedang menghukum dirinya sendiri. Atau melepaskan semua rasa frustasinya. Dan sepertinya dokter Song bisa mengimbanginya,” tuturnya.

“Aku tidak pernah tahu, tapi dokter Song memang seorang mantan pemain bisbol. Jika melihat kemampuannya saat ini, dia benar-benar membuktikan kualitas sebagai pemain terbaik selama lima tahun,” sahut Heechul.

Yunho lalu memilih untuk mengambil duduk pada  kursi yang ada disana. Woon melirik Yunho dan terkekeh. “Hey, sudah kubilang kita akan menonton bisbol, kalau kau tidak suka kenapa tetap ikut?”

“Itu karena Choi Hyunsa. Gadis itu memintaku untuk membantunya dan terlebih ayahnya juga meminta bantuanku. Mana mungkin aku hanya berdiam diri saja. Lagipula… ah, sudahlah! Perhatikan saja mereka!!” sahut Yunho dengan kesal.

“Mereka sudah selesai bermain. Sepertinya dokter Song akan memulai pertanyaannya,” seru Heechul dan kemudian mereka duduk pada kursi lainnya.

Yunho mengambil satu headset, diikuti dengan lainnya. Dokter Song sudah menyiapkan peralatan sadap untuk mereka bisa mendengar pembicaraannya dengan Hyunsa. Well, terkadang bagian psikiatri menyediakan peralatan seperti ini untuk situasi yang cukup mendesak.

“Kau cukup bagus. Sepertinya bahumu sudah pulih.”

“Sepertinya, tetapi masih membutuhkan pemeriksaan lagi. Ah, rasanya kesal sekali tidak bisa ikut bermain dalam turnament.”

“Apa ini pertama-kali kau tidak ikut bermain?”

*****

Hyunsa menyeka keringatnya dan kemudian duduk di lapangan rumput untuk meluruskan kakinya. “Tidak juga. Pada turnament tahun lalu, aku sempat tidak ikut dua pertandingan. Tapi tahun ini, aku hanya sebagai pemain cadangan. Itu benar-benar mengesalkan, dokter.”

Doktaer Song tersenyum dan menyodorkan sebotol minuman pada Hyunsa. Gadis itu menerimanya dan meminumnya. “Yeah, aku bisa merasakannya. Aku juga pernah absen selama satu turnament karena cedera sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti karena dokter memvonisku tidak bisa bermain seperti pemain normal lainnya.”

Hyunsa mendesah dan tertawa kecil. “Kalau begitu aku cukup beruntung. Tapi, kemampuan dokter sepertinya tidak hilang. Itu juga sebuah keberuntungan.”

“Ne, kau benar. Dan aku cukup beruntung orangtuaku masih bisa melihatku menerima penghargaan sebagai pemain terbaik. Kudengar kau juga terpilih sebagai pemain terbaik, bukan? Wah, orangtuamu pasti sangat bangga,” ucap dokter Song.

“Ne, Daddy memang bangga. Bahkan dia sampai menyuruh kurir untuk tetap menunggu hingga aku menerima kiriman bunga darinya,” sahut Hyunsa yang kemudian meneguk minuman lagi.

Doktae Song mengernyit. “Eoh? Kurir? Dia tidak datang?”

Hyunsa menggeleng dan mendongak menatap langit sore. “Daddy tidak pernah datang selama aku bermain. Selalu mengatakan akan pergi menonton, tapi tidak pernah sekalipun. Terkadang aku juga memintanya untuk tidak pergi menonton.”

“Kenapa?” tanya dokter Song.

Hyunsa menoleh pada dokternya. “Apakah kita sudah memulai terapi ini? Euhm.. Jadi, hari Sabtu nanti aku tidak perlu pergi ke rumah sakit?”

“Anggap saja ini pengganti hari Sabtu, Nona Choi.”

Hyunsa mengangguk lalu merebahkan tubuhnya diatas rumput. “Baiklah, dokter Song. Tapi jangan memanggilku Nona Choi. Panggil Hyunsa saja.”

*****

Hyunsa menarik nafas untuk kesekian kalinya. Langkah kakinya terasa berat untuk membawanya pulang, tetapi ia tetap harus kembali. Ia memperhatikan rumahnya yang sudah hampir dekat. Tidak ada perubahan tetapi rasanya sangat berbeda sejak lima tahun lalu. Sebenarnya Hyunsa tidak ingin lagi tinggal dirumah tersebut, tetapi ia tidak bisa mengatakannya pada Siwon. Selain itu, terlalu banyak kenangan disana. Baik kenangan bahagia maupun yang menyakitkan sekalipun. Hyunsa terus berjalan memperhatikan rumah besar tersebut, sampai ia tidak menyadari bahwa kakeknya telah berada di depan rumahnya. Hyunsa terdiam menatap sang kakek. Sedangkan Choi Songjoo memperhatikannya dengan serius.

“Kau baru pulang? Darimana saja?” tanyanya.

Hyunsa membungkuk lalu menghampiri sang kakek. “Dari sekolah. Latihan bisbol,” jawabnya.

Choi Songjoo menghela nafas. “Kau bilang sedang cidera, kenapa sudah latihan? Apa sudah pulih?”

“Belum. Dokter Cha bilang perlu waktu hingga beberapa minggu. Tapi bahuku sudah tidak sakit lagi. Kenapa Kakek diluar? Apa Daddy belum pulang?” tanya Hyunsa mengalihkan pembicaraan. Rasanya terlalu canggung.

“Sudah. Mobilnya sudah ada. Tapi dia pulang bersama Kyuhyun. Sepertinya mereka ingin makan malam bersamamu,” tutur Choi Songjoo tenang.

Hyunsa memperhatikan setiap kontur ekspresi wajah kakeknya. Well, dia paling benci jika harus membaca ekspresi sang kakek. Rasanya sulit, hingga ia tidak berani mengatakan apapun disaat situasinya sangat tenang dan serius. Hyunsa menghela nafas. “Lalu? Apa Kakek ingin masuk bersamaku?”

Choi Songjoo memberi isyarat agar Hyunsa berjalan terlebih dahulu. Hyunsa mendesis jengkel. Apa harus kakeknya menunggu begitu lama hanya untuk masuk bersamanya kedalam rumah putranya sendiri? Benar-benar menjengkelkan. Tapi kemudian Hyunsa berbalik menatap kakeknya. “Tunggu, bukankah Kakek bilang ingin bicara dengan kami? Dan kubilang tentukan hari Sabtu atau Minggu bukan?”

“Iya, Kakek tahu. Hanya ingin memberitahu ayahmu mengenai pertemuan ini. Ayo masuk,” tukas sang Kakek.

Akhirnya, Hyunsa berjalan masuk terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Choi Songjoo. Dan ketika Hyunsa memasuki rumah, ia melihat sepatu Kyuhyun. Kemudian ia menjadi berpikir sebenarnya sejak jam berapa kakeknya menunggu diluar rumah? Dan rasanya aneh sekali ketika Daddynya sudah pulang sebelum waktu makan malam.

“Aku pulang. Daddy, Kakek datang,” ucap Hyunsa sembari melepaskan sepatu.

Sedangkan di dapur, Siwon dan Kyuhyun saling menatap ketika terdengar suara Hyunsa yang menyebutkan kedatangan Choi Songjoo. Siwon kemudian melepas apronnya dan menggenggam tangan Kyuhyun.

“Aku bersamamu, okay?” bisik Siwon. Kyuhyun mengangguk kecil dan membiarkan Siwon yang menyambut kedatangan Hyunsa beserta Choi Songjoo. Walaupun terkesan tidak sopan, tapi Kyuhyun tidak ingin bertemu dengan Choi Songjoo saat ini.

Siwon menemui ayahnya di ruang tengah, sementara Hyunsa pergi ke dapur. “Ada apa Abeoji datang?” tanyanya terkesan dingin.

Choi Songjoo tertawa kecil. “Beginikah kau menyambut kedatangan ayahmu, Siwon? Rasanya aku tidak pernah mendidikmu menjadi anak yang kurang ajar pada orantuanya.”

Siwon menghela nafas pendek. “Maaf, tapi aku tidak mempunyai keinginan untuk berbicara dengan Abeoji. Jadi, katakan saja apa tujuan Abeoji datang kerumahku?”

“Baiklah. Tapi kita memang perlu bicara, Siwon. Kita berempat, termasuk putrimu dan Kyuhyun. Aku tidak menerima penolakan apapun. Kita bertemu hari Sabtu di restaurant hotel Sheraton jam satu siang. Dan aku harap, kalian datang secara terpisah,” tutur Choi Songjoo.

Siwon mengernyit tidak mengerti dengan ucapan ayahnya. “Apa maksudnya kami datang terpisah? Maksud Abeoji, aku dan Kyuhyun?”

“Haruskah aku perlu menyebutkan namanya? Aku pergi,” kemudian Choi Songjoo pergi meninggalkan rumah besar tersebut. Siwon kembali menghela nafas dan kembali ke dapur dan ia melihat Kyuhyun sedang mengusap kepala Hyunsa sembari tersenyum. Hal itu membuat Siwon merasa lebih baik, terlepas dari kondisi Hyunsa yang belum menentukan keputusannya untuk benar-benar merestui hubungan mereka.

Siwon tersenyum dan menghampiri keduanya. “Ganti pakaianmu dulu, sayang. Lalu kita bisa makan malam,” ucap Siwon lembut. Hyunsa mengangguk lalu bergegas ke kamarnya. Kyuhyun kini menatap Siwon dengan serius. Terlihat bahwa ia penasaran apa yang dibicarakan oleh Siwon dan ayahnya tadi. Siwon menyentuh wajah Kyuhyun dan mengusapnya lembut.

“Abeoji ingin bicara dengan kita. Hari Sabtu nanti di restaurant hotel Sheraton jam satu. Apa kau tidak keberatan?” tanya Siwon pelan.

*****

“Borderline Personality Disorder?” Heechul terlihat tidak mengerti. Dia mungkin seorang dokter, tapi istilah penyimpangan tingkah laku seperti ini sangat membingungkannya, selain karena memang bukan keahliannya. “Bukankah sebelumnya anda mengatakan kemungkinan bipolar.”

Dokter Song menggaruk keningnya. “Well, aku mengatakan kemungkinan, bukan? Dan bipolar itu mempunyai banyak jenisnya. Hyunsa kemungkinan lebih condong pada BPD. Pada pertemuan kedua, Hyunsa mulai sedikit terbuka dan banyak bercerita. Dan Hyunsa mengindikasikan dari beberapa kriteria gangguan kepribadian borderline ini. Tapi tentu saja, kita perlu pemeriksaan lebih lanjut. Karena aku belum pernah bertemu dengan orangtua Hyunsa, jadi aku harap pada pertemuan berikutnya Hyunsa bisa membawa ayahnya. Mungkin kekasih ayahnya juga.”

Heechul menutup hasil laporan terbaru dari pemeriksaan Hyunsa. Ia menarik nafas berat. “Membawa Kyuhyun juga?”

“Jadi, namanya Kyuhyun,” tutur Dokter Song. Well, kali ini Heechul memberitahu nama kekasih Siwon. “Kurasa itu hal baik. Lebih cepat mereka mengetahuinya, lebih cepat kita membantu Hyunsa. Gangguan kepribadian bukanlah sebuah penyakit yang mudah untuk disembuhkan dengan obat. Semua orang yang terlibat dengan penderita perlu berpartisipasi. Tapi tentu saja, jika mereka tidak keberatan untuk terlibat.”

Heechul mengangguk mengerti. “Baiklah, akan kubicarakan dengan Jungsoo dan Siwon. Kapan pertemuan selanjutnya?”

“Mungkin Jumat atau Kamis minggu berikutnya. Atau orangtua Hyunsa bisa memutuskan sendiri harinya, akan kuusahakan mengosongkan jadwal,” tutur Dokter Song.

*****

Kyuhyun menatap refleksi dirinya di cermin. Setelah memastikan pakaian yang dikenakannya cukup pantas dan terlihat rapi, Kyuhyun lalu beranjak keluar meninggalkan kamarnya yang hampir kosong. Hari ini, Kyuhyun dan Jinho harus pindah ke rumah barunya. Sebagian besar barang-barang sudah dipindahkan kemarin dan hari ini tinggal beberapa barang lainnya.

Kyuhyun menuruni tangga dan melihat Jinho masih mengepak beberapa perabot kedalam kardus besar. Ia menghampiri adiknya tersebut. “Jinho-ah, kau tidak apa-apa mengurusnya sendiri?”

Jinho menoleh dan mengangguk. “Iya. Lagipula hanya tinggal sedikit yang harus diangkut. Appa dan Eomma juga akan sampai nanti siang, jadi Hyung bisa pergi. Ah, nanti malam kita akan makan malam bersama seperti dulu. Terlebih di rumah baru.”

Kyuhyun tersenyum dan mengusap rambut Jinho. “Kurir ekspedisi akan sampai satu jam lagi. Jangan lupa mengunci pintu, okay.”

“Iya, hyung. Sudah sana pergi,” tukas Jinho.

Kyuhyun kembali tersenyum lalu ia mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar meninggalkan rumah lamanya. Sedangkan Jinho kini terdiam menatap kearah pintu depan. Ia menghela nafas dan mengeluarkan ponselnya. Jinho menekan beberapa nomor angka dan menunggu sambungan telepon.

“Wae, Jinho-ya?”

“Kyuhyun hyung bilang hari ini dia ada janji dengan ayahmu. Jadi, dia tidak bisa membantu pindahan, benarkah itu?” tanya Jinho dengan ragu.

“Iya. Mereka memang akan bertemu hari ini. Aku juga ikut. Kenapa?”

Jinho menggaruk lehernya. “Tidak apa-apa. Hanya memastikan saja.”

“Ohya, hari ini kau akan pindah, bukan? Hari Senin nanti, aku akan main ke rumah barumu, okay?”

Jinho menggumam pelan. “Euhm. Baiklah..” lalu ia memutuskan sambungan telepon.

Tapi kenapa harus pagi-pagi begini? Ini bahkan belum pukul 9.

*****

Siwon meneguk jus jambunya dan menatap Hyunsa yang terlihat bingung. “Kenapa Jinho menelepon? Apa ada masalah?”

Hyunsa menatap Siwon lekat. “Tidak. Jinho hanya memastikan mengenai pertemuan kita nanti. Dia sepertinya mengkhawatirkan Kyuhyun oppa.”

Siwon tersenyum tipis. “Mungkin itu karena mereka adalah saudara. Rasa saling khawatir itu wajar, sayang. Daddy dan kau mungkin tidak bisa mengerti karena kita sama-sama anak tunggal.”

Hyunsa mengangguk dan kembali melanjutkan sarapan. Siwon mengusap kepala Hyunsa dengan lembut. Rasanya Siwon bertambah bersalah pada putrinya sendiri. Siwon tahu persis bagaimana kesepiannya menjadi anak tunggal dan dia sangat berharap kalau putrinya tidak mengalami hal yang sama. Tapi nyatanya, Hyunsa sepertinya jauh merasa kesepian ketimbang dirinya.

“Sayang, bagaimana dengan seorang adik?” tanya Siwon tiba-tiba.

Hyunsa sontak mendongak dan menatap ayahnya bingung. “Adik? Maksud Daddy?”

Siwon tersenyum lebih lebar. “Kalau Daddy dan Kyuhyun menikah, bagaimana kalau kami mengadopsi seorang anak. Mungkin adik untukmu atau kau ingin seorang kakak? Laki-laki atau perempuan?”

Hyunsa terdiam untuk beberapa saat. “A-apa maksudnya mengadopsi?”

“Eoh?”

“Ma-maksudku, kenapa Daddy malah memikirkan hal itu sekarang? Jika kalian memang akan menikah, keputusan untuk mengadopsi itu harus diputuskan bersama. Dan la-lagipula.. seharusnya Daddy lebih memikirkan mengenai Kakek saat ini,” ujar Hyunsa dengan gugup.

“Ah, benar. Kakekmu memang perlu dikhawatirkan. Tapi Daddy hanya memerlukan ijin darimu untuk menikah dengan Kyuhyun, sayang. Karena kau adalah putri kesayangan Daddy,” sahut Siwon dengan senyuman.

Tapi Hyunsa hanya diam dan berusaha tidak memberikan reaksi apapun.

*****

Kyuhyun kembali teringat beberapa hari lalu saat dia berdiri didepan pintu kamar hotel yang sama. Hari itu sangat menegangkan dan hari ini bahkan tiga-kali lebih menegangkan. Kyuhyun menarik nafas panjang dan mengetuk pintu beberapa kali.

Kyuhyun melirik jam dipergelangan tangannya. Masih pukul setengah sebelas, dua setengah jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Kyuhyun tidak terlambat sama sekali. Sesuai dengan perintah Choi Songjoo di hari sebelumnya yang memintanya datang lebih awal dari waktu yang dijanjikan dengan pertemuan beliau dengan Siwon, Hyunsa dan Kyuhyun sendiri.

Tak lama, pintu terbuka dan memperlihatkan sosok yang tidak diinginkan Kyuhyun saat ini. Lee Dahyun. Well, entah kenapa gadis itu selalu saja muncul secara tidak terduga pada saat Kyuhyun tidak menginginkan keberadaannya. Dahyun tersenyum pada Kyuhyun.

“Masuklah, Kyuhyun-sshi,” tuturnya.

Kyuhyun mempunyai pertanyaan kenapa Dahyun berada disana ketika Choi Songjoo ingin bicara secara pribadi denganya. Dan bukankah Choi Songjoo juga sudah memutuskan hubungan pertunangan antara gadis itu dan Siwon yang bahkan tidak pernah dimulai? Lalu untuk apa gadis itu berada di kamar hotel Choi Songjoo?

Terlalu banyak pertanyaan dan itu hanya membuat Kyuhyun merasa sakit kepala. Ia berjalan masuk dan melihat Choi Songjoo tengah menikmati secangkir teh di ruang tengah kamar besar tersebut. Kyuhyun membungkuk hormat pada atasannya.

“Kau bersikap terlalu sopan, Kyuhyun-sshi. Duduklah,” ucap Choi Songjoo.

Kyuhyun tampak ragu. Tapi melihat Dahyun yang duduk disamping Choi Songjoo dengan begitu tenang, membuat Kyuhyun secara tanpa sadar mengikutinya dan memilih duduk pada sofa lainnya dihadapan kedua orang tersebut. Rasanya Kyuhyun terlalu bodoh untuk datang sendirian pagi ini. Ia seperti sedang menyerahkan diri pada pihak lawan yang mungkin akan membunuhnya. Namun, Kyuhyun tidak begitu memperdulikannya.

“Kenapa anda meminta saya menemui anda lebih awal dari waktu pertemuan, Huajangnim?” tanya Kyuhyun dengan berani.

Choi Songjoo menarik nafas dan meletakan cangkir tehnya diatas meja. Dahyun juga tengah memperhatikannya dengan lekat, seolah gadis itu tidak akan membiarkan Kyuhyun kabur dari bidikannya. “Tidak perlu formal begitu, Kyuhyun-sshi. Saat ini kau sedang berhadapan dengan ayah kekasihmu dan bukan atasanmu. Jadi, bersikaplah dengan benar. Sama seperti tempo hari saat aku memintamu datang ke kamar ini,” tutur Choi Songjoo.

Kyuhyun kini terlihat bodoh. Pertemuan tempo hari? Jadi, apakah waktu itu Choi Songjoo sudah mengetahui identitas dirinya sebagai kekasih Siwon? Perhatian Kyuhyun kini tertuju pada Dahyun. Jelas, gadis itu pasti yang memberitahu Choi Songjoo mengenai dirinya.

“Hari itu aku hanya perlu memastikan ucapan Dahyun mengenai dirimu. Dan saat aku melihat cincin itu…” Kyuhyun sontak mengalihkan pandangannya menuju jemarinya. Ia menggigit pipi bagian dalam mulutnya. Mungkin tidak seharusnya Kyuhyun terus memakai cincin tersebut. “.. Aku tahu bahwa Hyunsa pasti memberikannya padamu karena sebuah alasan,” lanjut Choi Songjoo.

Choi Songjoo kembali menarik nafas dan tetap menatap Kyuhyun dengan lekat. “Hyunsa bukan tipe anak yang mudah memberikan sebuah barang yang sangat berharga miliknya pada orang lain. Terlebih jika barang itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Cincin itu seharusnya milik ibunya, tapi Hyunsa tidak pernah berkesempatan untuk memberikannya. Jadi, jika cincin itu kini ada padamu maka Hyunsa sudah menyerahkan setengah dari hatinya.”

Kyuhyun perlahan kembali menatap Choi Songjoo. Walaupun ia masih tidak tahu untuk apa ia datang pagi ini, Kyuhyun melihat bahwa Choi Songjoo sepertinya sudah melunak. Tapi Kyuhyun tidak ingin berasumsi apapun, mengingat atasan –ah, ayah kekasihnya itu sangat sulit ditebak.

“Apa yang ingin kukatakan akan kukatakan saat Siwon dan Hyunsa datang. Tapi untuk saat ini, aku hanya ingin menyelesaikan masalah diantara kalian berdua. Kau dan Dahyun,” tutur  Choi Songjoo.

Dahyun kini menatap Choi Songjoo dengan lekat. “Apa maksud Paman? Aku dan dia?”

Kyuhyun masih diam dan memperhatikan keduanya. Dia hanya akan bicara jika saatnya ia berbicara. Choi Songjoo kembali menarik nafas perlahan. “Dahyun, aku sudah mengatakan kalau perjodohan dirimu dan Siwon dibatalkan. Namun, kau sepertinya masih memendam kekesalan pada Kyuhyun. Dan aku sudah menegaskan walaupun Siwon memaksa, aku tidak akan merestui hubungan mereka. Tapi aku hanya ingin kalian menyelesaikan masalah diantara kalian demi Hyunsa.”

“Hyunsa? Jadi, Paman hanya memikirkan Hyunsa?” seru Dahyun.

“Jangan menaikkan nada bicaramu, nona muda. Siwon adalah putraku tapi dia sudah dewasa, tapi aku memikirkan cucu perempuan satu-satuku. Selain itu, Hyunsa adalah penerus dari Hyunwon Group selanjutnya. Tentu saja, aku akan memikirkan masa depannya kelak. Jadi, selesaikan masalah kalian tanpa Hyunsa harus ikut campur. Aku sudah cukup jengah melihatnya ikut campur kedalam masalah hubungan keponakanku,” sahut Choi Songjoo. Kemudian tanpa berkata apapun lagi, beliau meninggalkan ruangan tersebut.

Kini tinggal Kyuhyun dan Dahyun. Mereka tidak saling bicara dan hanya melemparkan pandangan tajam satu sama lain. Kyuhyun mungkin berada diposisi yang cukup beruntung, karena Choi Songjoo tidak memihak pada Dahyun. Jadi, Kyuhyun memiliki posisi tawar tinggi jika mereka harus berkompromi untuk menyelesaikan masalah ini. Walaupun sebenarnya, pernyataan Choi Songjoo mengenai beliau tidak akan merestui hubungannya dengan Siwon membuat Kyuhyun seperti jatuh kedalam lubang hitam yang dalam.

Kyuhyun menarik nafas dan berdiri. “Aku hanya akan menegaskan kembali bahwa kau tidak bisa menyentuh priaku lagi ataupun putrinya, Nona Lee. Dan aku tidak akan segan padamu jika kau melanggar hal tersebut.”

“Tch.. Tapi apa yang bisa kau lakukan, eoh? Paman Songjoo tidak merestui hubungan kalian. Apa kau pikir kalian bisa menikah dengan mudah? Choi Siwon adalah penerus Hyunwon Group saat ini. Apa kau tidak berpikir bahwa hubungan kalian bisa menjadi bom waktu bagi perusahaan? Dan lagipula, apa benar Hyunsa sudah sangat setuju pada hubungan kalian? Kau sebaiknya memikirkan hal tersebut, Sekretaris Cho,” sahut Dahyun dengan tenang.

“Aku tidak pernah mengatakan bahwa Hyunsa sudah menyetujui hubungan kami. Tentu saja, aku mengetahui persis bahwa hubungan kami bisa mengancam perusahaan. Tapi aku tidak sebodoh itu, Nona. Jadi, kau tenang saja dan menyingkirlah dengan tenang dari kehidupan kami,” Kyuhyun membalas ucapan gadis itu dengan tegas.

Diruangan lain, Choi Songjoo bisa mendengar jelas percakapan singkat mereka. Walaupun harus diakuinya, Kyuhyun cukup gigih dalam mempertahankan hubungannya dengan Siwon. Sebenarnya Choi Songjoo bisa saja mempertimbangkan merestui hubungan Siwon dengan Kyuhyun. Hanya jika Kyuhyun adalah seorang wanita dan bukan pria.

Tak lama, ia melihat Kyuhyun berjalan menuju pintu. Tapi menyadari bahwa Choi Songjoo memperhatikannya, Kyuhyun terlebih dahulu menunduk hormat kemudian berlalu pergi. Dan Dahyun mengikuti selanjutnya. Gadis itu menatap Choi Songjoo dengan lekat. Tapi tanpa berkata apa-apa, Dahyun memilih untuk meninggalkan kamar besar tersebut.

Choi Songjoo menarik nafas panjang. “Hahh… Aku sudah terlalu tua untuk mengurusi masalah percintaan seperti ini.”

*****

Jungsoo hampir saja tersedak ketika ia melihat nama penelepon dilayar ponselnya. Woon secara spontan menyodorkan segelas air pada kekasihnya tersebut. Jungsoo meminumnya dengan tergesa lalu menerima panggilan telepon tersebut dengan melihat ekspresi bingung Woon.

“Yoboseyo, Eomma.” Woon menjadi terdiam saat Jungsoo menyebut “Eomma”. Kini ia lebih memerhatikan Jungsoo dengan serius.

“Kau dimana, sayang? Bisa menjemput Eomma di bandara?”

Mata Jungsoo membulat. “Eoh? Bandara? Incheon?! Eomma pulang?!” serunya dengan terkejut. Dan Woon juga ikut terkejut mendengarnya.

“Jangan berteriak, Soo. Eomma belum ingin tuli. Eomma akan menunggumu, okay. Dan mungkin kau bisa mengajak kekasihmu. Kita makan bersama, ne.”

Jungsoo terdiam untuk sesaat dan menatap Woon dengan serius. “Soo..”

“Iya, aku akan segera datang. Eomma jangan kemana-mana, ne” Jungsoo lalu memutuskan sambungan telepon dan menggenggam tangan Woon dengan erat. Ia menatap kekasihnya dengan lekat. “Eomma mau bertemu denganmu, Woon.”

*****

Kyuhyun menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Kepalanya berdenyut dengan keras hingga rasanya mau meledak. Perlahan Kyuhyun membuka matanya. Sepertinya jalan hubungannya dengan Siwon semakin sulit, walaupun Kyuhyun sudah mengetahuinya sejak awal hubungan mereka.

Kyuhyun lalu meraih ponselnya dan menatap foto dirinya, Siwon dan Hyunsa pada saat liburan beberapa tahun lalu yang dijadikan sebagai tampilan utama. Kyuhyun tersenyum mengingat kenangan tersebut. Sudah lama sekali sejak mereka pergi taman hiburan seperti itu. Kyuhyun kembali menghela nafas.

“Hyung, bisakah aku bertahan? Kumohon, bantu aku,”

Kemudian Kyuhyun mendengar seseorang mengetuk jendela mobilnya. Ia menurunkan kaca jendela dan melihat Dahyun dengan datar. Kyuhyun tidak bisa menunjukkan kelemahannya dihadapan gadis tersebut.

“Turun sebentar. Ada yang ingin kukatakan,” ucap Dahyun.

Kyuhyun menaruh kembali ponselnya dan lalu memanjat keluar mobilnya. Kyuhyun kini berdiri dihadapan Dahyun. “Apa yang ingin kau katakan?”

Dahyun menatap Kyuhyun dengan serius. Lalu tanpa sebuah peringatan sebelumnya, gadis itu menampar pipi Kyuhyun dengan keras hingga meninggalkan rona kemerahan. Kyuhyun tentu saja terkejut dengan tamparan tersebut. “Untuk apa tamparan itu?” tanyanya.

Kyuhyun tidak akan menampar balik Dahyun, karena bagaimanapun ia tidak bisa menyakiti seorang wanita. Itu sama saja ia menyakiti Eomma-nya sendiri. Jadi, Kyuhyun hanya ingin meminta penjelasan pada gadis tersebut.

“Itu sebagai balasan karena kalian telah menghancurkan harga diriku sebagai wanita,” tutur Dahyun dengan tenang, tanpa rasa bersalah.

Kyuhyun mengernyit tak mengerti. “Menghancurkan harga dirimu? Aku bahkan…”

Dahyun mendecih jengkel. “Tch, menjadi gay? Yang benar saja. Ada banyak wanita cantik tapi kalian malah tertarik satu sama lain. Terlebih parah kalian bahkan tidak peduli bahwa kalian telah menjadi pendosa.”

“Kau tidak berhak menilai seseorang apakah dia adalah pendosa atau bukan, Nona Lee. Tuhan mungkin menciptakan manusia berpasangan, wanita dan pria. Tapi Tuhan juga memberikan perasaan pada setiap manusia. Jika kau pikir, kami memilih untuk saling mencintai maka kau salah besar. Aku tidak pernah memilih kepada siapa aku merasakan jatuh cinta, begitu pula dengan Siwon hyung. Jadi, salahlah kami mengikuti apa yang menjadi kehendak perasaan hati kami? Kalau begitu, Tuhan juga bersalah bukan? Kenapa Ia memberikan perasaan cinta ini pada kami. Hanya saja, Tuhan tidak pernah salah, Nona,” tutur Kyuhyun.

Dahyun terdiam oleh ucapan Kyuhyun. Ia tidak menyalahkan ucapan Kyuhyun, namun tidak juga membenarkannya. Kyuhyun dan Siwon telah melakukan sebuah dosa dimana mereka mengingkari hukum Tuhan, tapi mereka hanya mengikuti perasaan sendiri. Dahyun juga begitu. Walaupun ia selalu menyangkal perasaan itu pada Wonhyun, pada akhirnya ia sangat menyesalinya. Bertemu dengan Siwon seperti sebuah kesempatan kedua baginya untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Hanya saja, Tuhan memang selalu mempunyai rencana yang berbeda dengan apa yang diharapkan umatnya.

Walaupun Dahyun berusaha keras untuk mengikat Siwon, tetapi selalu ada cara untuk menggagalkannya. Sekali lagi, Dahyun masih ingin menyangkalnya. Kyuhyun dan Siwon mungkin saling mencintai, tapi mereka belum memiliki sebuah ikatan sakral dalam hubungan mereka. Dahyun mempercayai masih ada kesempatan. Kesempatan kecil, sekalipun.

Kyuhyun menghela nafas dan mengusap pipinya yang ditampar Dahyun dengan perlahan. Tamparan gadis itu terbilang cukup kuat untuk ukuran seorang wanita anggun dan elegan. Tapi Kyuhyun pun tidak terkejut, karena biasanya sebuah tamparan yang kuat dari seorang gadis mengartikan bahwa gadis itu dulu pernah terluka sebelumnya. Dan kenyataan itu memberi tamparan lainnya bagi Kyuhyun.

Dahyun pernah tersakiti.

Kyuhyun memperhatikan gadis dihadapannya dengan lekat dan sangat terlihat jelas bahwa gadis itu menahan kesakitannya sendiri. Entah apa yang menggerakkan tubuhnya, tapi Kyuhyun baru menyadari kalau ia tengah memeluk Dahyun saat ini. Dahyun sendiri merasa terkejut dengan pelukan Kyuhyun.

Kemudian Kyuhyun menepuk lembut punggung Dahyun. “Aku mungkin salah, tapi kau pernah mengalami kejadian yang buruk di masa lalu yang tidak bisa kau lupakan, bukan?”

Tidak ada jawaban apapun dari Dahyun dan ia juga tidak berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun. “Aku turut prihatin, tapi itu hanyalah masa lalu, Nona. Siapapun pria yang pernah menyakitimu, dia adalah masa lalu. Kau seharusnya menatap masa depan dan melupakannya. Kau adalah gadis cantik dan juga berpendidikan, masih ada banyak pria yang lebih baik untuk dirimu –Siwon hyung, mungkin salah satunya. Tapi Siwon hyung bukanlah pria untukmu. Aku tidak mengatakan bahwa Siwon hyung adalah milikku, tapi ia mempunyai pilihan. Jika pilihannya bukan padamu, kau juga tidak bisa memaksakannya.”

Kyuhyun menarik nafas dan melepaskan pelukannya. Ia menatap Dahyun dengan lekat. “Aku tidak menyukai jika harus menyakiti seorang gadis dan aku juga tidak bisa melihat seorang gadis tersakiti maka untuk itu kumohon, berhentilah. Berhenti sebelum kau tersakiti lebih parah. Kumohon berhenti untuk memaksa memiliki Siwon hyung. Bisakah kau melakukannya, Dahyun-sshi?”

*****

Siwon dan Hyunsa berjalan beriringan menuju salah satu restaurant di hotel Sheraton sesuai dengan ucapan Choi Songjoo. Hyunsa melirik sang ayah yang sepertinya gugup sekali. Jadi, ia menggenggam tangan ayahnya. Siwon memandang putrinya. “Daddy bersikap seperti akan bertemu dengan seorang Presiden saja. Tuan Choi Songjoo itu ayah Daddy dan juga kakekku. Bahkan, bukan seorang Tuhan,” tukas Hyunsa.

Siwon tersenyum dan mengacak rambut putrinya. “Jangan bicara hal aneh, Hyunsa sayang.”

Hyunsa hanya terkekeh. Mereka berjalan memasuki restauran dan melihat Choi Songjoo sudah menempati salah satu meja. Kyuhyun belum sampai sepertinya. Siwon dan Hyunsa berjalan menuju meja tersebut. Dengan spontan, Hyunsa duduk sebelah kakeknya dan menyisakan Siwon dengan satu kursi kosong yang akan ditempati Kyuhyun.

Choi Songjoo menatap putranya lekat. “Kekasihmu belum datang, kau sudah memastikan bahwa dia akan datang?”

“Dia akan datang. Aku sudah menghubunginya dan dia bilang hampir sampai,” tutur Siwon dengan tenang, walaupun sebenarnya Siwon juga merasa kecemasan.

Kyuhyun hanya mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan. Tapi Siwon bisa mendengar nada gugup serta ketakutan pada cara bicara Kyuhyun. Dan Siwon hanya berharap Kyuhyun tetap teguh pada pendiriannya.

Disaat Siwon menunggu dengan cemas, Hyunsa sendiri terlihat tenang. Ia kini malah sibuk melihat-lihat buku menu. Niatan Kakeknya mungkin hanya bicara, tapi ini sudah jam makan siang jadi tidak mungkin mereka tidak memesan makanan, bukan? Sedangkan Choi Songjoo menunggu dengan tenang. Sesekali beliau melirik kearah Hyunsa dan bergantian menatap Siwon.

“Bisa kita pesan makanan dulu? Aku sudah lapar,” tukas Hyunsa memecah keheningan.

Siwon menatap putrinya. “Kau pesan saja, sayang,” tuturnya.

Hyunsa tersenyum senang dan memanggil seorang waiter. Ia menyebutkan beberapa menu pesanannya kemudian beralih pada kakek dan ayahnya. “Kalian tidak mau pesan?”

“Nanti saja, sayang,” sahut Siwon.

Hyunsa mengedikkan bahu lalu menatap kakeknya. Choi Songjoo menghela nafas pendek. “Pesankan untuk kakek,” ucapnya.

“Eoh?  Apa saja?”

Choi Songjoo mengangguk. Hyunsa lalu kembali menyebutkan menu lainnya sebagai makan siang kakeknya. Setelah memastikan pesanan tersebut, waiter tersebut lalu pergi. Hyunsa menghela nafas dan meletakan buku menu.

Suasananya kembali sunyi. Walaupun restaurant cukup ramai, tapi meja mereka terkesan sangat sepi. Tidak ada yang bicara bahkan untuk sekedar pembicaraan ringan. Hyunsa mendesah jengkel. “Kalian seperti orang asing saja. Setidaknya bicaralah, mengenai apapun.”

Tapi keduanya masih membungkam mulut.

*****

Jungsoo dan Woon berkeliling terminal kedatangan untuk mencari ibu Jungsoo yang baru datang dari Taiwan. Tapi setelah duapuluh menit, mereka tidak menemukan beliau. Jungsoo menarik nafas dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang eomma sedangkan Woon yang menemaninya kembali memperhatikan sekitar. Walaupun ia belum pernah bertemu dengan ibu kekasihnya, Woon sudah pernah melihat foto wanita tersebut.

“Eomma, eodiseo? Aku sudah dilobby terminal kedatangan.”

“Eoh? Kau sudah datang. Tunggu sebentar.”

Jungsoo mengernyit. Woon yang sudah kembali memperhatikannya menatapnya bingung. “Kenapa?” tanya Woon. Jungsoo menggeleng dan menarik nafas perlahan.

“Eomma melihatmu, sayang.”

“Eh? Melihatku? Dimana?” Jungsoo lalu memperhatikan sekitar berusaha untuk mencari ibunya. Kemudian Jungsoo melihat seorang wanita paruh baya yang menarik sebuah koper berjalan kearahnya.

Jungsoo terdiam dan tanpa sadar memutuskan sambungan telepon. Woon juga menyadari keberadaan wanita paruh baya tersebut. Walaupun pernah melihatnya dari sebuah foto, tapi Woon harus mengakui bahwa ibu sang kekasih jauh terlihat lebih nyata saat ini.

Sunghee tersenyum cantik menatap putranya yang kini sudah menjadi pria dewasa. Sepertinya baru kemarin Sunghee mengantarkan Jungsoo pergi ke sekolah pertamanya, tapi sekarang putranya tumbuh menjadi pria yang tampan.

“Eomma…”

Sunghee kini berdiri tepat dihadapan Jungsoo dan Woon. Sekilas Woon membungkuk hormat pada ibu kekasihnya. Sunghee memasukkan ponselnya kedalam tasnya. “Kau tidak mau memeluk Eomma, Soo? Apa kau tidak merindukan Eomma?”

Jungsoo tersentak. Ia menarik nafas lalu melangkah untuk memeluk tubuh wanita yang paling berharga dan sangat dirindukannya. Jungsoo memeluk sang Eomma dengan erat. “Ani, aku sangat merindukan Eomma. Terlalu rindu hingga aku harus menahan diri untuk tidak terlalu sering menghubungi Eomma.”

Sunghee menepuk punggung Jungsoo dengan lembut. “Eomma pulang, nak.”

*****

Kyuhyun merasa tidak nyaman dengan kursinya. Ia terus bergerak untuk mencari posisi yang nyaman. Atau mungkin Kyuhyun yang merasa terlalu gugup dengan tatapan serius dari Choi Songjoo. Siwon yang duduk disebelahnya secara sadar menyentuh tangan Kyuhyun dan tersenyum tipis. Sedangkan Hyunsa sendiri sedang sibuk dengan makan siangnya.

Choi Songjoo menarik nafas perlahan dan meraih gelas minumannya. Setelah meneguknya beberapa kali, Choi Songjoo akhirnya siap untuk memulai pembicaraan siang hari itu. “Kalian berencana menikah?” tanyanya dengan tenang.

Siwon menatap sang ayah serius. “Tentu saja. Kami tidak akan sampai sejauh ini jika kami tidak berniat untuk menikah,” jawab Siwon yang kemudian melirik pada putrinya.

Choi Songjoo ikut melirik cucu perempuannya yang bertingkah seakan tidak mendengar perbincangan mereka. “Lalu bagaimana dengan Hyunsa? Dia sudah menyetujuinya?”

“Hyunsa…? Belum. Dia belum sepenuhnya menyetujui pernikahan kami,” tutur Siwon yang masih menatap Hyunsa.

Kyuhyun yang belum bicara sepatah kata juga memperhatikan Hyunsa. Kyuhyun sedikit merasa heran karena Hyunsa tidak menunjukkan keseriusannya dalam perbincangan ini. Walaupun begitu, Kyuhyun tidak terlalu berharap kalau Hyunsa akan mendukung hubungan mereka dalam pertemuan ini.

“Jadi, kalian tidak akan menikah jika Hyunsa tidak memberikan persetujuan,” ucap Choi Songjoo yang menyadarkan Kyuhyun dan Siwon.

Siwon menatap Kyuhyun dan mengeratkan genggaman tangannya. Kyuhyun membalas tatapan Siwon dan melihat kekasihnya tersenyum. Hyunsa yang sedari tadi menyibukkan diri dengan makan menyadari hal tersebut. Ia meletakan sumpitnya dan menyeka mulutnya dengan serbet.

“Aku ke toilet sebentar,” ucapnya tiba-tiba.

Choi Songjoo lalu menatap Hyunsa dengan serius. “Tidak bisa, sayang. Kau harus tetap disini hingga pembicaraan selesai,” tuturnya.

Hyunsa mengernyit. “Aku tidak akan kabur, Kakek. Aku hanya ingin ke toilet.”

“Tetap tidak bisa, Hyunsa. Lagipula ada hal yang ingin Kakek tanyakan padamu. Apakah kau akan menyetujui pernikahan Daddymu dengan Kyuhyun-sshi?”

Hyunsa terdiam. Ia menatap kakeknya dengan serius. Lalu ia beralih menatap Siwon dan Kyuhyun yang juga memperhatikannya. Entah bagaimana Hyunsa merasa kalau Kakeknya sengaja membawanya kedalam pembicaraan ini untuk menyudutkannya –sekaligus mencari persetujuan dirinya untuk menolak hubungan Siwon dan Kyuhyun.

Hyunsa menarik nafas perlahan dan meraih gelas minumannya. Ia meneguknya hingga habis. “Kakek mendengarnya sendiri. Aku belum menyetujui hubungan mereka sepenuhnya, tapi bukan berarti aku menentangnya.”

“Jawabanmu terlalu berbelit, sayang. Memang sampai kapan kau akan bertahan dengan jawaban seperti itu? Apa kau berencana untuk menggantungkan hubungan mereka hingga mereka yang memutuskan sendiri untuk berpisah, begitu?” ujar Choi Songjoo.

Siwon menatap putrinya yang terdiam setelah mendengar apa yang diucapkan oleh ayahnya. Kini Siwon menyadari kalau Hyunsa sepertinya tidak mempunyai niatan menyetujui hubungannya dengan Kyuhyun. Dan itu sedikit mengecewakan Siwon, karena Hyunsa selalu memberikan harapan besar bagi Siwon.

“Lalu bagaimana dengan Kakek?” sahut Hyunsa.

Choi Songjoo mendengus. “Kau sudah tahu jawabannya. Kakek tentu tidak memberikan restu pada hubungan mereka. Bahkan sebenarnya pada hubungan pamanmu, Kakek juga tidak pernah setuju.”

“Tapi kalau pun mereka menikah, Kakek tidak akan peduli. Yang Kakek pikirkan hanya dirimu, karena kau adalah satu-satunya penerus Hyunwon Group,” lanjut Choi Songjoo yang memberikan kejutan lainnya.

Well, sebenarnya pada titik ini, Choi Songjoo sudah tidak begitu mencampuri kehidupan pribadi putranya. Siwon sudah berusia empatpuluh tahun dan Songjoo sendiri sudah terlalu tua untuk mengurusi putranya. Yang menjadi beban pikirannya adalah Hyunsa. Gadis muda itu akan menjadi penerus Hyunwon Group untuk menggantikan Siwon nantinya.

Choi Songjoo kembali menatap Siwon dan Kyuhyun dengan serius. “Jika kalian menikah, itu adalah pilihan kalian. Tapi jika Hyunsa tidak setuju, maka aku akan membawa Hyunsa ke Taiwan.”

“Lalu jika aku setuju, apakah Kakek akan tetap membawaku ke Taiwan?” tukas Hyunsa.

Choi Songjoo tersenyum. “Benarkah kau akan setuju, Hyunsa? Tapi jika kau menyetujui pernikahan mereka, Kakek memberikan pilihan padamu untuk tinggal bersama Kakek dan Nenek Sunghee di Taiwan. Bagaimana?”

“Tchh.. Bukan itu sama saja aku harus ikut ke Taiwan?” dengus Hyunsa.

“Tidak, Hyunsa. Jika kau menolak pernikahan Daddymu maka Kakek akan membawamu, tanpa mendengar protes darimu ataupun Siwon. Dengan kata lain, Kakek akan membawamu secara paksa. Tetapi jika kau setuju, maka kau mempunyai pilihan untuk ikut dengan Kakek atau tinggal bersama keluarga barumu.”

*****

Jungsoo merasa gugup. Sangat gugup. Walaupun yang berada dihadapannya kini adalah ibu kandungnya, tapi rasanya Jungsoo ingin meledak dan menghilang. Sudah cukup lama sejak ia terakhir kali bertemu dengan ibunya, dan kini sang ibu kembali dan bahkan makan siang bersama dengan dirinya dan juga kekasihnya, Woon. Sejujurnya, Jungsoo bahkan tidak mengharapkan kalau pertemuan ini terjadi dengan cepat.

“Jadi, Eomma dengar kalian akan menikah,” ucap Sunghee disela acara makan siang mereka.

Jungsoo mengangguk kecil dan menunduk menatap piringnya. Sunghee tersenyum  tipis. “Well, sebenarnya Eomma sangat kecewa padamu, Soo. Putra tunggal Eomma menikah tetapi dia sama-sekali tidak memberitahu Eomma-nya. Eomma bahkan harus mendengarnya dari orang lain. Apa kau berniat menikah tanpa memberitahu Eomma-mu, eoh?”

Sontak Jungsoo mengangkat kepalanya. “Ani, bukan begitu. Aku…” Jungsoo lalu menoleh kearah Woon. Kekasihnya itu tersenyum dan menggenggam tangan Jungsoo dengan erat. Jungsoo menarik nafas perlahan dan kembali menatap Sunghee yang menunggu penjelasan darinya.

“Aku berniat memberitahu Eomma setelah masalah disini selesai. Lagipula kami tidak menikah terburu-buru,” tutur Jungsoo pelan.

Sunghee menarik nafas. “Apa masalah yang kau maksud adalah masalah keluarga Siwon? Kalau iya, seharusnya kau tidak begitu menyibukkan diri untuk menyelesaikannya, sayang. Itu adalah masalah pribadi Siwon. Walaupun dia sendiri yang meminta bantuanmu, kau harusnya tahu dimana batasan bagimu untuk membantunya. Lagipula Songjoo tidak akan senang jika orang lain mencampuri masalah keluarganya, walaupun orang lainnya adalah keluarganya sendiri.”

“Aku tahu, hanya saja Hyunsa….”

“Ah, masalah Hyunsa. Sebenarnya bagaimana keadaannya saat ini, Soo? Eomma merasa kalau Hyunsa kembali bermasalah. Terakhir kali dia menelepon sepertinya sedang terjadi masalah besar. Ada apa?” tanya Sunghee.

Jungsoo sekali-lagi menoleh pada Woon. Entah ia harus menceritakannya atau tidak pada sang ibu. Tapi Woon hanya memberi tatapan seakan itu adalah keputusannya sendiri. Sunghee melirik keduanya dengan lekat.

“Baiklah, kita jangan bicara mengenai Hyunsa dan Siwon lagi. Kita simpan itu nanti saja. Jadi, bagaimana denganmu Woon? Apa pekerjaanmu dan bagaimana latar belakang keluargamu?” Sunghee akhirnya mengalihkan pembicaraan.

“Ye?” Woon agak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan untuknya.

Mata Jungsoo membulat mendengar pertanyaan ibunya yang sangat to the point. “Eomma!”

“Waeyo? Eomma hanya ingin mengenal calon menantunya, Soo. Jadi, Woon…”

*****

“Apa jawabanmu, Hyunsa? Kau menyetujuinya atau kau menolaknya?” tanya Choi Songjoo dengan serius.

Sepertinya beliau tidak akan membiarkan masalah ini begitu saja. Hyunsa sendiri sudah sangat jengkel didesak oleh kakeknya dan ayahnya juga tidak bisa membantunya. Hyunsa menarik nafas dan menyandarkan punggungnya di kursi.

“Aku akan menjawabnya besok. Aku sudah terlalu kenyang hingga tidak bisa berpikir,” sahutnya.

Choi Songjoo lalu meraih gelas minumannya. Ia tersenyum sebelum meneguknya. Kemudian setelah beberapa teguk, beliau meletakan kembali gelas tersebut. “Tidak bisa, Hyunsa. Kakek menginginkan jawabannya saat ini juga. Iya atau tidak. Itu adalah jawaban yang mudah, bukan? Kenapa kau memperlukan waktu begitu lama hanya untuk memikirkannya?”

Hyunsa mendesis dengan jengkel. Kakeknya benar-benar membuatnya sangat kesal. Choi Songjoo lalu menatapnya dengan lekat. “Wae? Apa kau marah karena Kakek bertanya? Hyunsa, Kakek dan ayahmu hanya memerlukan jawaban darimu. Well, ini menyangkut masa depan kalian, bukan. Jadi, putuskan sekarang.”

Hyunsa kemudian menarik nafas dan perlahan berdiri. Siwon memperhatikannya putrinya dengan lekat. Walaupun ia berharap Hyunsa akan menjawab “iya” tapi Siwon tidak menaruh harapan tinggi. Dan apapun yang menjadi jawaban dari Hyunsa, Siwon harus kembali memikirkan bagaimana tindakan selanjutnya.

Hyunsa menatap kakeknya dengan serius. “Jawabanku adalah tidak.”

Saat itu pula rasanya tubuh Siwon menjadi hancur. Walaupun ia sudah mempersiapkan diri untuk mendengar jawaban terburuk, tapi tetap saja saat mendengarnya langsung dari Hyunsa, itu membuatnya lemas. Kyuhyun sendiri tidak bisa mengatakan apapun –oh, bahkan sejak awal pembicaraan ini, ia sama sekali tidak bicara. Hyunsa melirik kearah ayahnya. Terlihat jelas raut kekecewaan dari ekspresi Siwon. Tapi Hyunsa tidak bisa berbuat banyak.

“Aku tidak akan ikut dengan Kakek ke Taiwan,” dan selanjutnya Hyunsa meninggalkan restaurant tersebut. Meninggalkan Siwon dan Kyuhyun yang terkejut dengan ucapan Hyunsa.

Choi Songjoo menghela nafas. “Dia tidak ikut ke Taiwan. Yah, itu adalah keputusannya,” tuturnya.

Siwon masih menatap serius pada ayahnya. Choi Songjoo kemudian tersenyum lagi. “Tapi bukan berarti dia menyetujui pernikahan kalian, Siwon. Jadi, mungkin aku akan kembali tinggal di Seoul untuk mendidik Hyunsa.”

*****

Kyuhyun menarik nafas panjang dan hanya menatap punggung Siwon dengan lirih. Pertemuan hari ini memang berjalan cukup lancar tanpa ada perdebatan, tapi sepertinya Siwon sangat hancur dengan keputusan akhir. Kyuhyun sendiri merasa sangat tidak berguna bagi kekasihnya karena ia sama sekali tidak berbicara sepatah kata untuk hubungan mereka. Jadi, ia merasa lebih bersalah pada kekasihnya.

Kemudian Kyuhyun memanjat keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Siwon yang sedari tadi hanya memandang sendu kearah sungai. Setelah pertemuan itu, Hyunsa mengambil kunci mobil Siwon dan menyuruh ayahnya pergi dengan Kyuhyun. Walaupun Kyuhyun tidak tahu apa maksud perbuatan Hyunsa, tapi Kyuhyun merasa apa yang dilakukan Hyunsa adalah benar. Mereka –Kyuhyun dan Siwon– harus bicara serius mengenai hubungan mereka selanjutnya.

Kyuhyun menghela nafas dan mendekati Siwon lagi. “Hyung…”

Siwon tidak memberikan respon. Ia hanya berbalik dan menatap Kyuhyun dengan lekat. Kyuhyun agak menunduk menatap jemari tangannya dan kemudian ia melepaskan cincin yang diberikan oleh Hyunsa. Kyuhyun memejamkan matanya sejenak lalu ia menyodorkan cincin itu pada Siwon.

“Pilih Hyunsa, hyung.”

Siwon menatap cincin itu dalam diamnya. Selain itu, Siwon juga melihat tangan Kyuhyun yang gemetaran. Siwon kembali menatap Kyuhyun, walaupun kekasihnya itu sama sekali tidak melihatnya. Tangan Siwon bergerak untuk mengambil cincin itu, tapi pada akhirnya Siwon menggenggam tangan Kyuhyun yang terjulur kearahnya.

“Inikah akhirnya? Bahkan hubungan kita tidak mempunyai takdir selain berpisah. Atau aku yang dikutuk tidak akan pernah bahagia karena selalu membangkang pada Abeoji?”

“Hyung…”

Siwon tersenyum lirih. “Simpan cincinnya, Kyuhyun. Hyunsa memberikannya sendiri padamu. Jangan mengembalikannya, kecuali jika dia yang memintanya langsung padamu.”

“Tapi Siwon hyu…”

Siwon menarik tubuh Kyuhyun dan mencium bibir kekasihnya dengan lembut. Kyuhyun bahkan tidak sempat bereaksi apapun, karena detik berikutnya Siwon melepaskan ciuman tersebut. “Kita akan mengakhirinya pelan-pelan, seperti katamu, Kyuhyun.”

Kyuhyun kembali menunduk untuk menghindari tatapan Siwon. Ia bahkan kini menyesalkan pernah berucap seperti itu pada Siwon sebelumnya. Bohong jika Kyuhyun merasa baik-baik saja, karena dirinya sama hancur seperti Siwon. Tapi Kyuhyun harus tampil kuat dihadapan Siwon, karena jika tidak, maka Siwon tidak akan melepaskannya. Walaupun Kyuhyun tidak yakin bisa melepaskan Siwon sepenuhnya.

Siwon sedikit menundukkan wajahnya mendekati wajah Kyuhyun. Kemudian ia mengecup pipi Kyuhyun dan membisikkan, “Aku mencintaimu, Kyuhyun. Selalu mencintaimu.”

Aku juga mencintaimu, hyung.

*****

Note: Total part ini 9k words. Sebenarnya ini dua part, 20 dan 21 tapi akhirnya aku memutuskan untuk menjadikan satu. Well.. semoga gak muntah setelah bacanya. Karena ini super duber absurd -.-
Dan karena part ini puanjang, part berikutnya ditahun depan. Bulan ini mungkin akan beberapa publish fanfic OS. Sisanya untuk tahun depan seperti The President yang diganti judul. Only One maksimal cuma 25 part karena fanfic ini fanfic terpanjang lainnya yang pernah dibuat oleh aku. So…
bagi, yang masih tanya cerita awal Only One atau fanfic lainnya (terutama bagi pendatang baru), bisa email ke andiera_kim@yahoo.co.id atau jaeshinchoi@yahoo.co.id tulis nama id, judul fanfic, kalau belum ada balasan dari aku 2X24 jam, bisa mention ke @JaeChoi_ dan kasih tahu kirim ke id yahoo yang mana. Terima kasih…. ^^
Advertisements

48 thoughts on “[SF] Only One Part 20

  1. Aduh hyunsa kenapa jadi kyk gini, kenapa tiba2 tidak merestui wonkyu menikah…makin berat aja masalah siwon dan kyu..dan choi songjoo makin berkibar…
    Semoga chap depan nya hyunsa benar2r bisa merestui mereka.

  2. gemeter sendiri bacanya. ga nyangka. kayak, kyu sama siwon udah sejauh itu tp mesti hampir -udah- pisah gitu. hyunsa juga agak bingungin. kasian siwon sama kyuhyun, juga kayak sia sia aja orang sekitar mereka bantu mereka. huhuhu angst banget:( tapi sukaaaa 🙂

    duh semoga part selanjutnya ceet di publish. gasabat banget nunggunya hehe
    lost in love juga udah gasabar pengen baca lanjutannya hehe semangat semangat! 🙂

  3. Mkin rumit ni mslh wonkyu..
    Rasa’y sedih sekli msti pisah pelan pelan,aduh moga z gk mpe terjdi deh..
    Hyunsa mudh+n bsa rubah keputusannya kasian kn pasangn wonkyu msti pisah..

  4. oke ini bener2 bikin speechless g tau mau ngomong apa …. apa wonkyu bakalan beneran pisah emg hyunsa g bisa ya g ragu gitu nerima hub wonkyu …. untuk kali ini jadi gemes bgt sama hyunsa dia kok php banget sama hub wonkyu semuanya menunggu dan tergantung sama keputusannya tp dia msh plin plan gitu dasar hyunsa masih ababil sih ya #plak
    dahyun maen tampar anak orang sembarangan eh malah dpt bonus pelukan dari kyu … kyu terlalu baik bahkan sampe nyuruh siwon bwt pisah dan milih hyunsa…
    kakek choi jg g jelas ah penawarannya ke hyunsa ambigu … hah pokoknya harus cepet lanjut lah biar semuanya jd jelas dan berharap wonkyu g jadi pisah 🙂

  5. Waaah ini mang panjang.
    Tapi tetap aja meras butuh kebih karna makin seru.
    Sikoment2 ku sebelumnya mungkin sering nyalahin diera.
    Tapi dichap ini sedikit tidak aku ngrti ma sikap diera.
    Ga mungkin kan diera aka hyunsa nerima gitu aja hubungan wonkyu yang sesama jenia.
    Trus hyunsa sendiei juga pernah suka ma kyu. Bahkan mungkin masih suka.
    Siera disini sepertinya dominan banget.
    Kadang ngerasa kyu hanya pendukung aj di ff ni.
    Kadang2, heeee
    Suka ma sikap kyu terhadap dahyun.
    Yang kyu meluk n nenangin dahyun.
    Buatku kalo begini kyu benar2 angel.
    Sopan tapi tetap tegas n penyayang.
    Gimanapun endingnya, sebagai reader akan coba nerima dengan lapang dada dah.

  6. g tega klo wonkyu hrs brakhir kyk gt
    dan aq kra jg hyunsa sdah setuju
    tp trnyata brbda ya pmikiranny
    bkin greget di chap ni
    chap dpn thn dpn ya?
    ok siiip
    lnjuuut aj ne
    keep writing

  7. g tega klo wonkyu hrs brakhir kyk gt
    dan aq kra jg hyunsa sdah setuju
    tp trnyata brbda ya pmikiranny
    bkin greget di chap ni
    chap dpn thn dpn ya?
    ok siiip
    lnjuuut aj ne
    keep writing trs

  8. panjang dan ga absurd sama sekaliiii
    ya masa WonKyu pisaaaahhhh……
    sedih deh d gantungin sampe thn depan hixhiiixxxx
    gpp dehh
    semangtau eonnie! 😀

  9. Akhirnya kepetusan hyunsa kebuka di part ini, bener kah kyu n siwon bakalan berpisah secara pelan2, sedih…
    Padahal mereka hanya perlu persetujuan hyunsa, Semoga endingnya berakhir buat semuanya…

  10. aduh smaikn sulit nieh hub siwon dan kyu,,
    knapa hyunsa ambl keputsn gtu,, ada yng bkal d rncanakn kh sma hyunsa d blkng wonkyu,,
    di tunggu next chap 🙂

  11. waj wah deg”an ini hyunsa bilang nya belum jelas walaupun hyunsa bilang ‘ aku tidak akan ikut kakek ke taiwan’ tapi dia belum bilang setuju wonkyu menikah TvT

    semoga aja wonkyu jangan putus yah ayo hyunsa karna kita seumuran ayo kita dukung daddy won buat bersatu sama kyuhyun *lol ini ngak nyambung #abaikan hehe XD

    oke author karna aku baru baca dari part 12 aku boleh yah minta part 1-11 nya Only one ^_^ aku kirim lewat email sekarang XD

    fighting for next chap ^^9
    nothing better than 원규 ♥

  12. Pisah pelan2…ga tega liat Wonkyu hrus berakhir seprti ini.ku pikir setelah dahyun menyerah mereka akan mudah bersatu krn seperti tuan songjoo tdk terlalu menghambat Wonkyu tpi kenyataannya masih ada diera yg menentang hubungan mereka dan di saat2 penentuan dia mlh bilang tdk setuju hufft gmana nasib Wonkyu ke dpan

  13. Uwwooo,,, huft,, part ini bener2 menegangkan,, ikutan meghela nafas bacanya,,
    Hyunsa oh hyunsa,, kputusan bener2 di tangan dia eoh,!!!
    Oh nooooo,,, pisah pelan-pelan,, aku gag setuju,, jangan pisahin wonkyu please,,!!!

  14. Gk twu deh mwu komen apa,
    tp yg jelas aku sangat menikmati cerita ini.alur nya rapih dan aku jg gk nemu typo.
    Aku bner2 suka ceritanya,kyk real bangettt!!!
    Tetep semangat ya;)

  15. Ga bayangin pas siwon tau kalo anaknya suka kyuhyun juga
    Jujur kak, siwonnya dibuat menderita ya kak *doyan cerita sadis*
    Semoga deh semoga wonkyu sanggup melewati ini semua *tsaaah*

  16. udah yakin jawaban hyunsa bakalan tidak..
    sama kayak siwon, walaupun udah mempersiapkan hasil yang terburuk rasanya tetep rapuh menerima kenyataannya..
    hyunsa seperti memberinya singgasana tertinggi yang akhirnya dy rebut secara paksa, mungkin bila hyunsa sedari awal tidak menyetujui tidak akan ada perasaan yang semakin dalam, ya walau pastinya wonkyu pun ttap akan berusaha untuk mendapatkan persetujuan dari hyunsa..
    aigoo.. perpisahan secara perlahan,, nyesek bgd bca kata2 itu..
    semoga semua bisa dilalui dengan baik, pada akhirnya pasti akan berbahagia juga bukan??
    ah ga sabar nunggu hasil akhir dari romansa wonkyu ini..

  17. di chap. ini aku smp nangis dn ikutan deg2an, dan yg lbh mengejutkan adalah hyunsa tdk setuju dng rencana pernikahan wonkyu…, hancur sdh impian wonkyu utk bersatu. wae…?? hyunsa??? wae??? apa krn wonkyu sama2 namja? apa krn kamu masih mempunyai perasaan terhadap kyuhyun? apa kamu masih blm rela kl ayahmu menikah lg? atau alasan lain??? salut buat kyuhyun..dia rela megorbankan cintanya dan jg impiannya bersama siwon demi kebaikan orang lain, tp apakah semua akan baik2 sj? berpisah scr perlahan2?? itu sangat menyakitkan. sama aja dng menyiksa wonkyu scr perlahan2, walaupun utk saat ini wonkyu harus berpisah tp nntnya wonkyu bersatu lg, ne. pleaseeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!!!!!!!!, oh..ya…di sini di sebutkan penyakit hyunsa tp aku masih bingung utk memahaminya, penyakit kejiwaan yg gimana sich??? mudah2an aja hyunsa bisa sgr sembuh dng penyakitnya. oke deh di tunggu next chapter.

  18. ini bener2 chap yang menggemaskan
    wonkyu sudah di ujung tanduk, dan skrg mrk memutuskan untuk sgr mengakhiri hub mereka
    adakah yg bisa menolong hub mrk??
    wait for the next chap

  19. Hubungan wonkyu mulai renggang 😦 kasian babykyu dia mw mengalah semi hyunsa, siwon jga serba salah:( ayo dunt hyunsa restuin hubungan daddy kamu kn kasian, g da yg bsa melawan perasaan jika kita saling menyayangi, #ganyambung

  20. Nyesek bca’a,, knp jd kya gni??? Hyunsa knp gk stuju…pnsrn bgt klnjtn’a..smga wonkyu tetep bersatu …sbr nunggu smp thn dpn..kkkkk..smgt trs bt author’a..

  21. unnie chap ini bner” bkin tgang, apalagi pas nunggu jawabannya hyunsa mkin aku sampe nahan nafas sangking tegangnya …
    hyunsa mmg bner” sulit ditebak fikirannya, ckckck
    ini adalah salah satu ff yg bikin prasaanku jungkir balik(?) dua jempol buat eon 🙂

  22. butuh 1 jam ini baca’a,panjang bener saeng :3
    but..aku gabosen kok baca’a,berasa kyak lg nnton drakor wonkyu mlm2 gini XD

    huh..aku bener2 kaget lho pas hyunsa blg ‘tidak’,tpi trnyata dia bkn brarti bnr2 nolak klo wonkyu nikah kan?
    andwae!! jgn saeng,jgn bkin wonkyu pisah,aku ga relaaa!!
    huee..
    KangTeuk aja udh diterima hubungan’a sma eomma jungsoo,knapa wonkyu ngga? susah amat -_- jwaban’a pd belit2 sih..*lirik songjoo + hyunsa :3
    lanjutan’a thn dpn ne? lama amat :3
    yesungdah aku tunggu deh XD

  23. astaga… ini memang sulit bagi Hyunsa bisa terima orang tua baru, terlebih itu orangnya Kyuhyun.
    intinya, Hyunsa adalah kunci untuk hubungan Won dan Kyu. aigoo aigoo.. moga WonKyu bisa bersama di kemudian hari

  24. Eeeh kirain tamat,masih ada 5 part lagi kah?oooowwwh,jadi ikut deg2 an sama jawaban hyunsa,tp ternyata msh ambigu,dan sepertinya wonkyu salah paham yah,sebenernya hyunsa setuju2 aja kn?tp wonkyu pesimis,masa main putus pelan2 gt si,huweeee…

  25. Kyu! come here, Babyyyy….
    Sini sama aku aja. Biarkan Siwon bersama anakny 😛 😀 ..

    Benci bgt sama Hyunsa. Jawabanny kok meragukan gitu. Nyebelin -_-

  26. Kakek choi tidak merestui tp tidak menentang karna keputusan ada di tangan hyunsa …

    Tp Yach … Kenapa jawaban hyunsa malah tidak ???? Gimana sama wonkyu? Masa mau pisah ? Jangan dong … >__<

  27. Kakek choi tidak merestui tp juga tidak menentang karna keputusan ada di tangan hyunsa …

    Tp Yach … Kenapa jawaban hyunsa malah tidak ???? Gimana sama wonkyu? Masa mau pisah ? Jangan dong … >__<

  28. Apa maksudnya berpisah pelan2???? Jdi kndalanya ttp ada pda Hyunsa??aiisshhh gadis ituuu…kakek choi trnyta tdk semenyeramkan yg dikira, kcinya ttp ada pda Hyunsa…,
    Ttg gangguan krpibadiannya….daebak, fict ni brisi bgt, dan gomawo untuk chap terpanjangnyaaaa

  29. Npa yah aku bnci dgn sikap Hyunsa disni?? Bleh aku bilang dia egois tpi dia punya alasan tuk membangkang hubungan wonkyu.. Plez jgn buat wonkyu berpisah mestipun pelan2 kan sia2 pengorbanan yg mreka lakukan..

  30. . apa ini ? semakin rumit aja … pikiran hyunsa bener” gag bisa d tebak . appa choi jg semakin menyudutkan momdad . walopun appa choi gag ikut campur urusan pribadi daddy karna daddy udah tua . tp memisahkan daddy dg hyunsa (walopun blum trjadi) secara gag langsung nyuruh daddy utk brpisah dg mommy . dan sial na rencana appa choi brhasil , karna daddy gag akan ninggalin hyunsa n mommy gag mungkin nyuruh daddy milih dy dibanding hyunsa . selain itu hyunsa jg gag setuju kalo momdad nikah . rumit rumit rumit …

    . apa dg momdad brpisah semua na akan baik” saja ? apa yg sebenar na d pikirkan oleh hyunsa ? qw benar” penasaran .

  31. makin nyesek dan gak tau harus bilang apa..
    kesannya tragis bgt kalau misalnya hyunsa beneran gak setuju sama hubungan wonkyu dan wonkyu harus pisah gitu aja TT.TT

    huaaaaaaaaaa jangan pisah perlahan2 gituuu… lebih nyesek :(((((((((

  32. Satu kata: “Keren!”
    Ini keren banget kak. Memuaskan. Gak absurd kok, kk menyampaikan emosi dalam ceritanya dengan baik. Jujur, karena baca ini aku sampai gak peduli sama sekitarku. Aku sampe melupakan makan siangku *lebay 😀
    Woah, jadi kk bener-bener bercerita tentang bipolar yaaaa~
    Keren kak!! ^^
    Aku suka sama cerita kali ini. Ah, jadi Kyu sama Siwon akhirnya apisah yaa?
    Kasihan Kyu 😦
    Kasihan Siwon juga sih 😥
    Setelah ini kisahnya bakalan beda kan? TToTT

  33. Huuwwaaa…jadi beginikah akhir perjalanan cinta wonkyu ??
    Aduhhh jngan pisah dong … Setelah sekian lama mreka mempertahankan hubungan mreka bahkan sampai berani menentang choi sungjoo masa harus berakhir dengan perpisahan.. *nyesekk banget bacanya

    dan hyunsa jujur aku jg kecewa dengan keputusan nya yg ternyata tidak setuju dengan hubungan wonkyu…..
    Trus kalo udh begini gimana dengan kehidupan siwon dan kyuhyun kedepan nya yaa?

    Lanjut eonni..

  34. Wow ini ff yg terpanjang dan seru utk dibaca
    Tapi kok wonkyu harus pisah nih eonni dan kenapa hyunsa sampai belain” mereka dan ternyata hyunsa juga gak setuju dgn wonkyu….:(
    Harus lanjut a eonni

  35. huwaaaaaaaaaaaaa….. sepanjang part ini entah knpaaa nangis muluuuuuuu…… haduuuuuhhh bnguuuung saeng mauu coment apa…..

    seriusaNnnn rasanya nano nano dan campur2 …..

    nyeseeeeekkkk liat wonkyu kaya gtw…. huhuuuuuuu….

    aku jg udh felling sih dliat dr tingkah hyunsa klo jwaban hyunsa bkalan “tidak” tp tetep aja nyeseeek….
    g bs jg nyalahin hyunsa, ahhh berharap kdepan nya semuH akan baik2 saja dan Wonkyu dipersatukan …

  36. huaaaaaa nyesek bacanya…. bukan kalian ajah yg hancur, kami juya…. (━┳━ _ ━┳━)
    aigooooo nyesek bgt… mengakhiri pelan2 bukannya malah sangat menyakitkan….
    hyunsa sebenernya ada apa denganmu ????
    gak berasa kalo part ini panjag bgt….. ㅋㅋㅋ
    cus selanjutnya…..

  37. Bahkan sebelum Dahyun ngelakuin hal yang jauh lebih gila, jauh lebih konyol, dan jauh lebih berbahaya wonkyu udah nyerah duluan. Sebenernya ga ada yang bener bener “mengancam” hubungan mereka kalo aku liat yaaa kecuali Hyunsa. Tapi ayolahh Hyunsa juga pengen daddynya bahagia sedikit pendekatan mungkin dia bisa terima.

    Belom baca part yang di suatu tigik kyu drop banget gitu, won juga terus mereka nangis. Pengen ^^

  38. Kenapa wonkyu berpisah???
    Bukannya hyunsa milih gak ikut ke taiwan sama kakeknya, itu artinya hyunsa setuju donk wonkyu pisah? Kenapa siwon malah bilang berpisah secara pelan2???
    Hyunsa emang baik karna pengen liat daddynya bahagia dengan bersikap posesif ke daddy, tp dengan dia misahin kyu dari daddy malah bakal buat daddy hancur

  39. Knp dgn hyunsa???klo mank dy ga bs mnyetujui hbngan wonkyu dr awal sharusnya ga brsikap mmbri harapan….dn skrg ap bs wonkyu pisah pelan2….
    Bskah Dahyun mnyerah pda siwon,,stelah perkataan kyu!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s