[MM] The President Part 9

The President By Suciicho

Jekyll

Kyuhyun dan Jonghyun saling berpandangan dengan mata hampir keluar. Ucapan dari Tuan Kang masih seperti ilusi. Keduanya memang baru mengenal Tuan Kang hampir dua bulan ini dan mereka cukup paham dengan sifat salah satu anggota Dewan Kerajaan tersebut. Tapi mendengar Tuan Kang mengatakan persetujuannya untuk mengijinkan Kyuhyun dan Jonghyun kembali ke kampus benar-benar sebuah kejutan.

 “Ye? Ka-kami bisa kuliah lagi?” seru Kyuhyun.

Tuan Kang mengangguk. “Presiden Lee sudah mengatur beberapa hal. Jadi, kalian berdua bisa kembali kuliah. Dengan pertimbangan ini adalah tahun terakhir kalian. Namun, kalian tidak mempunyai hak tawar dalam hal ini.”

“Maksud anda?” tanya Jonghyun setelah ia sadar dari masa trans-nya.

Tuan Kang menarik nafas perlahan. “Seperti yang kalian tahu, Pengawal akan terus berada bersama kalian selama duapuluh empat jam tanpa pengecualian. Begitu pun saat kalian pergi ke kampus atau keluar dari paviliun. Persiapan pendirian Kerajaan akan tetap berlangsung dan kalian harus belajar. Kalian bisa mendiskusikan waktunya dengan para profesor. Dan kalian tidak boleh mengatakan apapun tentang Kerajaan pada orang lain, bahkan pada teman kalian sendiri,” ucapnya dengan tegas.

Kyuhyun menatap Jonghyun lagi. Saudaranya terlihat sedang berpikir. Walaupun mereka berdua sangat ingin kembali ke kampus, tapi situasinya sudah berbeda sekarang. Mungkin pengumuman mengenai Pangeran Hyun belum diumumkan, tapi semua teman-temannya akan penasaran kenapa mereka harus ditemani seorang Pengawal Negara kemana-pun. Tidak menutup kemungkinan, identitas Jonghyun sebagai Pangeran Hyun akan terungkap sebelum waktunya.

“Jonghyun-ah…”

Tuan Kang memperhatikan keduanya dengan serius. Jonghyun yang mendengar Kyuhyun memanggilnya,  sontak menoleh. “Euhm?”

“Kita akan kembali ke kampus,” ucap Kyuhyun dengan yakin. Jonghyun mengerti maksud ucapan Kyuhyun. Kembali ke kampus disaat statusnya sudah berubah memang sangat berat, tapi Jonghyun cukup beruntung. Kyuhyun masih berdiri disampingnya. Jonghyun tersenyum dan mengangguk.

*****

“Kalian akan kembali ke kampus? Mulai kapan?!” seru Donghae dengan keras. Well, bukan reaksi yang diinginkan Kyuhyun tapi mereka tetap harus memberitahu Donghae.

Kyuhyun sedikit melirik kearah Jonghyun yang sedang sibuk membaca buku terakhir yang diberikan oleh Tuan Kang. Akhir-akhir ini, Jonghyun mulai terbiasa dengan segala kesibukannya membaca buku-buku tebal mengenai Kerajaan. Walaupun tidak mau, Jonghyun tetap harus membacanya atau Tuan Kang dan professor lainnya akan memberikan hukuman.

Kyuhyun menarik nafas karena Jonghyun tidak berminat untuk membantu menjelaskan pada Donghae. Ia kembali menatap Donghae yang sepertinya akan menangis lagi. Oh, Kyuhyun kini merasa kalau Donghae lebih pantas menjadi adik mereka dan bukan seorang kakak. “Tuan Kang belum mengatakan waktu pastinya. Mungkin mulai hari Senin, karena masih banyak urusan yang harus diselesaikan sebelum kami kembali ke kampus.”

“Lalu kalau kalian akan kembali ke kampus, aku akan sendirian di pavilliun,” sahut Donghae lirih.

Jonghyun melirik Donghae sekilas dan kembali fokus pada buku yang dibacanya. Kyuhyun menghela nafas berat. Mungkin seharusnya Tuan Kang yang memberitahu Donghae mengenai hal ini, jadi reaksinya tidak akan begini.

“Mianhae, hyung. Tapi kami kembali ke kampus untuk menyelesaikan kuliah kami. Selain itu, kami tidak akan ke kampus setiap hari. Dan Jonghyun harus sudah lulus kuliah sebelum upacara Pendirian Kerajaan,” tutur Kyuhyun.

Ucapan Kyuhyun sukses membuat Jonghyun menatap saudaranya tersebut. Lagi-lagi Kyuhyun kembali mengungkit masalah Kerajaan. Jonghyun saja sampai saat ini –walaupun dia sudah bersusah payah mempelajari mengenai sejarah kerajaan– masih belum menerima keputusan bahwa dirinya adalah seorang pangeran. Tapi Jonghyun tidak akan mencari keributan dengan Kyuhyun, jadi ia memilih untuk keluar dari ruangan itu dan kembali ke kamarnya.

Kyuhyun menatap pintu kamar yang sudah tertutup. Jonghyun-ah..

*****

“Mereka akan kembali ke kampus?” ucap Siwon saat membawa surat keputusan yang diberikan oleh Kepala Pengawal Cha.

“Hanya untuk melakukan bimbingan tugas akhir mereka, jadi mungkin sekitar dua sampai tiga jam. Dan Tuan Kang sudah membahasnya dengan pihak kampus kalau mereka hanya akan ke kampus pada hari Jumat dan Sabtu. Karena ketiga pangeran itu harus belajar mengenai Kerajaan,” jelas Kepala Pengawal Cha.

Haena menarik nafas berat. “Jadi, status Kyuhyun sudah menjadi Pangeran.”

Sontak pandangan tiga pria diruangan tersebut tertuju padanya. Seungho mengernyit tak mengerti. “Apa maksudmu, Haena? Bukankah Kyuhyun memang…”

“Tidak. Status Kyuhyun saat masuk ke paviliun belum menjadi Pangeran. Tapi sepertinya Presiden Lee sudah membuat keputusan,” ujar Haena.

Siwon mendesah seperti menyadari sesuatu. “Ah, maksudmu mengenai hasil test DNA itu.” Haena mengangguk kecil.

“Eoh? Test DNA? Mereka juga menjalani  test DNA?” seru Seungho.

“Begitulah. Hanya sekedar untuk memastikan status mereka,” sahut Siwon.

Kepala Pengawal Cha menarik nafas. “Jangan bicarakan hal ini dihadapan mereka. Maksudku mengenai status Pangeran Kyuhyun, karena Presiden Lee yang akan mengatakan sendiri. Dan kalian perlu meningkatkan kewaspadaan karena Presiden Lee  juga sedang mencemaskan mengenai Organisasi Hyde. Jadi, pastikan kejadian sebelumnya tidak terulang lagi. Mengerti.”

“Yes, Sir!!”

*****

“Jonghyun-ah!!!!” seru Minho dengan keras saat ia melihat Jonghyun yang ditemani oleh seorang wanita muda berjalan kearah fakultas. Jonghyun tersenyum dan mengangkat tangannya.

Minho berlari dan memeluk sahabatnya dengan erat. “Aigo, akhirnya kau masuk kuliah juga. Tunggu ini sudah berapa lama? Dua bulan? Hey, seharusnya kau datang lebih cepat untuk mengumpulkan judul tugas akhirmu,” tukas Minho dengan bersemangat.

Jonghyun melepaskan pelukan Minho dan menepuk bahunya. “Cukup sulit untuk mendapatkan ijin.”

Minho mengernyit. “Ijin? Appamu tidak mengijinkan kalian  masuk kuliah? Kenapa?”

Jonghyun menatap Haena untuk beberapa detik dan kemudian merangkul bahu Minho. Keduanya berjalan menuju kelas. Sementara Haena mengikutinya dari belakang, sesuai dengan tugasnya untuk menjaga sang pangeran.

“Jangan bicarakan mengenai itu, Minho. Okay?” ucap Jonghyun dengan nada sedikit mengancam. Minho yang mengetahui jelas maksud tersebut, sontak hanya mengangguk patuh pada Jonghyun.

Well, Jonghyun kadang-kadang memang sangat menyeramkan.

*****

Siwon memperhatikan Kyuhyun yang tengah berdiskusi dengan salah satu dosennya mengenai tugas akhir. Sudah satu jam berlalu dan sepertinya belum akan selesai. Siwon kemudian melihat jam dipergelangan tangannya. Hampir pukul sebelas dan Siwon sudah mulai bosan.

Kemudian tiba-tiba ponselnya bergetar. Siwon mengeluarkan ponselnya sembari beranjak keluar dari ruangan tersebut. Kyuhyun sedikit melirik kearahnya saat Siwon keluar dan kembali terfokus pada dosennya yang tengah berbicara.

Di luar ruangan, Siwon menarik nafas perlahan lalu menerima panggilan telepon tersebut. “Ya, hyung?”

“Kau di kampus Kyuhyun dan Jonghyun?”

Siwon sedikit menoleh kembali kedalam ruangan memastikan Kyuhyun masih berdiskusi dengan dosennya. “Iya. Tapi sebelum makan siang, kami akan segera kembali ke paviliun. Kenapa hyung?”

 “Kau mendengar mengenai Hyde?”

“Ya, Kepala Pengawal Cha sudah memberi peringatan bagi kami untuk waspada. Walaupun aku tidak mengetahui jelas apa itu Hyde, tapi sepertinya semua orang benar-benar meningkatkan kewaspadaan mereka. Bahkan, keamanan di paviliun ditingkatkan pada level biru,” jelas Siwon.

Seunghoon menghela nafas. “Aku ingin kau berhati-hati, Siwon. Kau mengatakan sendiri bahwa kau tidak mengetahui mengenai Hyde, jadi jangan bertindak gegabah. Hyde bukanlah seperti komplotan kriminal yang pernah kau tangani ketika kau di CIA. Aku dan Jeonghyuk juga sedang melakukan penyelidikan atas perintah Presiden Lee. Jadi, kau fokus saja dengan pekerjaanmu sampai pendirian Kerajaan di tahun depan. Mengerti?”

“Aku mengerti, hyung.”

Siwon memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celana. Siwon menyandarkan punggungnya di dinding dan memejamkan matanya untuk sejenak. Ia merasa sangat lelah. Semenjak level keamanan paviliun ditingkatkan dan persiapan kedua pangeran kembali ke kampus membuat Siwon dan beberapa pengawal lainnya menjadi kurang istirahat. Walaupun ia, Seungho dan Haena kini dibebaskan dari tugas mentoring, tapi tidak membantu Siwon mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Terkadang karena hal itu juga Siwon sangat merindukan pekerjaannya di CIA.

“Kau lelah, Siwon-sshi,” terdengar suara Kyuhyun yang menyandarkan Siwon.

Sontak Siwon membuka mata dan berdiri dengan tegak. “A-ani. Aku hanya…”

Kyuhyun menghela nafas pendek dan berjalan. “Ayo pulang. Jonghyun dan Haena-sshi sudah di parkiran.”

*****

Haena memperhatikan situasi sekitar sembari terus berjalan dibelakang Jonghyun yang hanya sibuk dengan ponselnya. Walaupun sesekali pemuda itu menoleh untuk melihat Haena. Ditengah konsentrasinya, ponsel Haena bergetar. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan dari Siwon kalau partner kerjanya dengan Kyuhyun sedang menuju parkiran.

Haena memasukkan ponselnya kedalam saku blazzer dan kembali fokus menjaga Jonghyun yang sudah berjalan agak jauh darinya. Haena mempercepat langkah kakinya, namun ada beberapa orang yang berjalan berlawanan arah dengannya malah. Terpaksa Haena menghentikan langkahnya dan membiarkan para mahasiswa itu berjalan melewati terlebih dahulu. Namun, Haena melihat Jonghyun sudah jatuh terduduk. Dengan tergesa Haena menghampiri sang Pangeran.

“Anda tidak apa-apa?” tanya Haena sembari membantu Jonghyun untuk berdiri.

Jonghyun menghela nafas lalu menunduk lagi untuk mengambil ponselnya. Ia menatap Haena dengan lekat. “Aku baik-baik saja. Dan aku juga tidak akan melaporkan hal ini kepada Tuan Kang.”

Haena menahan diri untuk tidak mengomel pada pemuda yang lebih tua darinya tersebut dan ia menyadari ada seseorang lain didekat mereka. Sepertinya Jonghyun dan orang itu saling bertabrakan. Haena kemudian berjongkok untuk membantu orang tersebut mengambil buku-bukunya. “Kau tidak apa-apa?”

Orang itu yang ternyata adalah seorang pemuda mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Aku yang ceroboh,” tutur pemuda tersebut kemudian mereka berdiri.

Pemuda itu menatap Jonghyun. “Aku minta maaf karena tidak memperhatikan jalan,” ucapnya lagi yang kini malah sedikit membungkuk pada Jonghyun.

Haena sedikit terkejut melihat sikapnya. Jika dilihat, Jonghyun dan pemuda itu mungkin seusia tapi pemuda itu jelas bersikap terlalu sopan pada Jonghyun, walaupun mereka baru pertama-kali bertemu.

“Tidak apa-apa. Lagipula tidak ada yang terluka,” tutur Jonghyun datar.

“Ada apa? Siapa yang terluka?”

Sontak Jonghyun dan Haena menoleh. Kyuhyun dan Siwon datang menghampiri mereka dengan ekspresi penasaran. Terlebih sepertinya Kyuhyun sangat sensitif jika menyangkut saudaranya. “Kau kenapa, Hyun?” tanya Kyuhyun lagi.

“Tidak apa-apa, Kyu. Ayo, pulang,” Jonghyun langsung menghindar dan kembali berjalan menuju mobil. Kyuhyun menghela nafas dan mengikuti Jonghyun.

Sementara pemuda yang menabrak Jonghyun langsung pergi. Haena memperhatikan pemuda itu dengan lekat. Entah kenapa, sepertinya Haena merasa ada sesuatu yang aneh dengan pemuda tersebut.

“Hey, kau kenapa? Lalu tadi itu ada apa?” tanya Siwon.

Haena menatap Siwon lalu menggeleng. “Tidak ada apa-apa. Ayo pulang.”

Haena dan Siwon lalu menyusul kedua Pangeran menuju mobil dan mengabaikan seorang pemuda yang baru saja berlalu dan kini malah memperhatikan mereka dengan senyuman dibibirnya.

“Jadi, mereka adalah Cho Kyuhyun dan Lee Jonghyun? Sepertinya, ini akan menarik.”

*****

“Kita belum mendapat kemajuan apapun?” tanya Presiden Lee.

Jeonghyuk menggeleng. “Saya minta maaf, Pak. Hyde bukan organisasi yang mudah untuk diselidiki. Dari data terakhir yang dibawakan oleh Kim Dongwan-sshi, kita belum mendapat perkembangan apapun. Tapi saya akan berusaha lebih keras lagi, Presiden Lee.”

Presiden Lee menghela nafas berat dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Lalu bagaimana dengan persiapan Pendirian Kerajaan? Apakah semuanya lancar?”

“Sampai hari ini, semuanya berjalan sesuai dengan rencana kita. Dewan Kerajaan sudah mulai berkerja untuk penyesuaian konstitusi yang baru. Beberapa kementerian juga sudah memulai perubahan dan belum ada masalah baru,” jelas Jeonghyuk.

Presiden Lee akhirnya bisa tersenyum. “Yah, paling tidak masih ada kabar baik. Aku dengar hari ini Kyuhyun dan Jonghyun sudah kembali ke kampus. Bisa berikan laporan rutin padaku mengenai tugas akhir mereka?”

Jeonghyuk mengangguk mengerti. “Baik, Presiden Lee.”

*****

Kyungsoo yang baru saja selesai makan siang melihat Haena dan Siwon berjalan menuju ruang istirahat para Pengawal Negara dengan wajah lelah mereka. Kyungsoo menarik nafas perlahan lalu sedikit menunduk ketika dua seniornya berjalan dihadapannya.

Siwon menepuk bahu Kyungsoo. “Jangan terlalu formal, Kyungsoo-ya,” lalu ia berjalan masuk kedalam ruangan. Sedangkan Haena memperhatikan Kyungsoo yang sepertinya merona.

“Hey, sepupu, kau makan siang dengan apa?” tanya Haena.

Kyungsoo tersadar dan menatap Haena. “Menu seperti biasanya. Memangnya di kafetaria paviliun menunya sering berubah? Kan tidak.”

Haena menghela nafas lalu merangkul bahu Kyungsoo. “Aku hanya bertanya, Soo. Jawabanmu tidak perlu kesal begitu. Ah, aku lelah sekali. Apa Seungho-sshi sedang bersama dengan Pangeran Donghae?”

Kyungsoo mengangguk. “Mereka seharian di perpustakaan. Seungho sunbae menemani Pangeran Donghae yang sepertinya kesal sekali sejak Pangeran Hyun dan Pangeran Kyuhyun pergi ke kampus pagi ini.”

“Lalu kau akan kembali dengan mentoring dengan Kepala Pengawal Cha?” tanya Haena lagi. Kyungsoo hanya menjawab dengan anggukan kepala. Haena tersenyum dan melepaskan rangkulannya. “Bagus. Setidaknya aku bisa tidur selama setengah jam. Belajar dengan baik, sepupu.”

Haena lalu menyusul Siwon dan meninggalkan Kyungsoo yang melipat wajahnya menjadi sangat jelek. “Sepupu menyebalkan.”

*****

Kyuhyun baru saja mengganti pakaian ketika Donghae memasuki kamarnya. Bahkan, Kyuhyun belum menyapa Donghae, tapi pemuda itu sudah memeluk Kyuhyun dengan erat. Kyuhyun tertawa kecil. “Donghae hyung, aku bahkan pergi tidak lebih dari lima jam. Tapi kenapa sepertinya kau sangat merindukanku?”

“Aku tahu. Saat bertemu dengan Jonghyun, aku juga ingin memeluknya. Tapi aku menahan diri karena Jonghyun pasti tidak suka. Jadi, aku memeluknya saja. Lain kali, aku ikut kalian ke kampus. Rasanya sangat membosankan sendirian disini,” tukas Donghae.

Kyuhyun tertawa lagi dan melepaskan pelukan Donghae. Ia mengusak lembut rambut Donghae. “Aigo, hyung bertingkah seperti seorang adik yang tidak mau lepas dari kakaknya saja. Jadi, aku ini dongsaeng-nya hyung atau hyung-nya hyung?”

Donghae hanya cemberut. “Kau mengejekku.”

Kyuhyun terkejut dengan perubahan mood Donghae yang drastis. Ia hanya bercanda, tapi sepertinya Donghae malah menganggapnya serius. “Tidak. Aku tidak mengejekmu, hyung. Aku hanya…” Kyuhyun kehilangan kata-katanya. “Apa hyung sudah makan siang? Ayo kita makan siang. Kita panggil Jonghyun, lalu makan siang bersama. Okay?”

“Kau mengalihkan…”

Belum sempat Donghae menyelesaikan protesnya, Kyuhyun langsung menarik sang Pangeran itu keluar dan menuju kamar Jonghyun untuk mengajak makan siang bersama. Well, Kyuhyun sepertinya menghindari masalah dengan Donghae untuk masalah seperti ini.

Itu lebih baik.

*****

Seungho memasuki ruang istirahat para Pengawal dan melihat Haena sedang tertidur di sofa sedangkan Siwon sedang sibuk dengan laptop. Seungho melepaskan jas hitamnya lalu menghampiri Siwon. “Kalian sepertinya sibuk sekali hari ini. Baru kali ini aku melihat Haena tertidur dengan pulas,” tukas Seungho sembari duduk.

Siwon menoleh dan memperhatikan Haena yang sedang tidur. Ia tersenyum tipis dna menatap Seungho. “Kita semua sibuk, Seungho-sshi. Dan jangan lupakan, Haena adalah seorang gadis. Dia mempunyai batasan kekuataan yang berbeda dari Pengawal pria.”

Seungho tersenyum tipis. “Ah, benar. Dia adalah seorang gadis. Terkadang aku melupakan hal itu.”

Siwon terkekeh lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Seungho memperhatikan Siwon dengan penasaran. Ia ingin bertanya, tapi Siwon sudah tenggelam dengan dunianya sendiri. Jadi, Seungho akan membiarkannya saja dan kembali fokus pada Haena yang tidak merasa terganggu karena dibicarakan.

“Dia sudah duapuluh tahun, tapi aku masih melihatnya seperti gadis berusia delapanbelas tahun,” ucap Seungho tiba-tiba.

Siwon melirik rekan kerjanya dan kembali fokus. “Saat pertama-kali dia masuk Akademi?”

Seungho menghela nafas lagi. “Ne. Saat itu, Haena atau kami mengenalnya dengan nama Andiera Kim, masih sangat polos. Dia terlihat seperti tidak tahu kenapa dia berada di Akademi. Tapi dia cukup berbakat. Buktinya hanya dia dari sekian Pengawal perempuan di Akademi yang berhasil mencapai level ini dalam dua tahun.”

Siwon menghentikan pekerjaannya dan ikut memperhatikan Haena. “Mungkin karena dia adalah anak dari Naomi Gates. Aku tidak terlalu mengenai ibunya, tapi Naomi adalah salah satu agen terbaik CIA. Jadi, Haena mungkin mewarisi keahlian dan keterampilan ibunya.”

“Tapi apa menjadi seorang Pengawal Negara adalah keinginannya? Kalau iya, mungkin aku harus mempercayai bahwa Haena itu harusnya dilahirkan sebagai pria dan bukannya wanita,” tukas Seungho sembari terkekeh.

Tapi Siwon tidak tertawa sedikitpun. Ia menatap Seungho dengan lekat. “Kenapa? Apa dia tidak pernah ingin menjadi Pengawal Negara? Lalu kenapa dia masuk Akademi?”

“Mungkin karena ibunya. Aku hanya bertemu sekali dengannya saat penerimaan akademi baru, tapi saat melihat hanya ibunya yang tersenyum bahagia saat mengantarkannya, aku bisa melihat bahwa Haena hanya mengikuti keinginan ibunya. Haena adalah anak tunggal. Ayahnya mungkin tidak akan memaksa banyak dari putri tunggalnya, tapi memiliki seorang ibu yang adalah seorang agen handal, sangatlah berat,” Jelas Seungho.

Seungho membalas menatap Siwon. “Lalu, apakah menjadi seorang agen CIA atau Pengawal Negara seperti sekarang adalah keinginanmu sendiri, Siwon-sshi?”

*****

Seorang pemuda memasuki rumah besar yang terbangun megah diantara pepohonan hutan yang lebat. Dengan tanpa memperdulikan siapapun, pemuda itu berjalan menuju tangga. Ia hanya ingin menuju kamarnya dan beristirahat tanpa ingin diganggu oleh siapapun. Bahkan oleh pamannya sendiri.

Tapi sepertinya hal itu tidak akan terjadi.

“Bagaimana kampus barumu, nak? Apakah menyenangkan?”

Langkah kaki si pemuda terhenti. Pandangan matanya bergerak menuju pada seseorang yang tengah berdiri dekat jendela besar seperti sedang menikmati pemandangan dengan segelas wine ditangannya.

“Aku melihat tujuan Paman memasukkan aku ke kampus itu,” jawabnya datar.

Seseorang yang dipanggilnya Paman tersenyum dan berbalik untuk menatap keponakannya. “Benarkah? Salah satu dari mereka? Yang mana?”

“Keduanya,” tutur si pemuda lagi. “Dan mereka tidak semenarik yang Paman ceritakan.”

“Ohya? Heum… Sepertinya Paman mendapatkan informasi yang salah kalau begitu. Apa kau ingin makan siang bersama? Paman sengaja menunggumu pulang,” ujar sang paman.

Si pemuda menggeleng. “Aku mau tidur. Kita makan bersama saat makan malam saja,” kemudian pemuda itu melenggang pergi dengan santai.

Sang paman tersenyum lebar dan kembali berbalik menatap pemandangan pepohonan hutan yang terhampar luas. “Baiklah, kalau begitu.”

Setelah pemuda itu pergi, seorang pria datang menghampiri sang paman. Pria dengan pakaian formal itu menunduk hormat. “Ada sesuatu yang menarik?”

“Cheongwadae sepertinya telah bergerak. Mereka berusaha mencari informasi mengenai kita dengan menyewa seseorang. Dan Dewan Kerajaan masih belum bertindak apapun mengenai Pangeran tersebut. Mereka masih menahan diri untuk tidak bertindak ceroboh, Mr. Hyde,” jelas pria tersebut.

Sang paman –Mr. Hyde tersenyum dan menyesap wine-nya. “Kalau begitu kita ikuti permainan mereka. Ah, tolong awasi Byunghee. Terkadang anak itu suka sekali bertindak sendiri. Aku tidak mau dia kembali berulah seperti sebelumnya. Masalah yang dibuatnya beberapa tahun lalu membuatku sangat pusing.”

“Saya mengerti, Mr. Hyde.”

*****

Byunghee menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Kemudian ia melemparkan tas ranselnya keatas tempat tidur dan memulai memeriksa setiap sudut kamar barunya. Walaupun kemarin dia sudah mencari ke setiap celah dan tidak menemukan apapun, tapi Byunghee mengetahui kalau pamannya sangatlah cerdik. Jadi, bisa saja ada tempat tersembunyi yang terlewat olehnya.

Byunghee sudah mencari diantara rak-rak buku, meja belajarnya, lemari, hingga setiap sudut jendela. Selama dua jam, hasilnya pun nihil. Byunghee menarik nafas banyak-banyak lalu merebahkan diri keatas tempat tidur.

Ia tersenyum. “Pria tua itu masih saja menyebalkan,” tukasnya.

Lalu ia teringat dengan pertemuan tidak sengajanya dengan Lee Jonghyun dan Cho Kyuhyun tadi siang. Hari ini adalah hari pertama ia masuk kampus itu dan tidak menyangka akan bertemu dengan kedua pangeran. Byunghee tidak menyukai rencana –yang tidak pernah dikatakan oleh– pamannya mengenai dirinya masuk kedalam universitas yang sama dengan kedua pangeran. Selain, Byunghee tidak tertarik dengan hal-hal yang dikerjakan oleh pamannya, ia sebenarnya tidak ingin kembali ke Seoul. Tapi mengingat hak asuhnya kini berada ditangan pamannya setelah orangtuanya meninggal, Byunghee tidak mempunyai pilihan lain.

Jadi, untuk saat ini Byunghee akan mengikuti keinginan pamannya. Sampai ia menemukan waktu yang tepat untuk menyelesaikan segalanya.

Byunghee menarik nafas perlahan. “Baiklah, Cho Kyuhyun dan Lee Jonghyun, mari kita bermain.”

*****

Minho memperhatikan Haena yang selalu saja mengawasi Jonghyun dan sepertinya sahabatnya itu tidak merasa terganggu dengan keberadaan gadis yang selalu saja mengikutinya bahkan ke toilet sekalipun. Ini sudah dua minggu dan Minho sudah mulai penasaran. Terlebih dengan sikap Jonghyun yang sepertinya menjadi lebih patuh. Selain itu, Minho juga menemukan hal aneh lainnya pada Jonghyun. Sahabatnya itu, yang tidak pernah menyukai membaca buku untuk waktu yang lama, kini lebih sering membaca buku-buku tebal yang Minho tidak pernah tahu judulnya.

Minho menghela nafas. Ia merasa ini adalah batas kesabarannya. Jika Jonghyun tidak bicara maka ia harus bertanya. “Jong-ah…”

“Euhm..”

Minho melirik Haena yang kini sibuk dengan situasi kafetaria dan kembali menatap Jonghyun. “Gadis yang mengikutimu itu siapa? Dan kenapa kau membaca buku yang tidak aku tahu?”

Jonghyun mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Minho. Tapi belum sempat ia menjawab, Minho kembali menahannya. “Aku tahu, aku tidak boleh bertanya. Tapi aku ini sahabatmu, Jong. Jujur saja, aku penasaran sekaligus khawatir. Selain itu sepertinya Kyuhyun juga selalu bersama dengan seorang pria dengan pakaian yang sama.”

Jonghyun menghela nafas dan menutup bukunya. “Kau mengetahui jawabannya, Min. Walaupun aku sangat ingin mengatakan jawabannya, tapi aku tidak bisa. Jadi, tolonglah anggap saja gadis itu tidak ada dan aku tetap sahabatmu. Okay?”

“Tapi sahabatku Jonghyun sangat membenci membaca buku tebal seperti itu. Jadi, kau bukan sahabatku jika kau masih membacanya,” sahut Minho cemberut.

Jonghyun memutar bola matanya dan memasukkan buku tebal itu kedalam tas ranselnya. “Sudah puas?” Minho menyeringai dan mengangguk. Jonghyun mendesis jengkel. “Lalu kemana nona Kang? Kenapa kita harus menunggunya disini?”

“Nona Kang masih ada kelas, setengah jam lagi juga kesini. Ohya, kita ada mahasiswa transfer dari luar negeri. Dia seharusnya lulus bersamaan dengan kita, tapi sepertinya dia harus menunda satu semester terlebih dahulu,” tutur Minho.

Jonghyun mengerutkan dahi. “Mahasiswa transfer? Dipertengahan semester seperti ini? Orangtuanya pasti membayar mahal.”

Minho mengangguk setuju. “Rumornya begitu. Tapi setidaknya uang dan otaknya sangat sejalan. Dia benar-benar hebat,” sahutnya.

“Aku tidak peduli dengan orang baru. Bagaimana tugas akhirmu?” tukas Jonghyun lalu menyeruput minumannya.

Minho terdiam sejenak. Lalu ia menepuk dahinya. “Ah, benar. Aku harus bertemu dengan Prof. Im. Aku pergi dulu okay? Nanti aku akan kesini lagi. Kau tunggu si Nona Kang itu.”

Dan kemudian Minho langsung bergegas pergi. Jonghyun hanya terkekeh lalu menghabiskan minumannya. Haena yang duduk dengan jarak tiga meter darinya kini sudah duduk dihadapan Jonghyun. “Kita harus kembali satu jam lagi.”

Jonghyun hanya menggumam pelan. “Kita tunggu temanku sampai setengah jam lagi. Aku tidak akan mengobrol dengan mereka. Dan satu lagi, jangan bicara formal saat diluar paviliun. Walaupun kau lebih muda dariku, tapi sangat canggung mendengarnya.”

Jonghyun kembali mengeluarkan buku tebalnya dan membacanya.

*****

Kyuhyun dan Siwon memasuki area kafetaria dan menemukan Jonghyun dan Haena pada salah satu meja. Mereka langsung menghampiri keduanya. Kyuhyun lalu duduk disebelah Jonghyun yang masih sibuk membaca sedangkan Siwon duduk disamping Haena.

“Kau sudah bertemu dengan teman-temanmu?” tanya Kyuhyun.

Jonghyun menutup bukunya dan memasukkan lagi kedalam tas. “Aku masih harus menunggu Nona Kang. Minho sedang bertemu dengan profesor pembimbingnya. Kau sudah selesai? Bagaimana?”

Kyuhyun menghela nafas berat. “Aku sedang memikirkan mengganti kasus lain atau bertahan dengan kasus ini. Bahkan profesorku tidak memberi masukan apapun.”

“Tidak ada kesempatan untuk menang? Atau ada masalah lain?” tanya Jonghyun. Well, Jonghyun memang tidak mengerti dengan masalah hukum tapi hampir empat tahun melihat Kyuhyun dengan buku-buku hukum-nya yang sangat tebal, Jonghyun setidaknya sedikit tahu.

Kyuhyun melipat kedua tangannya diatas meja dan menopangkan wajahnya diantara lipatan tangan. “Masih ada kesempatan untuk menang, tapi tidak besar. Lagipula aku butuh bukti kuat. Hahh… kurasa aku mengganti studi kasus saja. Ini membuatku gila.”

Jonghyun terkekeh dan menepuk kepala Kyuhyun lembut. “Kerjakan dengan pelan-pelan. Kau itu selalu menemukan jalan, Kyu-ah.”

Well, ini adalah suatu pemandangan yang jarang dilihat Haena dan Siwon secara langsung. Jonghyun dan Kyuhyun hampir tidak pernah memperlihatkan kedekatan hubungan sebagai saudara selama di paviliun. Keduanya beberapa-kali berdebat dan berbaikan lalu mengobrol biasa. Tetapi sentuhan seperti yang dilakukan Jonghyun saat ini sangat jarang diperlihatkan. Mungkin karena keduanya belum terbiasa dengan situasi di paviliun.

Siwon melirik Haena yang kini malah sibuk memperhatikan sekitar dan berpura tidak melihat Jonghyun dan Kyuhyun. Siwon menarik nafas panjang dan mengikuti ide Haena. Setidaknya Kyuhyun dan Jonghyun sedang tidak menganggap bahwa mereka ada disana.

Kemudian seorang gadis muncul dengan seorang pemuda yang minggu lalu menabrak Minho. Haena dan Siwon sontak berdiri dari duduknya dan agak menjauh, karena bagaimana pun Jonghyun dan Kyuhyun membutuhkan ruang privasi. Gadis itu memperhatikan Haena dan Siwon dengan bingung tapi langsung terfokus pada Jonghyun.

“Jong-ah, senang bisa melihatmu di kampus lagi,” tukas Jaeshin.

Jonghyun tersenyum. “Minggu lalu kau kemana, eoh? Tidak masuk kuliah.”

Jaeshin tertawa kecil. “Ada masalah kecil. Tapi aku ingin bolos sebentar, memang kau saja yang bisa bolos hingga dua bulan, eoh. Ohya, kenalkan Jung Byunghee. Mahasiswa transfer di jurusan kita.”

Jonghyun mengenali Jung Byunghee. “Oh, jadi kau mahasiswa transfer itu. Maaf, kemarin kita tidak berkenalan dengan baik. Namaku Lee Jonghyun.”

Byunghee tersenyum  kecil. “Tidak apa-apa. Senang berkenalan denganmu, Jonghyun-sshi.”

“Hey, jangan panggil dia begitu. Tapi kalian pernah bertemu sebelumnya? Kapan itu?” sahut Jaeshin penasaran.

“Minggu lalu, saat itu aku tidak sengaja menabrak Jonghyun,” jawab Byunghee. Jonghyun hanya mengangguk setuju dengan jawaban Byunghee.

Jaeshin hanya membulatkan mulutnya dan baru menyadari ada Kyuhyun yang sepertinya sedang frustasi. “Saudaramu kenapa?”

Jonghyun masih mengusap lembut kepala Kyuhyun. “Ada masalah dengan tugas akhirnya. Jadi, dia sedang frustasi. Jangan ditanya, nanti dia semakin kesal,” sahutnya.

“Tentu saja, aku tidak akan bertanya. Kyuhyun itu sangat menyeramkan kalau dia sedang marah. Aku tidak bodoh untuk membuat kesalahan untuk ketiga-kalinya,” tukas Jaeshin.

Jonghyun hanya tertawa mendengar sahutan Jaeshin. Byunghee juga hanya memperhatikan Kyuhyun yang seperti terkurung dalam dunianya dan mengabaikan orang-orang disekitarnya. Kemudian Byunghee tersenyum.

Dan disaat itu Haena tengah memperhatikannya.

*****

Haena memasuki ruang kontrol dengan tergesa diikuti oleh Siwon. Han Jeongsa yang tengah bertugas harus menahan diri untuk tidak membentak rekan kerjanya sendiri karena telah membuatnya terkejut.

“Selidiki profil orang yang bernama Jung Byunghee,” ucap Haena.

Han Jeongsa mengernyit. “Siapa itu Jung Byunghee? Dan kenapa aku harus menyelidiki profilnya?”

“Selidiki saja, okay! Ini perintah dari rekan kerja yang berada satu level diatasmu, Han Jeongsa-sshi,” tutur Haena dengan tegas.

Jeongsa menghela nafas lalu menghadap ke komputer dan mulai mencari data yang dibutuhkan Haena. Siwon menatap Haena dengan bingung. “Kenapa? Apa kau mengkhawatirkan orang itu?” tanya Siwon.

“Tidak, tapi hanya untuk berjaga-jaga.”

Siwon menarik salah satu kursi dan duduk. “Kenapa?”

Haena menghela nafas dan melipat kedua tangannya didepan dada. “Well, karena dia mungkin akan sering berada didekat kedua Pangeran dan dia adalah orang baru. Jadi, kita perlu mengetahui data mengenainya.” Selain itu, aku mempunyai firasat buruk yang harus kupastikan sendiri sebelum mengatakan pada kalian.

“Kurasa kau butuh istirahat, Haena. Tidurlah untuk beberapa jam. Ketiga pangeran akan sibuk sampai waktu makan malam. Aku akan membantumu mengawasi Pangeran Hyun. Okay,” ucap Siwon.

Haena mendesis jengkel. Siwon masih belum mempercayai alasan yang diucapkannya dan malah mengatakan bahwa firasatnya hanya sebatas firasat. Well, Haena memang sangat jarang bisa bekerja-sama dengan baik dengan para Pengawal Negara pria. Mungkin karena mereka masih menganggap dirinya hanya seorang gadis dan bukan sesama Pengawal Negara.

“Sunbaenim, aku baik-baik saja. Mungkin sedikit lelah, tapi aku baik-baik saja. Dan aku membutuhkan data mengenai Jung Byunghee,” ucap Haena dengan tegas.

Siwon terdiam. Begitu pula Haena. Hanya Jeongsa yang masih sibuk bekerja dan berusaha mengabaikan –hampir– pertengkaran antara Siwon dan Haena. Sepuluh menit kemudian, setelah keheningan yang canggung, akhirnya Jeongsa mendapatkan data yang diinginkan Haena. “Okay, Nona Kim. Ini pria-mu,” tukas Jeongsa.

Haena menarik nafas dan menepuk bahu Jeongsa jengkel. “Dia bukan pria-ku. Jangan bicara sembarangan, Jeong.”

Haena lalu membaca data profile yang ditemukan Jeongsa mengenai Jung Byunghee. Mulai dari riwayat hidupnya, beberapa sekolah yang pernah dimasukinya dan mengenai beberapa penghargaan.

“Wow, dia hebat,” seru Jeongsa yang ikut membaca bersama Haena.

Haena mengabaikan pujian rekannya mengenai Jung Byunghee. Walaupun sama sekali tidak ada yang mencurigakan dari pemuda tersebut. Sampai Haena melihat sebuah nama yang cukup asing. “Henry D. Jung? Pamannya?”

“Aku tidak tahu. Tapi data ini, orangtuanya sudah meninggal dan pamannya kini yang memiliki hak asuh atasnya. Well, Henry D. Jung? Aku pun sama terkejutnya denganmu, nona.”

Siwon mengernyit. “Siapa itu Henry D. Jung?”

Haena berbalik menatap Siwon dan mengusap wajahnya. “ Dia salah satu pendiri dari Jung Kingdom. Perusahaan multinasional yang mempunyai banyak cabang bidang spesialisasi. Industri, retail, property bahkan Jung Kingdom juga mempunyai perusahaan media.”

“Lalu apa itu buruk? Atau baik?”

Jeongsa ikut menatap Haena dengan lekat. Walaupun dia tidak terlalu mengerti kenapa Haena harus mencurigai keponakan salah satu orang terkaya di dunia itu. Tapi setidaknya, Jeongsa harus mempercayai bahwa Haena menaruh kecurigaan karena instingnya sebagai seorang Pengawal Negara.

“Well, kurasa kita harus menjaga jarak dengan Jung Byunghee,” tutur Haena.

*****

NOTE: Ya, memang posting lagi. Ada yang kenal Jung Byunghee? :^)

Err… please jangan protes dulu kalau TP ini gak sepanjang OO. Karena OO memang sengaja lebih panjang buat ngejar habis masa publish tahun ini. Dan tahun depan aku berencana mengganti judul The President, karena rasanya aneh. Fanficnya kan ada unsur kerajaan, tapi kenapa judulnya malah The President. Jadi, tahun depan bakal diganti untuk penyesuaian. Err.. ada usulan judul?

credit poster sekali lagi untuk Shin Sihyun onnie..

Advertisements

15 thoughts on “[MM] The President Part 9

  1. Ahhh seru bangett. Udah mulai konflik akhirnyaa. Masih ttp ngotot pengen kyuhyun jd pangeran hyunnya (?) ㅋㅋㅋ
    Ditunggu lanjutannya eonniee

  2. ….The King? ah, abaikan -_-
    dan kita ketemu lg tp~~~♥
    ini terbit kmrn yah? heyu -_- ketinggalan sehari -_-
    next chapt~~!!

  3. Kyuhyun imut banget kalo sedang stress hehe suka banget kalo Jonghyun memperlakukan Kyu seperti itu
    Ditunggu banget lanjutannya….

  4. Kyuhyun kalo lagi frustasi kayak baby imutt banget….hihihihi
    eh, iya loh eonni aku baru sadar jdul cerita sama jalan ceritanya emg rada………….heemmm~^^

    sbenernya siapa yg jadi mr, hyde itu?? Penasaran lanjut eonni…..

  5. ceritanya semakin seru nich, sepertinya kelompok hyde sdh mulai bergerak. apalagi skr kyuhyun dan jonghyun sdh boleh kuliah lg meskipun tdk tiap hari tp hrs ttp waspada krn lawan ada di mana2. dan lebih parahnya lg ada di dekat mereka. insting haena memang tdk di ragukan lg, sekali dia bertemu seseorang pasti ada firasat orang itu berbahaya atau tdk. kira2 apa yg akan di lakukan byunghee dlm melaksanakan aksinya? mudah2an kedua pangeran itu akan ttp waspada dan jg para pengawal mereka. siwon….kau hrs trs menjaga kyuhyun dan jng smp lengah. krn dia adalah prioritas utamamu.

  6. eww..slalu pen ktawa tiap ngebayangin hae dgn sikap childish nya :3

    Jung Byunghee?? siapa? aku ga kenal,nd bru tau -_-
    aku kira dia changmin,tpi trnyata? wkwk
    jdul ya?? aku aja bingung klo soal judul xD

  7. Ngebayangin imut’a kyu gy frustasi,hehe, smoga kedua pangeran ga terlalu di usik dah,kasian mkirin tugas akhir kuliah,hehe, mm judul baru yh eonii, gmana kalo ” prince of the brother” haha ga nyambung yah 🙂

  8. heeeyyyy …. br nonggol saia… ketinggalan bnyk sekLi ff huhuhuuu 😥

    siapa itu Byuunghee? sepertiny saia tdk mengenalnya #plak

    kyaaaaa semaaaakiiiiin seruuuu Haena pekaaa amAat yaaakkk ????

    suuuuukaaaaa deeeh liat kedekatan kyu sm joong… gemeeeessaa jd pngen ciyum atu2 :-*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s