[MM] A Story From East Sea [7]

PART 7

“Aww!! Appo!!!!” Seru Donghae keras ketika Hyukjae dengan sengaja memukul bahunya –dengan sangat keras– setelah Donghae menceritakan mengenai peristiwa di atap gedung kemarin.

Hyukjae malah tertawa keras dan malah membuat semua pengunjung cafe itu menoleh pada meja mereka. Donghae mengusap bahunya sembari mendengus jengkel. Tak lama Sungmin ikut bergabung dengan mereka setelah mengantar beberapa pesanan.

“Kontrol tawa-mu, Lee Hyukjae. Semua orang sedang menatapmu.” Ucap Sungmin mengingatkan.

Hyukjae lalu berusaha menghentikan tawanya dan berusaha mengontrol emosinya. Wajahnya masih memerah karena tertawa dengan keras. “Maaf. Maaf, tapi aku tidak bisa menahan diri. Woah, Lee Donghae!”

“Apa? Memang aku melakukan apa? Tidak ada yang istimewa ataupun lucu hingga membuatmu tertawa keras seperti itu, Lee Hyukjae.” Gerutu Donghae.

Hyukjae merangkul Donghae dan menepuk-nepuk bahunya. “Tapi kau berkenalan dengan Cho Seohae dan bahkan mengatakan bahwa kau menyukainya. Itu kemajuan yang sangat pesat. Woah.. ini bahkan belum sampai seminggu sejak kau mengetahui namanya.”

“Eh? Kau berkenalan dengannya, Hae-ya? Jjinja?!!” Seru Sungmin.

Hyukjae yang malah yang mengiyakan. Donghae mendengus dan melepaskan rangkulan Hyukjae dengan sebal. “Sudah kubilang tidak ada yang istimewa dari perkenalan kemarin. Bahkan dia langsung pergi setelah aku mengatakan menyukainya.”

“Dia tidak memberikan respon apapun? Woah, Cho Seohae benar-benar daebak.” Seru Hyukjae dengan ekspresi wajah –yang menurut Donghae– terlalu berlebihan.

“Omong-omong, kemarin Choi Siwon juga bicara dengannya bukan? Malah yang kudengar Choi Siwon itu mengajaknya untuk makan bersama.” Ujar Sungmin.

Hyukjae yang mengangguk lagi. “Tch.. aku bahkan hampir terkena serangan jantung melihat mereka berjalan bersama. Tapi Cho Seohae menolaknya. Kurasa dia akan dihabisi oleh para Barbie karena mengabaikan Choi Siwon. Terlebih Barbie-nya Choi Siwon itu terkenal sangat agresif.”

“Aku turut prihatin dengan hoobae-ku itu.” Tunduk Sungmin lirih. Tapi disambut oleh tatapan aneh Hyukjae. Ya, terkadang Sungmin memang mempunyai sifat-sifat yang aneh. Tapi tidak cukup aneh seperti Kim Jongwoon, mahasiswa seni tahun ketiga.

Sedangkan Donghae sendiri hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.

*****

“Hari Senin yang menyebalkan.”

Seohae berjalan menuju kelasnya pagi ini dengan diiringi oleh tatapan aneh para mahasiswa lain. Seohae menghela nafas dan berpura tidak melihat –atau merasakannya. Ia hanya ingin kuliah dengan tenang. Itu sudah berhasil didapatkannya selama dua tahun, tapi menjelang tahun ketiganya masa perkuliahannya berubah menjadi menyebalkan.

Seohae menempati kursi-nya. Ia mengeluarkan buku note dan laptopnya. Namun, ada beberapa gadis cantik yang menghampiri mejanya dengan tatapan ingin membunuh.

“Kau Cho Seohae?”

Seohae mengangkat kepalanya dan menatap lima orang gadis yang mengelilinginya secara bergantian. Seohae menghela nafas dan kembali fokus pada laptopnya. “Ne, kalian siapa? Aku tidak mengenal kalian.”

“Tch… Sombong sekali. Aku tidak tahu apa yang menarik darimu hingga Choi Siwon mendekatimu. Dan yang kudengar, kau juga menggoda Lee Hyukjae dan Lee Donghae.”

“Aku tidak mengenal mereka bertiga. Dan aku tidak menggoda siapapun.” Sahut Seohae dengan datar.

Dan kemudian tiba-tiba saja, seorang diantara gadis cantik itu menarik tangan Seohae dan membawanya keluar kelas. Seohae berusaha untuk  melepaskan diri, tapi gadis lainnya malah mendorongnya. Mereka membawa Seohae menuju koridor fakultas yang banyak dilalui oleh mahasiswa lain.

Gadis yang menariknya lalu mendorong Seohae hingga ia tersungkur dilantai. Seohae menarik nafas dan bangkit. Ia menatap gadis-gadis itu dengan lekat.

“Aku tidak kenal kalian, jadi…”

Sebuah tamparan keras mendarat dipipi kirinya. Seohae mendengus. Wajahnya berdenyut perih tapi ia mengabaikannya. Seohae tidak ingin meladeni orang-orang yang tidak dikenalnya.

“Jauhi mereka!”

Seohae menatap para gadis itu. “Aku bahkan tidak mengenal mereka. Untuk apa aku menjauhi mereka? Aku tidak punya…”

Satu pukulan lain mendarat di pipi yang sama. Seohae mulai hilang kesabaran. Ia sudah mengatakan bahwa ia tidak mengenal para pemuda yang disebutkan, lalu kenapa mereka –para gadis cantik itu– repot-repot mengancamnya begini? Seohae bahkan tidak peduli.

Seohae memilih untuk mengabaikan semua gadis itu dan kembali berjalan masuk ke kelasnya. Namun, para gadis itu belum puas. Salah seorang diantara mereka kembali mendorongnya hingga terjatuh. Seohae meringis karena telapak tangannya mengalami gesekan dengan lantai hingga berdarah.

“Kalian tidak punya kerjaan, ya?”

Seohae menatap sepasang kaki dihadapannya. Kemudian ia mendongak dan mendapati wajah familiar. Seohae mendengus. Sedangkan para gadis yang membully-nya kini terlihat memucat. Seohae kemudian bangkit. Ia menatap wajah orang itu dan hendak berlalu. Namun, tangan orang itu –pemuda lebih tepatnya– menahan pergelangan tangannya erat.

“Jangan menganggunya lagi. Dia bahkan tidak mengenal kalian, dan kurasa kalian juga tidak mengenalnya. Lagipula apa salahnya jika aku ingin berkenalan dengannya? Kalian tidak mempunyai hak untuk melarang. Jika kalian –ataupun orang lain– kembali menganggunya, maka aku tidak akan tinggal diam.”

Para gadis cantik itu sontak meninggalkan koridor dengan wajah memerah karena malu tanpa mengatakan apapun. Semua mahasiswa lain yang berkumpul juga membubarkan diri dan berpura tidak melihat kejadian tersebut.

Pemuda itu menghela nafas. “Semakin hari kelakuan mereka malah menjadi semakin kasar. Tch.. mana ada gadis cantik yang berkelakuan sepeti itu.” Gerutunya sendiri.

Seohae menarik nafas dan berusaha menarik pergelangan tangannya. Lagi, pemuda itu tidak membiarkannya dengan mudah. “Tanganmu terluka. Lebih baik kita ke klinik kampus.” Dan tanpa persetujuan Seohae, pemuda dengan wajah tampan itu menariknya dengan mudah.

“Memang karena siapa aku terluka begini?”

*****

Seohae hanya diam menatap telapak tangannya yang kini diobati. Tanpa ada ringisan atau keluhan, Seohae hanya diam padahal pemuda yang mengobatinya terlihat seperti meringis menahan perih –seakan dia yang mendapati luka itu. Pemuda itu menutup luka tersebut dengan perban –berusaha untuk melilitkannya dengan rapi.

“Nah, sudah selesai. Jangan sampai terkena air. Tunggu hingga lukanya mengering, arra.” Ujar pemuda itu.

Seohae menatap lukanya dan menghela nafas. “Arraseo,” Gadis itu kemudian beranjak turun dari ranjang pemeriksaan.

“Seohae-sshi, kau baik-baik saja? Maksudku selain lukamu itu…”

“Aku baik-baik saja, Choi-sshi. Dan kurasa, akan jauh lebih baik jika kau dan semua orang yang populer itu menjauhiku. Kini kau lihat sendiri alasan kenapa kita tidak bisa berteman. Aku akan sangat menghargai jika kau tidak bicara lagi denganku,” Seohae lalu mengangkat telapak tangannya yang terluka. “Ini adalah buktinya. Aku permisi.”

Siwon menahan nafas dan membiarkan Seohae keluar meninggalkan klinik kampus.

*****

Donghae berlari menuju fakultas sastra. Setelah ia mendengar pembicaraan teman sekelasnya mengenai pembullyan yang dialami oleh Seohae, ia bergegas menemui gadis itu.

Donghae berharap bahwa gadis itu baik-baik saja. Walaupun ia bisa menebak alasan Seohae kembali di serang oleh para Barbie. Mungkin Choi Siwon –atau dirinya menjadi bagian alasan. Dan kali ini Donghae benar-benar berharap bahwa ia sama sekali tidak tampan ataupun populer.

Donghae yang berlari di sepanjang koridor, kemudian berhenti. Ia mengatur nafas perlahan dan berjalan mendekati gadis yang dikhawatirkannya sedang memasuki kelas.

“Cho Seohae!!”

Seohae menoleh dan memandang Donghae. Ia menghela nafas dan tetap memasuki kelas –seakan tidak mendengar suara Donghae.

“Cho Seohae~!” Donghae setengah berlari memasuki kelas yang asing baginya. Bahkan semua mahasiswa dikelas itu menatapnya dengan heran. Tapi Donghae tidak peduli dan tetap berjalan menuju meja Seohae.

“Ka-kau baik-baik saja? Apa kau terluka?” Tanpa dijawab pun Donghae bisa melihat jawaban atas pertanyaannya. Telapak tangan kanan gadis itu diperban dan terlihat noda darah. “Ta-tanganmu…”

Seohae mengabaikan Donghae dan terfokus pada laptopnya. Ia sedikit melirik jam digital pada layar laptopnya. Sudah waktunya masuk kelas, tapi dosennya belum menampakkan diri. Disamping itu dia sudah lelah dengan semua perhatian padanya. Seohae merindukan waktu-waktu dia menjadi transparan.

“Seo-Seohae-sshi, t-tanganmu.. Apakah baik-baik saja? K-kau harus ke rumah sakit. Ba-bagaimana jika infeksi dan semakin parah? Kuantar, ne?”

Seohae sudah semakin habis kesabaran. Diawali oleh para gadis yang tidak dikenalnya, dilanjutkan oleh seorang pemuda yang baru dikenalnya kemarin dan sekarang pemuda lainnya yang –sok– bersikap baik padanya.

“Kita tidak saling mengenal, jadi kau tidak perlu melakukan apapun. Dan, apakah kau mahasiswa fakultas sastra? Ini bukanlah tempatmu dan bisakah kau tidak pernah muncul lagi didepanku?”

Dan ketika Cho Seohae berbicara dengan nada datar dan terkesan dingin, maka saat itu dunia Lee Donghae perlahan berubah menjadi pecahan kecil yang tidak beraturan. Dan terkesan sangat tidak masuk akal bagi orang lain jika mereka mengetahui isi kepala Donghae. Tapi itu membuat Donghae ketakutan.

“Cho Seohae membenciku”

Advertisements

4 thoughts on “[MM] A Story From East Sea [7]

  1. Uwaaaa…
    Abangku di tolak!!!
    Muahahahaha….*ketawa girang*
    Dieraaaa kamu pintar nak…
    Sesekali bikin mereka yg ngejar cewe, bukan cewe yg ngejar2 mrk…
    Aku sukaa FF nya…
    Hanya saja knp pndk bgt???
    Baru baca udah TBC aja…
    Ckckck
    Lanjutannya jgn lama2 non…
    He3x kalau g sibuk itu juga…
    Hahaha

  2. Turut berduka cita hae-ah..
    Ga panjang seperti biasanya,,
    kalo yang terakhir dibikin donghae lebih ‘lebay’ pasti aku ngakak. ^^
    ditunggu lanjutannya. Terima kasih

  3. Ternyata wajah tampan tidak selamanya membuat wanita bertekuk lutut. ckckckc *PoorDongHaekuYgTampan xD

    annyeong, aku reader baru dan langsung bc ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s