[SF] Two Faces {WK Vers.} EPILOG

two faces

EPILOG

NOTE: THIS IS FULL VERSION. Cari tanda bintang warna merah biar lanjut baca dari bagian itu ajah. (*****)

Derap langkah tenang terdengar dari sebuah lorong. Sepasang kaki itu melangkah dengan teratur menuju kesebuah ruangan. Hingga suara pintu yang digeser terdengar, tapi tidak membuat perhatian yang cukup. Helaan nafas terdengar dilanjutkan dengan suara pintu lagi.

“Waktunya makan siang.”

Tapi suaranya tidak terdengar. Mungkin karena suara teriakan senang dari banyaknya –mungkin sekitar duapuluh– anak-anak. Dan lagi, lawan bicara hanya fokus pada beberapa anak kecil berusia dua sampai lima tahun dengan salah satunya berada diatas pangkuannya, membacakan sebuah buku cerita.

Tidak ada pilihan kecuali ia harus menunggu hingga ceritanya selesai dibacakan. Mengenai petualangan Pinokio. Terkadang ia begitu heran. Anak-anak kecil itu bahkan belum bisa membaca, lalu apakah mereka bisa mengerti dengan semua cerita yang dibacakan olehnya. Sesekali ia melirik kearah jam dipergelangan tangannya. Pukul satu lewat limabelas menit. Sudah sangat lewat dari waktu makan siang dan ia seharusnya dalam perjalanan kembali untuk bekerja.

“Kemudian Peri Biru mengabulkan keinginan terbesar Pinokio. Dengan tongkat sihirnya, Peri Biru mengubah Pinokio menjadi seorang anak lelaki yang tampan. Dan pada akhirnya, Pinokio hidup bahagia bersama Ayah Gepeto. Selesai.”

Ia akhirnya menghela nafas lega, diikuti dengan suara tepuk-tangan dari para anak-anak yang mendengarkan cerita tersebut. “Dan kau tahu, sang Pinokio sedang kelaparan dan menunggu Ayahnya untuk bisa makan bersama.” Tukasnya.

Lawan bicaranya –seseorang yang ditunggu-nya– menoleh dan tersenyum. “Hyung, kau bisa makan duluan. Dan lagipula bukankah aku sudah bilang akan cukup lama disini.” Sahutnya sembari menaruh buku cerita diatas meja terdekat.

Hyung itu mengerang jengkel. “Kau tahu, kita berdua sangat sibuk. Bahkan kau hanya membalas satu atau dua dari puluhan pesan yang kukirimkan. Tapi bagaimana bisa kau meluangan waktu yang begitu banyak disini?”

“Kau cemburu?”

“Tidak. Aku hanya lapar. Bisakah kita makan siang? Dan kau tahu, aku ada meeting pukul setengah tiga.”

“Baiklah. Tunggu sebentar. Daejun-ah, kau bisa menjaga adik-adikmu? Aku harus pergi sekarang. Nanti Pengurus Kim akan datang sepuluh menit lagi.” Ucapnya pada seorang anak laki-laki yang berusia duabelas tahun –paling tua yang berada diruangan tersebut.

Anak laki-laki itu mengangguk. “Ne, hyung.”

Kemudian pria itu beralih pada anak laki-laki yang berada dipangkuannya. “Joonnie, aku pergi dulu. Nanti kita main bersama lagi, oke?”

Joonie yang masih belum begitu lancar bicara hanya tertawa senang sebagai jawaban setujunya. Pria itu tersenyum. Ia lalu menurunkan Joonie dari pangkuannya agar bisa bermain dengan teman-temannya yang lain.

“Ayo makan siang.”

*****

“Jika aku tahu kau hanya akan mengajakku makan siang dengan sandwich begini, lebih baik aku lebih lama di panti asuhan.”

“Hey, jangan protes. Aku bahkan tidak protes menunggumu selama hampir dua jam disana. Kecuali untuk waktu-waktu tertentu saja.” Sahutnya dengan jengkel. “Dan lagi, sejak kapan kau suka membuang waktumu begitu? Rasanya Cho Kyuhyun yang kukenal itu adalah seorang worker-holic. Dia tidak suka membuang-buang waktu kecuali untuk bekerja.”

“Choi Siwon-sshi, disana aku juga bekerja! Ingat, seratus jam pelayanan umum.” Sahut pria yang bernama Cho Kyuhyun tersebut. Wajahnya kini berubah merengut seperti anak kecil yang dilarang bermain.

Siwon hanya terkekeh melihat ekspresi kekasihnya tersebut. “Arreo. Cho Kyuhyun yang mulia.” Godanya.

Kemudian Kyuhyun mendesis jengkel sembari menghabiskan sandwichnya. Siwon masih tertawa lalu menyodorkan kotak tissue pada Kyuhyun. Ia memberi isyarat bahwa ada sesuatu di ujung bibirnya. Tapi bukannya membersihkannya dengan tissue, Kyuhyun malah menjilati ujung bibirnya dengan lidah. Benar-benar seperti menggoda Siwon.

“Kyuhyun-ah.”

“Euhm?”

Kyuhyun masih sibuk mengunyah makanannya. Sedangkan Siwon sendiri malah mengabaikan sandwichnya. Ia sibuk memperhatikan Kyuhyun dengan lekat –dengan penuh rasa penasaran yang tidak terpecahkan sejak satu bulan lalu. Mengenai percakapan Kyuhyun dengan pamannya –Cho Gyushik–  di sungai Han. Dua hari setelah pembicaraan rahasia itu, kepolisian mengeluarkan surat penangkapan Cho Gyushik. Bersamaan juga dengan surat pemanggilan interogasi untuk kakeknya –Choi Dongha– yang satu minggu berikutnya ditetapkan sebagai tersangka atas kasus yang dituduhkan.

Pengadilan terakhir bagi Cho Gyushik akan dilakukan dua hari lagi, dan Kyuhyun harus datang sebagai saksi terakhir yang diminta oleh Jaksa Penuntut. Awalnya, Kyuhyun tidak mau. Ia masih memiliki sedikit penghormatan pada pamannya, tetapi Kakeknya memintanya untuk datang. Sebagai salah satu bentuk dukungan atau mungkin juga sebagai “barang bukti” yang paling memberatkan. Sama saja bagi Cho Gyushik, akhirnya. Hakim mungkin akan memberikan hukuman berat bagi Cho Gyushik walaupun Kyuhyun hadir atau tidak.

Dan berbeda pada keluarga Choi, pengacara keluarga tersebut meminta agar Jaksa sedikit meringankan tuntannya –mengingat kondisi Choi Dongha yang sudah renta – tapi tidak ada tanggapan hingga hari pengadilan satu minggu kemudian. Hongjae, juga masih berusaha untuk hukuman “adil” bagi ayahnya. Bagaimanapun, Choi Dongha adalah ayahnya dan menjadi kepala pusat keluarga Choi. Siwon sendiri tidak tahu dimana ia harus berpihak pada bagian keluarga atau jaksa.

“Apa?” Tanya Kyuhyun yang penasaran karena Siwon hanya diam.

Siwon menarik nafas. “Ini sudah sebulan. Apa kau benar-benar akan menyimpannya sendirian, Kyuhyun? Kau tidak mau membaginya, bahkan denganku?”

Kyuhyun terdiam. Ia lalu menaruh sandwich ditangannya ke atas piring lalu mengambil serbet untuk membersihkan tangannya. Kyuhyun menelan makanan yang masih ada dimulutnya.

“Aku sudah mengatakan dengan jelas, hyung. Bukan aku tidak mau memberitahumu atau yang lain, hanya saja ini adalah masalahku. Masalah keluargaku sendiri. Aku bahkan tidak bertanya apa yang kau bicarakan dengan kakekmu, bukan.” Tutur Kyuhyun.

“Aku bisa mengatakannya jika kau mau. Saat itu kami….”

“Bukan itu maksudku, hyung.” Kyuhyun dengan cepat menyela ucapan Siwon. Kyuhyun menarik nafas dan menghabiskan minumannya. Siwon sendiri terdiam dan terus memandangi kekasihnya.

Kyuhyun menatap Siwon lagi. “Aku mungkin akan mengatakannya. Suatu hari nanti. Tapi untuk saat ini, biarkan hanya aku, pamanku dan Tuhan yang mengetahui pembicaraan kami. Sekarang habiskan makan siangmu dan kau bisa kembali ke kantor. Bukankah tadi kau bilang ada meeting.”

Kyuhyun berusaha untuk memberi penjelasan pada Siwon, walaupun terlihat bahwa kekasihnya tidak menunjukkan kepuasan atas penjelasannya. Tapi paling tidak Kyuhyun sudah berusaha, bukan. Lagipula apa yang diucapkan oleh Gyushik pada saat itu terlalu pribadi. Kyuhyun bahkan tidak mengatakan apapun pada Jinho yang sudah memaksanya.

“Siwon hyung?”

Siwon kembali menghela nafas dan memberikan senyuman pada Kyuhyun. “Kuantar kau kembali ke kantor.”

“Tapi kau belum makan siang. Sandwich-mu…” Siwon tidak bicara apapun lagi. Ia langsung menarik pergelangan tangan Kyuhyun dan membawanya keluar dari cafe tersebut.

*****

Gyushik tersenyum lagi. Ia menarik nafas perlahan dan kembali membelakangi Kyuhyun. “Ya, mungkin memang kesalahanku jika sekarang kau tidak bisa bersikap sopan padaku. Tapi aku tidak menyesalinya. Bukankah kau memang harus menghormatiku sebagai paman-mu, eoh?”

Kyuhyun mendecih jengkel. “Sudah selesai bicaranya? Aku akan pergi saja. Kau sendiri bilang tidak tahu mau berbuat apa denganku, bukan.” Kyuhyun beranjak meninggalkan pamannya. Tapi langkahnya terhenti ketika ia kembali mendengar suara pamannya.

“Kim Nayoung.”

Kyuhyun menoleh dan menatap punggung pamannya. “Ibuku? Ada apa dengannya?”

“Kim Nayoung, Cho Joonhyuk dan Choi Hongjae. Mereka adalah sahabat lama yang menjalani kehidupan bersama. Mereka selalu masuk sekolah yang sama, satu club sekolah yang sama, bahkan mereka satu universitas dengan jurusan yang sama. Mereka seakan tidak pernah terpisahkan oleh siapapun. Tapi, pernah satu waktu dimana ketiga-nya menjadi terpecah. Bahkan persahabatan yang erat sekalipun putus hanya karena sebuah cinta.”

Tubuh Kyuhyun menjadi tegang. Entah tapi tenggorokannya seperti tercekat. Rasanya cukup sakit hingga Kyuhyun tidak berani untuk bersuara. Kemudian Gyushik berbalik dan menatap Kyuhyun dengan lekat.

“Kurasa kau tidak pernah mengetahuinya. Bahkan kurasa Hongjae juga tidak pernah tahu. Orangtuamu –Cho Joonhyuk dan Kim Nayoung– menikah karena perjanjian yang mereka buat. Ibumu sebenarnya mencintai Choi Hongjae.”

*****

“Hyung!!” Seru Jinho keras hingga Kyuhyun tersadar dari lamunannya.

Kyuhyun menatap Jinho dengan bingung. “Kenapa?”

Jinho menghela nafas. Hampir duapuluh menit ia bicara untuk menjelaskan mengenai kerjasama dengan klien baru, tapi Kyuhyun malah sibuk melamun dan mengabaikannya. Jinho menutup map dokumennya. “Sudahlah. Kukerjakan sendiri saja.”

“Apa? Mengenai perhitungan investasi dengan perusahan dari Spanyol itu, bukan. Bukankah aku sudah memberikan hitungan kasarnya padamu dua hari yang lalu. Kau bisa memakai itu sebagai acuan untuk menghitung secara detail, Jinho.”

Jinho mendengus. Ia mengerucutkan bibirnya jengkel. “Sudah kukerjakan, hyung!! Itu dokumennya ada dihadapanmu tapi kau sama sekali tidak meliriknya. Mulutku sudah berbusa menjelaskan rinciannya!!!” Omel Jinho kesal.

Kyuhyun mengambil dokumen dihadapannya dan baru membacanya. Ia kemudian terkekeh tanpa dosa. “Maaf, maaf. Akan kuperiksa nanti.”

Jinho kembali menarik nafas dan bergegas kembali keruangannya sendiri. “Sebaiknya kau pulang, hyung. Kau terlihat tidak sehat. Bukankah kata dokter, kau belum boleh kembali bekerja. Sayangnya, kau begitu keras kepala. Wajahmu pucat. Apa kau sudah makan?”

“Aku baik-baik saja, Jinho.”

“ Wajahmu tidak mengatakan kau baik-baik saja.”

“Cho Jinho, sejak kapan kau menjadi sok tahu? Kumohon, aku sedang tidak ingin berdebat. Aku akan memeriksa dokumenmu nanti. Okay?”

Jinho menatap Kyuhyun sebentar dan lalu beranjak meninggalkan ruangan itu. Kyuhyun kembali menghela setelah Jinho menutup pintu ruangannya dengan keras. Kepalanya kembali berdenyut dengan kuat dan Kyuhyun tidak bisa menahannya lagi.

Kyuhyun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Siwon. “Hyung, tolong jemput aku. Antarkan aku ke rumah sakit, karena aku tidak bisa menyetir sendiri.”

*****

“Kau kelelahan dan juga malnutrisi.” Siwon menatap Kyuhyun dengan kaget setelah mendengar diagnosis dari dokter Kang. Tapi Kyuhyun berpura tidak memperhatikan Siwon.

“Berat badanmu turun lima kilo dari terakhir kau datang menemuiku. Apa kau menjaga makan-mu, Kyuhyun-sshi? Bukankah aku sudah menasehatimu untuk makan dengan teratur?” Tanya dokter Kang.

Kyuhyun menggaruk tengkuknya. “Mungkin aku melewatkan beberapa waktu makan dan sedikit lebih banyak minum kopi. Tapi itu karena pekerjaanku sedang menumpuk. Aku baru kembali bekerja selama dua minggu dan posisi baruku–“

“ Bukan alasan yang baik, Kyuhyun-sshi. Kusarankan untuk kembali beristirahat. Paling lama satu bulan karena aku perlu memantau perkembangan kondisimu. Terakhir kali kau check-up juga tiga minggu yang lalu. Bukankah seharusnya tiap satu minggu?” Omel dokter Kang. Kyuhyun tidak menjawab apapun dan itu membuat dokternya menjadi serba-salah.

Dokter Kang seperti sedang mengomeli pasiennya yang berusia lima tahun dan ia menjadi bersalah hanya melihat wajah cemberut pasiennya yang begitu polos. Ia menghela nafas dan menuliskan beberapa obat untuk Kyuhyun. Siwon yang duduk disamping Kyuhyun mneyentuh tangannya dan menggenggamnya erat. Siwon tidak ingin menghakimi Kyuhyun saat ini. Kekasihnya sedang sakit dan Siwon berusaha untuk tidak mengomel –karena dokter Kang sudah melakukannya.

“Siwon-sshi, pastikan Kyuhyun makan dengan teratur. Obat dan vitaminnya harus dihabiskan. Minggu depan datang lagi untuk check-up rutin. Jika Kyuhyun tidak bisa datang ke rumah sakit, maka aku yang akan datang ke rumah. Mengerti?”

Siwon tidak mempunyai pilihan selain mengangguk paham.

*****

Siwon melirik Kyuhyun yang terdiam menatap jalanan sepanjang mereka pulang dari rumah sakit. Siwon menghela nafas dan berusaha untuk tetap fokus menyetir. Tapi rasanya sulit, karena Kyuhyun membuatnya tidak lebih mudah. Tangan kanan Siwon bergerak secara otomatis –mungkin otaknya bekerja sesuai dengan instingnya– dan menggenggam jemari Kyuhyun.

Pemuda itu menoleh menatap Siwon yang menyetir dengan satu tangan. Terlihat keren, pikir Kyuhyun.

“Maaf.”

Siwon kembali menghela nafas. “Aku bahkan tidak bisa marah padamu. Jadi, kumohon untuk tidak mengucapkan kata maaf, sayang.” Siwon cukup bersyukur bahwa mobilnya kini otomatis, ia tidak perlu kesulitan untuk memindahakan perseneling dengan tangannya yang masih menggenggam Kyuhyun.

“Sebaiknya kau dan Narra tinggal dirumah. Lagipula Narra dan Ji In sedang fokus untuk ujian masuk universitas, bukan? Kalian hanya tinggal berdua dengan para pengurus rumah selama bertahun-tahun. Ada baiknya, kau dan Narra kembali merasakan sentuhan Eomma.”

Kyuhyun tersenyum tipis. “Lucu, ketika kau mengatakan sentuhan Eomma. Narra tidak pernah merasakannya. Mungkin hanya setahun, tapi selebihnya tidak pernah.”

Siwon berubah masam. Ia bersalah karena melupakan hal itu. Kyuhyun tertawa dan mengusap tangannya. “Tidak apa. Narra tidak mendengarnya dan ia mungkin juga tidak akan marah.”

“Kalau begitu pindah ke rumah. Aku akan meminta ijin pada kakekmu.”

“Tidak tahu, hyung. Kondisinya masih belum memungkinkan. Permainan sepupumu dengan opini publik memang cukup baik, tapi tidak cukup baik jika mereka tahu kita tinggal serumah.”

“Jadi, bagaimana kalau menikah? Kau sudah menerima lamaranku.”

Tubuh Kyuhyun menjadi tegang. Siwon kembali mengatakan mengenai pernikahan setelah kejadian dulu. Cukup lama hingga Kyuhyun berpikir Siwon mungkin tidak akan kembali mengungkitnya dalam waktu dekat ini –mungkin sekitar dua atau tiga tahun lagi. Karena pemikiran liar Kyuhyun mengatakan bahwa hubungan mereka –mungkin– tidak akan selama itu. Tetapi disisi lain, Kyuhyun memaki dirinya sendiri karena jelas ia sangat menginginkan Siwon.

Kyuhyun menunduk dan Siwon diam. “Baiklah. Aku tahu, tidak akan kuungkit lagi sampai kau–”

“Lamar aku lagi, hyung. Dengan cara yang lebih baik dari pertama. Mungkin, aku akan menikah denganmu.”

*****

Siwon kembali menghela nafas dan itu membuat kedua orangtuanya menatapnya dengan penuh perhatian. Siwon sendiri tidak sadar dengan sikap orangtuanya. Ia hanya menunduk menatap mangkuk nasi-nya yang sama sekali tidak berkurang. Kepalanya masih mengulang –seperti kaset rusak yang menyebalkan– semua ucapan Kyuhyun dua hari lalu saat ia mengantarkannya pulang dari rumah sakit

“Kau terlihat seperti sedang patah hati, Siwon. Apa Kyuhyun memutuskanmu?” Ucap Hyosan tiba-tiba.

Siwon sontak mengangkat kepalanya. Lalu ia menggeleng. “Tidak, Eomma. Aku hanya sedikit lelah. Ada begitu banyak pekerjaan yang menumpuk.” Ucap Siwon memberi alasan.

“Tapi, Appa rasa ini ada kaitannya juga dengan Kyuhyun. Benar?”

“Ada apa Siwon? Apa kalian sedang ada masalah, eoh? Atau Kyuhyun kembali sakit? Karena beberapa waktu ini, Eomma selalu melihatnya dengan wajah yang pucat. Dia baik-baik saja, bukan.”

“Kata dokter Kang, Kyuhyun memang tidak akan pernah pulih seratus persen. Jadi, jangan terlalu mengkhawatirkannya. Kyuhyun tidak akan bertindak ceroboh dengan menyembunyikan sakitnya, Eomma,” kecuali kemarin saat aku tahu dia malnutrisi–sambung Siwon sendiri. “Dan, aku tidak sedang bermasalah apapun dengan Kyuhyun.”

“Narra juga sedikit mencemaskan Kyuhyun oppa. Dan sepertinya ia kembali meminum obat.” Sambar Ji In yang sedari tadi sibuk dengan makan malamnya. Ia tidak mau berurusan dengan hubungan Siwon dan Kyuhyun. Pra-test untuk ujian saja sudah cukup memusingkannya.

“Nak, kau yakin Kyuhyun baik-baik saja?” Hongjae perlu memastikan lagi.

Siwon menarik nafas dan kembali menunduk menatap mangkuk nasinya. “Ne, dia baik-baik saja.” Kecuali aku yang harus memikirkan bagaimana lamaran yang lebih baik.

Siwon mungkin harus berpikir lebih jernih waktu itu sebelum mengatakan kalimat lamaran. Dan kini, ia begitu kebingungan. Siwon mungkin pintar, tapi ia tidak begitu kreatif untuk membuat acara lamaran yang mengesankan hingga Kyuhyun kembali menerimanya –tidak secara paksaan seksual seperti sebelumnya dimana Siwon ingin membunuh dirinya sendiri.

Hongjae ikut menarik nafas. Sepertinya Siwon sedang tidak menceritakan masalah pribadinya. “Sudahlah. Kita makan saja dulu. Siwon, habiskan makananmu.”

*****

Siwon memijat keningnya yang terasa berdenyut. Sedangkan dihadapannya Hyukjae masih saja bicara tanpa jeda, mengeluh mengenai posisi barunya sebagai sekretaris Kim Heechul. Bahkan kali ini Hyukjae membawa nama ayahnya –yang Siwon sendiri tidak tahu apa hubungannya.

Siwon menarik nafas perlahan dan me-nyaman-kan kembali posisi duduknya. Matanya masih terfokus pada Hyukjae sedangkan pikirannya kini sedang melayang jauh. Hari ini, belum satu kalipun ia mengirimkan pesan pada Kyuhyun atau mungkin menelepon kekasihnya tersebut. Entah, tapi Siwon sedang tidak ingin saja.

“Jadi, bisakah kau meminta ayahmu untuk mengembalikan posisiku dulu? Dan bukankah Sekretaris Kim –ah, ani maksudku Kim Juhyun kembali dipekerjakan di Choi Inc. Kenapa bukan dia saja yang menjadi sekretaris sepupu-mu itu. Dia sudah cukup berpengalaman sebagai sekretaris kakekmu dulu.” Hyukjae mengakhiri keluhannya dengan nada masih mengeluh.

Siwon kembali menarik nafas. “Baiklah. Akan kuberitahu Appa mengenai hal ini, karena telingaku juga semakin sakit mendengarkan semua keluhanmu itu, Hyuk.”

Hyukjae sontak terkekeh. “Maaf. Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikap sepupumu itu. Dia mungkin lebih parah dari kakekmu.”

Siwon hanya mengangkat bahu sebagai responnya. Hyukjae kini menyadari bahwa Siwon sedikit aneh –walaupun bukan hari ini saja, karena terkadang ia sering mendapati Siwon selalu melamun– dan mungkin juga pucat.

“Ada apa?” Hyukjae bertanya.

“Apanya?”

“Dirimu. Kau sering sekali melamun dan terkadang tidak menyimak pembicaraan. Bahkan beberapa kali ada dokumen yang tertunda, bukan. Kau ada masalah?”

Siwon menghela nafas dan memejamkan matanya. “Tidak ada masalah apapun. Hanya lelah saja. Aku butuh liburan sepertinya.”

“Atau pernikahan.” Tukas Hyukjae.

Siwon sontak membuka matanya dan menatap Hyukjae lekat. “Maksudmu?”

“Entahlah. Hanya terlintas begitu saja. Lagipula kau memang mau menggelar pernikahan. Dengan Kyuhyun. Masih menjadi rencanamu, bukan? Kau bilang Kyuhyun sudah setuju.”

“Memang. Tapi saat itu aku…” Siwon tidak meneruskan ucapannya. Terlalu sensitif jika ia harus mengungkit lamarannya secara spontan berbulan-bulan dulu. Lagipula Kyuhyun menginginkan sebuah lamaran yang lebih baik dari itu.

Hyukjae mengernyit. “Apa? Kenapa tidak dilanjutkan?”

“Bukan apa-apa. Sudah kembali bekerja. Nanti Heechul hyung mengamuk lagi.” Usir Siwon.

Hyukjae mendengus jengkel lalu keluar begitu saja tanpa bicara. Siwon menghela nafas lega begitu mendengar pintu tertutup. Ia lalu merebahkan tubuhnya disofa panjang. Siwon sedang tidak ingin melakukan apapun hari ini dan membiarkan dokumen menumpuk dimeja kerjanya. Terkesan tidak bertanggung-jawab, tapi Siwon sedang egois hari ini.

“Hah…. Dia membuatku gila. Dia bahkan membuatku berlutut dihadapan Presdir Choi yang terhormat.”

*****

Tuan Choi Dongha menatap Siwon yang masih berlutut dihadapannya. Seorang Choi yang berlutut dengan meletakan semua harga dirinya demi seorang Cho. Entah mimpi buruk apa yang dialaminya semalam. Seorang Choi tidak pernah merendahkan dirinya bahkan dihadapan Choi lainnya demi orang lain terlebih untuk seorang Cho.

“Apa yang kau lakukan, eoh? Kau berlutut demi Cho? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu Choi Siwon?!!” Seru Tuan Choi Dongha keras.

Siwon bergeming. Ia masih berlutut dengan kepala tertunduk. Walaupun tindakannya malah membuat kakeknya semakin marah tapi Siwon tidak peduli. Ia akan melakukan apapun demi keluarganya dan Kyuhyun. Sekalipun jika ia harus mati ditangan kakeknya sendiri.

“ Choi Siwon!!”

Bahkan teriakan keras Tuan Choi Dongha tidak membuat Siwon menjadi gentar. Tuan Choi Dongha yang sudah habis kesabaran berjalan mendekati Siwon dan memaksanya untuk berdiri. “Berdiri dengan tegak layaknya seorang Choi! Kau adalah Choi, seharusnya kau menjaga martabat dan harga diri seorang Choi dengan tinggi. Tapi apa yang kau lakukan malah merendahkan Choi. Mencintai Cho? Menjadi seorang homoseksual? Tch…”

Siwon mengangkat kepalanya dan menatap Tuan Choi Dongha secara langsung. Ia menepis tangan kakeknya dengan kasar. “Aku mencintai Kyuhyun, Presdir Choi. Dan anda tidak berhak mengatur kehidupanku. Bahkan sekalipun aku menjadi seorang homoseksual, anda tidak mempunyai hak untuk melarangku!”

Untuk ketiga-kalinya Tuan Choi Dongha kembali menampar Siwon dengan keras. “Jangan bicara dengan nada tinggi pada kakekmu, Choi Siwon! Cho itu telah membawa pengaruh buruk padamu.”

“Jangan memanggilnya begitu! Aku tidak peduli jika anda memandang rendah terhadap diriku, tapi jangan pernah menghina Kyuhyun. Anda bahkan tidak lebih baik darinya. Terlebih dengan semua perbuatan anda selama bertahun-tahun ini. Bahkan pada Kakek Choi Namhyun.”

Siwon bernafas dengan cepat. Bahkan Tuan Choi Dongha sampai terkejut dengan sikap Siwon yang menjadi lebih marah darinya. “Aku tahu apa yang anda lakukan di masa lalu. Termasuk pada Choi Namhyun. Dia juga seorang Choi, lalu apakah pantas anda bicara mengenai martabat seorang Choi padaku saat ini?”

“Jaga bicaramu, Siwon.”

“Aku sudah menjaga ucapanku sejak awal, tapi anda yang memaksaku berbicara kasar seperti ini. Anda tidak lebih baik dari kami yang anda anggap manusia rendah. Paling tidak, kami tidak membunuh orang.”

Sekali lagi, satu tamparan mendarat telak diwajah Siwon. Wajah Tuan Choi Dongha terlihat sangat merah, bahkan dadanya naik-turun karena emosi yang besar. Siwon menyeringai sinis pada kakeknya.

“Aku tidak perlu meminta restu anda atas hubunganku dengan Kyuhyun. Tapi jika anda berani menyentuh Kyuhyun atau adik-adik kami, maka aku tidak akan menahan diri lagi. Tidak peduli bahwa anda adalah ayah dari Appaku sendiri.”

Siwon lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.

*****

Siwon memeriksa lagi jam tangannya. Ini sudah ketiga-puluh-kalinya sejak ia sampai di area pengadilan Seoul. Hari ini pengadilan Cho Gyushik dan Kyuhyun memutuskan untuk datang sebagai saksi terakhir. Dan jika ingatan Siwon benar, maka minggu depan menjadi pengadilan terakhir Cho Gyushik dimana ia akan dijatuhi hukuman. Semua orang menantikan hari itu dan juga hari dimana kakeknya juga akan dijatuhi hukuman.

Bahkan setelah satu bulan lebih, Cho dan Choi masih saja menjadi perbincangan panas dikalangan publik. Tapi tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali semua masalah telah berakhir –katakan saja hari dimana Choi Dongha dijatuhi hukuman adalah hari terakhir dari seluruh kehebohan dari Black Pearl. Dan Siwon berharap, hubungannya dengan Kyuhyun tidak akan terusik –atau mungkin tidak. Siwon keluar dari mobil dan menatap kearah undakan tangga yang tinggi. Kyuhyun belum keluar atau para pers yang meliput. Dan Siwon masih harus bersabar lagi.

Dan empatpuluh lima menit kemudian, penantian Siwon terbayar. Ia melihat Kyuhyun dengan menggunakan pakaian kasualnya –hanya kemeja putih dengan sweather berwarna coklat muda dibalut dengan coat dengan warna lebih gelap dan celana jeans hitam dilengkapi dengan sepatu sneakers– yang membuatnya terlihat seusia Jinho. Siwon menggerutu karena kekasihnya terlihat begitu manis sedangkan ia terlihat seperti ayah kekasihnya, itu benar-benar buruk.

Siwon tersenyum ketika Kyuhyun semakin mendekat. Tapi ketika Kyuhyun memeluknya, senyuman Siwon menghilang. Para media masih berada dilingkungan yang sama dan Siwon tidak ingin membuat headline berikutnya mengenai hubungan mereka. Salahkah jika Siwon menginginkan hubungan yang normal seperti pasangan kekasih lain, walaupun mereka tidak normal?

“Hey, ada apa? Apa tidak berjalan lancar?”

“Ani. Semuanya lancar. Hanya saja,” Kyuhyun semakin mengeratkan pelukannya. “Aku merindukanmu, hyung.”

Siwon menatap kearah tangga dimana para media sudah bermunculan. Dan ia merasa sedikit panik. “Aku juga merindukanmu. Tapi sebaiknya kita pergi sekarang. Masuklah ke mobil.” Siwon melepaskan pelukan Kyuhyun.

Kyuhyun menghela nafas dan menurut.

*****

Siwon membawa mereka ke sebuah area perumahan yang cukup tenang. Kyuhyun bahkan tidak mempunyai keinginan untuk bertanya. Siwon terkadang memang punya ide-ide yang datang tiba-tiba setiap mereka pergi bersama. Terakhir kali, Siwon membawanya jauh ke Gwangju dan bermalam disebuah motel kecil. Selama dua hari akhir minggu itu, mereka bersikap layaknya seperti sepasang kekasih dimana tidak ada orang yang mengenal mereka –tidak seperti di Seoul. Itu benar-benar menyenangkan.

Kyuhyun melepaskan seatbelt dan menatap kearah sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman. Siwon yang memanjat keluar pertama-kali, diikuti oleh Kyuhyun.

“Bagaimana?”

“Tidak besar, sepertinya tetangganya tidak berisik, lokasinya tidak jauh dari pusat kota. Rumah yang bagus.”

Siwon tersenyum dan menyematkan jemarinya dengan jemari Kyuhyun. Ia lalu mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya. “Mari masuk.” Siwon membawa Kyuhyun masuk kedalam rumah tersebut.

Seperti kata Kyuhyun, rumahnya tidak besar tapi cukup nyaman dengan lingkungan yang tenang. Rumah itu memiliki halaman depan yang cukup luas dengan sebuah pohon maple yang cukup besar –agak sulit menemukan pohon itu diperkotaan. Tanaman-tanaman hias ditata dengan begitu apik dan terdapat sebuah kolam ikan kecil dipojok halaman.

Dan ketika mereka memasuki rumah itu, Kyuhyun cukup terkejut karena semua ruangan sudah dipenuhi dengan perabot dengan gaya minimalis. Tidak ada yang terlalu berlebihan dengan warna putih dan cream lembut sebagai warna dominan. Kyuhyun begitu terpukau dengan interior rumah tersebut, tapi tidak lama karena Siwon langsung membawa Kyuhyun menuju lantai dua dimana terdapat tiga buah kamar.

Mereka memasuki salah satu kamar dengan dekorasi warna peach lembut. Terlihat seperti kamar gadis. Ada dua buah tempat tidur bertingkat didekat jendela, sebuah meja belajar dan lemari pakaian. “Ini kamar untuk Narra dan Ji In. Kalau mereka ingin menginap.”

Kyuhyun menatap Siwon bingung. Siwon tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya. Ia kemudian membuka jendela dan membiarkan udara untuk masuk. “Inha hanya sekitar satu setengah jam dari sini. Kurasa tidak ada masalah jika mereka hendak berkunjung.”

Kyuhyun masih tidak mengerti dengan ucapan kekasihnya, tapi Siwon kembali membawa untuk masuk kamar lainnya. Sebuah kamar dengan banyak mainan dengan warna dominasi biru yang lembut dengan garis putih yang tegas. “Kamarnya cukup luas, jadi kita bisa menyesuaikan perabotnya sepanjang perkembangan usianya.” Ucap Siwon lagi.

“U-untuk siapa?”

“Tentu saja untuk anak kita, Kyuhyun. Ayo lihat kamar kita.”

Tubuh Kyuhyun menegang saat Siwon menyebut “kamar kita”, tapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk bereaksi lagi. Siwon membawanya ke kamar terakhir dengan warna dominan coklat tua dengan gradasi warna lebih lembut.

“Aku sangat puas dengan kamar ini. Apa kau menyukainya? Atau ada yang ingin kau ganti? Katakan saja.”

Kyuhyun memperhatikan seisi kamar tersebut. Memang tidak sebesar kamarnya di rumah, tapi kamar ini terasa sangat hangat. Kyuhyun berjalan menuju tempat tidurnya dan tersenyum tipis. “Aku menyukainya.”

Siwon ikut tersebut puas dan memeluk kekasihnya dari belakang. “Syukurlah.”

“Sejak kapan hyung membeli rumah ini dan mengisinya?”

“Sudah lama sekali. Bahkan sebelum aku jatuh cinta padamu. Aku berencana untuk keluar dari rumah, tapi tidak pernah mendapatkan kesempatan. Sejak tahun lalu, aku sudah melakukan renovasi. Tapi sebulan terakhir, aku mengubah beberapa ruangan.”

Siwon lalu melepaskan pelukannya dan membalikan tubuh Kyuhyun. Siwon mencium lembut bibir Kyuhyun untuk beberapa detik. Ia menatap kekasihnya dengan tenang. “Saat kau memintaku untuk melamarmu dengan cara lebih baik, aku sama sekali tidak bisa berpikir. Aku bisa saja mengucapkan ratusan janji manis padamu, tapi aku tidak bisa. Aku seakan berbohong padamu –”

Siwon menarik nafas. “–karena aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Aku hanya bisa berusaha untuk membahagiakanmu, Kyuhyun. Di rumah ini, bersama anak kita nanti. Aku akan menjaga kalian dan membahagiakan kalian.”

Kyuhyun menjadi lebih tegang ketika Siwon mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yang lainnya. Well, hanya sebuah ponsel tapi Siwon seperti sedang menunjukkan sesuatu padanya. Sebuah video. Siwon memasangkan headset ditelinga Kyuhyun dan membiarkan kekasihnya untuk melihat sendiri. Video itu berisi kumpulan foto-foto Kyuhyun dan Siwon. Selama mereka berpergian, menjalani pelayanan umum di panti asuhan, bahkan beberapa diantaranya diambil secara diam-diam. Dengan sebuah alunan lagu lembut –bukan sebuah lagu yang dirilis secara publik jadi terkesan sangat pribadi, mungkin Siwon yang membuat lagu itu sendiri atau ia menyuruh orang lain untuk membuat lagu itu. Tapi Kyuhyun tidak peduli. Ia sudah sangat senang. Siwon memperhatikan setiap reaksi kecil yang ditunjukkan oleh kyuhyun. Ia mengulas senyuman.

Video itu akan mencapai akhir, ketika satu per satu foto membentuk sebuah tiga kata yang sederhana yang mempunyai makna lebih dari apapun. Kyuhyun menggigit ujung bibirnya. Dan punggungnya meremang ketika suara husky Siwon terdengar ditelinganya. Kyuhyun mendongak untuk menatap Siwon.

Siwon melepaskan headset dari telinga Kyuhyun. “ Kau mempunyai tiga pilihan, Kyuhyun,” Siwon mengambil ponsel itu dari tangan Kyuhyun. “ Pertama, aku akan menikah denganmu. Kedua, kau menikah denganku. Dan ketiga, kita akan menikah.”

Kyuhyun masih menatap Siwon dengan lekat. Lamaran Siwon hari ini bukanlah yang dia perkirakan dari kekasihnya tersebut. Terlebih ada bagian dari Kyuhyun yang masih ragu untuk menerima pinangan Siwon. Kyuhyun tidak akan berkomentar mengenai publik, tapi ini mengenai keluarganya sendiri. Sesuatu yang diketahuinya dan Siwon tidak. Bahkan selain pamannya yang kemungkinan akan dipenjara selama lima atau bahkan sepuluh tahun, tidak ada lagi yang mengetahuinya.

Kyuhyun menarik nafas. “Sebelum aku memberi jawaban, ada sesuatu hal yang harus kau ketahui, hyung.”

“Mengenai hal apa?”

“Pembicaraanku dengan paman Gyushik.”

Siwon menatap Kyuhyun dengan lekat. Ia tidak tahu bahwa Kyuhyun akan memberitahunya sekarang, tapi Siwon tidak akan mengatakan apapun. Semuanya tergantung pada Kyuhyun dan Siwon hanya menginginkan Kyuhyun berada bagian dalam hidupnya. Kemudian ia mendekatkan dirinya untuk bisa mencium kening kekasihnya dengan lembut. “Aku tidak mau memaksamu, Kyuhyun. Aku melamarmu bukan ingin mengetahui pembicaraanmu. Aku menghargai pilihanmu untuk merahasiakannya dariku. Tapi aku hanya ingin kejujuran diantara kita, Kyuhyun.”

“Kejujuran? Kurasa itu adalah masalahnya. Eomma-ku tidak jujur pada perasaannya sendiri.”

Siwon mengerutkan dahinya. “Maksudmu?”

*****

“ Jangan bercanda denganku. Itu tidak lucu!”

Gyushik tertawa kecil. “Aku tidak pandai membuat lelucon, Kyuhyun. Bahkan noona saja mengakuinya. Oh, Nayoung noona maksudku.”

Kyuhyun terdiam. Beberapa menit yang lalu ia baru saja mendapati kenyataan bahwa kedua orangtuanya menikah bukan atas dasar sebuah cinta, melainkan sebuah perjanjian. Dan Eomma-nya malah mencintai seorang pria yang kini menjadi ayah dari kekasihnya. Terdengar seperti ironi yang menyedihkan.

“Hongjae tidak mengetahuinya karena ia memang tidak mencintai ibumu. Dan sebenarnya hubungan Joonhyuk dan Nayoung hanya sebatas persahabatan. Tidak pernah lebih dari itu. Bahkan Abeojiku juga tidak mengetahuinya.”

“La-lalu kenapa mereka menikah?”

“Sudah kubilang karena persahabatan mereka, Cho Kyuhyun. Kenapa kau lamban sekali, eoh? Demi mempertahakankan persahabatan mereka, Joonhyuk akhirnya menawarkan sebuah perjanjian bodoh itu pada Nayoung. Yang kutahu, lebih baik menikah dengan sahabatmu sendiri daripada dengan orang yang tidak kau cintai.”

Kyuhyun menarik nafas banyak-banyak. Perutnya serasa berputar tidak karuan. Rasanya aneh sekali jika ia mengingat betapa bahagianya kehidupan orangtuanya. Kyuhyun berusaha mencari suaranya lagi.

“ Ba-bagaimana kau mengetahuinya? Dan mengenai perjanjian itu…”

Gyushik mendengus. “Aku harus mengatakan berapa kali, eoh? Sudah kubilang Joonhyuk itu orang yang ceroboh. Aku menemukannya secara tidak sengaja. Tch… Isi perjanjiannya begitu singkat bahkan aku masih mengingatnya dengan jelas hingga hari ini.”

“Lalu untuk apa kau memberitahuku mengenai hal ini? Apa yang kau harapkan dariku?!” Seru Kyuhyun marah. Ia sendiri tidak tahu kenapa merasa sangat kesal dan marah setelah mendengarnya. Kyuhyun seperti baru tersadar dari sebuah kebohongan terbesar dalam hidupnya. Dan yang lebih parah yang membohonginya adalah orangtua-nya sendiri.

Gyushik kembali tersenyum. “Hahh… kau benar-benar sangat lamban, Cho Kyuhyun. Sebenarnya berapa IQ-mu sebenarnya, eoh? Kau bodoh sekali.”

“Jangan menyebutku bodoh!!” Seru Kyuhyun dengan keras.

Gyushik bahkan kehilangan senyumannya kini. Inilah pertama-kali ia melihat emosi marah Kyuhyun yang sebenarnya. Nafas Kyuhyun terlihat tidak teratur. Bahkan wajahnya terlihat merah saat ini. Gyushik masih menatap Kyuhyun dengan serius.

“Eomma bahkan melarangku menyebut orang lain bodoh. Jadi, jangan menyebutku orang bodoh.” Ucap Kyuhyun setelah ia sedikit tenang.

Gyushik mendengus. “Tapi orangtua-mu sendiri telah membodohimu, Kyuhyun. Kau bahkan sadar akan hal itu.” Kyuhyun mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia mencoba untuk tidak bereaksi lebih keras dari sebelumnya.

“Orangtua-mu tidak saling mencintai. Terlebih dengan ibumu yang sangat mencintai ayah dari kekasihmu hingga akhir hayatnya. Tch… hidupmu begitu tragis, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun yang tidak ingin mendengar ucapan Gyushik memilih untuk pergi.

*****

“Kemudian aku langsung pergi begitu saja. Aku tidak bisa mengatakan apapun sebagai pembelaan atas diriku atau atas orangtua-ku sendiri,” Kyuhyun menatap Siwon. “Sekarang kau tahu, kenapa aku tidak bisa memberitahu orang lain mengenai hal ini, bukan? Dan rasanya setiap bertemu dengan Paman Hongjae, aku…”

Siwon langsung memeluk Kyuhyun tanpa membiarkan kekasihnya menyelesaikan ucapannya. Siwon mengusap lembut punggung Kyuhyun, memberi ketenangan bagi pria yang dicintainya itu. “ Shh.. sudah, jangan dibicarakan lagi. Maaf, memaksamu untuk menceritakannya.”

Kyuhyun tidak mengatakan apapun. Ia hanya menenggelamkan diri dalam pelukan Siwon yang begitu nyaman. Kyuhyun kini sedikit merasa lebih lega setelah menceritakan ini pada Siwon. Kyuhyun tidak yakin untuk menyimpan rahasia ini sendirian sampai akhir hidupnya kelak. Selama beberapa menit, keduanya tenggelam dalam kesunyian yang tenang. Sampai akhirnya Kyuhyun melepaskan pelukan Siwon dan memandangnya. Siwon memberikan senyumannya dan mencium bibir Kyuhyun sekilas.

“Sudah lebih baik?” Kyuhyun mengangguk.

“Aku tidak akan meminta jawabanmu sekarang. Pikirkan saja dulu dari ketiga pilihan itu, okay? Bagaimana kalau kita makan siang? Aku akan memasak untukmu.”

*****

Siwon menyentuh surai rambut coklat gelap Kyuhyun dengan lembut. Setelah makan siang, Siwon memaksa Kyuhyun untuk tidur sejenak dipangkuannya. Walaupun Kyuhyun menolak, tapi Siwon mempunyai banyak cara untuk membuat kekasihnya menurut. Siwon tersenyum memandangi wajah Kyuhyun yang tertidur dengan tenang. Entah, tapi Siwon sering kali merasa tidak percaya dengan keberuntungannya.

Ia jatuh cinta pada seseorang yang sedingin salju, sekeras batu karang namun juga serapuh sayap kupu-kupu. Well, jika Kyuhyun mengetahui analogi yang dibuat olehnya, Siwon mungkin akan dipukuli berkali-kali dengan wajah memerah. Tapi Siwon juga tidak tahu mengapa Tuhan membuatnya jatuh cinta pada Kyuhyun.

Siwon selalu percaya bawa setiap manusia selalu diciptakan berpasangan –pria dan wanita. Tapi ia juga tidak pernah memandang rendah orang-orang yang malah mempercayai bahwa pasangan yang dikirimkan Tuhan adalah orang yang sama. Karena pada akhirnya, ia pun mengalaminya. Ia jatuh cinta pada Kyuhyun. Dan itu benar-benar sangat indah walaupun harus dilalui dengan berbagai masalah pelik. Anugerah terbesar dan terindah dari Tuhan untuknya.

Siwon menyusuri setiap lekuk dan garis wajah Kyuhyun dengan hati-hati. Ia tidak ingin menganggu tidur Kyuhyun. “Kau terlihat semakin tampan dan cantik sekaligus. Kenapa kau begitu beruntung, eh? Atau aku yang beruntung?”

Siwon tertawa kecil. “Ne, aku memang beruntung.”

Punggung tangan Siwon mengusap lembut pipi Kyuhyun yang pucat. Sesuai dengan perintah dokter Kang, Siwon benar-benar mengawasi pola makan Kyuhyun. Dan dalam beberapa hari terlihat jelas perbedaannya. Kyuhyun terlihat lebih segar walaupun kulitnya tetap pucat.

“Ah, rasanya aku ingin setiap hari membuatkanmu makanan. Dengan melihatmu makan dengan lahap, sudah bisa membuatku tersenyum senang.” Kata Siwon.

“Oh–”

Kyuhyun terbangun. Dengan cepat, Siwon menarik tangannya. “ –apa aku menganggumu? Tidurlah lagi.”

Kyuhyun menatap Siwon dan perlahan bangun dari pangkuan Siwon dan sedikit merenggangkan punggungnya. Ia menguap lalu menggeleng. “Tidak apa. Kita tidak bisa berlama-lama disini, bukan?”

“Waeyo? Ini khan rumah kita. Bahkan jika kau ingin bermalam disini–”

“Ani! Ma-maksudku, Narra di rumah sendirian. Dan Jinho akan ke rumah untuk membahas beberapa dokumen. Jadi, tidak bisa bermalam disini.” Tolak Kyuhyun cepat.

Siwon memperhatikan Kyuhyun agak lama. Ia lalu menarik nafas. “Kau mau pulang sekarang? Baiklah, kuantar kau pulang.” Siwon lalu mengambil coat Kyuhyun dan berdiri.

Tapi Kyuhyun yang terlalu cepat berdiri untuk menahan Siwon, akhirnya harus menerima bahwa kening mereka malah beradu karena disaat yang bersamaan Siwon ingin menarik Kyuhyun pergi. Kyuhyun menyentuh keningnya dan kembali duduk sembari meringis. Siwon hanya mengusap kening sebentar dan lebih terfokus pada Kyuhyun.

“Kyu, kau baik-baik saja? Coba kulihat keningmu..” Siwon berusaha menangkup wajah Kyuhyun, tapi kekasihnya masih saja mengerang kesakitan. Sepertinya kening Siwon terlalu keras. “Sini, kulihat sebentar.”

Siwon kembali berusaha menangkup wajah Kyuhyun agar ia bisa melihat keningnya. Kyuhyun masih meringis kesakitan ketika rambut yang menutupi keningnya disingkirkan sejenak.

“Sepertinya tidak bengkak. Apa terasa sangat sakit? Euh, keningku sepertinya tidak sekeras itu.” Gumam Siwon. Sedangkan Kyuhyun yang menyadari bahwa wajah mereka terlalu dekat sudah berhenti meringis. Ia lebih banyak menahan nafas.

Siwon akhirnya menatap Kyuhyun. “Akan kubawakan kompres es, ne? Aku takut–”

Kyuhyun mencium bibir Siwon. Kedua bibir mereka hanya bertemu tanpa ada gerakan apapun. Siwon yang cukup terkejut dengan ciuman Kyuhyun juga tidak berbuat apapun. Kyuhyun sendiri tidak tahu kenapa dia mencium Siwon, hanya saja ada bagian dari dirinya yang menyuruh. Dan Kyuhyun memang akan menjadi lemah jika dihadapkan dengan Siwon. Kelemahan yang paling mengagumkan. Setelah dua menit, Kyuhyun berencana untuk menarik bibirnya tapi Siwon merespon untuk menahannya.

Dan kemudian, Siwon mulai untuk mencium Kyuhyun dengan lembut. Bibirnya bergerak mengulum bibir atas Kyuhyun. Dan kekasihnya merespon dengan baik. Hanya beberapa gerakan bibir lembut tanpa ada tekanan nafsu dari bagian diri mereka yang lain.

Kyuhyun memejamkan mata dan membiarkan Siwon melakukan pekerjaannya. Kyuhyun memang menyukai setiap sentuhan lembut dari Siwon –bagian tubuh manapun yang bergerak dalam tubuhnya. Siwon menerima respon dan sedikit menyamankan posisi kepalanya. Kedua bibir mereka masih bermain dengan beritme tetap.

Sedikit demi sedikit Siwon bergerak untuk menekan tubuh Kyuhyun dalam kuasanya. Dan ciuman mereka semakin lebih bergairah dari sebelumnya. Tangan Kyuhyun meremas bahu dan lengan Siwon dengan keras ketika ia mendapati gairah yang menguasainya. Dan ketika suhu diantara mereka semakin terasa panas. bibir Siwon mendesak masuk kedalam mulut Kyuhyun dan mengecap setiap rasa manis kekasihnya. Membuat Kyuhyun menelan semua suara desahannya kembali.

Kyuhyun praktis tidak bisa bergerak ketika kedua kaki Siwon mengunci tubuhnya bagian bawah. Dan ia terkesiap merasakan sentuhan jemari kekasihnya berada dibawah kemejanya. Kyuhyun ingin mengerang tapi Siwon masih membungkam mulutnya dengan agresif.

“H-hyun…” Dan Kyuhyun kembali mengerang protes ketika bibir Siwon melepaskannya. Tapi kemudian dilanjutkan dengan sensasi dingin pada bagian lehernya.

Tangan Kyuhyun semakin erat mencengkram tubuh Siwon –seakan ia ingin segera dibebaskan. Tapi Siwon tidak memberikan kesempatan apapun. “Si-won.. aahh…” Kyuhyun mendesah keras ketika tangan Siwon menemukan titik sensitifnya.

Tubuh Kyuhyun menjadi sangat tegang dan menggigil. Padahal pakaiannya masih melekat dengan rapi, tapi sentuhan Siwon seperti sudah menelanjanginya. Kyuhyun kembali mengerang dengan gairah yang membuncah. Punggungnya meremang dan ia semakin keras menekan tubuh Siwon –mungkin akan meninggalkan bekas kemerahan. Siwon tidak berhenti –ia tidak pernah berhenti

.”Hyu-hyung.. be-berhen-ti…” Kyuhyun terdengar memohon. Dan itu seakan menampar wajah Siwon dengan keras.

Kyuhyun menolaknya dan Siwon tidak akan memaksakan untuk melakukannya. Siwon mengeluarkan tangannya dari balik pakaian Kyuhyun dan bibirnya meninggalkan leher Kyuhyun.

Kyuhyun menarik nafas banyak-banyak untuk mengejar semua nafasnya yang seakan tertinggal. Siwon menatap wajah Kyuhyun dan menyeka peluh yang membasahinya. Kyuhyun masih memejamkan mata dan mengambil nafas.

“Maafkan aku…”

Kyuhyun lalu membuka matanya dan mendapati wajah Siwon hanya beberapa inchi diatasnya. Kyuhyun tersenyum dan mengusap lembut pipi Siwon. “Kita akan melakukannya nanti.”

Siwon tersenyum dan meraih tangan Kyuhyun diwajahnya. “Aku mencintaimu, Kyuhyun.”

Kyuhyun lalu menarik tubuh Siwon dan memeluknya erat. “Aku juga mencintaimu, Siwon hyung.”

*****

Siwon melahap roti panggangnya dalam diam. Sedangkan orangtua-nya sibuk membicarakan mengenai hukuman Cho Gyushik yang telah dijatuhkan –kemarin. Cho Gyushik, putra ke-tiga Cho Hyunjo terbukti bersalah atas kasus-kasus yang dituduhkan dan dijatuhi hukuman selama tujuh tahun penjara. Bukan waktu yang lama mengingat banyaknya kasus yang disebutkan tapi setidaknya cukup lama untuk membayar semua kejahatan yang dilakukan oleh Cho Gyushik.

Kini, mereka –dua keluarga dan masyarakat– tinggal menunggu akhir dari perjalanan panjang seorang Choi Dongha. Siwon hanya tahu bahwa kakeknya akan menjalani sidang terakhir dalam beberapa minggu dan tim pengacara keluarga masih mengupayakan hukuman yang diterimanya tidak terlalu berat. Well, jika hukuman penjara bisa digantikan dengan hukuman pelayanan umum, kenapa tidak? Itu lebih baik.

“Bagaimana dengan Abeonim?” Tanya Hyosan.

Hongjae menarik nafas. Ia terlihat tidak yakin. “Mereka sedang mengusahakan pengalihan hukuman. Bukan penjara, tapi seperti pelayanan umum atau semacamnya. Abeoji sudah terlalu tua untuk berada didalam penjara untuk beberapa tahun. Lagipula, Abeoji keras kepala. Ia tidak akan mau.”

Dan ditengah perbincangan, Ji In bergegas menuruni tangga sembari menyampirkan tas ranselnya. Sesekali ia menggumamkan tidak jelas dengan panik. Hyosan mendesah melihat kelakuan putri bungsunya.

“Ji In, hati-hati. Kau bisa jatuh.”

Tapi sepertinya Ji In tidak begitu mendengarkan. Ia menyambar selembar roti dan memakannya tanpa selai apapun. “Aku sudah terlambat. Aku pergi dulu, ya. Bye..” Dan kemudian langsung menghilang dibalik pintu.

“Semalam dia tidur jam berapa? Hari ini ujian seleksi pertama, bukan? Apa dia belajar dengan baik?” Hongjae terlihat khawatir. Sebulan terakhir Ji In memang sibuk belajar untuk memasuki ujian seleksi awal masuk universitas. Ji In dan Narra sering pergi ke perpustakaan atau beberapa teman mereka untuk belajar bersama. Dan walau begitu, ada beberapa yang hasilnya kurang memuaskan.

Hyosan mengusap lembut lengan suaminya. Dan tersenyum. “Tenang saja. Ji In sudah belajar dengan giat. Lagipula keinginannya sendiri untuk masuk fakultas hukum, jadi dia akan bersungguh-sungguh.” Sepertinya dari semua orang rumah, hanya Hyosan yang benar-benar terlihat tenang.

Siwon menyudahi sarapannya. Ia meneguk habis jus-nya dan beranjak. “Aku pergi dulu.”

Sontak senyuman Hyosan semakin lebih lebar. “Oh, kau mau pergi ke rumah Kyuhyun? Sampaikan salam Eomma untuknya, ne?”

“Aku tidak pergi menemuinya, Eomma. Kyuhyun bilang akhir minggu ini dia, Jinho dan beberapa staff kantornya akan sibuk untuk presentasi proyek berikutnya. Aku hanya ingin,” Siwon terdengar ragu sebelum akhirnya ia menarik nafas. “Aku pergi.”

Dan tanpa sepatah kata lagi, Siwon meninggalkan meja makan. Meninggalkan Hyosan dan Hongjae yang mengernyit bingung dengan sikap putra tertua mereka yang aneh.

*****

“Ah.. Seriously, this is Saturday, hyung!” Jinho kembali mengeluh untuk kesekian dan Kyuhyun mencoba menulikan pendengarannya dan hanya fokus pada beberapa berkas yang diperiksanya. Donghae juga tidak bisa berbuat banyak.

Jinho mengerucut sebal dengan sikap Kyuhyun yang begitu acuh. Ia mengambil satu lembar kertas –entah itu penting atau tidak, Jinho tidak peduli– membuatnya menjadi sebuah bola dan melemparkannya kearah Kyuhyun. Well, tepat mengenai kepala Kyuhyun. Jinho langsung berpura fokus dengan dokumen ditangannya –berpura tidak melihat Kyuhyun yang kini menatapnya marah.

Kyuhyun mendengus pelan. “Hae hyung, kita istirahat. Tolong pesankan makan siang, ne.” Kyuhyun sedikit menyingkirkan dokumen dihadapannya.

Donghae mengangguk dan benar-benar ingin memukul kepala Jinho yang bersikap sangat kekanakan. Donghae lalu berjalan keluar ruangan dan beberapa staff lainnya bisa bersantai setelah beberapa jam meeting yang melelahkan –berdebat mengenai beberapa konsep proyek dan sibuk mendengar rengekan Jinho.

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan untuk Narra, mengingatkan adiknya untuk langsung pulang setelah ujian. Sedangkan Jinho, pelan-pelan ia menggeser kursinya untuk lebih dekat dengan Kyuhyun. Jinho agak takut kalau Kyuhyun marah padanya –karena lemparan bola kertas dan rengekan itu.

“Hyung, kau marah?”

Kyuhyun melirik Jinho dan kembali fokus mengetik pesan. “Ani. Waeyo?”

“Karena moodmu sangat tidak bagus. Sejak kemarin saat sidang hukuman untuk Paman Gyushik. Dan, kau juga meminta rapat dadakan hari ini. Biasanya, Siwon hyung…” Ucapan Jinho terputus ketika Kyuhyun menatapnya dengan serius. Jinho meringis dan menggeser kursinya agak jauh dari kursi Kyuhyun. “Biasanya dia mengajakmu pergi kencan setiap akhir minggu.”

Kyuhyun memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya dan malah berjalan keluar ruangan tanpa menjawab pertanyaan Jinho. Oh, Kyuhyun bahkan tidak yakin kalau Jinho sedang bertanya padanya. Dan Jinho tidak bisa menahan Kyuhyun karena bisa saja terjadi hal yang lebih buruk padanya. Misalnya, Kyuhyun melarangnya makan siang padahal Jinho sudah sangat lapar atau hal lainnya.

“Dia benar-benar membuat orang frustasi.” Eluh Jinho.

*****

Kyuhyun memandang sebuah kunci ditangannya. Kunci rumah yang diberikan oleh Siwon sebelum ia turun dari mobil kekasihnya dan memasuki rumah. Siwon mengatakan jika Kyuhyun menerima lamarannya, maka pada hari Sabtu ini, Kyuhyun harus datang ke rumah mereka dengan kunci tersebut. Jika menolak, maka Siwon akan memaksa Kyuhyun untuk pergi ke Paris untuk menikah.

Well, pada akhirnya Siwon tetap menginginkan mereka menikah. Kyuhyun menghela nafas dan memasukkan kunci itu kedalam saku celananya. Ia selalu membawa kunci itu kemanapun. Tidak ada alasan khusus, hanya saja kunci itu digabungkan dengan kunci laci kantornya. Siwon juga yang melakukannya, agar Kyuhyun selalu memikirkannya.

Pemikiran yang licik, pikir Kyuhyun.

“Kyuhyun,” Donghae menghampiri Kyuhyun yang sedang berdiri didekat jendela besar. “Jjajangmyeon tidak apa?”

“Tidak. Tapi kupikir kau akan memesan makanan dari restauran Donghwa hyung.” Kata Kyuhyun.

Donghae tersenyum. “Hari ini Saerish tutup. Donghwa hyung sedang mengurus pernikahannya. Ketika undangannya sudah siap, aku akan memberikannya secara langsung padamu.”

Kyuhyun ikut tersenyum dan mengangguk. Ia kembali menatap kearah kota. Sedangkan Donghae memperhatikan Kyuhyun dengan serius. “Apa kau ada masalah? Beberapa hari terakhir kau sepertinya sedang mengambang.”

“Benarkah terlihat seperti itu? Ah, maaf. Mungkin karena aku sedang beradaptasi dengan posisi baru dan dokter Kang selalu saja mengirimkan pesan kalau hari ini aku harus datang ke rumah sakit.”

“Check-up?”

Kyuhyun mengangguk. “Dia seperti memberiku hukuman karena melewatkan tiga minggu check-up kemarin. Benar-benar dokter yang mengesalkan.”

“Perlu kutemani?” Kyuhyun kembali tersenyum.

“Terima-kasih. Lebih baik dirimu ketimbang Siwon yang menemaniku.”

*****

Siwon berada dihalaman rumahnya. Untuk saat ini rumah ini masih menjadi miliknya sendiri dan bukan bersama Kyuhyun. Pria itu belum datang dan Siwon memutuskan untuk tetap menunggu sampai hari Sabtu berakhir. Siwon menatap kearah bangunan berlantai dua itu dengan lekat.

Sejak ia sampai satu jam lalu, Siwon tidak melakukan apapun selain berdiri di halaman. Sekedar memandang pohon maple atau rumahnya itu. Siwon bisa saja menunggu didalam hingga Kyuhyun datang –atau mungkin tidak– karena ia juga mempunyai kunci lainnya. Tapi ia memutuskan menunggu diluar.

Kemudian ponselnya bergetar. Siwon mengeluarkan ponsel dan membaca pesan yang masuk. Sebuah senyuman terulas di bibirnya dengan manis. Siwon lalu berjalan keluar rumah seperti menemui seseorang. Beberapa menit berikutnya, Siwon kembali masuk dengan menggendong seorang anak kecil.

“Joonie-ah, lihat rumahnya. Bagus, tidak?”

Bocah kecil itu menoleh kearah rumah besar dihadapannya dan kembali menatap Siwon. Bocah berusia dua tahun itu tersenyum dan mengangguk. Siwon tersenyum dan berjalan lagi menuju pintu masuk.

“Kita masuk, ne. Kita tunggu sampai Kyuhyun Appa datang. Okay?”

*****

Setelah meeting yang cukup panjang dan melelahkan, Kyuhyun dan Donghae akhirnya bisa ke rumah sakit. Awalnya Jinho memaksa untuk ikut, tapi Kyuhyun menyuruhnya untuk menjemput Narra. Pada akhirnya dengan wajah cemberut, Jinho membawa mobil Kyuhyun untuk menjemput Narra dan Ji In yang sedang ujian, sedangkan Kyuhyun pergi kerumah sakit dengan diantar Donghae.

Setelah menunggu dokter Kang yang sedang berkeliling memeriksa pasien, Kyuhyun akhirnya menjalani beberapa pemeriksaan ringan. Donghae memilih untuk menunggu diluar saja. Lagipula Donghae bukan anggota keluarga yang berhak mendengarkan hasil pemeriksaan –mungkin kalau Siwon, akan lain hal.

“Apa kau makan dengan baik?” Tanya dokter Kang.

Kyuhyun mengangguk. “Siwon sering mengirimkan makan siang selama aku di kantor. Dan beberapa kali Eommanya menggirimkan makanan ke rumah. Kakek juga sama.”

Dokter Kang tersenyum puas. “Lihat, ada banyak orang yang peduli padamu, Kyuhyun-sshi. Tapi harusnya kau yang lebih peduli pada tubuhmu.” Kyuhyun memilih untuk tidak menjawab.

“Kau masih meminum vitamin yang kuberikan?” Hanya anggukan kepala Kyuhyun sebagai jawaban. Dokter Kang mengangguk paham dan menuliskan beberapa catatan. “Berat badanmu juga naik dengan stabil. Itu hal baik.”

“Apa kau mempunyai keluhan lain?” Tanya dokter Kang.

Kyuhyun menggeleng. “Kecuali rasa cemas dan panik yang tiba-tiba muncul, sepertinya tidak ada keluhan apapun lagi.”

“Rasa cemas dan panik?”

“Beberapa hari terakhir, aku beberapa kali mengalami serangan rasa cemas, panik dan gugup. Terakhir, saat aku melakukan presentasi internal. Aku sampai tidak bisa bicara apapun. Apa itu pertanda buruk, dokter?”

“Apa kau mengalami kesulitan tidur?”

Kyuhyun kembali menggeleng. Dokter Kang menarik nafas dan memandang pasien tetapnya itu dengan lekat. “Kurasa itu hanya stress. Tapi jika semakin parah, kurasa kau butuh bantuan. Untuk saat ini, ukur jarak seberapa sering kau mengalami serangan itu. Minggu depan, aku akan kembali menanyakannya.”

Kyuhyun menghela nafas. “Mungkin karena Siwon kembali melamarku.” Ucap Kyuhyun setengah berbisik.

“Siwon melamarmu?” Tanya dokter Kang. Kyuhyun menatap dokter Kang dan tersenyum canggung. “Karena itu kau merasa cemas dan panik?”

“Kupikir begitu. Karena serangan itu terjadi, setelah ia kembali melamarku akhir minggu lalu. Aku masih memikirkannya, lagi.” Kata Kyuhyun sedikit menunduk. “Dokter Kang, menurutmu bagaimana?”

“Aku bukan ahli konsultasn pernikahan, Kyuhyun-sshi. Terlebih kalian adalah pasangan yang lebih dari normal, jika boleh kukatakan. Maka jika boleh berpendapat, pikirkan saja apakah kau memang menginginkan pernikahan ini. Apa kau merasa bahagia jika hidup bersamanya. Karena pada akhirnya, semuanya tergantung pada pilihanmu sendiri. Ini adalah hidupmu.” Dokter Kang menjelaskan.

Kyuhyun mengulas senyuman. “Terima-kasih. Itu sangat membantu.”

“Senang bisa membantu pasien istimewaku.”

*****

Kyuhyun hanya diam sepanjang perjalanan. Donghae yang menyetir juga tidak berbicara apapun. Suasananya begitu kaku. Mobil Donghae berhenti dibelakang mobil ford berwarna hitam –karena lampu merah. Kyuhyun menatap mobil itu dengan lekat. Hampir mirip dengan mobil yang sering digunakan oleh Siwon.

Oh, Kyuhyun agak melupakan bahwa ia harus datang ke rumah itu. Tapi jika sekarang pun ia ingat, Kyuhyun masih tidak tahu memberi jawaban apa pada Siwon.

“Kyuhyun, apa dokter Kang mengatakan sesuatu yang salah?” Kyuhyun sontak menatap Donghae bingung. “Karena wajahmu malah terlihat semakin pucat.”

Kyuhyun menggeleng. “Semuanya baik-baik saja. Kecuali, aku sedikit stress. Itu saja.”

Donghae memperhatikan Kyuhyun. “Kau yakin?” Kyuhyun mengangguk. Lalu ia memperhatikan kearah luar jendela. Jika mereka berbelok ke arah kiri, maka jalan itu akan membawanya ke rumah itu berada. Tapi mereka akan melaju lurus sebelum akhirnya berbelok ke arah kanan –menuju rumah Kyuhyun.

“Aku akan turun disini. Hyung langsung pulang saja.” Ucap Kyuhyun tiba-tiba.

“Eh, tapi…” Kyuhyun tidak mendengarkan Donghae. Dengan cepat ia melepaskan seatbelt dan memanjat keluar mobil Donghae. Dan Donghae sendiri tidak bisa mencegahnya karena beberapa detik kemudian, lampu berubah menjadi hijau. Donghae terpaksa membiarkan Kyuhyun pergi entah kemana.

*****

Kyuhyun berjalan pelan di lingkungan perumahan itu lagi. Aneh, ia hanya datang sekali tapi Kyuhyun bisa ingat betul jalan yang dilaluinya. Kyuhyun tertawa –ah, mungkin lebih tepatnya ia sedang menertawakan dirinya. Dalam pikirannya selalu merasa ragu, tapi seluruh tubuh bahkan perasaannya sedang meneriakan jawaban yang dicarinya.

Hampir tiga setengah jam berjalan –mungkin dengan berkendara mobil hanya memakan waktu satu setengah jam– Kyuhyun memikirkan jawaban yang seharusnya dia berikan. Tapi dari tiga pilihan Siwon, semuanya jelas mengatakan bahwa mereka akan menikah. Jadi, Kyuhyun terlihat seperti orang bodoh saat ini. Kyuhyun menarik nafas dan berhenti tepat didepan gerbang rumah. Bahkan mobil Siwon sudah terparkir disana. Kyuhyun lalu berjalan masuk dengan langkah kecil.

Kyuhyun memasukkan kunci dan memutarnya perlahan. Dan ketika ia memutar kenop pintu, rasa hangat dan nyaman itu kembali menyapanya. Kyuhyun tersenyum dan mengatakan pada dirinya bahwa ia sangat bodoh.

Kyuhyun menutup pintu dengan rapat dan melepaskan sepatunya. Ia berjalan memasuki rumah tersebut. Terasa sunyi. Kyuhyun pikir, Siwon sedang menunggunya. Terlebih mobil kekasihnya ada didepan pintu gerbang.

Kyuhyun berjalan masuk lebih dalam dan menuju area meja makan. Ia melihat ada banyak makanan dan beberapa diantaranya sudah dimakan. Apa dia sudah makan malam duluan, pikir Kyuhyun. Karena ini sudah hampir tujuh malam. Tapi Kyuhyun melihat ada beberapa makanan di piring lainnya di meja counter, seakan Siwon sengaja menyisakan untuknya. Ataukah Kyuhyun hanya berusaha menyenangkan dirinya sendiri? Kyuhyun kembali menghela nafas dan berjalan menaiki tangga. Jika dilantai bawah tidak ada orang, mungkin Siwon berada di lantai dua.

Di lantai dua, Kyuhyun menemukan salah satu pintu kamar terbuka. Anehnya, bukan kamar utama melainkan kamar yang –kata Siwon– akan digunakan sebagai kamar anak mereka nantinya. Kyuhyun berjalan agak ragu mendekati kamar tersebut.

Kyuhyun sedikit mengintip dari celah yang pintu yang terbuka. Ia sangat terkejut ketika mendapati pemandangan Siwon yang sedang menidurkan seorang anak kecil pada tempat tidur. Lebih terkejutnya, anak itu adalah Joonie. Kyuhyun memperhatikan Siwon yang begitu lembut pada Joonie. Persis seorang ayah yang sedang menidurkan anaknya.

Tanpa berniat untuk masuk ke kamar itu, Kyuhyun memutuskan untuk kembali turun.

*****

Siwon menutup pintu kamar dengan hati-hati agar Joonie tidak terbangun. Agaknya ia sedikit lupa waktu saat menidurkan Joonie. Ini sudah jam delapan malam dan Kyuhyun masih belum datang. Siwon menuruni tangga dan beranjak menuju meja makan. Ada banyak piring kotor yang harus dicucinya. Tapi Siwon terdiam ketika melihat punggung seorang pria yang sedang menyelesaikan piring kotor tersebut.

Siwon melihat kearah meja makan dan meja counter yang sudah bersih. Ia tersenyum dan berjalan mendekati pria itu. “Kapan kau sampai?”

“Kurasa satu jam lalu. Aku makan malam dan mencuci piring kotor.” Jawab Kyuhyun sembari melepaskan sarung tangan karet setelah ia selesai. Kyuhyun berbalik dan mendapati Siwon memperhatikannya dengan senyuman. “Mau kubuatkan kopi?”

Siwon mengangguk dan menarik kursi dari counter. Sedangkan Kyuhyun menyiapkan kopi. Siwon memperhatikan Kyuhyun yang tengah sibuk, dan sepertinya Kyuhyun sudah bisa mengetahui jelas dimana letak kopi, gula dan cangkir.

“Apa kau sudah menghafal semua letak perabotan?” Tanya Siwon tidak tahan untuk menggoda Kyuhyun.

“Tidak. Aku hanya ingat sedikit.” Siwon mengangguk. Kyuhyun kembali sibuk dengan kopinya. Dan sekitar lima menit, secangkir kopi sudah ada dihadapan Siwon. Kyuhyun menyesap kopinya terlebih dahulu. “Minumlah, aku tidak tahu apakah takaran gula-nya sudah cukup apa belum untukmu, hyung.”

Siwon mengangkat cangkir itu dan menyesap kopinya dalam-dalam. Ia tersenyum lagi. “Ini sudah cukup.” Kyuhyun mengangguk dan mengambil duduk disebelah Siwon.

“Kau membawa Joonie. Apakah hyung sudah meminta ijin pada Pengurus Kim?” Tanya Kyuhyun memandang cangkir kopinya.

Siwon menyesap kopinya lagi. “Bahkan Pengurus Kim yang mengantarkan Joonie kesini, Kyuhyun.”

Lalu suasananya kembali sunyi. Kyuhyun dan Siwon hanya diam sembari menghabiskan kopi mereka. Siwon mempunyai banyak pertanyaan untuk Kyuhyun sebenarnya. Tetapi ia tidak bisa mengutarakannya. Siwon akan terdengar seperti orang egois nantinya. Dan sebaliknya, Kyuhyun mempunyai banyak hal untuk dijawab. Tapi tidak ada yang keluar semenjak Siwon tidak bertanya apapun. Kyuhyun meletakan cangkir kosong di meja dan lalu mengeluarkan kunci rumah dari sakunya. Siwon sedikit melirik kearah kunci itu. Seingatnya, ia sudah mengunci pintu dan menaruh kuncinya diatas meja tamu. Jadi, Kyuhyun masuk menggunakan kunci yang diberikannya. Lalu apakah itu jawaban Kyuhyun untuknya? Atau…

“Kau berniat mengadopsi Joonie, hyung?”

Siwon memandang Kyuhyun. “Kau begitu sayang padanya, jadi kupikir tidak ada salahnya. Lagipula Joonie adalah anak yang manis. Eomma dan Appa pasti akan menyayanginya juga.”

Kyuhyun tersenyum mendengar jawaban Siwon. Ia menarik nafas dan mengangkat kepalanya untuk menatap Siwon. “Tapi aku menginginkan anak perempuan sebagai anak pertama, hyung.”

Siwon terkejut. “N-ne? Ma-maksudmu..”

“Rasanya sangat menyenangkan jika ada seorang gadis kecil. Kita berdua pria, jika anak pertama laki-laki, rasanya agak membosankan.” Imbuh Kyuhyun lagi.

Siwon perlahan tersenyum lebar. Ia menyesap kopinya lagi. “Tapi aku menginginkan anak lelaki sebagai anak pertama. Joonie khan menjadi penerus perusahaan Choi, nanti.”

“Heh? Penerus perusahaan? Kau mau anak kita menjadi penerus perusahaan? Ah, aku menolak. Masa depan anak kita adalah pilihan mereka sendiri. Aku tidak mau mereka mengalami masa-masa berat sebagai penerus perusahaan.”

“Itu memang benar. Tapi jika bukan anakku, lalu siapa yang meneruskan perusahaan? Ayolah, Joonie bisa memilih ketika ia besar. Tapi tidak ada salahnya bukan jika aku berharap begitu.”

“Kalau begitu tidak adil bagiku.”

“Tidak adil apanya, Kyu? Di keluargamu masih ada Jinho. Kemungkinan kakaknya juga akan ikut masuk kedalam perusahaan, bukan? Di keluargaku, mungkin hanya Heechul hyung dan beberapa sepupu lainnya. Tapi tetap saja, Appaku meminta dari garis keturunanku sendiri, Kyuhyun.”

“Tchh.. kau mulai terdengar seperti kakekmu, Choi Siwon.”

Siwon cemberut, ia kalah dari Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun sendiri hanya tersenyum senang. Kelemahan Choi Siwon adalah ia tidak suka jika dibandingkan dengan orang lain –terutama kakeknya. Dan tentu saja kelemahan terbesarnya adalah Cho Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Siwon yang masih cemberut. “Hey, Daddy Joonie, wajahmu terlihat jelek jika cemberut begitu.”

“Itu karena kau sangat menyebalkan, Appa Jonnie.” Balas Siwon.

Kyuhyun mendengus jengkel. “Aigo.. Hyung, kau membuatku merinding. Hentikan itu.”

Siwon menatap Kyuhyun dengan serius. “Tidak mau. Dan kau harus mempersiapkan diri, karena setiap hari mungkin kau akan melihatnya terus, Tuan Choi Kyuhyun.”

“ Hey, aku tidak mau mengganti nama margaku. Masukan itu kedalam perjanjian pra-pernikahan. Dan aku mengajukan beberapa poin lagi nanti. Jika tidak ada, maka jangan harap ada pernikahan Tuan Choi Siwon.”

“Lalu anak kita bagaimana? Mereka ikut margaku, ne? Seperti dari Kim Joonmyeon menjadi Choi Joonmyeon. Begitu?”

“Hanya Joonie. Dan anak kita yang lain akan ikut margaku, nanti.”

“Heh? Memangnya kau mau berapa anak, eoh?”

“Euhm… Tiga, mungkin. Atau empat. Dua laki-laki dan dua perempuan.”

“Bagaimana tiga laki-laki dan satu perempuan? Dan hanya anak perempuan yang ikut margamu. Kita sepakat.”

“Choi Siwon?!!!”

“Ne, Kyuhyun sayang?”

“Kau benar-benar menyebalkan!!”

“Oh, aku juga sangat mencintaimu, Kyuhyun tersayang.”

THE END

Advertisements

58 thoughts on “[SF] Two Faces {WK Vers.} EPILOG

  1. Sebelumnya gomawo buat diera yg udh ngirimin ff nya via email…
    Mian ne aq cuma komen sekalian disini…

    Ff ini bener2 keren, ff ini langsung jd ff fav aq.,
    Hubungan cinta wonkyu yg rumit…
    Siwon bener berusaha menjaga kyuhyun apdan adik2 mereka…
    Ternyata dalang dibalik permusuhan ini adalah presidir Choi samagyushik..

    AkhIrnya kyuhyun mau juga nerima lamaran siwon
    Wonkyu akhirnya akan menikah..

  2. Td’a aq kira pdf yg dikirim ke email itu cma chapter yg ga ada di WP doank…tp trnyata smpe end. jd bingung mau komen’a dmna ^_^
    ywdh aq komen dipart epilog aja ya #mianhe
    ini kya’a fanfic wonkyu terpanjang yg pernah aq baca..smpe 400 lebih halaman ^^

    salut banget sama wonkyu yg bisa bertahan dgn hidup mereka yg seperti itu untuk ngelindungin adik” mereka dri kekangan yg dibuat sma msng” keluarga.
    Lucu deh pas kyuhyun sempet cemburu pas siwon nyium pipi’a sbgai prantara prmintaan maaf untuk nara. Dan geregetan deh sma kyuhyun yg sulit ngebuang ego’a untuk diajak berdamai, tp untunglah akhir’a dia luluh jg.
    awal’a aq kira gara” kejadian wonkyu jatuh dari tebing itu kyuhyun kna masalah di paru” atau kena pneumothorax (bener ga tuch tuliasan’a) soal’a pas siwon mau ninggalin hotel kyuhyun kesakitan ga bisa nafas gitu…tp trnyata engga.
    Pas kecelakaan sempet khawatir bakalan koma tp syukur deh kyuhyun bisa ngelewatin masa kritis’a dan sembuh dengan cepat.
    Akhir’a semua udh terungkap…chukkae buat black pearl team yg udh berhasil ngungkap smua kejahatan yg dlu prnah terjadi antara Cho&Choi ^^

    Overall fanfic’a bagus cma sayang kurang ‘greget’…banyak kejadian yg di skip pas kyuhyun kecelakaan, siwon dipukul lee minwoo, gimana kejadian pas orang tua kyuhyun meninggal dll yg harus’a klo dimasukin kedalam cerita pasti bisa bikin reader makin gimana gitu…Tp gapapa itu cma pndapat aq aja sich 🙂

    Makasih ya udh izinin buat baca fanfic’a…aq suka sama wonkyu moment dan persahabatan Ji In&Nara yg solid. Keep Writting Andiera-ssi ^_^

  3. Maaf ya eonni, cuma review di chap ini aja, karena aku kira waktu eonni kasih PDF cuma chap awal, jadi aku lanjut terus baca dari PDF yang eonni kasih.. 😀
    aku suka banget sama ff nya.
    rumit tapi bisa romantis sekaligus..
    Persahabatannya juga erat banget.
    sekali aku baca, malah ga bisa berenti bacanya.
    ffnya keren, aku nyesel kenapa baru baca sekarang.. 😦
    dan berakhir dengan happy ending.. 😀
    Keep writting eonnni.. 😀

  4. Awal yg menyedihkan dan Akhir yg membahagiakan,,
    Ff ini emg the best,, dibuat tegang, deg*an, cemas , nangis, terharu, ketawa , Lengkap sudah,,
    2hari gue baca ni fanfic ,,
    Kereeennnn pkoknyaaaa,,
    Mau baca ff wonkyi lainya ya eon

  5. Wow… Have to say.. Really enjoy the fic.. Very well written, sedikit2 typo masih understandable… Padahal chap awal blm dibaca, tp krn penasaran, ya udh lanjut terus.. Marathon selama long weekend.. Lol..

  6. Komen di cni je..
    Baru selesai baca..sebelum ni hanya ‘terobsesi’ dgn ff scarface..tp memandangkan scarface pun dah selesai baca smpi the latest so cari2 ff lain..
    Anyway, ceritanya pun bagus..semua rahsia lama juga terbongkar..at least ceritanya x gantung..yg lucunya cara kyuhyun menerima lamaran kedua siwon secara tidak langsung dgn membicarakan soal anak2 yg mereka mau dlm keluarga kecil mereka..so sweet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s