[SF] Two Faces {WK Vers.} Part 8

TF

Blind

Kyuhyun dan Siwon masih berada diruang meeting setelah mereka menyelesaikan presentasi yang tertunda pada hari kemarin. Seluruh staff dari tiga perusahaan – Choi Inc., Cho’s Group dan Heesan Company– sudah meninggalkan ruangan tersebut. Meninggalkan Siwon dan Kyuhyun berdua dalam sebuah situasi yang sangat canggung. Mereka harus menunggu Jungsoo dan Yunho datang kembali untuk memberitahu keputusan pemenang tender Heesan.

Kyuhyun dan Siwon saling duduk berhadapan –dengan ekspresi wajah yang berbeda. Kyuhyun, tentu saja dengan sikap dinginnya. Sedangkan Siwon, oh… dia terlihat tidak cukup baik. Kyuhyun hanya sibuk dengan ponsel Donghae yang dipinjamnya –menunggu Narra membalas pesannya. Keduanya sibuk membicarakan masalah ponsel baru untuk Kyuhyun.

Kyuhyun sendiri terkesan bahwa ia sedang menghindari kontak pandang langsung dengan Siwon yang sedang menatapnya. Tidak lama, hanya sesekali. Tapi cukup membuat menyulitkan Kyuhyun untuk bernafas. Tidak tahu mengapa.

“ Berhenti menatapku.” Ucap Kyuhyun tegas.

Siwon tersentak ketika Kyuhyun mulai bicara. “ A-aku tidak…”

“ Kau menatapku, Choi Siwon.” Kali ini Kyuhyun mengatakannya lebih keras dan menatap Siwon lekat. Kyuhyun terlihat marah –entah, mungkin ia merasa terganggu dengan cara Siwon menatapnya seakan mengatakan bahwa Kyuhyun tengah menancapkan pisau secara perlahan pada tubuhnya karena pagi ini ia kembali mengatakan bahwa mereka harus benar-benar tidak berhubungan apapun setelah presentasi Heesan ini. Atau karena hal lainnya.

Siwon menarik nafas pelan. “ Baik, maaf. Aku tidak akan lagi menatapmu, Cho Kyuhyun.”

Siwon kemudian memutar kursinya –menjadi agak membelakangi Kyuhyun, membuat Kyuhyun mendengus kesal. Beruntung Jungsoo dan Yunho memasuki ruangan meeting sebelum mereka berdua akan memulai perdebatan sengit lain. Entah kenapa sejak pagi, mood Kyuhyun benar-benar jelek sekali. Tidak ada yang tahu apa alasannya, bahkan termasuk Donghae.

Jungsoo dan Yunho tersenyum pada Kyuhyun dan Siwon. Ditangan Jungsoo terdapat sebuah map berwarna hitam –sepertinya dokumen kerjasama antara Heesan Company dengan salah satu perusahaan.

“ Baiklah. Setelah perjalanan presentasi yang cukup panjang, akhirnya kami sudah memutuskan siapa pemenang proyek ini. Pada dasarnya, presentasi Choi Inc. dan Cho’s Group sangat menarik perhatian kami. Kalian memberikan banyak tawaran yang cukup menarik bagi proyek baru kami. Tapi, kami hanya akan memilih satu diantara kalian sebagai partner kerja kami.” Ucap Jungsoo.

Kyuhyun dan Siwon saling menatap dengan serius. Disinilah aura persaingan kedua-nya sangat kentara. Tidak peduli dengan persahabatan kedua Appanya, atau sebuah persahabatan yang sedang Siwon usahakan. Tapi jika berurusan dengan masalah perusahaan, tidak akan ada kata sahabat. Atau bahkan perasaan apapun tidak bisa dilibatkan dalam hal ini.

Yunho memperhatikan keduanya. Jelas, walaupun semua orang pasti akan bisa melihat persaingan diantara keduanya, tapi Yunho bukanlah orang bodoh. Kyuhyun mungkin terlihat dingin –seperti biasanya– tapi berbeda dengan Siwon yang cukup sering menatap saingannya yang lebih muda tersebut dengan tatapan lirih. Dan Jungsoo juga tidaklah buta, tapi ia memilih untuk bersikap professional.

“ Baiklah, untuk mempersingkat waktu. Euhm.. Yunho-sshi.” Jungsoo kemudian mempersilahkan Yunho untuk mengambil-alih. Jungsoo mengambil satu langkah mundur dan membuat Siwon dan Kyuhyun hanya terfokus pada Yunho.

Yunho menarik nafas perlahan lalu ia tersenyum pada keduanya –menelan rasa pahit atas apa yang ia saksikan sendiri semalam. Yunho harus bersikap professional, atau itula yang ditekankan Jungsoo padanya.

“ Setelah kami melakukan pertemuan intern dengan para staff yang terlibat untuk proyek ini, maka kami memutuskan untuk menerima tawaran Cho’s Group.” Yunho bicara sesingkat mungkin. Karena jika ia terlalu lama berada dalam satu ruangan bersama Kyuhyun dan Siwon, entah apa yang akan terjadi padanya.

Kyuhyun menatap Yunho dengan lekat, ia seperti merasa tuli. Yunho mungkin mengatakan nama Cho’s Group, tapi benarkah? Dilain pihak, Siwon hanya mengulum senyumannya. Ia mungkin merasa kecewa karena tidak mendapatkan proyek Heesan, tapi entah ia merasa senang mendengar Kyuhyun yang mendapatkannya.

“ Cho Kyuhyun-sshi..” panggil Yunho membuat pemuda itu menjadi tersadar. “ Silahkan pelajari terlebih dahulu dokumen kerjasama ini, jika menurutmu ada kekurangan kita bisa membahasnya lagi.” Yunho menyodorkan sebuah map berwarna hitam yang berisi dokumen perjanjian kerjasama.

Kyuhyun mengambil dokumen tersebut dan kemudian membacanya. Dan sembari menunggu Kyuhyun selesai mempelajari dokumen tersebut, Yunho menatap Siwon. “ Choi Siwon-sshi..” Siwon mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun menjadi pada Yunho. “ Sepertinya ini bukanlah yang waktu yang tepat untuk perusahaan kita bekerjasama. Terima kasih atas kedatanganmu dan juga para staff-mu.” Tutur Yunho.

Siwon tersenyum tipis dan kemudian bangkit dan menghampiri Yunho dan Jungsoo. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Yunho terlebih dahulu. “ Sepertinya ini memang bukan waktu yang tepat untuk bekerjasama. Semoga dilain waktu kita bisa bekerjasama.”

Yunho menyambut uluran tangan Siwon dan tersenyum –terkesan dipaksakan. “ Tentu saja.”

Siwon menarik tangannya dan beralih pada Jungsoo. Mereka juga saling menjabat tangan. Terakhir, Siwon berjalan menghampiri Kyuhyun. Pemuda itu sedikit mendongak menatap Siwon. Kyuhyun akhirnya ikut berdiri –menyamakan pandangan mereka.

“ Selamat, Cho Kyuhyun-sshi.” Lagi, Siwon mengulurkan tangannya. Oh.. walaupun sebenarnya Siwon lebih ingin memeluk pemuda dihadapannya ketimbang hanya berjabat tangan.

Kyuhyun menatap uluran tangan Siwon dengan ragu. Tidak tahu, tapi Kyuhyun merasakan yang menekan dadanya hingga ia menjadi sulit untuk bernafas dengan baik. Walau pada akhirnya, Kyuhyun harus menyambut uluran tangan Siwon. Hanya saja, Kyuhyun tidak mengatakan apapun.

Siwon tersenyum tipis. Tangan Kyuhyun terasa hangat –Siwon menyukainya. Tapi ia lebih suka disaat ia memeluk tubuh Kyuhyun dengan erat. Lalu hitungan detik, Siwon menarik tangannya dan kemudian berjalan keluar dari ruang pertemuan tersebut. Meninggalkan Kyuhyun yang  merasa kesakitan.

Disisi lain, Yunho-lah yang merasa lebih sakit dari siapapun.

*****

Kyuhyun berjalan menuju kamarnya. Ditangannya terdapat dokumen kerjasama yang sudah ditanda-tangani oleh kedua-belah pihak perusahaan. Akhirnya, Kyuhyun berhasil memenangkan persaingan atas proyek Heesan. Tapi kenapa Kyuhyun sama sekali merasa tidak senang? Ambisinya adalah mengalahkan Choi Inc. dan ia telah berhasil –proyek Heesan, dalam situasi ini. Kyuhyun mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Hanya saja Kyuhyun malah merasa bahwa ini bukanlah kemenangannya.

Kyuhyun terhenti didepan pintu kamarnya. Ia merasa lelah dan ingin tidur sejenak sebelum perjalanan pulang ke Seoul siang ini. Kembali, Kyuhyun menatap dokumen yang berada ditangannya dengan lirih. “ Narra-ya…”

Tapi kemudian perhatian Kyuhyun teralihkan oleh suara pintu dari seberang kamarnya. Nafas Kyuhyun seperti tercekat ketika melihat Siwon keluar kamarnya dengan membawa kopernya. Apakah Siwon akan langsung pulang ke Seoul?

“ Oh.. Kau sudah selesai membahas dengan Heesan rupanya.” Siwon tersadar bahwa Kyuhyun memperhatikannya. Ia masih tersenyum dan menarik kopernya untuk menghampiri Kyuhyun. “ Aku akan langsung pulang ke Seoul.” tutur Siwon. Entah alasan apa yang membuat Siwon mengatakannya, padahal Kyuhyun sama sekali tidak bertanya.

“ Kau tidak perlu khawatir mengenai Narra. Aku sendiri yang akan mengantarkannya ke rumahmu. Dan aku akan berusaha lebih hati-hati agar tidak ketahuan. Jadi, kau bisa tenang.” Ucap Siwon lagi.

Kyuhyun masih bungkam. Ia hanya menatap Siwon tanpa sepatah kata. Tapi melihat Siwon yang masih saja bisa tersenyum padanya, membuat Kyuhyun merasa jengkel. Seorang Choi tidak akan pernah memperlihatkan senyumannya pada siapapun ketika mereka kalah dalam tender, bahkan disaat menang pun Seorang Choi jarang memperlihatkan ekspresi kemenangannya. Tangannya mengepal dan memegangi dokumen tersebut dengan erat.

“ Baiklah. Sampai bertemu –oh… bukankah kita sudah sepakat setelah semua ini berakhir maka tidak ada alasan kecuali bisnis untuk kita bisa bertemu. Ah.. aku hampir saja melupakannya. Jadi, ungkapan yang benar adalah Selamat Tinggal, Cho Kyuhyun-sshi.” Siwon kembali mengulurkan tangannya –sepertinya tanda perpisahan.

Kyuhyun menurunkan pandangannya pada tangan kanan Siwon yang terulur padanya. Dan kembali rasa menyesakkan itu kembali memenuhi paru-parunya. Kyuhyun memejamkan matanya untuk beberapa detik. Tapi semuanya semakin terasa menyakitkan. Kyuhyun merasa semakin sulit bernafas dengan benar.

“ Ugh…”

Siwon berubah panic mendengar Kyuhyun seperti meringis kesakitan. Dan ia berusaha memegangi Kyuhyun ketika pemuda itu hampir saja terjatuh. “ Kyuhyun?! Kau tak apa? Kau merasa sakit dimana?” tanya Siwon sangat cemas.

Tapi Kyuhyun tidak menjawab dan hanya berusaha bernafas –melalui mulutnya. Siwon kemudian memapah Kyuhyun untuk masuk kedalam kamar dan mengistirahatkan Kyuhyun ditempat tidur. Siwon bergegas mengambil segelas air untuk Kyuhyun.

Kyuhyun menghabiskan segelas air itu begitu Siwon menyodorkan padanya. Siwon sendiri duduk disebelah Kyuhyun sembari mengusap lembut punggung pemuda tersebut. Siwon berusaha membuat Kyuhyun tenang. Setelah habis, Siwon mengambil gelas kosong tersebut dan menaruhnya pada meja nakas. Ia lalu kembali terfokus pada Kyuhyun.

“ Ada apa? Apa yang kau rasakan?” tanya Siwon sekali lagi.

Tapi Kyuhyun tidak berbicara sedikitpun dan hanya berusaha bernafas normal. Siwon melirik dokumen diatas pangkuan Kyuhyun dan memindahkannya juga. Kyuhyun hanya bereaksi dengan meliriknya beberapakali –tidak sampai saling bertemu pandang.

“ Kau sudah lebih baik?” Kyuhyun kali ini mengangguk kecil. Dan paling tidak Siwon bisa bernafas lega sekarang ini. Ia tersenyum tipis dan kemudian bangkit. Kyuhyun mengikuti gerakan Siwon yang seperti akan pergi. “ Syukurlah, akan kupanggilkan Donghae jika aku melihatnya. Selamat tinggal, Cho Kyuhyun-sshi.”

Siwon ingin sekali mencium atau paling tidak sekedar memeluk Kyuhyun, tapi itu sangat mustahil dilakukannya. Jadi, ia hanya bisa menatap Kyuhyun selama ia bisa sebelum ia benar-benar harus meninggalkan pemuda tersebut. Siwon menghela nafas pendek lalu berbalik dan berjalan menjauhi Kyuhyun yang terduduk dipinggir tempat tidur.

Kyuhyun mengangkat kepalanya. Dan ia menatap punggung Siwon menjauhinya. Rasa sakit itu semakin menyesakkannya. Kyuhyun bahkan hampir tak bisa bernafas karenanya. Ketika Siwon mulai melangkah keluar kamarnya, Kyuhyun tahu bahwa ia tidak akan pernah bertemunya lagi. Dan Kyuhyun tidak ingin hal itu terjadi –jauh didasar hatinya.

“ Siwon hyung…”

Langkah kaki Siwon terhenti. Siwon jelas mengenali suara itu, tapi ia tidak berani untuk berbalik. Ia tidak ingin mendapati kenyataan bahwa saat berbalik Siwon hanya mendapati Kyuhyun yang bersikap dingin padanya. Siwon hanya ingin mengakhiri rasa menyesakkan ini.

Kemudian kembali sunyi. Siwon tidak mendengar suara apapun yang memanggilnya. Ataukah panggilan itu hanya sekedar imajinasinya semata. Bahkan Kyuhyun memanggilnya, dengan sebutan hyung, apakah itu hanya imajinasi terliarnya. Tapi kemudian Siwon merasakan derap langkah –dibelakangnya. Mungkinkah Kyuhyun menghampirinya kini? Apakah kali ini Kyuhyun yang mendekatinya, setelah ia berlari sangat jauh darinya? Ia ingin sekali berbalik dan melihat Kyuhyun berada dibelakangnya, mendekatinya –bukan menjauhinya.

Tapi Siwon merasa takut. Sangat takut.

Dan ketika ia kembali hendak berjalan, sesuatu menyentuh punggungnya. Yang kemudian Siwon merasakan sepasang tangan melingkari perutnya. Dan terasa sebuah tekanan lembut pada punggungnya. Siwon memejamkan matanya untuk beberapa detik –berusaha memastikan bahwa yang ia rasakan bukanlah mimpi.

“ Hyung…”

Tapi kini Siwon menyadari bahwa pelukan tangan diperutnya, hembusan nafas pada punggungnya, dan suara lembut yang memanggilnya hyung, semua itu adalah nyata. Siwon tersenyum begitu mengetahuinya.

Dan kemudian Siwon memilih untuk menutup pintu kamar Kyuhyun.

*****

“ Menurutmu apa yang akan terjadi saat kita kembali ke Seoul?” tanya Hyukjae pada Donghae yang memilih menyusuri pinggir kolam renang. Mereka berdua berada di poolside mengobrol sejak kedua atasan mereka dipanggil oleh Yunho dan Jungsoo untuk memberitahu siapa pemenang atas tender Heesan.

Donghae menatap kearah dasar kolam yang airnya cukup jernih –dan bersuhu sangat dingin. Perlahan Donghae menarik nafas panjang. “ Tidak tahu, Hyuk. Aku bahkan tidak bisa membayangkan apapun yang mungkin terjadi di Seoul nanti.”

Hyukjae yang berdiri pada salah satu sisi kolam renang menatap Donghae lekat. “ Kurasa aku bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Siwon.” Donghae tersenyum tipis. Ya, akan mudah ditebak jika itu berkaitan dengan Siwon. Tapi Kyuhyun? Tidak akan ada yang bisa mengetahuinya. Bahkan juga dirinya atau Narra.

Tiba-tiba Yunho bergabung dengan mereka. Aneh, ia malah duduk dipinggir kolam dan memasukkan kedua kakinya kedalam air, dengan celana panjangnya yang sudah tergulung. Donghae dan Hyukjae langsung merinding kedinginan dengan hanya melihatnya.

“ Hyukjae-sshi, kulihat staffmu sedang sibuk dengan koper. Kalian akan segera kembali ke Seoul?” ujar Yunho sembari menatap Hyukjae. Ia mengabaikan rasa dingin yang menjalari kakinya.

“ Err.. ya, Siwon bilang apapun keputusan Heesan, kami akan segera pulang. Yunho-sshi, kau tahu berapa suhu sekarang, bukan? Kau tidak merasa dingin?” tanya Hyukjae.

Yunho menatap air dihadapannya dan tersenyum tipis. “ Aku merasa baik. Airnya terlihat menyegarkan, jadi aku hanya mencoba. Lalu bagaimanamu, Donghae-ah? Kalian akan segera pulang?”

Donghae melirik kearah Hyukjae terlebih dahulu, karena entah mengapa ia merasa bahwa Yunho terasa berbeda dari kemarin. “ Kyuhyun belum mengatakan apapun. Bahkan aku belum melihatnya sejak pagi ini.”

“ Oh? Itu sedikit aneh. Karena setelah menandatangani dokumen, ia langsung pergi ke kamarnya. Kupikir ia juga akan segera pulang ke Seoul. Tapi… Siwon juga belum terlihat.”

Sepertinya mereka sedang berdua…

Dan Yunho semakin merasa mati rasa akan rasa dingin dari air kolam yang mungkin suhunya berkisar belasan derajat.

*****

Kyuhyun menggeram pelan ketika bibir Siwon lagi-lagi mempermainkannya. Kakinya sudah begitu lemah dan entah sampai kapan ia akan bisa berdiri –walaupun Kyuhyun sadar bahwa Siwonlah yang sepenuhnya menjadi penyanggahnya kini. Kedua tangan Kyuhyun mencengkram erat lengan kemeja putih Siwon. Dan ketika Siwon menyerang titik kelemahannya –pada bagian leher– lagi, Kyuhyun mendesah keras.

Disisi lain, Siwon berusaha keras agar Kyuhyun tidak terjatuh. Kedua tangannya dengan erat memegangai tubuh Kyuhyun –bahkan terkadang tangannya bermain sedikit nakal pada tubuh Kyuhyun yang terlihat begitu menggodanya. Siwon tidak akan pernah merasa puas pada bibir Kyuhyun –atas sepenuhnya Kyuhyun– tapi ia harus berhenti.

Siwon kemudian menatap Kyuhyun dengan nafas yang habis dan ia berusaha untuk menormalkan cara bernafasnya. Perlahan Kyuhyun mulai kembali mendapati kekuatannya hingga ia bisa berdiri sendiri. Tangan kanan Siwon terangkat menyentuh pipi Kyuhyun –mengusapnya lembut.

Muncul segaris senyum pada wajah Siwon. “ Kyuhyun-ah… boleh aku bertanya padamu?” Perlahan Kyuhyun membuka matanya yang sedari terpejam erat. Ia tidak bisa melihat bagaimana wajah Siwon yang begitu menggodanya. Tidak, Kyuhyun harus bisa menahan dirinya.

Selain itu, melihat penampilan mereka sekarang Kyuhyun bersyukur bahwa hanya menikmati setiap sentuhan Siwon melalui indera peraba tubuhnya. Jas mereka sudah berada dilantai, begitu juga dengan dasi mereka. Beberapa kancing atas kemeja putih mereka terlepas –sedikit memperlihatkan tulang bahu dan bagian dada atas mereka. Dan bahkan kemeja mereka sudah terlihat cukup berantakan. Kyuhyun memandang Siwon lekat. Dan bernafas normal –akhirnya. Tapi ia akan sangat berterima-kasih kalau Siwon tidak akan membuatnya kesulitan bernafas lagi.

Paling tidak, bukan sekarang. Atau Kyuhyun bisa saja mati. “ Ya?”

“ Apa kau ingin aku tetap tinggal? Apa kau menginginkan aku tetap bersamamu, sampai kapanpun walau apapun yang terjadi?” tanya Siwon berbisik, sembari ia mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun –membuat kening mereka bersentuhan, begitu juga dengan deru nafas mereka.

Kyuhyun kembali memejamkan matanya –menikmati deru nafas Siwon yang terasa menghangatkannya. Tapi kemudian Kyuhyun berpikir. Kenapa ia memanggil Siwon kembali? Kenapa ia yang berlari menghampiri pemuda itu disaat ia bersusah payah berlari menjauhinya? Kenapa ia menyerahkan dirinya pada Siwon?

Apakah bisa ia menerima dirinya sekarang? Apakah ia bisa menerima perasaan aneh yang selalu menyesakkannya setiap kali Siwon menjauhinya? Apakah ia bisa menahan dirinya untuk tidak menghampiri Siwon, memeluk pria itu dan menikmati setiap sentuhan lembut bibirnya?

Apakah dirinya mencintai Siwon?

Terlalu banyak pertanyaan yang berputar dalam pikirannya membuat Kyuhyun merasa sangat pusing. Kemudian Kyuhyun membukanya dan menatap langsung pada mata coklat Siwon dengan tatapan meneduhkannya. Ia menarik nafas perlahan.

“ Mianhae, hyung. Selamat tinggal…”

*****

Setelah perjalanan beberapa jam dari Jeju,  akhirnya Kyuhyun beserta staff lainnya mendarat dengan selamat di bandara Gimpo. Kyuhyun berjalan menuju pintu keluar bandara. Pak Jang sudah menunggunya didepan pintu keluar bandara Gimpo. Donghae menatapnya sebentar sebelum memutuskan untuk ke mobil lainnya yang menjemput para staff.

“ Kau mau langsung menjemput Narra?” tanya Donghae.

Kyuhyun menggeleng. “ Tidak. Choi Siwon mengatakan padaku bahwa dia yang akan mengantar Narra pulang. Aku akan menemui pamanku. Memberikan dokumen kerjasama Heesan. Kau langsung pulang saja, hyung. Sampai bertemu hari Senin.”

Donghae hendak bertanya lagi, tapi Kyuhyun sudah terlanjur membuka pintu belakang mobilnya dan memanjat masuk. Tak lama mobil hitam itu meninggalkan bandara, berikut dengan Donghae yang masih dipenuhi oleh banyak pertanyaan.

Kenapa Kyuhyun begitu pendiam? Kenapa sikap Kyuhyun dan Siwon begitu canggung? Oh.. Mereka sudah canggung sebelumnya, bukan? Tapi Donghae merasa ada sesuatu yang berbeda. Bahkan setiap ia melihat kearah Hyukjae, Donghae mengetahui pasti bahwa sahabatnya itu tahu persis apa yang terjadi. Pada Siwon dan Kyuhyun.

Selain itu Donghae juga merasakan keanehan lainnya. Pada Yunho.

*****

Mobil ford hitam milik Siwon memasuki pekarangan rumah dan berhenti tepat didepan pintu utama. Siwon menghela nafas panjang dan untuk sebentar memejamkan matanya. Ia begitu lelah. Dengan semua dalam hidupnya. Pekerjaan, tekanan dari sang kakek, permusuhan dengan keluarga Cho, dan bahkan perasaannya pada Cho Kyuhyun. Sepanjang perjalanan pulang, Siwon kembali memikirkan perkatannya pada Kyuhyun –mengenai perasaannya. Siwon secara terus-menerus bertanya pada dirinya sendiri apakah ia memang mencintai Kyuhyun?

Dan konyol, bahwa Siwon tidak menemukan jawaban yang tepat. Siwon merasa simpati pada Kyuhyun? Iya. Siwon merasa perhatian pada Kyuhyun? Iya. Siwon merasa sangat menyayangi pemuda itu? Tentu saja. Tapi bisakah semua itu bermuara dalam satu kesimpulan bahwa Siwon mencintai Kyuhyun? Siwon merasa menjadi paling bodoh sedunia karena ia tidak mengerti perasaannya sendiri.

Apakah ia terlalu cepat mengatakan perasaan yang dirasakannya pada Kyuhyun –yang baru muncul beberapa hari ini– adalah cinta? Apakah Siwon benar-benar mencintai Kyuhyun, tidak peduli siapa keluarganya? Siwon memang tidak memerpedulikan lagi masalah persaingan antara keluarga Choi dan Cho. Ia terlalu lelah dan tidak ingin terlibat lebih jauh. Hanya saja, apapun yang dirasakannya pada Kyuhyun berkembang semakin rumit menjadi sebuah kumpulan benang kusut yang tak pernah teruraikan oleh Siwon.

Siwon ingin kekacauan ini berhenti. Siwon ingin ketenangan. Siwon mengingingkan Kyuhyun.

Benarkah?

Kemudian Siwon kembali membuka matanya dan menatap kearah rumahnya. Ia kembali menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Siwon lalu mematikan mesin mobil dan membawa dua buah kotak berukuran kecil keluar bersamanya. Selain itu ia juga mengeluarkan satu koper hitamnya. Siwon berjalan memasuki rumah yang langsung disambut oleh Ny. Hyosan yang sedang membaca sebuah majalah diruang tengah.

Sang Eomma tersenyum padanya. “ Oh.. Kau sudah pulang? Bagaimana dengan Heesan?” Siwon tersenyum getir dan menggeleng kecil.

“ Kyuhyun mendapatkannya, tapi aku senang. Ohya, dimana Ji In dan Narra?” tanya Siwon. Ny. Hyosan masih menatap Siwon dengan senyuman lebar diwajahnya, sepertinya beliau juga merasa senang mendengar Kyuhyun yang mendapatkan tender dari Heesan. Ny. Hyosan kembali fokus dan membalik halaman majalah yang sedang dibacanya. “ Mereka sedang ujian. Mungkin sebentar lagi pulang.”

Oh.. benar. Beberapa minggu kedepan adalah minggu-minggu terberat bagi Ji In dan Narra yang harus mempersiapkan ujian masuk universitas dan juga test kelulusan sekolah mereka. Dan membahas tentang ujian masuk universitas, Siwon sama sekali tidak tahu apakah Narra akan masuk salah satu universitas di Korea atau Paman dan Kakeknya tetap bersikeras untuk menggirim gadis itu keluar negeri.

Ny. Hyosan sedikit melirik pada putranya dan melihat sebuah kantung besar –terlihat sekali kalau Siwon membeli ice-cake. Bukan satu kotak, melainkan dua kotak. “ Kau membeli ice-cake untuk Ji In? Bukannya kau tidak mendapatkan tender Heesan, kenapa kau membelikannya?” tanya Ny. Hyosan lagi.

Hal ini sudah menjadi suatu kebiasaan untuk Siwon membelikan Ji In ice-cake kesukaannya setiap ia mendapatkan tender dari klien. Tapi kali ini Siwon gagal, lalu kenapa ia masih harus membelikan ice-cake untuk Ji In?

Siwon mengumam pelan. “ Bukan cuma untuk Ji In, tapi untuk Narra juga.” Siwon lalu meninggalkan ruang tengah dan berjalan menuju dapur –meninggalkan sang Eomma yang terlihat masih bingung dengan ucapan putra sulungnya tersebut.

Siwon membuka pintu freezer pendingin dan memasukkan dua kotak dalam kantung besar tersebut. Freezer akan membuat ice-cake yang dibelinya akan tetap beku sampai Ji In dan Narra pulang nanti. Siwon menutup pintu freezer dan kembali menghela nafas. “ Untuk permintaan maafku.”

*****

Kyuhyun melemparkan sebuah map hitam yang berisi dokumen kerja-sama dengan Heesan keatas meja. Gyushik yang tengah duduk diruang tengah sembari memeriksa beberapa dokumen dari I-pad menatap map dokumen tersebut dan mendongak untuk memandang Kyuhyun.

“ Apa itu?”

Kyuhyun menatap Pamannya dengan keras. “ Dokumen kerja-sama dengan Heesan. Masih bersifat sementara, tapi setidaknya aku berhasil mendapatkannya.” Tutur Kyuhyun.

Gyushik menarik nafas terlebih dahulu, lalu menaruh I-padnya dan beliau beralih mengambil dokumen tersebut. Ia membaca isi dokumen tersebut dan tersenyum. “ Baguslah.. Paman pikir kau akan kembali mengacaukan tender kali ini. Terlebih kemarin kau dan adikmu membuat masalah besar.”

Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya dengan erat –ia berusaha menahan emosinya. Masalah besar yang dimaksud oleh Gyusik pasti adalah mengenai keluarga Choi. Mengenai Narra yang berteman dengan Choi Ji In dan malah kabur ke rumah musuh keluarga mereka. Dan lagi, masalah atas mendiang kedua orangtua-nya yang bersahabat dengan Choi Hongjae membuat panjang daftar aduan Gyushik pada Kakek Hyunjo nanti. Kyuhyun tidak mau cari masalah dengan kakeknya, apalagi harus melibatkan adiknya.

“ Paman bisa mengambil-alih proyek Heesan.” Ucap Kyuhyun tiba-tiba. Gyushik tersenyum tipis lalu ia menaruh dokumen tersebut dan kembali memandang Kyuhyun dengan tatapan penuh tanya –oh.. Kyuhyun bisa melihat jelas bahwa itu hanya kepura-puraan.

“ Kau yakin? Karena Kakek sendiri yang mempercayakan proyek ini padamu.” Tutur Gyushik yang jelas itu hanya sebuah basa-basi.

Dengan senang hati, Gyushik akan mengambil-alih proyek ini, tanpa Kyuhyun yang menawarkan. Gyushik bisa mengatakan kalau Kyuhyun hampir saja mengacaukan presentasi kemarin dengan tiba-tiba pulang karena mendengar Narra membuat masalah. Kyuhyun lebih memilih adiknya ketimbang masa depan hampir tigapuluh ribu karyawan Cho’s Group yang dipertaruhkan dalam presentasi Heesan tersebut. Tentunya ia akan menghilangan mengenai keluarga Choi terlebih dahulu. Gyushik akan menyimpan hal itu sampai waktu yang menentukan.

“ Tentu saja. Tapi Paman pasti tahu bayaran apa yang pantas untuk ini.” Kyuhyun sedang melakukan negoisasi dengan Gyushik.

Menukar Heesan dengan kebebasan Narra atas segala campur tangan Gyushik, Kakek Hyunjo atau bahkan anggota Cho lainnya. Menurut Kyuhyun, hal itu adalah yang sepadan. Tapi Kyuhyun tahu bahwa ia perlu bayaran yang lebih besar agar Pamannya menutup mulut lebih lama pada Kakek Hyunjo. Gyushik tersenyum dan beranjak bangun dari sofa. Ia kini berdiri dihadapan Kyuhyun, menatap keponakannya dengan senyuman yang terkembang. Hanya dengan melihatnya, sudah membuat Kyuhyun merasa muak.

Gyushik menepuk bahu Kyuhyun dan meremasnya agak kuat. “ Kau tenang saja. Narra bisa memilih untuk masuk universitas manapun yang ia inginkan. Universitas Seoul, Kyunghee, atau Inha? Itu terserah pilihannya.” Tutur Gyushik.

“ Tentang perusahaan?”

Gyusik menarik tangannya dari bahu Kyuhyun dan memasukkan kedua dalam saku celana hitam panjangnya. “ Itu hal lain, Cho Kyuhyun. Apa kau pikir hanya dengan satu dokumen ini kau bisa menukar keinginan Kakek untuk memasukkan Narra ke perusahaan? Kau masih perlu kerja keras jika kau menginginkan Narra tidak masuk ke perusahaan. Tapi tenang saja, Narra tidak akan disentuh hingga dia lulus kuliah.” Ujar Gyushik.

Kepalan tangan Kyuhyun semakin mengeras –membuat buku-buku kukunya memutih– menimbulkan rasa sakit dan jika lebih lama bisa saja Kyuhyun melukai tangannya sendiri. “ Tapi dengan memberikan kursiku pada Paman sudah cukup membayar kebebasan Narra, bukan?” Gyushik kembali tersenyum asimetris. Kyuhyun agaknya mulai terpancing. Gyushik mengejek keponakannya sendiri karena begitu lemah jika dihadapankan pada Narra.

“ Lalu kapan kau akan mengembalikannya?”

Kyuhyun memaki kasar. Sialnya, memang jabatanlah yang diincar oleh Pamannya. Shit.. Jika Kyuhyun bisa memilih, ia juga tidak mau menduduki posisinya sebagai CEO Cho’s Group. Tapi bisakah ia pada waktu itu menolak keinginan Kakeknya –jika kembali menggunakan Narra? “ Hingga saatnya tiba.”

Kyuhyun lalu berjalan menuju pintu utama. Ia sudah tidak tahan untuk berada satu ruangan dengan Pamannya. Entahlah… ia selalu merasa sesak jika berada bersama Pamannya sendiri –karena Pamannya selalu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan sejak Kyuhyun masih kecil. Dan sekarang, Kyuhyun mengetahui jelas alasan dibalik tatapan pamannya tersebut. Pamannya membencinya, itu sudah terlihat jelas. Hanya karena ia merebut posisi yang seharusnya milik Pamannya, Kyuhyun harus mendapatkan kebencian yang begitu besar. Dan bahkan Narra ikut menjadi korban.

“ Apa kau akan menjemput Narra dirumah kediaman Choi, Kyuhyun?”

Langkah Kyuhyun terhenti. Ia memang tidak akan terkejut lagi jika Paman kembali mengungkit keberadaan Narra sekarang. Tapi walaupun begitu, Kyuhyun tidak akan pernah tahu apa yang akan Paman lakukan setelah ini. “ Kalau iya, sampaikan permintaan maaf Paman karena tidak bisa menjemputnya. Arraseo?”

Kyuhyun bertahan untuk tidak berbalik. Tangannya masih terkepal kuat. Lalu ia memutuskan untuk terus berjalan meninggalkan rumah besar tersebut. Dibalik punggungnya, Gyushik mengumbar senyum licik.

Kau terlalu lemah, Cho Kyuhyun. Sama seperti Ayahmu…

*****

Kyuhyun mengendarai mobilnya menuju rumah kediaman Choi. Entah apa yang menggerakkannya, tapi Kyuhyun tahu ia harus pergi kesana. Kedua tangannya dengan erat menggenggam kemudi mobil, sepertinya kemarahan Kyuhyun belum mereda setelah pembicaraan singkatnya dengan Paman. Kyuhyun menarik nafas panjang, lalu meraih handset dan memasangnya ditelinga kanan. Kemudian ia menekan nomor ponsel Narra. Terdengar nada sambung beberapa kali, sebelum Kyuhyun mendengar suara adiknya.

“ Ya, Oppa?”

“ Kau dimana, sayang? Apa masih…. Dirumah Ji In?” Kyuhyun agak kesulitan untuk menyebut nama Choi, sampai akhirnya ia memilih menyebut Ji In.

“ Tidak. Aku dan Ji In sedang disekolah. Hari ini kami ada test percobaan. Tapi sebentar lagi pulang. Ada apa? Apa Oppa sudah pulang?” terdengar nada senang dari suara Narra.

Kyuhyun tersneyum tipis. “ Ne Oppa baru saja sampai. Bisa kau tunggu disekolah saja? Donghae hyung akan menjemputmu dan mengantarmu pulang. Jangan pergi kemanapun. Tunggu sampai Donghae hyung datang, okay?” perintah Kyuhyun sembari terus fokus menyetir –mencegahnya untuk menyebabkan kecelakaan.

“ Eh? Baiklah… aku akan menunggunya.”

Kyuhyun lalu memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak dan menekan nomor Donghae. “ Hyung, apa kau sudah sampai dirumah?” tanya Kyuhyun sembari berhenti dilampu merah dan Donghae menjawab panggilannya.

“ Euhm… aku baru saja memasukkan koper. Kenapa?”

“ Bisa tolong jemput Narra disekolahnya dan mengantarnya langsung pulang? Dan tunggu aku sampai kembali?” pinta Kyuhyun.

“ Eh? Tapi Kyu, bukankah kau yang bilang kalau Siwon yang akan mengantarkan Narra pulang. Lalu kenapa aku…”

“ Aku tahu, hyung. Tapi kumohon… bisa membantuku lagi? Aku akan ke rumah kediaman Choi untuk mengambil barang-barang Narra. Selain itu, aku sedikit meminimalisir Narra terlibat masalah lain dengan Choi.” Kyuhyun mungkin tahu bahwa suaranya terdengar sangat menyedihkan. Ini bukanlah sosok Cho Kyuhyun, CEO Cho’s Group yang dingin, kasar dan juga tegas tapi ia tidak akan peduli.

Donghae terdengar menghela nafas panjang. Kyuhyun berharap besar pada Donghae kini. “ Baiklah. Tapi Kyuhyun, kuharap kita tidak akan terlibat masalah dengan Choi lagi.”

“ Euhmm… aku berjanji, hyung. Ini adalah yang terakhir.”

*****

Donghae menarik nafas dan memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Ia memasukkan koper dan menaruhnya diruang tengah. Kebetulan Donghwa sedang berada dirumah. “ Apa kau membawa oleh-oleh dari Jeju?” tanya Donghwa begitu melihat adiknya.

Donghae mendengus. “ Bawa. Pakaian kotor. Mau? Tolong cucikan kalau begitu.” Sahut Donghae santai. Ekspresi Donghwa berubah masam dan hendak melemparkan bantal sofa pada adiknya, tapi tidak jadi karena Donghae malah mengambil kunci mobil.

“ Hey… kau mau pergi lagi? Kau bahkan belum lima menit sampai dirumah.” Seru Donghwa.

“ Aku sedang terburu-buru, hyung. Tolong masukkan koperku ke kamar, ya. Gomawo!!” seru Donghae yang bergegas keluar dari rumah lagi.

Donghwa mendengus kesal melihat kelakuan adiknya yang selalu serampangan jika berurusan dengan keluarga Cho. Well… bukan Donghwa tidak menyukainya. Donghwa bahkan juga merasa prihatin pada kedua Cho bersaudara tersebut. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya juga. Donghwa menghela nafas pendek dan bangkit dari sofa. Ia mengambil koper adiknya dan membawanya ke ruang laundry.

*****

Donghae keluar dari mobil dan ia bisa melihat Narra dan Ji In berjalan bersama. Ia menarik nafas panjang, melihat kedekatan dua gadis tersebut. Donghae benar-benar tidak menyangka kalau dua gadis itu bisa bersahabat sedangkan kedua keluarganya malah bermusuhan. Terlebih Donghae semakin dibuat bingung dengan hubungan Kyuhyun dan Siwon saat ini.

“ Hey… cepatlah sedikit!!” seru Donghae.

Narra menatap Donghae dengan jengkel lalu menarik Ji In untuk berlari menghampiri Donghae. “ Jadi, oppa benar-benar menjemput kesini. Kupikir ah.. sudahlah. Dan Oppa terlihat belum tidur. Tapi kau sudah mandi, khan?” Tukas Narra.

“ Hey!! Tentu saja sudah mandi. Dan belum tidur cukup. Salahkan kakakmu yang terlihat begitu seram sejak mendengar adiknya kabur kerumah musuh terbesar keluarganya.” Donghae memang sengaja terdengar seperti mengejek.

Narra kini menekuk wajahnya dan Ji In yang terkikik. Donghae hanya mengangkat bahunya, acuh. Ia tidak akan takut pada Narra, kecuali pada Kyuhyun tentunya. Oh… Cho Kyuhyun adalah pria dengan manner paling menakutkan yang pernah kau temui –jika kau pernah bertemu dengannya, tentu saja. “ Masuklah. Aku memang hanya diperintahkan untuk menjemput Narra, tapi tidak ada salahnya jika mampir ke rumah Choi yang sangat terkenal itu. Atasanku tidak akan membunuhku tepat dihadapan adiknya. Kecuali dikantor dia membunuhku diantara tumpukan dokumen.”

Kali ini Narra dan Ji In hanya tertawa bersama. Oh… Donghae tidak akan melewatkan betapa lepasnya tawa seorang Cho Narra dihadapannya kini.

*****

Mobil Kyuhyun berhenti tepat dipintu utama rumah kediaman Choi. Entah kenapa ia sedikit menyesali keputusannya untuk datang kerumah ini. Tapi sekarang ia tidak bisa mundur lagi. Kyuhyun menarik nafas panjang sebelum ia mematikan mesin mobil. Perlahan ia melepaskan seatbelt dan membuka pintu mobil. Kyuhyun keluar dari mobilnya dan menutup pintu sebelum ia berjalan menuju pintu utama.

Pintu rumah kediaman Choi selalu terbuka, dengan kata lain sang pemilik rumah selalu menerima siapapun tamu yang datang. Lalu apakah dia akan diterima di rumah ini? Oh.. Kyuhyun sebenarnya tidak terlalu mengharapkan hal besar seperti itu. Keluarga Choi? Ia mungkin harus melewati mayat kakeknya terlebih dahulu. Seorang pelayan rumah tersebut menghampirinya.

Kini Kyuhyun merasa gugup. Bagaimana jika pelayan itu menanyakan siapa dirinya? Oh.. baru kali ini Kyuhyun merasa tidak yakin menyebut nama Cho. Kyuhyun menatap pelayan yang kini memandanginya penasaran.

Oh.. apakah pelayan ini belum pernah melihat wajahnya? Di surat kabar atau majalah atau televisi? Karena dia benar-benar terlihat tidak mengenali Kyuhyun. “ Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”

Kyuhyun menarik nafas dulu. “ Aku ingin bertemu dengan…” belum selesai Kyuhyun mengutarakan ucapannya, tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik. Wanita paruh baya itu memberi isyarat agar pelayan itu pergi.

Kyuhyun menatap wanita itu dengan tegang. Wajah yang dikenalinya 21 tahun lalu, wajah cantik seperti Eommanya. Kyuhyun mengenali wajah itu duapuluh satu tahun lalu. Tapi wanita dihadapannya ini cukup terkenal –sama terkenalnya dengan ibu negara. Kyuhyun selalu membayangkan seperti apa wajah Eommanya jika masih hidup. Apakah masih akan terlihat sama cantiknya dari terakhir kali Kyuhyun melihatnya –yakni duapuluh satu tahun lalu.

Wanita itu menyentuh tangannya dan tersenyum. “ Kau datang.”

Kyuhyun mengangguk kecil dengan canggung. Karena jujur saja, ia masih bisa berhadapan langsung dengan Siwon atau bahkan dengan Tn. Hongjae atau Tn. Dongha. Tapi jika sudah berhadapan dengan wanita yang tengah tersenyum lembut dengannya saat ini, Kyuhyun tidak tahu harus bersikap seperti apa.

“ A-aku kesini untuk mengambil barang-barang Narra.” Ucap Kyuhyun pelan dan sopan. Ia bahkan terkejut dengan perubahan sikapnya saat berhadapan dengan wanita paruh baya tersebut. Tapi Kyuhyun selalu ingat pada nasihat Eommanya –nasihat pertama– bahwa ia harus menghargai dan menghormati setiap wanita.

Wanita tersebut, Ny. Hyosan masih tersenyum. Kemudian beliau menggenggam tangan Kyuhyun dengan lembut. Kyuhyun sedikit tersentak, tapi ia tidak melepaskannya –akan terlihat tidak sopan. Dan sekali lagi, Kyuhyun bisa merasakan kelembutan Eommanya melalui Ny. Hyosan yang notabene adalah Eomma Siwon.

“ Ayo masuklah.”

*****

“ Jadi, Kyuhyun oppa kerumahku?” tukas Ji In dengan nada agak tinggi. Donghae mengangguk kecil dan masih terus fokus pada jalanan.

“ Hanya mengambil barang-barangmu, Narra. Tidak akan lama mungkin duapuluh menit. Karena dia terdengar sangat tidak ingin kembali berurusan dengan Choi saat kami bicara di telepon tadi.” Tutur Donghae.

Narra menatap sahabatnya yang duduk dikursi depan. Well… Donghae tidak ingin mengambil resiko membiarkan Narra duduk dikursi depan. Ia menarik nafas perlahan dan menggenggam kedua tangan sendiri begitu erat.

“ Tapi… Kyuhyun tidak akan mungkin melarang kalian untuk terus berteman. Kyuhyun bukanlah orang seperti itu. Mungkin dia hanya ingin lebih membatasi interaksi dengan Choi, terlebih dengan masalah kemarin.” Ujar Donghae menambahkan.

Ji In menoleh dan memandang Narra. “ Kurasa kita harus bergerak lebih cepat.” ucap Narra dan diikuti oleh anggukan kepala Ji In.

Donghae mengernyit melihat ekspresi kedua gadis itu. “ Hey.. Hey… apa yang kalian rencanakan, eoh??”

*****

Siwon masih mengeringkan rambutnya ketika ia keluar dari kamar mandi. Kini tubuhnya –yang terbalut singlet putih dan juga celana pendek warna pastel, sudah terasa lebih segar setelah perjalanan dari Jeju. Siwon lalu melempar handuk putih ditangannya kedalam keranjang pakaian kotor dan berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil kaus putih.

Siwon terlihat membenarkan letak kausnya dihadapan cermin besar dikamarnya. Tapi saat melihat refleksi dirinya pada cermin itu, Siwon merasa bahwa ia tidak mengenali dirinya. Ia adalah Choi Siwon, penerus Choi Inc. dengan total kekayaan luar biasa. Dia adalah seorang bujangan yang paling memikat wanita korea, atau bahkan asia lainnya. Choi Siwon yang selalu merasa bebas tapi tidak pernah bertindak jauh. Choi Siwon yang keras kepala tapi akan selalu bisa mengalah. Choi Siwon yang pembangkang tapi juga bisa bertanggung-jawab.

Tapi yang ia lihat dicermin bukanlah Choi Siwon yang seperti itu. Ia hanya melihat seorang pria yang menyedihkan karena kalah dari saingan bisnis dan patah hari karena rival bisnis abadi perusahaan sekaligus keluarganya. Dan paling menyedihkan, ia adalah gay. Oh… Seluruh dunia akan menghujatnya habis-habisan. Bukan karena orientasi seksualnya, tapi pada keputusannya untuk melepaskan yang dicintainya.  Seluruh dunia akan mengatakan dirinya adalah makhluk Tuhan yang paling menyedihkan.

Setelah berpakaian rapi –dan memaki dirinya sendiri– kemudian Siwon melangkah keluar dari kamarnya untuk makan siang. Tapi ketika menuruni tangga, ia melihat sosok yang sangat dikenalinya. Nafasnya seakan terhenti. Bukankah orang itu sudah mengatakan selamat tinggal, dan mereka tidak akan bertemu lagi kecuali untuk bisnis, tentu saja. Tapi melihatnya berada diruang tengah rumahnya –rumah Choi– tengah dipeluk erat oleh Eommanya membuat kening Siwon mengernyit bingung. Apakah dunia tengah mempermainkannya? Menghancurkannya terlebih dahulu kemudian Siwon merasa bahwa ada sedikit harapan melihat sosok itu disini.

 “ Kyuhyun?” Siwon berharap ia hanya berbisik pelan. Tapi nyatanya ia mengatakannya dengan keras hingga orang itu dan Eommanya menoleh –memandanginya dengan aneh. Well.. hanya Eommanya, tapi Kyuhyun? Oh, Siwon tidak bisa mengatakan ekspresi diwajah Kyuhyun.  “Apa yang kau..?! Eomma, bisa katakan padaku?” tanya Siwon sembari menuruni sisa anak tangga dan berdiri disana tanpa berniat mendekati Kyuhyun.

Ny. Hyosan hanya tersenyum. Kemudian ia kembali meraih tangan Kyuhyun dan menariknya untuk menghampiri Siwon. “ Kyuhyun datang mau mengambil barang-barang Narra. Kau antarkan kekamar Jiwon, ya.” Ucap Ny. Hyosan, yang masih membuat Siwon bingung.

Siwon menatap Kyuhyun untuk beberapa detik, tapi kemudian ia hanya mengangguk kecil. Ny. Hyosan lalu kembali menatap Kyuhyun. Beliau menyentuh kedua pipi Kyuhyun dan mengusapnya penuh kasih sayang. Siwon pernah merasakan hal yang sama, sampai ia berusia limabelas tahun. Sampai akhirnya, Siwon harus memaksa sang Eomma untuk berhenti melakukan itu karena ia sudah besar. Tapi kini Siwon merasakan iri pada Kyuhyun.

“ Rapikan barang-barang Narra, setelah itu kita makan siang bersama. Otthe?” Bujuk Ny. Hyosan.

Sekarang, Kyuhyun terlihat tergagap mendapatkan undangan makan siang. “ Ta-tapi.. maaf, aku hanya ingin mengambil barang Narra saja. Lagipula masih ada yang perlu kuurus. Masalah perusahaan.” Tolak Kyuhyun, masih dengan canggung.

Dan Siwon menatap pemuda itu dan tersenyum miris padanya sendiri. Ia berharap terlalu tinggi. Kyuhyun hanya datang untuk Narra –mengambil barang-barang adiknya. Lalu kenapa Siwon mempunyai pemikiran bahwa Tuhan memberikan sebuah harapan hanya dengan melihat kedatangan Kyuhyun? Ia seperti terlalu dibutakan oleh rasa cinta dan pengharapan tingginya.

“ Baiklah. Tapi berjanjilah, suatu hari kau dan Narra akan makan bersama kami. Oh.. itu adalah keharusan, okay. Siwon akan mengantarkanmu ke kamar Jiwon. Narra tidur disana selama menginap. Rasanya senang melihat kamar itu kembali ada yang penghuninya walaupun hanya beberapa hari.” Tutur Nyonya Hyosan. Kemudian beliau menatap putranya. “ Siwon, tolong ya.”

Siwon mengangguk kecil. Kemudian Ny. Hyosan kembali memandang Kyuhyun. Beliau memeluk Kyuhyun dengan erat untuk kesekian kalinya. “ Oh.. Ya Tuhan, kau sudah besar sekali.” Gumam Nyonya Hyosan sembari mengusap punggung Kyuhyun hangat.

Melihat hal itu membuat Siwon terpikir, bagaimana reaksi orangtuanya –ia akan mengeluarkan anggota keluarga Choi yang lain terlebih dahulu– jika mengetahui bahwa putra tertua mereka mencintai putra tertua dari sahabatnya. Apakah Siwon masih akan mendapat perlakuan yang begitu hangat dari orangtuanya, dari kedua adiknya?

“ Ajhumma terlalu lama sepertinya. Naiklah.” Nyonya Hyosan lalu melepaskan Kyuhyun dan menyuruhnya untuk menaiki tangga. Siwon kembali menaiki tangga terlebih dahulu dengan Kyuhyun yang kini mengikuti dibelakangnya.

Siwon tersenyum tipis mendengar setiap langkah Kyuhyun. Setiap langkah, setiap deru nafas, setiap detak jantung yang berasal dari Kyuhyun akan Siwon hargai setiap detiknya. Tapi Siwon harus berusaha untuk mengontrol emosinya kini. Ia mengingat jelas bagaimana janjinya pada Kyuhyun –empat jam lalu.

Lain Siwon, maka lain pula dengan Kyuhyun. Ia hanya diam –meruntuki, memaki dirinya– karena tidak bisa melepaskan diri untuk memandang punggung Siwon. Mereka tidak bicara sama sekali sejak lima menit lalu. Mereka hanya terpisah beberapa jam, tapi kecanggungan diantara mereka sudah seperti tidak pernah bertemu selama puluhan tahun. Kyuhyun terus melangkah kemana Siwon menuntunnya.

“ Ini kamarnya.” Siwon baru bersuara sembari membuka pintu kamar tersebut. Ia menatap Kyuhyun dan mempersilahkan untuk pemuda itu masuk terlebih dahulu.

Kyuhyun dengan begitu canggung memasuki kamar itu, diikuti Siwon dan juga suara pintu tertutup. Kyuhyun memandangi kamar yang tidak berbeda jauh dengan kamarnya dirumah. Design minimalis dengan sedikit perabot ditambah dengan warna monokrom yang tidak mencolok. Oh.. Kyuhyun kini penasaran bagaimana kamar Siwon.

Shit…

Kyuhyun menampar dirinya untuk berpikir penasaran seperti itu. Lalu Kyuhyun berbalik dan menatap Siwon yang masih berdiri dekat pintu. Ia terlihat seperti akan mencegah Kyuhyun untuk pergi. Kyuhyun berdeham beberapa kali, merilekskan kerongkongannya sebelum bertanya.

“ Dimana tas Narra?” tanyanya singkat.

Siwon menarik nafas lalu berjalan menuju lemari besar dan membuka salah satu pintunya. Ia mengeluarkan sebuah tas yang diyakini milik Narra. Siwon menaruhnya diatas tempat tidur. “ Kurasa pakaiannya ada dilemari. Dan buku-bukunya ada dimeja. Kau pasti bisa mengenali yang mana kepunyaan adikmu.”

Kyuhyun mengangguk kecil lalu membuka pintu lainnya dan mulai memilah pakaian milik Narra. Nyatanya, tidak banyak pakaian yang dibawa oleh Narra. Apakah gadis itu hanya merencanakan kabur selama beberapa hari? Sepertinya memang begitu. Hanya sampai Kyuhyun kembali dari Jeju.

Kyuhyun mengambil langsung semua pakaian Narra dan memasukkannya dengan rapi kedalam tas hitam tersebut. Siwon memundurkan langkahnya dan melihat Kyuhyun dari jauh. Ini adalah batasan normalnya. Siwon harus berada jauh dari Kyuhyun, atau jika tidak maka Siwon bisa saja melakukan apapun yang mungkin bisa disesalinya. Seumur hidup.

Well… siapa yang akan menolak pesona seorang Cho Kyuhyun. Dirinya mungkin juga sangat menarik, tapi Siwon tidak akan menyangkal sebuah karisma lain yang hanya dimiliki oleh Cho Kyuhyun. Ia pernah mendengar beberapa kabar lain jika di Itaewon, nama Cho Kyuhyun seperti nama orang suci. Semua orang membicarakan betapa menawan-nya Cho Kyuhyun.

Okay, Siwon atau mungkin seluruh orang korea mengetahui tentang Itaewon Freedom. Dimana semua orang akan bisa kau temui disana. Baik dari agama, ras, gender, usia, pekerjaan bahkan sampai orientasi seksual yang beragam. Dan nama Cho Kyuhyun lebih terkenal dikalangan para pria maskulin. Siwon memang tidak pernah ke Itaewon –well.. tempat-tempat tertentu dengan keragaman tersebut lebih tepatnya. Tapi ada beberapa partner kerjanya yang pergi kesana dan Siwon selalu mendapati topic pembicaraan betapa terkenalnya Cho Kyuhyun disana.

God.. Siwon mulai mendapati dirinya berimajinasi liar hanya dengan menatap Kyuhyun saat ini. Inikah sebuah tantangan terbesar Siwon? Dimana ia akan selalu membayangkan bagaimana Kyuhyun jika berada dibawah kuasanya? Bagaimana suara sensual Kyuhyun ketika mengerang –mendesah– yang akan selalu menjadi lullaby terindah untuknya?  Shit… Stop it Choi Siwon!

Siwon menghela nafas dan beranjak meninggalkan kamar tersebut. Ia tidak tahan untuk tidak berimajinasi lebih liar lagi. Dan hal itu tidaklah akan membantunya sama sekali. Siwon harus meninggalkan kamar itu, menjauh dari Kyuhyun sebelum gairah itu menguasai dirinya. Dan sebelum menutup pintu, Siwon sempat berbalik.

“ Jika sudah selesai, tutup kembali pintunya.”

*****

Ji In melambaikan tangannya pada Narra lalu kembali menatap Donghae. “ Oppa, terima kasih karena mengantarku. Tapi bisakah kau membantu kami?” tanya Ji In sekali lagi.

Ia dan Narra telah menjelaskan rencana yang mereka buat bersama untuk membantu menyelesaikan masalah keluarga Cho dan Choi. Donghae menghela nafas pendek. Ia sama sekali tidak bisa mengatakan apapun. Akankah ia membantu kedua gadis ini, atau hanya memilih diam dan menonton.

“ Tidak tahu, Ji In. Akan kutanyakan hal ini pada Hyukjae terlebih dahulu. Kalian tahu, rencana kalian tidak bisa sembarangan dikerjakan. Ohya.. jika Kyuhyun masih dirumahmu, katakan bahwa adiknya sudah aman bersamaku.” Tutur Donghae.

Ji In mengangguk kecil. Lalu mobil Donghae kembali melaju meninggalkan area rumah Choi. Ji In hanya menghela nafas pendek dan kemudian berjalan masuk melewati gerbang. Tapi kemudian sepertinya ia mengenali sebuah mobil dari jarak jauh. Gadis itu sedikit memicingkan matanya –untuk sekedar memastikan.

“ Oh.. no! Kakek!!”

*****

Siwon berjalan menghampiri Eommanya yang sedang merapikan makan siang dimeja makan. Siwon melihat Eomma sangat bersemangat sekali, dan sepertinya karena kedatangan pertama Kyuhyun kerumah ini. Itu terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. Dan sudah lama sekali, Siwon tidak melihat Eommanya tersenyum selepas ini.

“ Eomma senang Kyuhyun datang kesini?” Dan Siwon tahu itu hanyalah pertanyaan retoris. Siwon menarik salah satu kursi dan mendudukinya –melihat Eommanya sibuk merapikan meja makan, bahkan tidak sempat membalas ucapan Siwon.

“ Tentu. Oh… aku melewatkan bertahun-tahun. Dia sudah sangat besar sekali.” Eommanya terlihat seperti seorang fangirl yang telah bertemu dengan idolanya. Siwon tertawa kecil melihatnya.

Ny. Hyosan kemudian bersenandung kecil –yang lagi, jarang dilakukan olehnya. Siwon memandangi sang Eomma dengan lekat. Hanya dengan kedatangan Kyuhyun ke rumah ini saja sudah sangat membuat Eommanya terbang ke langit tujuh. Tapi beranikah Siwon mengatakan bahwa kenyataan putra dari Choi Hongjae adalah seorang gay dan mencintai Cho Kyuhyun? Oh.. itu akan seperti menjatuhkan Eommanya sampai ke dasar terdalam bumi. Atau begitulah pikiran Siwon, bagian imajinasi terliarnya selain pada Kyuhyun.

Dan Siwon tahu, ia harus mengatakan hal ini pada orangtuanya. Setidaknya pada sang Eomma terlebih dahulu. Karena Siwon merasa akan menjadi gila jika terus memendam perasaannya. Hyukjae mungkin sudah mengetahuinya, tapi sahabatnya itu tidak akan mengatakan apapun. Tidak akan menghakiminya. Namun, keluarga Choi adalah persoalan lain.

“ Eomma… kau pernah bilang bahwa aku harus cepat-cepat menikah, bukan?” tutur Siwon agak menunduk, menghindari tatapan mata Nyonya Hyosan yang sekarang tengah memandanginya.

“ Iya. Karena Kakekmu pasti akan mencarikan pendamping. Jika kau tidak mau dijodohkan, maka kau harus mencarinya sendiri. Kenapa, Siwon?” tanya sang Eomma.

Siwon menarik nafas dan mengangkat kepalanya. Ia seperti anak remaja usia delapanbelas tahun yang sedang mengakui mencuri uang dari dompet Eommanya sendiri untuk membeli soju. Terlihat memalukan, karena ia berusia duapuluh tujuh tahun sekarang ini. Dan ia akan mengakui bahwa dirinya adalah seorang gay.

“ Apakah aku harus menikah dengan wanita?” Siwon berbisik pelan.

Sang Eomma jelas masih bisa mendengarnya. Tapi dahinya mengerut, terlihat tidak mengerti dengan pertanyaan lanjutan yang dilontarkan putranya itu. Namun, Nyonya Hyosan mulai mendapati titik cerah. “ Apa seorang Choi harus menikah dengan wanita? Apa pria tidak diterima di keluarga ini?” tanya Siwon lagi, kali ini dengan kepala terangkat tegak.

Nyonya Hyosan kini terlihat sangat terkejut. Beliau hanya menatap putranya tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Nyonya Hyosan menutup mulutnya –berusaha mengendalikan dirinya atas penyataan tiba-tiba dari putra tertuanya. Nyonya Hyosan menarik nafas panjang. “ Oh ya Tuhan…” gumamnya.

Siwon kembali menunduk. Sudah sangat jelas, mengakui dirinya sebagai gay disaat seperti ini adalah kesalahan. Siwon kembali memakinya lagi. Tapi kemudian, mereka dikejutkan dengan suara keras gadis.

“ Eomma… Kakek datang!!” seru Ji In yang langsung berlari kearah meja makan.

Sontak Siwon dan Nyonya Hyosan menoleh pada gadis itu. Tak lama setelah itu, terdengar suara mesin mobil yang berhenti tepat didepan pintu utama rumah. Ji In menoleh dengan panic, sekedar memastikan apakah itu mobil kakeknya.

“ Itu mobil kakek.” Ujar Ji In.

Nyonya Hyosan lalu menghampiri Ji In. Beliau menggenggam tangan putri bungsunya dengan erat, membuat Ji In kembali menatap sang Eomma. “ Tenanglah. Sekarang naik kekamarmu. Dan jangan turun sampai Eomma memanggilmu. Apapun yang kau dengar, berpuralah bahwa kau belum pulang. Mengerti?”

Ji In mengangguk dan langsung bergegas menaiki tangga. Sementara Nyonya Hyosan kembali berbalik dan menatap Siwon dengan serius. “ Sembunyikan Kyuhyun! Ppali!!”

Belum sempat Siwon bereaksi atas perintah sang ibu, mereka juga dikejutkan dengan Kyuhyun yang sedang menuruni tangga. Dia membawa tas Narra. Siwon mengumpat dalam hati. Hari ini tidak bisakah menjadi lebih buruk lagi.

Siwon lalu bergegas menaiki tangga, berharap ia mempunyai waktu untuk menyembunyikan Kyuhyun sedangkan Nyonya Hyosan menyambut kedatangan ayah mertuanya. Tapi percuma, Tuan Choi Dongha sudah memasuki rumah dan mendapati sesuatu yang mengejutkan.

“ Kenapa ada Cho dirumah ini?!!”

Teriakan keras Tuan Choi Dongha cukup membuat semua orang menjadi membeku. Termasuk Kyuhyun yang juga tidak menyangka atas kehadiran Tuan Besar Choi dirumah Choi Hongjae. Jelas, Kyuhyun menyadari bahwa ia telah melangkah masuk kedalam kandang singa. Dan akan sulit untuk bisa keluar dalam keadaan hidup-hidup.

Siwon menatap kakeknya dan menelan salivanya susah payah. Inilah ketakutan terbesarnya. Well.. Kyuhyun mungkin bisa saja melawan Kakeknya, mengingat betapa beraninya seorang Cho Kyuhyun jika dihadapkan pada semua rival perusahaan. Tapi tetap saja Siwon tidak bisa melihat kakeknya melukai Kyuhyun –dalam bentuk apapun.

“ A-abeonim.. tunggu sebentar. Dengarkan penjelasanku…” sepertinya Nyonya Hyosan berusaha untuk berbicara pada mertuanya, tapi rasanya pun percuma. Tuan Dongha sudah terbakar emosi hanya dengan melihat wajah keluarga Cho, terlebih ini adalah rumah Choi.

“ Kau memang perlu menjelaskan kenapa Cho bisa berada dirumah ini, Hyosan!!” bentak Tuan Choi Dongha. Beliau kemudian kembali menatap Kyuhyun yang masih berada ditengah-tengah anak tangga. “ Apa yang membuatmu berani datang kesini, Cho?”

Siwon memandang pada Kyuhyun. Telinganya begitu sakit mendengar cara bicara kakeknya pada Kyuhyun. Ia merasa sangat tidak berdaya untuk melindungi pemuda yang dicintainya tersebut.

“ Bukan urusanmu, Tuan Choi. Aku juga akan segera pergi.” Tutur Kyuhyun dingin. Lalu ia kembali menuruni tangga dan melewati Siwon begitu saja. Siwon terhenyak. Bahkan Kyuhyun sama sekali tidak memandangnya.

Kyuhyun kemudian berjalan perlahan melewati Nyonya Hyosan. Ia ingin sekali menunduk hormat pada wanita itu, tapi egonya melarangnya. Tidak, ia tidak bisa melakukan hal itu dihadapan Choi Dongha. Itu hanya akan membuat Kakek tua itu merasa diatas angin. Jadi, Kyuhyun hanya bisa melirik wanita paruh baya itu dan kembali terus berjalan.

Kini ia dihadapkan pada Choi Dongha. Kyuhyun terus berjalan dan mengeratkan genggamannya pada tas ransel Narra yang dibawanya. Kyuhyun menguatkan dirinya, menganggap dirinya jauh diatas Choi. Ia harus tampil dengan bangga dihadapan Choi Dongha.

Tapi kemudian langkah Kyuhyun terhenti, tepat disamping Choi Dongha. Kyuhyun menarik nafas dan melirik Kakek tua itu dengan tatapan merendah. Ia menarik salah satu ujung bibirnya membentuk senyuman menyeringai sinis. “ Kurasa perusahaan anda perlu mengeluarkan inovasi penawaran yang lebih baik lagi, Tuan Choi. Sayang sekali..” ucap Kyuhyun pelan.

Tuan Choi Dongha sontak menoleh pada pemuda Cho itu. “ Apa maksudmu, Cho? Yang kau maksud Proyek Heesan?” Kyuhyun tidak menjawab dan hanya berlalu begitu saja. Ia membiarkan Tuan Choi itu menatapnya dengan tajam. Kyuhyun tidak akan peduli pada Choi lagi, mulai saat ini.

Kyuhyun akan melupakan segala hal yang berkaitan dengan Choi, bahkan termasuk persahabatan mendiang ayahnya dengan Choi Hongjae. Ataupun sesuatu hal yang terjadi antaranya dengan Siwon. Ia sudah memikirkan bahwa inilah yang terbaik. Untuk Narra. Kyuhyun akan melakukan apapun untuk melindungi Narra. Kyuhyun tidak apa jika Narra ingin terus berteman dengan Ji In tapi ia sudah tidak mau ada hubungan apapun dengan Choi. Termasuk dengan Choi Siwon.

Termasuk jika ia harus merasa terluka sendiri, karenanya.

Kyuhyun memantapkan diri setelah ia melangkah keluar dari rumah Choi, maka ia tidak akan mengingat apapun. Kyuhyun menarik nafas panjang. Beberapa langkah lagi dan semuanya akan berakhir. Kyuhyun hanya menginginkan ketenangan mulai saat ini. Hanya saja…

“ Aku akan mengantarmu. Berikan kunci mobilmu.” Siwon, yang entah sejak kapan mengejar Kyuhyun kini sudah memegangi lengan pemuda itu dengan erat. Kyuhyun menatapnya dalam diam, sedangkan Tuan Choi Dongha seperti dilanda keterkejutan lain.

“ Choi Siwon?! Apa yang kau lakukan!?!!” seru Tuan Choi Dongha.

Siwon tidak memperdulikan teriakan kakeknya. Ia lalu menggenggam erat tangan Kyuhyun dan menarik pemuda itu untuk meninggalkan rumahnya. Membuat sang Kakek bertambah marah karena sikapnya yang membangkang.

“ CHOI SIWON?!!”

Tapi disisi lain, Nyonya Hyosan yang sama sekali tidak mencerna apa yang terjadi dengan cepat hanya mematung menatap kepergian putranya yang membawa Kyuhyun. Perlahan pemikirannya mulai mengerti ucapan putranya mengenai sebelumnya.

“ Apakah aku harus menikah dengan wanita?”

“ Apa seorang Choi harus menikah dengan wanita? Apa pria tidak diterima di keluarga ini?”

Nyonya Hyosan menyadari bahwa putranya adalah seorang gay. Choi Siwon telah mengakui padanya bahwa ia adalah seorang gay. Dan saat melihat bagaimana Siwon menatap Kyuhyun dan membawa pemuda itu pergi, kembali Nyonya Hyosan seperti ditampar oleh kenyataan.

Siwon-ah.. apa kau mencintai Kyuhyun?

Advertisements

89 thoughts on “[SF] Two Faces {WK Vers.} Part 8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s